of 33 /33
ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA (Studi Kasus Peternak Plasma dari Tunas Mekar Farm di Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor, Jawa Barat) SKRIPSI MUHAMAD LUCKY MAULANA PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Analisis Pemasaran Ayam Broiler

Embed Size (px)

Text of Analisis Pemasaran Ayam Broiler

  • ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA

    (Studi Kasus Peternak Plasma dari Tunas Mekar Farm di Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

    SKRIPSI

    MUHAMAD LUCKY MAULANA

    PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

  • ABSTRACT

    Benefit Analysis Of Broiler Plasma Farmers At Nucleus-Plasma Pattern (Case Study Plasma Farmers Of Tunas Mekar Farm In Sub-District Nanggung

    District Bogor, Bogor) Maulana, M.L, S. Mulatsih, and Burhanuddin.

    The aims of the research were: (1) to analyze the partnership mechanism between Tunas Mekar Farm and plasma farmers. (2) To describe broiler farm management of plasma farmers. (3) To calculate profit and R/C ratio value which received by plasma farmers. Primary and secondary data used in this research primary data was collected from observation and interview with plasma farmers. Secondary data were collected from Tunas Mekar Farm report and literature review. There were 22 people as the members of Tunas Mekar Farm partnership plasma, and all of this population taken as sample of research by using census method. Data analysis includes descriptive analysis, income analysis, and R/C ratio analysis. The results reveals that the partnership mechanism including requirement to be a member of plasma, price input and output, bonus of FCR and mortality and production arrangement. Analysis shows that profit the first scale was Rp 435,85/ Kg life weight, the second scale is Rp 388,59/ Kg life weight and the third scale is Rp 580,96/ Kg life weight. From the data above, the analysis ratio shows that R/C Ratio on the first scale was 1, 05, second scale is 1, 04, and the third scale is 1, 07.

    Keywords: partnership mechanism, plasma farmers, income, R/C ratio

  • RINGKASAN

    MUHAMAD LUCKY MAULANA. D34102056. 2008. Analisis Pendapatan Peternak Ayam Ras Pedaging Pola Kemitraan Inti-Plasma (Studi Kasus Peternak Plasma dari Tunas Mekar Farm di Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor, Bogor). Skripsi. Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Pembimbing Utama : Dr. Ir. Sri Mulatsih, MSc.Agr. Pembimbing Anggota : Ir. Burhanuddin. MM

    Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging yang memiliki beberapa keunggulan diantaranya, laju perputaran modal yang cepat dan waktu pemeliharaan yang singkat yaitu dalam lima minggu ayam broiler sudah dapat dipanen dengan bobot 1,5 kg/ekor. Hal inilah yang mendorong banyak peternak yang mengusahakan peternakan ayam broiler.

    Tunas Mekar Farm adalah salah satu perusahaan peternakan ayam broiler yang melakukan kerjasama dengan peternak di Kecamatan Nanggung melalui pola kemitraan inti-plasama. Tujuan pola kemitraan ini adalah meningkatkan pendapatan, dan peningkatan skala usaha baik dari pihak perusahaan maupun peternak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme kemitraan yang dilakukan pada pola kemitraan inti-plasma, mengetahui manajemen pemeliharaan (budidaya) ternak pada pola kemitraan inti-plasma, dan menghitung pendapatan dan nilai R/C Rasio yang didapat peternak plasma pada pola kemitraan inti-plasma.

    Penelitian ini dilakukan pada peternak yang melakukan kemitraan dengan perusahaan peternakan Tunas Mekar Farm. Lokasi Perusahaan Inti berada di Komplek Ciluar Permai blok1/12, Kota Bogor. Peternak plasma berlokasi di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan, yaitu pada bulan Agustus hingga September 2007 yang didesain sebagai studi kasus, responden peternak berjumlah 22 orang. Pengambilan data dilakukan dengan metode sensus. Peternak pada masing-masing sistem kemitraan dibagi menjadi tiga skala. Penentuan skala dibagi berdasarkan skala kepemilikan ayam (Lampiran 2). Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data produksi pemeliharaan menggunakan data peternak plasma pada periode Agustus hingga September 2007 (1 periode). Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis pendapatan, dan analisis R/C rasio.

    Hasil analisis pendapatan pada periode Agustus-September 2007 menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh petermak skala I adalah sebesar Rp 435,85/kg bobot hidup, peternak skala II memperoleh pendapatan sebesar Rp 388,59/kg bobot hidup, dan peternak skala III memperoleh pendapatan sebesar Rp 580,96/kg bobot hidup. Perolehan nilai pendapatan yang positif menunjukkan bahwa peternak mendapatkan keuntungan dari usahaternaknya.

    Hasil analisis R/C rasio menunjukkan bahwa R/C rasio yang didapat peternak skala I adalah sebesar 1,05, peternak skala II sebesar 1,04, dan peternak skala III sebesar 1,07. nilai R/C rasio terbesar dimilki peternak skala III dengan nilai R/C rasio sebesar 1,07 yang menunjukkan bahwa setiap satu rupiah yang dikeluarkan peternak akan menghasilkan penerimaan sebesar 1,07 rupiah.

    Kata-kata kunci : mekanisme kemitraan, peternak plasma, pendapatan , R/C rasio.

  • ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA

    (Studi Kasus Peternak Plasma dari Tunas Mekar Farm di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

    MUHAMAD LUCKY MAULANA

    D34102056

    Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

    Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

    PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

  • ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA

    (Studi Kasus Peternak Plasma dari Tunas Mekar Farm di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

    Oleh

    MUHAMAD LUCKY MAULANA

    D34102056

    Skripsi ini telah disetujui dan telah disidangkan di hadapan Komisi Ujian Lisan pada tanggal 18 Juli 2008

    Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

    Dr. Ir. Sri Mulatsih, MSc. Agr. Ir. Burhanuddin. MM NIP. 131 849 397 NIP. 132 232 454

    Dekan Fakultas Peternakan

    Institut Pertanian Bogor

    Dr. Ir. Luki Abdullah, MSc. Agr. NIP.131 955 531

  • DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    Penulis dilahirkan pada tanggal 26 Februari 1985 di Bandung. Penulis adalah

    anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan H Ludi Mauludi dan Hj Euis Djuariah.

    Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1996 di SDN Semeru V

    Bogor. Selanjutnya penulis melanjutkan belajar di SMP negeri 2 Bogor yang

    diselesaikan pada tahun 1999. Pendidikan lanjutan atas ditempuh penulis di SMU

    Negeri 5 Bogor yang diselesaikan pada tahun 2002.

    Pada tahun 2002, penulis mendapatkan kesempatan belajar di IPB melalui

    jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan diterima pada Program Studi Sosial

    Ekonomi Peternakan, Departemen Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan

    dengan minat studi Ekonomi dan Perencanaan. Selama kuliah penulis aktif

    di HIMASEIP (Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Industri Peternakan).

  • KATA PENGANTAR

    Alhamdulillahi robbil alamin,, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat

    Illahi yang telah memberikan kekuatan, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga skripsi

    yang berjudul Analisis Pendapatan Peternak Ayam Ras Pedaging Pola Kemitraan

    Inti-Plasma (Studi Kasus Peternak Plasma dari Tunas Mekar Farm di Kecamatan

    Nanggung Kabupaten Bogor, Jawa Barat) ini dapat terselesaikan. Penyusunan skripsi

    ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

    Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian

    Bogor.

    Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kemitraan yang

    dilakukan pada pola kemitraan inti-plasma, mengetahui manajemen pemeliharaan

    (budidaya) ternak pada pola kemitraan inti-plasma, dan menghitung pendapatan dan

    nilai R/C Rasio yang didapat peternak plasma pada pola kemitraan inti-plasma.

