of 15/15
1 BAB I TINJAUAN PUSTAKA I. DEFINISI Hematoma subdural adalah penimbunan darah di dalam rongga subdural. Dalam bentuk akut yang hebat,baik darahmaupun cairan serebrospinal memasuki ruang tersebut sebagai akibat dari laserasi otak atau robeknya arakhnoidea sehingga menambah penekana n subdural pada jejas langsung di otak. Dalam bentuk kronik, hanya darah yang efusi ke ruang subdural akibat pecahnya vena-vena penghubung, umumnya disebabkan oleh cedera kepala tertutup. Efusi itu merupakan proses bertahap yang menyebabkan beberapa minggu setelah cedera, sakit kepala dan tanda-tanda fokal progresif yang menunjukkan lokasi gumpalan darah. Gambar 1. Hematoma Subdural II. ETIOLOGI Keadaan ini timbul setelah cedera/ trauma kepala hebat, seperti perdarahan kontusional yang mengakibatkan ruptur vena yang terjadi dalam ruangan subdural. Perdarahan sub dural dapat terjadi pada:

Case Hematoma Subdural

  • View
    219

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Case Hematoma Subdural

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    1/15

    1

    BAB I

    TINJAUAN PUSTAKA

    I. DEFINISI

    Hematoma subdural adalah penimbunan darah di dalam rongga subdural. Dalam

    bentuk akut yang hebat,baik darahmaupun cairan serebrospinal memasuki ruang

    tersebut sebagai akibat dari laserasi otak atau robeknya arakhnoidea sehingga

    menambah penekanan subdural pada jejas langsung di otak. Dalam bentuk kronik,

    hanya darah yang efusi ke ruang subdural akibat pecahnya vena-vena

    penghubung, umumnya disebabkan oleh cedera kepala tertutup. Efusi itu

    merupakan proses bertahap yang menyebabkan beberapa minggu setelah cedera,

    sakit kepala dan tanda-tanda fokal progresif yang menunjukkan lokasi gumpalan

    darah.

    Gambar 1. Hematoma Subdural

    II. ETIOLOGI

    Keadaan ini timbul setelah cedera/ trauma kepala hebat, seperti perdarahan

    kontusional yang mengakibatkan ruptur vena yang terjadi dalam ruangan

    subdural. Perdarahan sub dural dapat terjadi pada:

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    2/15

    2

    Trauma kapitis Trauma di tempat lain pada badan yang berakibat terjadinya geseran atau

    putaran otak terhadap duramater, misalnya pada orang yang jatuh

    terduduk.

    Trauma pada leher karena guncangan pada badan. Hal ini lebih mudahterjadi bila ruangan subdura lebar akibat dari atrofi otak, misalnya pada

    orangtua dan juga pada anak - anak.

    Pecahnya aneurysma atau malformasi pembuluh darah di dalam ruangansubdura.

    Gangguan pembekuan darah biasanya berhubungan dengan perdarahansubdural yang spontan, dan keganasan ataupun perdarahan dari tumor

    intrakranial.

    Pada orang tua, alkoholik, gangguan hati.III. PATOFISIOLOGI

    Perdarahan terjadi antara duramater dan arakhnoidea. Perdarahan dapat terjadi

    akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di

    permukaan otak dan sinus venosus di dalam duramater atau karena robeknya

    araknoidea. Karena otak yang bermandikan cairan cerebrospinal dapat bergerak,sedangkan sinus venosus dalam keadaan terfiksir, berpindahnya posisi otak yang

    terjadi pada trauma, dapat merobek beberapa vena halus pada tempat di mana

    mereka menembus duramater Perdarahan yang besar akan menimbulkan gejala-

    gejala akut menyerupai hematoma epidural.

