Buletin edisi khusus

  • View
    215

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Buletin ini mengangkat tema pembredelan Poros. Namun sajian kali ini membahas kisah penulis dan reporter dibalik pemredelan. Termasuk kronologi hingga isu Fakultas Kedokteran diangkat di buletin edisi magang kedua pun dibahas disini.

Text of Buletin edisi khusus

  • Namanya Nurrahmawati. Kali perta-ma bertemu, saya menanyakan tahun kelahirnnya. Saya penasaran. Gadis mungil itu tampaknya masih sangat muda. Sam-bil tersenyum, gadis yang akrab dipanggil Nur itu menjawab, Satu tahun setelah lengsernya Soeharto mbak (1999). Artinya, Nur tahun ini baru genap tujuh belas tahun. Usia yang cukup muda untuk ukuran mahasiswa semester satu.

    Gadis asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini masuk ke sekolah dasar saat berumur empat tahun. Namun, kata Nur, ia sudah lancar membaca dan menulis pada usia itu. Itu ia tahu dari cerita teman-teman neneknya yang menjadi guru di taman kanak-kanak tempat ia belajar.

    Mamanya pernah bercerita, saat kecil, jika melihat papanya membaca koran, Nur ikut membaca meskipun belum mengenal huruf.

    Nur bisa membaca tanpa diajari dalam waktu yang lama.

    Di usia yang sangat muda, Nur saat masuk kuliah telah bertekad belajar jurnalistik. Ia akh-irnya bergabung dengan Pers Mahasiswa Poros. Konon, kata Nur, ia telah mengenal Poros jauh sebelum Ospek berlangsung. Dari situ ia mu-lai tertarik karena ingin belajar menulis. Nur akhirnya mengikuti semua tahap seleksi hingga akhirnya sekarang menjadi salah satu anggota magang di Poros.

    Nur sebenarnya sudah mulai tenar sebagai penulis sedari SMA. Ia gemar menulis meski-pun hanya dipublikasikan di akun-akun media sosial. Dari situ, karena pujian beberapa teman, ia merasa sudah mahir dalam menulis. Namun, setelah memilih kuliah di Jogja dan masuk Po-ros dan mengikuti banyak diskusi, ia menyadari

    kemampuannya masih perlu ia tingkatkan.Cita-citanya di Poros berkembang. Nur men-

    jadi ingin mempelajari banyak hal. Menurut saya, hingga magang kedua tahapan pen-didikan di Poros Nur termasuk anggota yang aktif. Ditengah padatnya kuliah, ia selalu menyediakan waktu jika diajak diskusi ke pel-bagai tempat. Selain itu, ia bertambah lahap membaca buku.

    Pernah seusai diskusi tentang Panama Papers di Magister Administrasi Publik (MAP) UGM, Nur membeli buku tentang feminisme. Saya dua kali mendapatinya membeli buku tentang perempuan. Saya ingat pernah beberapa kali ia kemana-mana memegang buku tentang feminisme. Katanya, ia tertarik pada gagasan-gagasan emansipasi perem-puan.

    Selain soal kesetaraan gender, Nur pernah bercerita kalau ia ingin mempelajari buku-buku sejarah. Kalau di daerah Nur kan toko buku aja jauh banget. Kalau di perpustakaan cuma ada buku pelajaran, tutur Nur. Di tahun 2015, ia juga bergabung dengan Komunitas Baca Novel Pram (KBNP) yang didirikan ma-hasiswa Fakultas Sastra, Budaya, dan Komu-nikasi (FSBK). Minat membacanya berkem-bang. Ia akhirnya juga memahami pentingnya karya sastra.

    Membaca adalah bahan bakar untuk menulis. Harapan Nur untuk belajar menulis terwujud. Ia akhirnya magang di divisi redaksi divisi di Po-ros yang fokus pada kepenulisan. Kegiatan di di-visi redaksi dimulai dengan rapat isu. Saat rapat isu, Nur entah mengapa mengusung isu Fakul-tas Kedokteran (FK). FK kala itu tengah dalam proses pengajuan izin.

    Mengapa UAD membuka FK ditengah ban-yak fasilitas kampus yang belum memadai, tanya Nur gelisah.

    Tapi itu bagus kan? Itu bikin bangga, ujar salah seorang anggota magang.