    Penulis menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali Dzat-Nya.

    Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan agar isi skripsi lebih baik.

    Semoga skripsi ini dapat berguna dan memberi manfaat bagi para pembaca serta tak

    lupa penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah

    membantu.

    Bogor, Agustus 2008

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    RINGKASAN ............................................................................................... i

    ABSTRACT .................................................................................................. ii

    RIWAYAT HIDUP ...................................................................................... iii

    KATA PENGANTAR .................................................................................. iv

    DAFTAR ISI ................................................................................................. v

    DAFTAR TABEL.......................................................................................... vii

    DAFTAR GAMBAR..................................................................................... viii

    DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. ix

    PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

    Latar Belakang .................................................................................. 1 Perumusan Masalah .......................................................................... 2 Tujuan Penelitian .............................................................................. 3 Kegunaan Penelitian ......................................................................... 3

    KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................................... 4

    TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 6

    Ayam Broiler .................................................................................... 6 Usaha Peternakan Ayam Broiler ...................................................... 6 Pola Kemitraan ................................................................................. 7 Faktor-faktor Produksi Peternakan Ayam Broiler ............................ 8

    Kandang ................................................................................. 9 Peralatan ................................................................................ 10

    Tempat Pakan dan Minum ........................................ 10 Alat Pemanas ............................................................ 10 Thermometer ............................................................. 11 Peralatan Lain ........................................................... 11

    DOC (Day Old Chick) .......................................................... 12 Pakan ..................................................................................... 12 Obat-obatan dan Vaksin ....................................................... 13

    Biaya Produksi .................................................................................. 14 Penerimaan Produksi ......................................................................... 15 Pendapatan dan R/C Rasio................................................................. 16

    METODE PENELITIAN ........................................................................... 17 Lokasi dan Waktu ............................................................................. 17

    Populasi ............................................................................................. 17 Desain Penelitian ............................................................................. 17 Data dan Instrumentasi ..................................................................... 17 Analisis Data ..................................................................................... 17

    Analisis Deskriptif ................................................................ 17 Analisis Pendapatan dan R/C Rasio ..................................... 18

  • vi

    Definisi Istilah ................................................................................... 20

    KEADAAN UMUM TUNAS MEKAR FARM ........................................... 21

    Sejarah Berdirinya ............................................................................ 21 Struktur Organisasi ........................................................................... 21

    HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 23

    Karakteristik Peternak Plasma .......................................................... 23 Mekanisme Kemitraan ...................................................................... 24

    Persyaratan Peternak Plasma ................................................ 24 Pola Kemitraan ...................................................................... 24 Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Inti ........................ 25 Penetapan Harga Input, Output, dan Bonus Produksi ........... 26

    Harga Input Produksi ................................................ 26 Harga Output Produksi ............................................. 26 Bonus Produksi .......................................................... 26

    Manajemen Pemeliharaan (Budidaya) Ayam Broiler ....................... 27 Persiapan Kandang ............................................................... 27 Penanganan DOC .................................................................. 28 Pemeliharaan Ayam ............................................................... 28

    Input Produksi ................................................................................... 28 Bangunan Kandang................................................................ 29 Peralatan................................................................................. 29

    Tempat Pakan dan Minum......................................... 29 Alat Pemanas ............................................................. 30 Thermometer.............................................................. 30

    DOC (Day Old Chick) ........................................................... 30 Pakan ..................................................................................... 30 Obat-obatan dan Vitamin....................................................... 31 Vaksin .................................................................................... 31 Tenaga Kerja.......................................................................... 32 Input Penunjang .................................................................... 32

    Performa Plasma ............................................................................... 33 Feed Convertion Ratio (FCR)................................................ 33 Tingkat Kematian (Mortalitas) .............................................. 34

    Analisis Pendapatan........................................................................... 36 Biaya Produksi....................................................................... 36 Penerimaan Usaha ................................................................ 37 Pendapatan dan R/C Rasio .................................................... 38

    KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 40

    UCAPAN TERIMAKASIH ......................................................................... 41

    DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 42

    LAMPIRAN .................................................................................................. 44

  • DAFTAR TABEL

    Nomor Halaman

    1. Perkembangan Ayam Ras pedaging di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor................................................................................. 2 2. Perhitungan Penerimaan, Biaya Produksi, Pendapatan, dan R/C Rasio Usaha Peternakan Ayam Broiler Sunan Kudus Farm Tahun 2006 ..................................................................................................... 16 3. Karakteristik Peternak Plasma ........................................................... 23 4. Harga Kesepakatan Input Produksi .................................................... 26 5. Harga Kesepakatan Hasil Produksi ..................................................... 26 6. Bonus Konversi Pakan ....................................................................... 27 7. Jumlah Ayam yang Dipelihara Peternak ............................................ 29 8. Jenis dan Cara Pemakaian Obat-obatan dan Vitamin ......................... 31 9. Jadwal dan Tata Laksana Pemberian Vaksin ..................................... 32 10. Konversi Pakan (FCR) Peternak Skala I ............................................. 33 11. Konversi Pakan (FCR) Peternak Skala II............................................ 34 12. Konversi Pakan (FCR) Peternak Skala III .......................................... 34 13. Angka Kematian (Mortalitas) pada Peternak Skala I.......................... 35 14. Angka Kematian (Mortalitas) pada Peternak Skala II ........................ 35 15. Angka Kematian (Mortalitas) pada Peternak Skala III ....................... 36 16. Komposisi Biaya Produksi Peternak Plasma Tiap Skala .................... 36 17. Komposisi Penerimaan Usaha Peternak Plasma Tiap Skala ............... 38 18. Pendapatan dan R/C Rasio Peternak Plasma Tiap Skala .................... 38

  • DAFTAR GAMBAR

    Nomor Halaman

    1. Kerangka Pemikiran Penelitian ........................................................... 5

  • PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Sub sektor peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

    pembangunan sektor pertanian yang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan

    dan gizi. Kesadaran akan pentingnya kebutuhan pangan yang benilai gizi tinggi

    merupakan salah satu indikator dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang

    dapat dipenuhi dari protein hewani seperti daging, telur dan susu. Semakin

    meningkatnya jumlah penduduk, tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat

    akan menyebabkan meningkatnya permintaan akan produk hewani, sehingga perlu

    adanya peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan tersebut. Oleh karena itu,

    dalam rangka pengadaan produk peternakan bagi kebutuhan masyarakat maka

    diperlukan pembangunan dibidang peternakan yang lebih cepat menghasilkan

    produk. Salah satu komoditas ternak yang cukup potensial dalam mencapai tujuan

    tersebut adalah ayam ras pedaging.

    Saat ini ayam ras masih merupakan komoditi peternakan yang cukup cepat

    diproduksi untuk kebutuhan pasar dibandingkan dengan produk ternak lainnya.

    Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal dengan ayam broiler memiliki

    keunggulan dibandingkan dengan jenis ayam ras lainnya. Keunggulan ayam ras

    pedaging antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang

    tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada

    usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Perkembangan yang

    pesat dari ayam ras pedaging ini juga merupakan upaya penanganan untuk

    mengimbangi kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam.

    Pelaku usahaternak ayam broiler yang sebagian besar berbentuk peternakan

    rakyat, banyak diantaranya bekerjasama dengan perusahaan besar dalam bentuk

    kerjasama kemitraan. Peranan perusahaan besar sebagai mitra peternak rakyat

    diharapkan dapat menjamin kepastian pasokan sarana produksi dan harga jual

    produk, serta adanya jaminan pasar atas produk yang dihasilkan. Pola kemitraan

    dapat digunakan untuk mengatasi berbagai macam kekurangan yang dihadapi oleh

    peternak rakyat. Program pengembangan kemitraan merupakan salah satu kebijakan

    yang diterapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi ternak dan daging.