    Perdarahan yang tidak terlalu besar akan membeku dan di sekitarnya akan tumbuh

    jaringan ikat yang membentuk kapsula. Gumpalan darah lambat laun mencair dan

    menarik cairan dari sekitarnya dan mengembung memberikan gejala seperti tumor

    serebri karena tekanan intracranial yang berangsur meningkat

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    3/15

    3

    Gambar 2. Lapisan Meningens

    Perdarahan sub dural kronik umumnya berasosiasi dengan atrofi cerebral. Vena

    jembatan dianggap dalam tekanan yang lebih besar, bila volume otak mengecilsehingga walaupun hanya trauma yang kecil saja dapat menyebabkan robekan

    pada vena tersebut. Perdarahan terjadi secara perlahan karena tekanan sistem vena

    yang rendah, sering menyebabkan terbentuknya hematoma yang besar sebelum

    gejala klinis muncul. Pada perdarahan subdural yang kecil sering terjadi

    perdarahan yang spontan. Pada hematoma yang besar biasanya menyebabkan

    terjadinya membran vaskular yang membungkus hematoma subdural tersebut.

    Perdarahan berulang dari pembuluh darah di dalam membran ini memegang

    peranan penting, karena pembuluh darah pada membran ini jauh lebih rapuh

    sehingga dapat berperan dalam penambahan volume dari perdarahan subdural

    kronik.

    Akibat dari perdarahan subdural, dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan

    perubahan dari bentuk otak. Naiknya tekanan intra kranial dikompensasi oleh

    efluks dari cairan likuor ke axis spinal dan dikompresi oleh sistem vena. Pada fase

    ini peningkatan tekanan intra kranial terjadi relatif perlahan karena komplains

    tekanan intra kranial yang cukup tinggi.

    Meskipun demikian pembesaran hematoma sampai pada suatu titik tertentu akan

    melampaui mekanisme kompensasi tersebut.Komplains intrakranial mulai

    berkurang yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intra kranial yang

    cukup besar. Akibatnya perfusi serebral berkurang dan terjadi iskemi serebral.

    Lebih lanjut dapat terjadi herniasi transtentorial atau subfalksin. Herniasi tonsilar

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    4/15

    4

    melalui foramen magnum dapat terjadi jika seluruh batang otak terdorong ke

    bawah melalui incisura tentorial oleh meningkatnya tekanan supra tentorial. Juga

    pada hematoma subdural kronik, didapatkan bahwa aliran darah ke thalamus dan

    ganglia basalis lebih terganggu dibandingkan dengan daerah otak yang lainnya.

    Perdarahan Subdural dapat dibagi menjadi 3 bagian, berdasarkan saat timbulnya

    gejala- gejala klinis yaitu:

    1. Perdarahan akut

    Gejala yang timbul segera hingga berjam - jam setelah trauma. Biasanya terjadi

    pada cedera kepala yang cukup berat yang dapat mengakibatkan perburukan lebih

    lanjut pada pasien yang biasanya sudah terganggu kesadaran dan tanda vitalnya.

    Perdarahan dapat kurang dari 5 mm tebalnya tetapi melebar luas. Pada gambaran

    skening tomografinya, didapatkan lesi hiperdens.

    2. Perdarahan sub akut

    Berkembang dalam beberapa hari biasanya sekitar 2 - 14 hari sesudah trauma.

    Pada subdural sub akut ini didapati campuran dari bekuan darah dan cairan darah .

    Perdarahan dapat lebih tebal tetapi belum ada pembentukan kapsula di sekitarnya.

    Pada gambaran skening tomografinya didapatkan lesi isodens atau hipodens.Lesi

    isodens didapatkan karena terjadinya lisis dari sel darah merah dan resorbsi dari

    hemoglobin.

    3. Perdarahan kronikBiasanya terjadi setelah 14 hari setelah trauma bahkan bisa lebih. Perdarahan

    kronik subdural, gejalanya bisa muncul dalam waktu berminggu- minggu ataupun

    bulan setelah trauma yang ringan atau trauma yang tidak jelas, bahkan hanya

    terbentur ringan saja bisa mengakibatkan perdarahan subdural apabila pasien juga

    mengalami gangguan vaskular atau gangguan pembekuan darah. Pada perdarahan

    subdural kronik , kita harus berhati hati karena hematoma ini lama kelamaan bisa

    menjadi membesar secara perlahan- lahan sehingga mengakibatkan penekanan

    dan herniasi. Pada subdural kronik, didapati kapsula jaringan ikat terbentuk

    mengelilingi hematoma , pada yang lebih baru, kapsula masih belum terbentuk

    atau tipis di daerah permukaan arachnoidea. Kapsula melekat pada araknoidea

    bila terjadi robekan pada selaput otak ini. Kapsula ini mengandung pembuluh

    darah yang tipis dindingnya terutama pada sisi duramater. Karena dinding yang

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    5/15

    5

    tipis ini protein dari plasma darah dapat menembusnya dan meningkatkan volume

    dari hematoma. Pembuluh darah ini dapat pecah dan menimbulkan perdarahan

    baru yang menyebabkan menggembungnya hematoma.