    Kenapa tidak memaksimalkan fakul-tas-fakultas yang sudah ada?

    POROSM e n y i b a k R e a l i t a

    EDITORIAL 2BERITA UTAMA 1 OPINI 3

    Nur dan Poros yang Dibredel

    DIBREDEL

    Bersambung ke Hal 4

    Ed is i : 01/10 /05/2016

    Membredel Pers MahasiswaWisnu Prasetya Utomo

  • Editorial 2

    TIM BULETIN

    SALAM MAHASISWA!Setelah peristiwa pembredelan 27 April 2016 lalu, Poros kembali terbit dengan edisi khusus. Penerbitan ini atas dasar cinta. Kecintaan kami kepada kampuslah yang mendorong kami tetap bertahan sampai hari ini.

    Cinta memang tak selalu berwujud pujian. Meminjam kata-kata Nur, Ini cara kita mencintai kampus sendiri, ngga harus selalu muji-muji kampus. Bahkan dibalik kecintaan kami, tersimpan niat tulus untuk membangun kampus.

    Jika masih dibilang tak bermanfaat dan berniat melemahkan kampus, disini akan kami luruskan. Semua berawal dari tanggal 9 Maret 2016, rapat isu pertama magang edisi kedua dimulai. Saat itu ada delapan isu yang masuk untuk diekseku-si, salah satunya isu Fakultas Kedokteran (FK).

    Setelah dua kali melakukan rapat isu, pada 13 Maret 2016, diputuskan bersama oleh tim magang Poros bahwa ada dua isu yang naik. Yaitu, persoalan parkiran dan FK. Mengapa harus FK? Keputusan ini tentu melalui diskusi yang cukup alot.

    Awalnya pembawa isu hanya memper-tanyakan tujuan kampus mendirikan FK sementara hari ini masih banyak fasilitas belum memadai. Ia berpikir kenapa tidak memaksimalkan fasilitas-fasilitas yang belum memadai.

    Pertanyaan ini memicu pandangan yang berbeda di ruang rapat. Ada yang setuju dengan pendirian FK karena baik

    untuk citra kampus dan akan bermanfaat untuk fakultas lain jika ada kerja sama. Sebagian tidak setuju lantaran masih banyak fasilitas kampus yang belum me-madai, adanya FK hanya akan menambah pekerjaan rumah kampus.

    Dari hasil observasi tim magang dan diskusi bersama, ditarik sebuah pertanyaan mendasar Apa sebenarn-ya tujuan kampus mendirikan FK? Pertanyaan ini baru terjawab setelah mewawancarai Safar Nasir, Wakil Rektor II UAD.

    Setelah menemukan data-data baru saat reportase, penulis waktu itu menga-takan tujuan pemberitaan ini tidak ber-maksud menolak pendirian FK karena beberapa fasilitas sudah tersedia, bahkan telah dilakukan visitasi. Hanya saja ada keluhan dan pesan dari mahasiswa dan para dosen jika FK jadi dibuka. Mereka berharap fasilitas yang lain juga diper-hatikan secara adil dan tidak ada yang namanya anak emas.

    Keluhan tentu ada karena beberapa fasilitas belum memadai seperti laborato-rium, ruang kuliah dan persoalan parkir. Kita justru mau membangun kampus. Ngga papa ada Fakultas Kedokteran, tapi ya itu harapannnya, jangan sampai per-hatian ke fakultas yang lain jadi minim. Begitu kata penulis sekaligus reporter berita FK.

    Hingga hari dimana Poros dibredel tanpa klarifikasi, tidak ada pihak yang melakukan hak jawab maupun koreksi. Padahal (katanya) ada banyak komplain

    kepada Poros. Peristiwa ini sungguh kami sayangkan.

    Pemberian hak jawab dan koreksi merupakan hak pembaca. Inilah langkah yang harus ditempuh bagi siapapun yang keberatan dengan pemberitaan. Pembre-delan secara sepihak tanpa penjelasan kesalahan tidak akan menjadi pembe-lajaran yang baik dikalangan akademis maupun bukan.