    Kemitraan usaha peternakan di Indonesia dikembangkan sejak tahun 1984 melalui

  • 2

    pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dalam perunggasan. Perusahaan peternakan

    berfungsi sebagai inti dan peternak rakyat sebagai plasma yang selanjutnya dikenal

    dengan pola Inti-Plasma. Kemitraan diharapkan dapat menjadi solusi untuk

    merangsang tumbuhnya peternak di Indonesia terutama bagi peternak rakyat yang

    kepemilikan modalnya relatif kecil.

    Salah satu wilayah pengembangan peternakan kemitraan ayam ras pedaging

    di Kabupaten Bogor adalah Kecamatan Nanggung. Sejak tahun 2004 sampai dengan

    tahun 2006 perkembangan ayam ras pedaging di Kecamatan Nanggung mengalami

    peningkatan yang sangat pesat. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya pertambahan

    jumlah peternak ataupun volume produksi sehingga jumlah ayam ras pedaging terus

    bertambah.

    Tabel 1. Perkembangan Ayam Ras pedaging di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor Tahun Jumlah (ekor) Pertumbuhan (%)

    2004 66.494 -

    2005 192.133 189

    2006 575.000 199

    Sumber : Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor

    Tunas Mekar Farm adalah salah satu perusahaan peternakan ayam broiler

    yang melakukan kerjasama dengan peternak di Kecamatan Nanggung melalui pola

    kemitraan inti-plasma. Tujuan pola kemitraan ini adalah meningkatkan pendapatan,

    meningkatkan kualitas sumberdaya peternak, serta peningkatan skala usaha baik dari

    pihak perusahaan maupun peternak.

    Perumusan Masalah

    Pengembangan pola kemitraan merupakan salah satu cara untuk mengatasi

    kendala dalam usaha peternakan ayam ras pedaging. Permasalahan yang paling

    sering terjadi pada tingkat peternak adalah manajemen pemeliharaan (budidaya) yang

    kurang baik, sehingga dapat menyebabkan kerugian pada peternak. Manajemen

    pemeliharaan mencakup seluruh kegiatan produksi ayam broiler di kandang.

    Manajemen pemeliharaan terdiri dari pemilihan bibit, pemberian pakan, pemberian

    vaksin, pengorganisasian tenaga kerja, dan hal-hal lain yang menyangkut manajemen

    pemeliharaan ayam broiler.

  • 3

    Hal lain yang menjadi permasalahan adalah bahwa peternak kalah bersaing,

    terutama dengan perusahaan besar dalam bidang pemasaran. Kepemilikan modal

    yang kecil menjadi salah satu penyebab tidak dapat bersaingnya peternak dengan

    perusahaan. Permasalahan modal inilah yang dapat berdampak pada produksi ayam

    broiler menjadi kurang efisien, karena biaya produksi yang tinggi. Terbatasnya

    teknologi yang dimiliki oleh peternak juga merupakan permasalahan di tingkat

    peternak yang dapat berdampak pada produksi yang kurang efisien. Hal inilah yang

    mendorong peternak untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan melalui pola

    kemitraan. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan beberapa

    permasalahan, yaitu :

    1. Bagaimana mekanisme kemitraan yang dilakukan pada pola kemitraan inti-

    plasma?

    2. Bagaimana manajemen pemeliharaan (budidaya) peternak plasma pada pola

    kemitraan inti-plasma?

    3. Berapa besar pendapatan dan nilai R/C Rasio yang didapat peternak plasma

    pada pola kemitraan inti-plasma?

    Tujuan Penelitian

    1. Menganalisis mekanisme kemitraan yang dilakukan pada pola kemitraan inti-

    plasma.

    2. Mengetahui manajemen pemeliharaan (budidaya) peternak plasma pada pola

    kemitraan inti-plasma.

    3. Menghitung pendapatan dan nilai R/C Rasio yang didapat peternak plasma

    pada pola kemitraan inti-plasma.

    Kegunaan Penelitian

    Hasil kajian dalam analisis pendapatan pada pola kemitraan diharapkan dapat

    berguna untuk :

    1. Bahan evaluasi bagi perusahaan inti maupun peternak plasma.

    2. Bahan referensi bagi peneliti lain.

  • KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan dapat dibuat

    beberapa kesimpulan, yaitu :

    1. Mekanisme kemitraan pola perusahaan inti rakyat (PIR) yang dilaksanakan

    oleh Tunas Mekar Farm dengan peternak plasma meliputi persyaratan untuk

    menjadi peternak, pembinaan dan pengawasan dari inti, dan penetapan harga

    kesepakatan input dan output.

    2. Manajemen pemeliharaan (budidaya) meliputi persiapan kandang,

    penanganan DOC, pemeliharaan ayam, dan input produksi. Kegiatan

    budidaya diawali dengan persiapan kandang yaitu pembersihan kandang dan

    pembersihan peralatan produksi. Pencucian kandang dilakukan dengan

    menggunakan jet cleaner yang berisi campuran detergen dan desinfektan,

    setelah pembersihan kandang selesai, maka peralatan produksi juga

    dibersihkan menggunakan detergen dan desinfektan, kecuali pada pemanas

    yang hanya dibersihkan dengan lap basah. Strain DOC yang diberikan kepada

    peternak plasma adalah jenis Strain Cobb dan Hubbard. Bobot awal rata-rata

    DOC sekitar 37 sampai 42 gram.

    3. Pendapatan terbesar diperoleh peternak pada skala III yaitu sebesar Rp

    580,96/kg bobot hidup dengan nilai R/C Rasio sebesar 1,07.

    Pendapatan dan R/C rasio terbesar diperoleh peternak pada skala III yaitu

    sebesar Rp 580,96/kg bobot hidup dengan nilai R/C Rasio sebesar 1,07.

    Perolehan nilai positif pada pendapatan total tiap skala menunjukkan bahwa

    peternak mendapatkan keuntungan dari usaha ternaknya.

    Saran

    Perusahaan inti perlu meningkatkan pembinaan dan pengawasan kepada

    peternak terutama untuk menekan angka mortalitas sehingga menambah keuntungan

    peternak plasma maupun perusahaan dari hasil penjualan hasil panen.

  • TINJAUAN PUSTAKA

    Ayam Broiler

    Menurut Murtidjo (2006) ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain

    ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki sifat ekonomis, dengan ciri khas

    pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada

    umur relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Rasyaf (2004)

    menyatakan bahwa ayam broiler mempunyai pertumbuhan yang cepat serta

    mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak. Ayam

    broiler pertumbuhannya sangat fantastik sejak umur satu minggu hingga lima

    minggu. Pada saat berumur tiga minggu ternak sudah menunjukkan pertumbuhan

    bobot badan yang memuaskan, sehingga ayam broiler dapat dijual sebelum umur

    delapan minggu.

    Rasyaf (2004) menyatakan di Indonesia ayam broiler sudah dapat dipasarkan

    pada usia lima sampai enam minggu dengan bobot hidup antara 1,3 sampai 1,6 kg

    per ekor. Namun demikian kebanyakan masyarakat di Indonesia lebih banyak

    menyukai daging ayam broiler yang tidak begitu besar terutama untuk konsumsi

    rumah makan dan pasar-pasar tradisional.