    Darah di dalam kapsula akan membentuk cairan kental yang dapat menghisap

    cairan dari ruangan subaraknoidea. Hematoma akan membesar dan menimbulkan

    gejala seperti pada tumor serebri. Sebagaian besar hematoma subdural kronik

    dijumpai pada pasien yang berusia di atas 50 tahun. Pada gambaran scanning

    tomografinya didapatkan lesi hipodens.

    IV. GEJALA KLINIS1.Hematoma Subdural Akut

    Hematoma subdural akut menimbulkan gejala neurologik dalam 24 sampai 48 jam

    setelah cedera. Dan berkaitan erat dengan trauma otak berat. Gangguan

    neurologik progresif disebabkan oleh tekanan pada jaringan otak dan herniasi

    batang otak dalam foramen magnum, yang selanjutnya menimbulkan tekanan

    pada batang otak. Keadan ini dengan cepat menimbulkan berhentinya pernapasan

    dan hilangnya kontrol atas denyut nadi dan tekanan darah.

    2. Hematoma Subdural Subakut

    Hematoma ini menyebabkan defisit neurologik dalam waktu lebih dari 48 jam

    tetapi kurang dari 2 minggu setelah cedera. Seperti pada hematoma subdural akut,hematoma ini juga disebabkan oleh perdarahan vena dalam ruangan subdural.

    Anamnesis klinis dari penderita hematoma ini adalah adanya trauma kepala yang

    menyebabkan ketidaksadaran, selanjutnya diikuti perbaikan status neurologik

    yang perlahan-lahan. Namun jangka waktu tertentu penderita memperlihatkan

    tanda-tanda status neurologik yang memburuk. Tingkat kesadaran mulai menurun

    perlahan-lahan dalam beberapa jam.Dengan meningkatnya tekanan intrakranial

    seiring pembesaran hematoma, penderita mengalami kesulitan untuk tetap sadar

    dan tidak memberikan respon terhadap rangsangan bicara maupun nyeri.

    Pergeseran isi intracranial dan peningkatan intracranial yang disebabkan oleh

    akumulasi darah akan menimbulkan herniasi unkus atau sentral dan melengkapi

    tanda-tanda neurologik dari kompresi batang otak.

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    6/15

    6

    3.Hematoma Subdural Kronik

    Timbulnya gejala pada umumnya tertunda beberapa minggu, bulan dan

    bahkan beberapa tahun setelah cedera pertama.Trauma pertama merobek salah

    satu vena yang melewati ruangan subdural. Terjadi perdarahan secara lambat

    dalam ruangan subdural. Dalam 7 sampai 10 hari setelah perdarahan terjdi, darah

    dikelilingi oleh membrane fibrosa.Dengan adanya selisih tekanan osmotic yang

    mampu menarik cairan ke dalam hematoma, terjadi kerusakan sel-sel darah dalam

    hematoma. Penambahan ukuran hematoma ini yang menyebabkan perdarahan

    lebih lanjut dengan merobek membran atau pembuluh darah di sekelilingnya,

    menambah ukuran dan tekanan hematoma.

    Hematoma subdural yang bertambah luas secara perlahan paling sering

    terjadi pada usia lanjut (karena venanya rapuh) dan pada alkoholik. Pada kedua

    keadaan ini, cedera tampaknya ringan; selama beberapa minggu gejalanya tidak

    dihiraukan. Hasil pemeriksaan CT scan dan MRI bisa menunjukkan adanya

    genangan darah.