    Jika alasannya adalah ketidaksukaan, ini sungguh rumit dijelaskan. Mengapa? Semua orang tahu perasaan itu sangat subjektif. Setiap orang bisa bermain rasa untuk menilai segala sesuatu. Itulah men-gapa ada ilmu jurnalistik yang bisa kita tempuh untuk menyelesaikan persoalan jika dianggap keliru dalam hal jurnalistik. Karena Poros adalah lembaga jurnalistik, langkah inilah yang harus ditempuh.

    Jika keberadaan kami dianggap tidak bermanfaat. Muncul kembali sebuah pertanyaan. Manfaat bagi siapa? Ma-hasiswa? Dosen? Atau siapa? Memang kami tidak memasukan belasan ribu suara maupun tanggapan mahasiswa, tapi semua yang kami sajikan adalah fakta ungkapan perwakilan mahasiswa. Bukan opini semata.

    Pembaca yang budiman, banyak ko-mentar yang timbul terkait pembredelan Poros yang hanya secara lisan disam-paikan oleh Rektorat UAD, bahkan tanpa Surat Keputusan (SK). Namun alangkah lebih objektif jika sebelum berkomentar terlebih dahulu membaca pemberitaan kami dan kronologi pembredelan. [Red]

    W : persmaporos.com E : redaksiporosonline@gmail.com t :@porosUAD FB:Persma Poros UAD IG :PorosUAD

    Diterbitkan Oleh : UKM Persma POROS UAD. Pembimbing: Anang Masduki S.Sos.I Pimpinan Umum: Lalu Bintang Wahyu Putra Bendahara Umum: Jopri Satriadi Lubis Sekertaris Umum: Siti Hapsa Pimpinan Redaksi: Fara Dewi Tawainella Reporter: Fara Anggota : Nur Azizah, Irma Resdiyanti, Dalety Jelita Hayati (Ilustrator/fotografer), Ilham Lazuardi (Layouter/Ilustrator) Kadiv Litbang : Marwah Ulfatunisa Anggota : Nahrul Hayat, Moh.Tri Angga, Noni Erilila. Kadiv Perusahaan : Silviana Wulandari Anggota : Ila Diazmi Isticandy, Fatma Noviasari. Kadiv Kaderisasi : Hamam Al Fikri Anggota : Muhayyan Kadiv Jaringan : Ilham Lazuardi

    Isi berita Persma Poros UAD itu bukan fitnah. Kebebasan berpendapat adalah hak. Pun, kebebasan pers dijamin di negeri ini. Mestinya kampus menyadari itu.

    (Agung Sedayu, Wartawan Tempo)

    Selalu muncul di pentas sejarah, pelantun kebenaran, itulah pers mahasiswa. Namun, (pers mahasiswa) selalu disambut dengan upaya-upaya pembungkaman. Punyakah mahasiswa energi spiritual untuk bertahan menorehkan peradaban?

    (Abdul Munir Mulkhan, Tokoh Muhammadiyah)

    POROS Ed is i : 01/10 /05/2016

  • Opini 3

    Kabar mengejutkan itu datang dari Yo-gyakarta. Di tengah situasi intoleransi yang meningkat, ditandai dengan berb-agai pelarangan dan pembubaran diskusi, Pers Mahasiswa Poros Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dibredel oleh pejabat kampusnya sendi-ri. Dari kronologi yang beredar di media sosial, alasan pembredelan diakibatkan pemberitaan Poros yang kerap menjelek-jelekkan kampus sehingga tidak memberikan manfaat.

    Pembredelan ini menyedihkan karena terjadi di seputar peringatan Hari Kebebasan Pers In-ternasional 2016, dan apalagi terjadi di Yogya-karta, kota yang memiliki tradisi panjang dalam gerakan pers mahasiswa di Indonesia. Hal ini juga melanjutkan rentetan pembredelan pers mahasiswa yang belakangan semakin marak. Tahun 2014, misalnya, pers mahasiswa Ekspre-si Universitas Negeri Yogyakarta dibredel oleh rektorat UNY. Tahun 2015, pers mahasiswa Lentera di UKSW Salatiga juga dibredel setelah menulis tentang isu 1965.

    Bredel dalam SejarahDalam sejarah pers mahasiswa Indonesia

    pasca reformasi, pembredelan memang telah menjadi problem yang melekat dalam eksistensi pers mahasiswa itu sendiri.