Terapi Bermain Nonton Video

  • Published on
    29-Dec-2015

  • View
    17

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

PRE-PLANNING

PROGRAM TERAPI BERMAIN: MENONTON VIDEO PADA

KELOMPOK ANAK USIA PRA SEKOLAH DENGAN MASALAH : UNTUK MENGURANGI TINGKAT KECEMASAN HOSPITALISASI DIRUANG ANAK

RSUP DR.M.DJAMILPADANG

Oleh Kelompok 21. Tajri Adnan2. Triyoga3. Rahmat Ali4. Istanto5. Amin Begi6. Wira Selvia7. Siska Septriyani8. Puji Rahayu9. Rima Handayani10. Zakiah PutrianiPROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM

JAMBI2013PRE-PLANNING

PROGRAM TERAPI BERMAIN : MENONTON VIDEO PADA

KELOMPOK ANAK USIA PRA SEKOLAH DENGAN MASALAH : HOSPITALISASI DIRUANG ANAK

RSUP DR.M.DJAMILPADANG

Topik : Bersosialisasi dan menonton videoTerapis : 10 orang mahasiswa STIKBA JAMBI

Sasaran : Klien (anak) yang kooperatif ( 3-6 orang) dan klien yang sesuai dengan kriteria usia pra sekolah.A. Latar belakang

Kecemasan adalah satu perasaan subjektif yang dialami seseorang terutama oleh adanya pengalaman baru, termasuk pada pasien yang akan mengalami tindakan invasif seperti pembedahan. Dilaporkan pasien mengalami cemas karena hospitalisasi, pemeriksaan dan prosedur tindakan medik yang menyebabkan perasaan tidak nyaman (Rawling, 1984).

Kecemasan adalah gejala yang tidak spesifik dan aktivitas saraf otonom dalam berespon terhadap ketidakjelasan, ancaman tidak spesifik yang sering ditemukan dan sering kali merupakan suatu emosi yang normal (Carpenito, 2000).Tingkat Kecemasan Manusia dapat digolonkan pada empat tingkatan kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik

Dalam Supartini (2002), hospitalisasi merupakan suatu proses karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapat menjadi suatu pengalaman yang menimbulkan trauma, baik pada anak, maupun orang tua. Sehingga menimbulkan reaksi tertentu yang akan sangat berdampak pada kerja sama anak dan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit. Bila koping yang digunakan salah dan tidak berhasil akan menimbulkan suatu krisis yang berdampak pada anak dan keluarga. Krisis akan berperan sebagai inhibitor dalam proses pengobatan dan perawatan yang mengalami gangguan fisik dan mental. Faktor penyembuh itu memerlukan dukungan emosional keluarga dan perawat perlu mengadakan pembinaan hubungan yang terapeutik dengan anak dan keluarga, salah satunya dengan mengadakan terapi bermain.Dari observasi yang telah dilakukan kelompok, didapatkan rata-rata 40% pasien yang dirawat di bangsal anak adalah dengan usia 3-6 tahun (pra sekolah) yang masih terbatas dengan proses pengobatan, perawatan dan kebutuhan bermain anak. Jumlah anak pra sekolah yang di jumpai selama observasi adalah sebanyak 6 orang. 4 dari 6 anak mengalami stress hospitalisasi. Oleh sebab itu kelompok memilih melakukan terapi bermain pada kelompok anak usia pra sekolah.Diantara intervensi keperawatan anak, terapi bermain sangat efektif karena dapat mengetahui perkembangan fisik, mental, intelektual dan sosial anak sebagai wadah pembinaan hubungan interpersonal antara klien dan perawat. Banyak jenis permainan yang dapat diterapikan pada anak, salah satu terapinya adalah menonton video. Suatu kegiatan yang akan dilakukan oleh anak menyusun puzzle, pertama puzzle diambil, diacak, terus mencocokkan ke tempat atau bentuk gambar yang sesuai. Permainan yang dilakukan bertujuan untuk : melatih kerjasama mata dan tangan serta melatih keterampilan dengan gerakan berulang-ulang. Sehingga dengan adanya terapi bermain menyusun puzzle diharapkan klien bisa bersosialisai dengan baik pada semua klien (anak) dalam bentuk bermain berkelompok serta diharapkan bisa mengurangi trauma hospitalisasi anak terhadap rumah sakit.B. Tujuan

a) Tujuan Umum

Meningkatkan kemampuan dalam bersosialisai yang baik pada semua klien (anak) dalam bentuk bermain berkelompok dan sebagai lahan untuk tempat bermain serta mengurangi trauma hospitalisasi anak terhadap rumah sakit.b) Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan terapi bermain diharapkan klien mampu:

1. Mengungkapkan perasaan tentang visualisasi2. Mampu mengembangkan kemampuan motorik halus dan kasar3. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan teman sebaya4. Mencontohkan dan menunjukkan video5. Menyimpulkan hasil tontonan6. Mencontohkan kepada teman yang lainC. Pengorganisasian1) Leader : Idris 2) Co-Leader : Siska setriyani3) Observer : 1. Rima Handayani

9. Siska tri utami2. Rahmat Ali

10. Renita marisa

3. Zakiah Putriyani

11. Elissa novalia

4. Amin Begi

12. Mayliza Mz.5. Istanto

13. Gustina

6. Fuji Rahayu

14. Retno Astrini

7. Aula reci

15. Marsal Wendi

8. Yayanng wahyuni

16. Melisa oktavia4) Fasilitator : 1. Trie yoga prio sismanto6. Gezza merry Kurniati2. Wira Selvia

7. Fauziah Akrama3. Tajri Adnan

8. Indra Alfalah4. Nopriandi

9. Ezi siswanti

5. Agustri Afriman

D. Uraian Tugas 1) Leader

Menjelaskan tujuan bermain

Mengarahkan proses kegiatan pada anggota kelompok

Menjelaskan aturan bermain pada anak

Mengevaluasi perasaan setelah pelaksanaan

2) Co.Leader

Membantu leader dalam mengorganisasi anggota.

3) Fasilitator

Menyiapkan alat-alat permainan

Memberi motivasi kepada anak untuk mendengarkan apa yang sedang dijelaskan.

Mempertahankan kehadiran anak

Mencegah gangguan/hambatan terhadap anak baik luar maupun dalam.

4) Observer

Mencatat dan mengamati respon klien secara verbal dan non verbal.

Mencatat seluruh proses yang dikaji dan semua perubahan prilaku,

Mencatat dan mengamati peserta aktif dari program bermainE. Setting Tempat

Keterangan :

= Leader

= Co-Leader

= Observer

= Observer= Klien

= layar= pembimbing F. Kriteria Anak

Kriteria anak yang akan mengikuti kegiatan adalah :

Keadaan umum anak sedang

Anak yang kooperatif

Anak berusia 3-6 tahunG. Proses Seleksi

1. Identifikasi klien yang masuk dalam criteria anak 2. Membuat kontrak dengan keluarga klien

Menjelaskan tujuan kegiatan

Menjelaskan waktu dan tempat kegiatan

Membuat perjanjian mengikuti peraturan dalam bermain

Menjelaskan kepada anak dan keluarga untuk menonton video yang telah diberikan.H. Uraian Struktur Kegiatan1. Hari / tanggal

: Rabu / 8 Januari 20142. Tempat

: Ruang terapi bermain anak

3. Waktu

: 11.00 WIB4. Jumlah Anggota: 3 6 orang

5. Metoda

: menonton , Tanya jawab

6. Perilaku yang diharapkan dari anggota

Klien (anak) dapat saling memperkenalkan diri dan menyebutkan hobi dan cita-citanya Klien (anak) dapat menonton dengan baik dan benar Klien (anak) dapat meningkatkan sosialisasi dan mengekpresikan perasaan melalui permainan ini Klien (anak) dapat merasa nyaman berinteraksi dengan pasien lain dan juga perawat7. Perilaku yang diharapkan leader

Menjelaskan tujuan aktivitas

Memperkenalkan anggota terapis

Menjelaskan aturan permainan

Memberikan respon yang sesuai dengan perilaku anggota

Menyimpulkan keseluruhan aktivitas anggota

8. Perilaku yang diharapkan dari Co Leader

Menyampaikan informasi dan fasilitator kepada leader

Membantu leader dalam melaksanakan tugasnya

9. Perilaku yang diharapkan dari fasilitator

Mampu memfasilitasi klien yang kurang aktif

Mampu memotivasi klien

10. Perilaku yang diharapkan dari Observer

Mampu mengobservasi jalannya terapi bermain

Mengamati dan mencatat jumlah anggota yang hadir

Melaporkan tentang hasil terapi pada masing-masing anak.