    Hematoma subdural pada bayi bisa menyebabkan kepala bertambah besar

    karena tulang tengkoraknya masih lembut dan lunak. Hematoma subdural yang

    kecil pada dewasa seringkali diserap secara spontan. Hematoma subdural yang

    besar, yang menyebabkan gejala-gejala neurologis biasanya dikeluarkan melalui

    pembedahan. Petunjuk dilakukannya pengaliran perdarahan ini adalah: sakit kepala yang menetap

    rasa mengantuk yang hilang-timbul

    linglung

    perubahan ingatan

    kelumpuhan ringan pada sisi tubuh yang berlawanan.

    V. PENATALAKSANAANMeskipun SDH secara signifikan membutuhkan terapi pembedahan, maneuver

    medis sewaktu dapat digunakan preoperative untuk menurunkan tekanan

    intracranial yang meningkat. Pengukuran ini merupakan pintu untuk setiap lesi

    massa akut dan telah distandardisasi oleh komunitas bedah saraf.

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    7/15

    7

    Sebagaimana dengan pasien trauma lain, resusitasi dimulai dengan ABCs(airway, breathing, circulation).

    o Semua pasien dengan skor GCS kurang dari 8 harus dilakukanintubasi untuk perlindungan jalan nafas.

    o Setelah menstabilkan fungsi jalan nafas, lakukan pemeriksaanneurologis. Respirasi yang adekuat sebaiknya dilakukan dan dijaga

    untuk menghindari hipoksia. Hiperventilasi dapat digunakan jika

    sindrom herniasi tampak.

    o Tekanan darah pasien harus dijaga pada kadar normal atau tinggidengan menggunakan salin isotonic, penekan, atau keduanya.

    Hipoksia dan hipotensi, dimana penting pada pasien dengan trauma

    kepala, merupakan predictor yang independen untuk hasil yang

    buruk.

    Sedatif kerja singkat dan paralitik digunakan hanya ketika diperlukanuntuk memfasilitasi ventilasi adekuat atau ketika peningkatan tekanan

    intracranial dicurigai. Jika pasien menampakkan tanda sindrom herniasi,

    berikan manitol 1gr/kg dengan cepat melalui intravena

    Pasien juga sebaiknya dihiperventilasikan ringan (pCO2 ~30-35 mm Hg). Pemberian antikonvulsan untuk mencegah kejang yang disebabkan

    iskemia dan selanjutnya jaga tekanan intracranial. Jangan memberikan steroid, sebagaimana mereka telah ditemukan tidak

    efektif pada pasien dengan trauma kepala.

    Perawatan Pembedahan

    Dari segi bedah saraf sangat penting adalah komplikasi intrakranial, lesi

    massa, khususnya hematoma intracranial. Yang terpenting dalam hal gawat

    darurat adalah hematoma subdural akut (yang terjadi dalam waktu 72 jam sesudah

    trauma). Hematoma subdural, khususnya yang berkomplikasi, gejalanya tak dapat

    dipisahkan dari kerusakan jaringan otak yang menyertainya; yang berupa

    gangguan kesadaran yang berkelanjutan sejak trauma (tanpa lusid interval) yang

    sering bersamaan dengan gejala-gejala lesi massa, yaitu hemiparesis, deserebrasi

    satu sisi, atau pelebaran pupil.

    Dalam hal hematoma subdural yang simple dapat terjadi lusid interval

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    8/15

    8

    bahkan dapat tanpa gangguan kesadaran. Sering terdapat lesi

    multiple. Maka, tindakan CT Scan adalah ideal, karena juga menetapkan apakah

    lesi multiple atau single. Angiografi karotis cukup bila hanya hematoma

    subdural yang didapatkan.

    Bila kedua hal tersebut tak mungkin dikerjakan, sedang gejala dan

    perjalanan penyakit mengarah pada timbulnya lesi massa intrakranial, maka

    dipilih tindakan pembedahan. Tindakan eksploratifburrhole dilanjutkan tindakan

    kraniotomi, pembukaan dura, evakuasi hematoma dengan irigasi memakai cairan

    garam fisiologis. Sering tampak jaringan otak edematous.

    Disini dura dibiarkan terbuka, namun tetap diperlukan penutupan ruang

    likuor hingga kedap air. Ini dijalankan dengan bantuan periost. Perawatan

    pascabedah ditujukan pada faktor-faktor sistemik yang memungkinkan lesi otak

    sekunder.