    Usaha Peternakan Ayam Broiler

    Menurut Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No

    940/Kpts/OT.210/10/97, usaha peternakan adalah suatu usaha pembibitan atau

    budidaya peternakan dalam bentuk perusahaan peternakan atau peternakan rakyat,

    yang dilakukan secara teratur dan terus menerus pada suatu tempat dan dalam jangka

    waktu tertentu untuk tujuan komersil atau sebagai usaha sampingan untuk

    menghasilkan ternak bibit/ternak potong, telur, susu, serta menggemukkan suatu

    jenis ternak termasuk mengumpulkan, mengedarkan dan memasarkan.

    Rasyaf (2004) mengatakan bahwa standar produksi bagi ayam pedaging

    bertumpu pada pertambahan berat badan ayam, konsumsi pakan dan konversi pakan.

    Sebagai pegangan produksi atau sasaran produksi adalah mortalitas, konsumsi pakan

    dan pertambahan produksi dengan membandingkan atau memeriksa kenaikan dan

    penurunan mana yang tajam dari semua kelompok ayam yang dibudidayakan.

  • 7

    Selain itu Tobing (2002) menjelaskan bahwa dalam usahaternak ayam broiler

    ada tiga hal penting yang ditangani secara ketat (rutin dan teliti), yaitu: (1) Pakan

    dan air, (2) Obat, vitamin, sanitasi dan vaksin serta (3) Perkandangan (Poor housing).

    Pola Kemitraan

    Menurut Dinas Peternakan Bogor (2000), kemitraan adalah kerjasama usaha

    antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar disertai pembinaan dan

    pengembangan oleh usaha menengah dan besar atas dasar prinsip saling

    memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Disamping itu,

    kerjasama kemitraan antara usaha kecil dengan usaha besar dan usaha menengah

    dapat mendorong upaya dalam rangka pemerataan pembangunan.

    Kemitraan pertanian dalam Surat Keputusan Menteri pertaniant No.940/Kpts/

    OT.210/10/1997 menerangkan bahwa kemitraan usaha pertanian berdasarkan azas

    persamaan kedudukan, keselarasan dan peningkatan keterampilan kelompok mitra

    oleh perusahaan mitra melalui perwujudan sinergi kemitraan yaitu hubungan yang

    saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan. Saling memerlukan dalam arti

    perusahaan mitra memerlukan hasil produksi dan kelompok mitra memerlukan

    pasokan bahan baku dan bimbingan dari perusahaan. Saling memperkuat artinya

    kelompok mitra maupun perusahaan mitra sama-sama memperhatikan tanggung

    jawab moral dan etika bisnis. Saling menguntungkan yaitu baik kelompok mitra dan

    perusahaan mitra memperoleh peningkatan pendapatan, dan kesinambungan usaha.

    Lebih lanjut dinyatakan dalam Surat Keputusan Menteri pertanian No

    940/Kpts/OT.210/1997 bahwa pola kemitraan usaha pertanian terdiri dari lima

    macam.

    1. Pola Inti Plasma, adalah hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan

    perusahaan mitra yang didalamnya perusahaan bertindak sebagai inti dan

    kelompok mitra sebagai plasma. Kelebihan pola ini adalah: a) kepastian sarana

    produksi, b) pelayanan/bimbingan, dan c) menampung hasil. Kekurangan pola ini

    adalah: a) inti plasma menyediakan operasional, dan b) kegagalan dalam panen

    menjadi kerugian plasma.

    2. Pola Sub Kontrak, adalah hubungan antara kelompok mitra dengan perusahaan

    mitra yang didalamnya kelompok mitra memproduksi komponen yang

    diperlukan perusahan mitra sebagai bagian dari produksinya

  • 8

    3. Pola Dagang Umum, adalah hubungan kemitraan antara kelompok dengan

    perusahaan mitra yang didalamnya perusahaan mitra memasarkan hasil produksi

    kelompok mitra, atau kelompok mitra memasok kebutuhan yang diperlukan oleh

    perusahaan mitra.

    4. Pola Agenan, adalah hubungan kemitraan yang didalamnya kelompok mitra

    diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa perusahaan mitra.

    5. Pola KOA (Kerjasama Operasional Agribisnis) adalah hubungan kemitraan yang

    didalamnya kelompok mitra menyediakan lahan sarana dan tenaga kerja,

    sedangkan perusahaan mitra menyediakan modal dan sarana untuk

    mengusahakan/membudidayakan suatu komoditi pertanian.

    Saragih (1998) mengemukakan bahwa syarat yang harus dipenuhi dalam pola

    kemitraan, yaitu syarat keharusan yang dimanifestasikan dalam wujud kebersamaan

    yang kuat antara mereka yang bermitra dan syarat kecukupan berupa adanya peluang

    yang saling menguntungkan bagi pihak-pihak yang bermitra melalui pelaksanaan

    kemitraan.

    Imaduddin (2001) menyatakan bahwa persyaratan-persyaratan yang harus

    dipenuhi untuk mengikuti kemitraan adalah: (1) Peternakan mempunyai kandang dan

    perlengkapan, kontrak maupun sendiri, lengkap dengan perizinannya, (2) Peternak

    mengajukan pendaftaran kerjasama dengan perusahaan serta mencantumkan data

    seperti total luas kandang, peralatan, sarana-sarana pendukung lainnya, (3) Pihak

    perusahaan melakukan pengamatan langsung ke lokasi untuk meninjau layak atau

    tidaknya kandang tersebut untuk dinilai dalam kerjasama tersebut, (4) Bukti

    perjanjian antara plasma dengan pihak perusahaan, plasma wajib memberikan

    jaminan perusahaan, berupa sertifikat, uang kontan, garansi bank atau surat berharga.

    Faktor-Faktor Produksi Peternakan Ayam Broiler

    Rasyaf (2004) menyatakan bahwa faktor-faktor produksi yang dibutuhkan

    dalam produksi ayam broiler adalah DOC, ransum, obat-obatan, tenaga kerja dan

    kandang. Penelitian yang dilakukan Veranza (2004) mengungkapkan bahwa pada

    usaha peternakan X menggunakan input tetap dan input variabel. Input tetap

    diantaranya; kandang, tenaga kerja tetap dan peralatan. Input variabel yang

    digunakan terdiri dari DOC, pakan, tenaga kerja tidak tetap, obat-obatan, sekam, dan

    bahan bakar (minyak tanah).

  • 9

    Menurut Fadilah (2004) dalam usaha peternakan ayam broiler faktor produksi

    yang digunakan diantaranya adalah bibit ayam, pakan, tenaga kerja, obat-obatan,

    vaksin dan vitamin serta bahan penunjang seperti sekam, listrik dan bahan bakar.

    Kandang

    Syarat kandang yang baik adalah kandang yang memenuhi standar yang telah

    ditentukan. Syarat-syarat kandang yang harus dipenuhi menurut Cahyono (2004)

    adalah:

    1. Kandang harus dibuat kuat agar dapat dipakai dalam waktu yang lama, dan

    tidak mudah roboh karena angin yang kencang.

    2. Dapat menahan air hujan dan teriknya matahari langsung masuk kandang,

    tepi atap sebaiknya dibuat cukup lebar yaitu sekitar 1,25 meter dari dinding

    kandang.

    3. Dinding kandang tidak rapat tetapi harus terbuka, memiliki celah-celah yang

    terbuka yang terbuat dari anyaman bambu, kawat ram atau jeruji-jeruji bambu

    sehingga hewan pemangsa tidak dapat masuk melalui celah yang terbuka

    tersebut.

    4. Ruang ventilasi dapat ditambahkan dengan membuat sistem atap monitor dan

    dapat menggunakan kipas angin yang berfungsi menyedot udara kotor dalam

    kandang atau mengalirkan udara segar masuk ke dalam kandang.