Membuat kesimpulan, evaluasi dan mendiskusikan tentang kondisi anak kepada orang tua, untuk ditindak lanjuti oleh orang tua.

I. Kegiatan Terapi Bermain

NoWaktuKegiatan TerapisKegiatan Peserta

(Anak dan Orang Tua)

122 menit5 menit Pra interaksi Mempersiapkan alat Mempersiapakan KlienFase orientasi Memusatkan perhatian anak-anak Mengucapakan Salam Memperkenalkan diri dan pembimbing Menjelaskan tujuan, kontrak waktu dan topik Memperkenalkan klien dan melibatkan orang tua dalam kegiatanMemperhatikan

MemperhatikanMenjawab salam

Mendengarkan Mendengarkan Berpartisipasi

230 menitFase kerja Bersosialisasi melalui permainan Memandu anak untuk menonton video Memberi reinforcement atas tindakan peserta

Menanyakan pendapat anak tentang menonton video Memberi reinforcement

Anak berpartisipasi dengan baikMenonton videoMendengarkan

MenjawabMendengarkan

38 menitFase Terminasi Menyudahi permainan

Menanyakan perasaan anak sesudah bermain

Mengucapkan terimakasih pada orang tua dan anak

Memberi salamMendengarkanMenjelaskan perasaannya

MendengarkanMenjawab salam

J. Media Infokus layarK. Evaluasi1. Evaluasi struktur

Peserta 3 5 orang

Peserta duduk ditempat yang telah disediakan atau ditempat yang diinginkan oleh anak

2. Evaluasi proses

Klien tidak meninggalkan tempat selama kegiatan berlangsung.

Klien aktif dan dapat mengikuti semua rangkaian kegiatan dengan tertib

Klien dapat mengikuti terapi sesuai dengan aturan permainan

3. Evaluasi hasil

Anak mampu menggunakan daya imajinasinya sambil bermain dengan baik : 80 % Anak mempunyai teman kenalan yang baru : 80%Materi A. Kecemasan Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik. Keadaan tersebut dapat terjadi dalam berbagai situasi kehidupan maupun gangguan sakit. Selain itu kecemasan dapat menimbulkan reaksi tubuh yang akan terjadi secara berulang seperti rasa kosong di perut, sesak nafas, jantung berdebar, keringat banyak, sakit kepala, rasa mau buang air kecil dan buang air besar. Perasaan ini disertai perasaaan ingin bergerak untuk lari menghindari hal yang dicemaskan (Stuart and Sundeen, 1998).Hospitalisasi diartikan adanya beberapa perubahan psikis yang dapat menjadi sebab yang bersangkutan dirawat disebuah institusi seperti rumah perawatan (Stevens, 1992).Penyebab terjadinya kecemasan sukar untuk diperkiraan dengan tepat. Hal ini disebabkan oleh adanya sifat subyekif dari kecemasan, yaitu : Bahwa kejadian yang sama belum tentu dirasakan sama pula oleh setiap orang. Dengan kata lain suatu rangsangan atau kejadian dengan kualitas den kuantitas yang sama dapat diinterprestasikan secara berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya.Teori kognitif menyatakan bahwa reaksi kecemasan timbul karena kesalahan mental. Kesalahan mental ini karena kesalahan menginterpetasikan suatu situasi yang bagi individu merupakan sesuatu yang mengancam. Melalui teori belajar sosial kognitif, Bandura menyatakan bahwa takut dan kecemasan di hasilkan dari harapan diri yang negatif karena mereka percaya bahwa mereka tidak dapat mengatasi dari situasi yang secara potensial mengancam bagi mereka.Sedangkan berdasarkan sumber timbulnya kecemasan, Freud (Dalam Calvin S. Hall, 1993) membedakan kecemasan menjadi 3 macam, yaitu : a. Kecemasan Neurotik (Neurotic Anxiety), yaitu kecemasan yang berhubungan erat dengan mekanisme pembelaan diri, dan juga disebabkan oleh perasaan bersalah atau berdosa, konflik-konflik emosional yang serius, frustasi, serta ketegangan-ketegangan batin; b. Kecemasan Moral (Anxiety of moral conscience/super ego), yaitu rasa takut akan suara hati, di masa lampau pribadi pernah melanggar norma moral dan bisa di hukum lagi, misalnya takut untuk melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama; c. Kecemasan Realistik (Realistic Anxiety), yaitu rasa takut akan bahaya-bahaya nyata di dunia luar, misalnya takut pada ular berbisa.B. Hospitalisasi