    VI. PROGNOSISTindakan operasi pada hematoma subdural kronik memberikan prognosis

    yang baik, karena sekitar 90 % kasus pada umumnya akan sembuh total.

    Hematoma subdural yang disertai lesi parenkim otak menunjukkan angka

    mortalitas menjadi lebih tinggi dan berat dapat mencapai sekitar 50 %.

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    9/15

    9

    BAB 2

    ILUSTRASI KASUS

    Identitas Pasien

    NAMA : Tn.S

    UMUR : 58 tahun

    JENIS KELAMIN : Laki-laki

    ALAMAT : Komp. Taruko 1 c/14 Padang

    AGAMA : Islam

    PEKERJAAN : Petani

    STATUS : Menikah

    SUKU BANGSA : Minangkabau

    TANGGAL MASUK : 22 Agustus 2012pkl.11.00 WIB

    DIRAWAT YANG KE : I (Pertama)

    ANAMNESA/ALLO :

    Seorang pasien laki-laki umur 58 tahun masuk bangsal Neurologi RSUP

    Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 22 Agustus 2012 dengan:

    Keluhan Utama : Sakit kepala terus menerus sejak 1 bulan yang lalu

    Riwayat Penyakit Sekarang:

    Sakit kepala terus menerus sejak 1 bulan yang lalu, keluhan disertai rasa mual, 1bulan yang lalu os pernah terjatuh dari motor dengan kepala terbentur tanah. Saat

    terjatuh os masih dalam keadaan sadar, muntah tidak ada, 1 hari setelah terjatuh

    os masih beraktivitas seperti biasanya dan os tidak merasakan sakit di kepalanya.

    Sakit kepala dirasakan terus menerus oleh pasien, serangan sakitnya timbul tiba-

    tiba baik os sedang beraktivitas maupun pada saat os sedang beristirahat, os,

    merasa bagian kepala yang lebih sering terasa sakit adalahkepala sebelah kanan,

    sakit kepala dirasakan seperti berdenyut dan setiap kali sakit kepalanya timbul

    lamanya serangan sekitar 10-15 menit dan mata terasa gelap,dan disertai perasaan

    mual, sakit kepala berkurang jika os istirahat. Terkadang os merasa kaku di otot

    kepala dan leher, Namun os tidak merasakan sakit kepala seperti berputar-putar.

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    10/15

    10

    Penurunan kesadaran (-), muntah (-), kejang (-) Kelemahan pada anggota gerak (-), rasa baal (-), gangguan penglihatan (-),

    gangguan menelan (-)

    BAK dan BAB biasaRiwayat Penyakit Dahulu :

    Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi Riwayat sakit jantung, diabetes melitus dan strok sebelumnya tidak ada

    Riwayat Penyakit Keluarga :

    Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan seperti pasien. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit stroke, kencing manis, sakit

    jantung, darah tinggi, dan sakit ginjal.

    Riwayat Pribadi dan Sosial :

    - Pasien seorang petani dengan aktifitas sehari-hari cukup- Tidak merokok dan tidak minum kopi

    PEMERIKSAAN FISIK

    I. UmumKeadaan Umum : Sedang Nadi : 88x/mt

    Kesadaran : Compos Mentis Irama : Teratur

    :GCS E4M6V5=15 Pernafasan :20x/mt

    Kooperatif : kooperatif

    Keadaan Gizi :sedang Tek.Darah :120/70

    Tinggi Badan :170 cm Suhu :36,80C

    Berat Badan :72 kg Turgor Kulit :Baik

    Rambut : Tidak mudah Kulit dan Kuku:Tidak ada

    dicabut kelainan

    Kulit : Tidak ada kelainan

    Mata : Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik

    THT : Tidak ada kelainan

    Leher : JVP : 5-2 cmH2O

    Bising karotis (-)

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    11/15

    11

    Kelenjer Getah Bening

    #Leher : Tidak membesar

    #Aksila : Tidak membesar

    #Inguinal : Tidak membesar

    Torak

    #Paru

    Inspeksi :Simetris kiri = kanan

    Palpasi :Fremitus sukar dinilai

    Perkusi :Sonor

    Auskultasi :bronkoesikuler, ronkhi +/+, wheezing -/-

    #Jantung

    Inspeksi :Ictus cordis tidak terlihat

    Palpasi :Ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC V

    Perkusi :Batas jantung dalam batas normal

    Auskultasi :Bunyi jantung I-II teratur, bising jantung (-).