    5. Lantai kandang sebaiknya disemen agar memudahkan dalam pembersihan

    kandang dan dibuat lebih tinggi dari tanah disekitarnya.

    6. Ukuran/luas kandang tergantung dari jumlah ayam yang akan dipelihara.

    Sebagai pedoman, kepadatan ayam dewasa per meter persegi adalah 10 ekor.

    7. Selokan/parit sebaiknya dibuatkan disekeliling kandang. Hal ini penting agar

    pembuangan air tidak menggenang.

    8. Tata letak kandang hendaknya dibangun diatas tanah yang lebih tinggi dari

    tanah sekitarnya agar udara dapat berputar dan bergerak bebas melintasi

    kandang sehingga peredaran udara dapat berjalan dengan baik. Kandang tidak

    terletak pada lokasi yang sibuk dan gaduh mengingat ayam mudah stres,

    ukuran dan luas kandang disesuaikan dengan jumlah dan umur ayam.

    9. Jarak antar kandang juga harus mendapat perhatian karena dapat

    mempengaruhi sirkulasi udara, tingkat kelembaban, dan temperatur di dalam

  • 10

    kandang, penularan terhadap penyakit dari satu kandang ke kandang lain, dan

    efisiensi penggunaan tanah.

    Ukuran luas kandang tergantung dari kepadatan jumlah populasi ternak yang

    dipelihara. Luas yang cukup bagi ayam untuk ruang geraknya maka tidak akan

    terjadi saling patuk dan stress (Hardjosworo dan Rukmiasih, 2000). Kapasitas dan

    kepadatan kandang untuk ayam dewasa hasil penelitian Veranza (2004) adalah 9

    ekor per meter persegi. Menurut Fadilah (2004) kepadatan kandang ayam untuk

    umur 1-3 hari adalah 60-70 ekor/m, pada umur 4-7 hari kepadatan kandang 40-50

    ekor/m, umur 8-14 hari kepadatan kandang 20-30 ekor/m dan pada 15 hari sampai

    panen kepadatan kandang 8-16 ekor/m.

    Peralatan

    Ayam yang dipelihara secara intensif dengan cara dikandangkan secara terus

    menerus sepanjang hari, memerlukan peralatan-peralatan teknis yang memadai,

    seperti tempat pakan dan minum, alat pemanas, thermometer, dan peralatan lainnya

    maka untuk menunjang keberhasilan produksi.

    Tempat Pakan dan Minum. Fadillah (2004) menyatakan bahwa beberapa hal yang

    perlu diperhatikan dalam pengawasan pekerjaan sehari-hari adalah tata letak tempat

    pakan, keadaan tempat pakan dan isi pakan. Tempat pakan ada yang diletakkan

    dalam satu baris atau diletakkan berselang seling dengan tempat minum.

    Kebutuhan tempat pakan dan minum tergantung dari jumlah ayam yang

    dipelihara dan umur ayam. Pemeliharaan awal dengan jumlah ayam 500 ekor,

    diperlukan tempat pakan sejumlah 10 buah dan tempat minum sebanyak 12 buah,

    sedangkan pada pemeliharaan akhir dengan jumlah ayam 500 ekor diperlukan tempat

    pakan 14 buah dan tempat minum 16 buah (Cahyono, 2004). Hasil penelitian

    Veranza (2004) menyatakan bahwa usaha peternakan X menggunakan perbandingan

    tempat pakan dan minum sebesar 1:1.

    Alat Pemanas. Alat pemanas (brooder) berfungsi sebagai induk buatan yang

    memberi kehangatan anak ayam (DOC). Alat ini digunakan untuk pemeliharaan

    masa awal (starter) yang berlangsung selama 12 sampai 15 hari dimana anak ayam

    masih memerlukan pemanasan dalam hidupnya. Alat pemanas ini dikenal dengan

    nama Gasolec yang sudah beredar di toko-toko unggas. Sumber panas pada

    Gasolec berasal dari gas, oleh karenanya penggunaannya harus dilengkapi dengan

  • 11

    tabung gas. Alat pemanas ini hendaknya diletakkan ditengah dengan ketinggian 1,3

    sampai1,5 meter dari permukaan litter (Cahyono, 2004).

    Fadillah (2004) mengungkapkan bahwa jika pemanas menggunakan

    semawar, maka sebaiknya diletakkan pada ketinggian 50 sampai 75 cm diatas sekam.

    Panas yang dihasilkan bisa diatur dengan cara mengubah posisi tempat minyak

    tanah. Tempat minyak tanah diletakkan lebih tinggi dari semawar. Semakin tinggi

    letak tempat minyak tanah, panas yang dihasilkan akan semakin besar, di tengah-

    tengah setiap lingkaran pelindung dipasang lampu 25 watt. Pemakaian sumber panas

    dan alat pemanas tidak menjadi masalah bagi ayam, yang penting bisa memberikan

    kehangatan yang merata ke seluruh lingkaran.

    Hasil penelitian Pakarti (2000) menyatakan bahwa pemakaian pemanas

    digunakan pada masa starter 10-20 hari atau selama 3 minggu. Pada minggu pertama

    pemanas dinyalakan selama 24 jam, sedangkan minggu kedua dan ketiga hanya

    dinyalakan selama 12 jam pada malam hari, namun demikian pemberian pemanas

    tergantung pada cuaca.

    Thermometer. Cahyono (2004) menyatakan bahwa thermometer berfungsi untuk

    mengontrol temperatur agar selalu optimal sehingga kehidupan anak ayam tetap

    stabil dan pertumbuhan anak ayam tidak terganggu. Penempatan thermometer

    seharusnya diletakkan ditempat yang strategis agar memudahkan pekerja

    mengontrolnya tanpa mengganggu atau menimbulkan stress pada anak ayam,

    penggunaan thermometer hanya untuk periode starter.

    Hardjasworo dan Rukmiasih (2000) menyatakan bahwa ayam broiler antara

    umur satu sampai dua minggu memerlukan suhu lingkungan mendekati 32C. Pada

    umur dua sampai tiga minggu suhu yang diperlukan antara 30C sampai 32C dan

    setelah umur tiga minggu menjadi 28C-30C.

    Fadilah (2004) menyatakan bahwa ayam broiler pada umur satu sampai tiga

    hari memerlukan suhu lingkungan antara 32C-35C, pada umur empat sampai tujuh

    hari memerlukan suhu 29C-34C, pada umur 8 sampai 14 hari memerlukan suhu

    27C-31C, dan pada umur 15 hari sampai siap panen memerlukan suhu lingkungan

    antara 25C-27C.

    Peralatan Lain. Menurut Fadillah (2004) bahwa peralatan lain yang berhubungan

    dengan kegiatan sehari-hari seperti drum air, ember, garpu pembalik sekam, dan

  • 12

    gerobak pengangkut pakan. Cahyono (2004) menambahkan bahwa peralatan lainnya

    yang perlu disediakan untuk mendukung kelancaran usahaternak ayam broiler adalah

    sekop, ember, selang, kawat atau tali, alat-alat kesehatan, ciduk dan lain-lain.

    DOC (Day Old Chick)

    Cahyono (2004) menyatakan bahwa umumnya jenis-jenis ayam broiler yang

    telah dikenal dan banyak beredar di Indonesia adalah jenis ayam ras unggul yang

    merupakan turunan terakhir hasil perkawinan silang dari pejantan ras White cornish

    yang berasal dari Inggris dengan induk betina ras Plymouth rock yang berasal dari

    Amerika. Hasil perkawinan silang yang dikembangbiakan dari kedua ras tersebut

    menghasilkan DOC yang mempunyai daya tumbuh dan produksi yang tinggi,

    terutama dalam hal kemampuannya mengubah pakan menjadi daging dengan sangat

    cepat dan hemat.