Dalam Supartini (2002), hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapt menjadi suatu pengalaman yang menimbulkan trauma, baik pada anak, maupun orang tua. Sehingga menimbulkan reaksi tertentu yang akan sangat berdampak pada kerja sama anak dan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit. Oleh karena itu betapa pentingnya perawat memahami konsep hospitalisasi dan dampaknya pada anak dan orang tua sebagai dasar dalam pemberian asuhan keperawatan (Supartini, 2002).Tingkah laku pasien yang dirawat di rumah sakit dapat dikenal menurut Stevens tahun 1992 dari :

1.Kelemahan untuk berinisiatif.

2.Kurang/ tak ada perhatian tentang hari depan.

3.Tak berminat (ada daya tarik).

4.Kurang perhatian cara berpakaian dan segala sesuatu yang bersifat pandangan luas.

5.Ketergantungan dari orang-orang yang membantunya.C. Reaksi hospitalisasi berdasarkan periode perkembangan anakSaat dirawat di rumah sakit atau tengah menjalani proses hospitalisasi, klien (dalam hal ini adalah anak), tentu akan mengalami stress akibat dari segala macam bentuk perubahan yang ia alami, seperti perubahan lingkungan, suasana, dan lain sebagainya. Stressor dan reaksi hospitalisasi sesuai dengan tumbuh kembang pada anak Menurut Novianto dkk, 2009:1) Masa bayi (0-1 tahun)

Dampak perpisahan, usia anak > 6 bulan terjadi stanger anxiety (cemas), menangis keras.a) Pergerakan tubuh yang banyak.b) Ekspresi wajah yang tidak menyenangkan2) Masa todler (2-3 tahun)

Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon perilaku anakdengan tahapnya dengan :a) Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain.b) Putus asa menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis.c) Pengingkaran / denial.d) Mulai menerima perpisahan.e) Membina hubungan secara dangkal.f) Anak mulai menyukai lingkungannya.3) Masa prasekolah (3-6 tahun)

Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman, sehingga menimbulkan reaksi agresif.a)Menolak makan

b) Sering bertanya

c) Menangis perlahan

d) Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan

4) Masa sekolah (6-12 tahun)

Perawatan di rumah sakit memaksakan ;

a) Meninggalkan lingkungan yang dicintai.

b) Meninggalkan keluarga.

c) Kehilangan kelompok sosial, sehingga menimbulkan kecemasan.

5) Masa remaja (12-18 tahun)

Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Reaksi yang muncul ;

a) Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan.

b) Tidak kooperatif dengan petugas.

c) Bertanya-tanya.

d) Menarik diri.

e) Menolak kehadiran orang lain.D. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok

Pada dasarnya digunakan pada klien yang mengalami gangguan persepsi, gangguan orientasi realita, gangguan inter personal terhadap nilai-nilai dari pergaulan anak, maka komunikasi perlu diberikan sebagai upaya untuk merangsang motivasi hubungan interpersonal.

Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai keinginan untuk kesenangan dan kepuasan kepada anak-anak dan kelompoknya. Jenis permainan anak usia pra sekolah dibagi atas; buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar dan tulis, kertas untuk belajar melipat...