    #Abdomen

    Inspeksi :Tidak tampak membuncit

    Palpasi :Hepar/Lien tidak terabaPerkusi :Timpani

    Auskultasi :BU (+) normal

    #Korpus Vertebra

    Inspeksi :deformitas (-)

    Palpasi :Nyeri tekan (-)

    II. Status Neurologis1. Tanda Rangsangan Selaput Otak

    Kaku kuduk : - Brudzinski I : -

    Brudzinski II : - Tanda Kernig : -

    2. Tanda Peningkatan IntrakranialPupil :isokor,diameter 3mm/3mmm, Reflek cahaya +/+

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    12/15

    12

    3. Pemeriksaan Nervus Kranialis N. I (Olfaktorius) :Dalam batas normal N. II (Optikus) : Dalam batas normal N. III (Okulomotorius), N. IV (Trochlearis), N. VI (Abdusen):

    pupil isoskor 3mm/3mm, gerakan bola mata bebas ke segala

    arah reflek cahaya +/+, reflek kornea +/+.

    N. V (Trigeminus) : Bisa membuka mulut, megunyah, danmenggigit.

    N. VII (Fasialis) : Raut wajah simetris, plika nasolabialisnormal, kerutan dahi simetris, menutup mata (+)

    N. VIII (Vestibularis) : fungsi pendengaran baik, nistagmus(-), koordinasi baik.

    N. IX (Glossopharyngeus), N. X (Vagus): refleks muntah (+),arkus faringsimetris, uvula ditengah

    N. XI (Asesorius) : Bisa menoleh ke kiri dan ke kanan,bisa mengangkat bahu kiri dan kanan.

    N. XII (Hipoglosus) : deviasi lidah tidak ada4. Pemeriksaan Koordinasi

    Tidak ada kelainan

    5. Pemeriksaan Fungsi MotorikAnggota gerak aktif, 555 555, eutrofi, eutonus.

    555 555

    6. Pemeriksaan SensibilitasEksteroseptif dan proprioseptif dalam batas normal

    7. Sistem RefleksRefleks fisiologis Kanan Kiri

    Biseps ++ ++

    Triseps ++ ++

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    13/15

    13

    8. Fungsi OtonomMiksi, defekasi, dan sekresi keringat baik

    9. Fungsi LuhurFungsi bahasa, orientasi, memori dan emosi baik.

    Pemeriksaan Laboratorium

    Darah :

    #Rutin :Hb : 12,9

    Leukosit : 8.800/

    Ht : 40 %

    Trombosit: 203.000/mm3

    Rencana Pemeriksaan Tambahan:

    - Foto Rontgen kepala- CT scan kepala

    DIAGNOSIS

    - Klinis = Cephalgia post trauma

    - Topis = subdural frontotemporoparietal

    - Etiologi= subdural hematom kronik

    DIAGNOSIS BANDING

    - Tumor otak

    PENATALAKSANAAN

    # Umum : - IVFD RL 12 jam /kolf

    - Elevasi kepala 300

    KPR ++ ++

    APR ++ ++

    Dinding perut ++ ++

    Refleks patologis Kanan Kiri

    Babinsky - -

    Chaddok - -

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    14/15

    14

    #Khusus :

    - Antibiotik : ceftrixone 1gr/12jam (ST)- Manitol IV dalam larutan 20% dengan dosis 1-1,5 g/kg- Ibuprofen 3x1 tab- Ranitidin ampl/8 jamPROGNOSA

    o Quo ad Vitam : ad bonamo Quo ad Fungtionam : ad bonamo Quo ad Sanationam : ad bonam

  • 7/29/2019 Case Hematoma Subdural

    15/15

    15

    DAFTAR PUSTAKA

    1. PERDOSSI. Buku Ajar Neurologi Klinis. 2005. Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity Press

    2. Indonesian Neurological Association. Advanced Neurology Life Support.2005.