    Rasyaf (2004) menyatakan bahwa pedoman untuk memilih DOC yaitu anak

    ayam harus berasal dari induk yang sehat agar tidak membawa penyakit bawaan;

    ukuran atau bobot ayam yaitu sekitar 35 sampai 40 gram; anak ayam memiliki mata

    yang cerah dan bercahaya, aktif serta tampak tegar; tidak memperlihatkan cacat fisik

    seperti kaki bengkok, mata buta atau kelainan fisik lainnya yang mudah dilihat dan

    tidak ada lekatan tinja di duburnya.

    Pakan

    Pakan atau ransum merupakan salah satu faktor utama dalam usahaternak

    ayam broiler, lebih-lebih terhadap laju pertumbuhan dan peningkatan bobot badan

    yang sangat cepat (Girisonta, 1997). Ransum merupakan kumpulan bahan makanan

    yang layak dimakan oleh ayam dan telah disusun mengikuti aturan tertentu. Aturan

    itu meliputi nilai gizi bagi ayam dan nilai kandungan gizi dari bahan makanan yang

    digunakan.

    Rasyaf (2002) menyatakan bahwa ransum starter diberikan pada ayam

    berumur satu sampai tiga minggu. Umumnya biaya untuk ransum menempati 60%-

    75% dari total biaya produksi. Ayam broiler membutuhkan energi yang lebih tinggi

    (lebih dari 3000 kkal per kg ransum). Cahyono (2004) menambahkan dalam hal

    ransum yang harus diberikan untuk anak ayam sampai umur empat minggu, pakan

    harus mengandung protein sebanyak 21 sampai 24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%,

    kalsium 1%, phospor 0,7 sampai 0,9%, energi (ME) 2800-3500 kkal.

  • 13

    Besarnya pakan yang digunakan mempengaruhi perhitungan konversi pakan

    atau Feed Corvertion Ratio (FCR). Konversi pakan merupakan perbandingan antara

    jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertumbuhan berat badan. Semakin tinggi

    konversi pakan berarti semakin boros pakan yang digunakan. Standar konversi pakan

    untuk ayam pedaging adalah 1,9 yang artinya untuk mendapatkan ayam dengan

    bobot hidup 1 kg diperlukan pakan sejumlah 1,9 kg (Suharno, 2002).

    Obat-obatan dan Vaksin

    Obat-obatan dan vaksin yang dimaksud adalah obat-obatan yang digunakan

    untuk pengobatan ternak yang terserang penyakit, vaksin digunakan untuk

    pencegahan penyakit serta antibiotika dan vitamin dapat mendukung pertumbuhan

    ayam sehingga dapat tumbuh secara optimal (Rasyaf, 2004). Sudaryani (2003)

    menjelaskan bahwa penyakit yang menyerang ayam ada yang dapat diobati dan ada

    yang tidak. Penyakit ayam yang tidak bisa diobati dapat ditangkal dengan vaksin.

    Vaksin adalah mikroorganisme yang dilemahkan dan apabila diberikan kepada

    hewan tidak akan menimbulkan penyakit, melainkan merangsang pembentukan

    antibodi (zat kebal) yang sesuai dengan jenis vaksinnya. Tujuan vaksin adalah

    membuat ayam mempunyai kekebalan yang tinggi terhadap satu penyakit tertentu.

    Sudaryani (2003) nenyatakan bahwa keberhasilan suatu vaksinasi ditentukan

    oleh beberapa faktor, yaitu faktor tatalaksana, faktor vaksin, dan faktor individu.

    Faktor tatalaksana meliputi cara vaksinasi, waktu vaksinasi, keterampilan vaksinator

    (orang yang memberikan vaksinasi), dan kondisi lingkungan. Faktor vaksin meliputi

    kualitas vaksin, jenis vaksin, dan cara penyimpanan vaksin. Sedangkan faktor

    individu adalah faktor kesehatan ayam, dimana dianjurkan vaksinasi dilakukan pada

    saat ayam memiliki kondisi yang sehat. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan

    lima cara, yaitu drink water (vaksinasi melalui air minum); vaksinasi intraocular

    (tetes mata) dan intranasal (tetes hidung); vaksinasi dengan injeksi intramuscular

    (tusuk daging) dan injeksi subcutan (tusuk kulit); wing web (vaksinasi tusuk sayap);

    dan spray (vaksinasi dengan cara disemprot)

    Hasil penelitian Pakarti (2000) menyatakan bahwa vaksinasi yang dilakukan

    pada usaha beternak ayam broiler 3 kali yaitu vaksinasi tetelo 1 (ND l) dengan tetes

    mata pada umur 3 sampai 4 hari. Vaksinasi Gumboro diberikan umur 12 sampai 16

  • 14

    hari melalui air minum dan vaksinasi tetelo kedua (ND 2) diberi melalui air minum

    pada umur 18 sampai 20 hari.

    Rasyaf (2004) menyatakan bahwa pengobatan terhadap ayam yang sakit

    dilakukan dengan pemberian obat sesuai anjuran mantri hewan serta melakukan

    isolasi terhadap ayam sakit dengan tujuan menghindari penularan penyakit. Nilai

    mortalitas yang rendah secara tidak langsung akan menambah pendapatan namun

    disisi lain hal tersebut perlu didukung penanganan penyakit yang juga menambah

    biaya dalam produksi.

    Biaya Produksi

    Biaya adalah nilai dari semua korbanan ekonomis yang diperlukan untuk

    menghasilkan suatu produk, yang sifatnya tidak dapat dihindari, dapat diperkirakan

    dan diukur. Biaya produksi merupakan kompensasi yang diterima oleh pemilik

    faktor-faktor produksi. Biaya yang dilakukan pada periode tertentu, dikenal dengan

    biaya tetap dan biaya variabel. Menurut Soekartawi et al. (1986), biaya tetap (fixed

    cost) dalam usahatani didefinisikan sebagai biaya usahatani yang tidak tergantung

    kepada besarnya produksi, misalnya pajak bumi dan bangunan, sewa tanah, bunga

    kredit, serta penyusutan bangunan dan alat-alat pertanian. Biaya tidak tetap (variable

    cost) didefinisikan sebagai biaya yang digunakan untuk tanaman atau ternak tertentu

    dan jumlahnya berubah-ubah sebanding dengan besarnya produksi tanaman atau

    ternak, misalnya bibit atau benih, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja. Produksi

    usahatani yang menggunakan mesin-mesin harus dihitung penyusutannya sebagai

    pengeluaran. Penyusutan merupakan penurunan nilai inventaris yang disebabkan

    oleh pemakaian selama setahun pembukuan.

    Boediono (1988) mengatakan bahwa biaya mencakup suatu pengukuran nilai

    sumberdaya yang harus dikorbankan sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas yang

    bertujuan mencari keuntungan. Berdasarkan volume kegiatan biaya dibedakan atas

    biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang

    dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlah totalnya tetap pada volume

    kegiatan tertentu, sedangkan biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlah

    totalnya berubah-ubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Komponen

    biaya tetap meliputi sewa, penyusutan, pajak dan sebagainya. Biaya jenis ini

    selamanya sama atau tidak pernah berubah dalam hubungannya dengan jumlah

  • 15

    satuan yang diproduksikan. Selanjutnya dikatakan bahwa komponen biaya variabel

    meliputi biaya-biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Jenis biaya ini

    jumlahnya bertambah sesuai dengan bertambahnya volume produksi sehingga biaya-

    biaya per satuannya cenderung berubah pula. Menurut Rasyaf (2002) biaya variabel

    merupakan biaya yang dikeluarkan seiring dengan penambahan jumlah ayam yang

    dipelihara. Biaya ini antara lain biaya untuk day old chick (DOC), ransum,

    pemeliharaan dan kesehatan. Biaya pakan merupakan biaya terbesar dari total

    produksi yaitu antara 60 sampai 70%.

    Penelitian Pakarti (2000) menyatakan bahwa biaya pakan menunjukkan

    persentase yang paling tinggi nilainya yaitu 71,61%, sedangkan biaya untuk bibit

    ayam menduduki posisi kedua yaitu 20,84%. Selanjutnya biaya obat, vaksin, dan

    vitamin 4,4%, biaya depresiasi kandang dan peralatan 1,82%, biaya listrik dan bahan

    bakar 0,94% serta biaya sekam dan sanitasi 0,33%. Biaya tenaga kerja dan sewa

    tanah pada penelitian ini tidak diperhatikan karena tanah milik sendiri, sedangkan

    tenaga kerja adalah tenaga kerja keluarga.

    Penerimaan Produksi

    Menurut Kadarsan (1995) penerimaan adalah nilai hasil dari output atau

    produksi karena perusahaan telah menjual atau menyerahkan sejumlah barang atau

    jasa kepada pihak pembeli. Selanjutnya dikatakan penerimaan perusahaan bersumber

    dari penjualan hasil usaha, seperti panen tanaman dan barang olahannya serta panen

    dari peternak dan barang olahannya. Semua hasil agribisnis yang dipakai untuk

    konsumsi keluarga harus dihitung dan dimasukkan sebagai penerimaan perusahaan

    walaupun akhirnya dipakai pemilik perusahaan secara pribadi. Tujuan pencatatan

    penerimaan ini adalah untuk memperlihatkan sejelas mungkin berapa besar

    penerimaan dari penjualan hasil operasional dan penerimaan lain-lain di perusahaan

    tersebut.

    Rasyaf (2002) menyatakan bahwa penerimaan dalam suatu peternakan ayam

    pedaging terdiri dari: (1) hasil produksi utama berupa penjualan ayam pedaging, baik

    hidup maupun dalam bentuk karkas; dan (2) hasil sampingan yaitu berupa kotoran

    ayam atau alas litter yang laku dijual kepada petani sayur mayur atau petani

    palawija lainnya. Semua penerimaan produsen berasal dari hasil penjualan

    outputnya.

  • 16

    Pendapatan dan Rasio R/C

    Kadarsan (1995) menerangkan bahwa pendapatan adalah selisih antara

    penerimaan total perusahaan dengan pengeluaran. Untuk menganalisis pendapatan

    diperlukan dua keterangan pokok, yaitu keadaan pengeluaran dan penerimaan dalam

    jangka waktu tertentu. Rasyaf (2002) menambahkan bahwa pendapatan adalah

    sejumlah uang yang diperoleh setelah semua biaya variabel dan biaya tetap tertutupi.

    Hasil pengurangan positif berarti untung, hasil pengurangan negatif berarti rugi.

    Soekartawi et al. (1986) menyatakan bahwa pendapatan kotor usahatani

    merupakan hasil perolehan total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani

    sedangkan pendapatan bersih usahatani merupakan selisih antara pendapatan kotor

    dan pengeluaran total usahatani.

    Rasio R/C (Revenue Cost Ratio) bertujuan untuk mengukur efisiensi input

    dan output, dengan menghitung perbandingan antara penerimaan total dengan biaya

    produksi total (Kadarsan, 1995). Analisis ini digunakan untuk menganalisis

    imbangan antara penerimaan dengan biaya.

    Taslukha (2007) dalam penelitiannya di Sunan Kudus Farm menyebutkan

    bahwa pendapatan merupakan nilai uang yang diperoleh Farm dengan menghitung

    selisih antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan selama proses

    produksi pemeliharaan. Nilai pendapatan usaha peternakan ayam broiler Sunan

    Kudus Farm tahun 2006 yaitu sebesar Rp 104.925.567,15. Nilai rasio R/C yang

    didapat adalah 1,05 yang artinya nilai ini menunjukkan bahwa Sunan Kudus Farm

    mendapatkan penerimaan sebesar Rp 1,05 untuk setiap satu rupiah biaya yang

    dikeluarkan. Komposisi pendapatan serta nilai rasio R/C dapat dilihat pada Tabel 2.

    Tabel 2. Perhitungan Penerimaan, Biaya Produksi, Pendapatan, dan R/C Rasio Usaha Peternakan Ayam Broiler Sunan Kudus Farm Tahun 2006

    Keterangan Nilai (Rp) Total Penerimaan 2.150.542.160,00 Total Biaya 2.045.816.592,85 Pendapatan 104.725.568,15 R/C Rasio 1,05

    Sumber : Taslukha, 2007

  • 45

    Lampiran 1. Kontrak Kerjasama

    PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN AYAM BROILER (HARGA KONTRAK)

    Perjanjian Kerjasama ini dibuat dan ditandatangani. Jumat 05 Juni 2007 oleh dan antara : I. Nama : Ir. Muslikhin Irmat, beralamat di Komplek Ciluar Permai blok1/12,

    Bogor, yang bertindak selaku wakil dan kuasa dari INTI, selanjutya disebut PIHAK PERTAMA.

    II. Nama : Alamat : Pekerjaan : Dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri selanjutnya disebut PIHAK KEDUA yang memiliki kandang dengan kapasitas ................. ekor, berlokasi di ..................

    Kedua belah pihak mengadakan perjanjian kerjasama sebagai berikut :

    1. Pihak pertama akan mensuplai seluruh sapronak ( DOC, pakan , obat, vitamin, vaksin, disinfektan) kepada pihak kedua dengan harga kontrak.

    2. Pihak kedua berkewajiban memberikan jaminan (surat tanah) dan menyediakan kandang lengkap dengan peralatannya sesuai standar, memelihara ayam dan menjaga keamanan sampai ayam tersebut panen.

    3. Pihak pertama akan membeli seluruh ayam pihak kedua dengan harga kontrak. 4. Pihak kedua wajib menjual ayamnya kepada pihak pertama, dan tidak

    diperkenankan menjual ayam keluar. 5. Perhitungan laba/rugi didapat dari selisih penjualan ayam besar dengan

    pengambilan sapronak, seluruhnya menjadi hak peternak. 6. Pihak pertama wajib membayar Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada pihak kedua

    dalam tempo 7 hari kerja dari panen. 7. Apabila ada perselesihan akan diselesaikan secara musyawarah. Bila belum

    selesai akan dibawa ke Pengadilan Negeri Bogor. 8. Harga kesepakatan dapat dilihat dalam LEMBAR HARGA GARANSI. 9. Dalam hal ini peternak memberi jaminan berupa ............ atas nama ..............

    dengan luas tanah ............ Demikian perjanjian ini dibuat.

    PIHAK KESATU PIHAK KEDUA Materai 6000 (Ir. Muslikhin Irmat) ( ... )

  • 46

    Lampiran 2. Harga Kontrak Kerjasama

    HARGA GARANSI 1. Harga Bahan Baku : DOC = Rp. 3000,-/ Ekor Starter Super (Bestfeed) = Rp. 3800,-/ Kg Starter = Rp. 3750,-/ Kg Obat = Price List dari Supplier 2. Harga Garansi Ayam Panen

    Berat Badan (Kg / Ekor) Harga Garansi (Rp.) < 1,00-1,09 9,000 1,10-1,19 9,715 1,20-1,29 9,585 1,30-1,39 9,490 1,40-1,49 9,440 1,50-1,59 9,375 1,60-1,69 9,320 1,70-1,79 9,305 1,80-1,89 9,290 1,90-1,99 9,265

    2,00 Keatas 9,240

    Catatan : 1. Harga garansi ini dapat berubah sewaktu-waktu jika terjadi perubahan harga

    makanan ternak. 2. Inti akan memberikan insentif/bonus FCR berdasarkan perbandingan standar

    FCR. Sebagai Berikut :

    3. Inti akan memberikan insentif mortalitas jika kematian lebih rendah atau sama dengan standar Rp. 30,-/ Kg

    4. Jika ayam sakit atau kualitas buruk, maka inti akan memberikan pemotongan harga garansi (tergantung kondisi ayam)

    5. Ketentuan ini berlaku mulai DOC masuk

    Menyetujui, Bogor, 01 Juli 2007

    ( ) ( Muslikhin Irmat ) Peternak No ..

    Selisih FCR Insentif (Rp / Kg) 0,150-0,101 150 0,100-0,051 120 0,050-0,001 80

  • 47

    Lampiran 3. Standar FCR dan Kematian

    STANDARD OF BROILER ( TMF )

    AGE AVG MORT FCR AGE AVG MORT FCR AGE AVG MORT FCR ( DAYS) B.W (%) TMF ( DAYS) B.W (%) TMF ( DAYS) B.W (%) TMF

    6 0,15 1,50 0,927 20 0,80 3,00 1.356 26 1,22 3,64 1.543 7 0,18 1,61 0.948 20 0,81 3,00 1.361 26 1,23 3,64 1.517 8 0,21 1,71 0.977 20 0,82 3,00 1.366 26 1,24 3,64 1.551 9 0,25 1,82 1.007 20 0,83 3,00 1.371 27 1,25 3,75 1.555 10 0,29 1,92 1.038 20 0,84 3,00 1.375 27 1,26 3,75 1.559 11 0,33 2,04 1.072 20 0,85 3,00 1.380 27 1,27 3,75 1.563 12 0,37 2,14 1.106 21 0,86 3,11 1.385 27 1,28 3,75 1.567 13 0,42 2,25 1.138 21 0,87 3,11 1.390 27 1,29 3,75 1.570 14 0,46 2,36 1.172 21 0,88 3,11 1.394 27 1,30 3,75 1.574 14 0,47 2,36 1.179 21 0,89 3,11 1.399 27 1,31 3,75 1.578 14 0,48 2,36 1.185 21 0,90 3,11 1.404 28 1,32 3,86 1.582 14 0,49 2,36 1.192 21 0,91 3,11 1.408 28 1,33 3,86 1.586 14 0,50 2,36 1.198 22 0,92 3,21 1.413 28 1,34 3,86 1.590 15 0,51 2,46 1.205 22 0,93 3,21 1.418 28 1,35 3,86 1.594 15 0,52 2,46 1.210 22 0,94 3,21 1.423 28 1,36 3,86 1.597 15 0,53 2,46 1.215 22 0,95 3,21 1.428 28 1,37 3,86 1.601 15 0,54 2,46 1.221 22 0,96 3,21 1.432 28 1,38 3,86 1.605 15 0,55 2,46 1.226 22 0,97 3,21 1.437 29 1,39 3,96 1.609 15 0,56 2,46 1.231 23 0,98 3,32 1.442 29 1,40 3,96 1.613 16 0,57 2,57 1.136 23 0,99 3,32 1.446 29 1,41 3,96 1.617 16 0,58 2,57 1.242 23 1,00 3,32 1.450 29 1,42 3,96 1.621 16 0,59 2,57 1.248 23 1,01 3,32 1.454 29 1,43 3,96 1.624 16 0,60 2,57 1.255 23 1,02 3,32 1.458 29 1,44 3,96 1.628 16 0,61 2,57 1.261 23 1,03 3,32 1.462 29 1,45 3,96 1.633 17 0,62 2,68 1.267 23 1,04 3,32 1.466 30 1,46 4,07 1.636 17 0,63 2,68 1.272 24 1,05 3,43 1.470 30 1,47 4,07 1.640 17 0,64 2,68 1.277 24 1,06 3,43 1.474 30 1,48 4,07 1.643 17 0,65 2,68 1.282 24 1,07 3,43 1.478 30 1,49 4,07 1.647 17 0,66 2,68 1.287 24 1,08 3,43 1.482 30 1,50 4,07 1.651 17 0,67 2,68 1.292 24 1,09 3,43 1.486 30 1,51 4,07 1.655 18 0,68 2,79 1.297 24 1,10 3,43 1.490 30 1,52 4,07 1.658 18 0,69 2,79 1.302 24 1,11 3,43 1.494 31 1,53 4,18 1.662 18 0,70 2,79 1.307 25 1,12 3,54 1.498 31 1,54 4,18 1.665 18 0,71 2,79 1.313 25 1,13 3,54 1.503 31 1,55 4,18 1.668 18 0,72 2,79 1.318 25 1,14 3,54 1.508 31 1,56 4,18 1.671 18 0,73 2,79 1.323 25 1,15 3,54 1.513 31 1,57 4,18 1.675 19 0,74 2,89 1.328 25 1,16 3,54 1.517 31 1,58 4,18 1.678 19 0,75 2,89 1.333 25 1,17 3,54 1.522 31 1,59 4,18 1.681 19 0,76 2,89 1.337 26 1,18 3,64 1.527 31 1,60 4,18 1.684 19 0,77 2,89 1.342 26 1,19 3,64 1.531 32 1,61 4,29 1.687 19 0,78 2,89 1.347 26 1,20 3,64 1.535 32 1,62 4,29 1.691 19 0,79 2,89 1.351 26 1,21 3,64 1.539 32 1,63 4,29 1.694

  • 48 Lampiran 4. Pendapatan Peternak Skala I pada Periode Pemeliharaan Agustus-Sepatember 2007

    Nano Hendar Ajum Jumiati Aat Ujang Edih Husein Juhata Biaya Variabel Usaha DOC 7.500.000,00 9.000.000,00 9.000.000,00 12.000.000,00 13.500.000,00 13.500.000,00 13.500.000,00 13.500.000,00 Pakan 22.875.000,00 29.437.500,00 28.500.000,00 37.200.000,00 38.250.000,00 37.875.000,00 44.625.000,00 46.875.000,00 Obat,vaksin dan Vitamin 721.500,00 1.200.200,00 1.182.400,00 1.810.500,00 1.960.500,00 2.056.600,00 1.255.000,00 2.033.800,00 Bahan Bakar Pemanas 500.000,00 750.000,00 500.000,00 750.000,00 1.000.000,00 750.000,00 1.000.000,00 750.000,00 Listrik 150.000,00 175.000,00 200.000,00 250.000,00 300.000,00 300.000,00 300.000,00 300.000,00 Tenaga Kerja 961.035,00 1.193.540,00 1.137.675,00 1.533.525,00 1.566.215,00 1.605.900,00 1.782.840,00 1.917.272,00 Desinfektan 90.000,00 90.000,00 90.000,00 130.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 Sekam 250.000,00 375.000,00 375.000,00 475.000,00 500.000,00 500.000,00 475.000,00 500.000,00 Total Biaya Variabel (a) 33.047.535,00 42.221.240,00 40.985.075,00 54.149.025,00 57.196.715,00 56.707.500,00 63.057.840,00 65.996.072,00 Biaya Tetap Penyusutan Peralatan 580.533,33 664.300,00 608.500,00 750.166,67 896.433,33 974.766,67 887.766,67 885.266,67 Penyusutan Kandang 500.000,00 600.000,00 600.000,00 800.000,00 900.000,00 825.000,00 900.000,00 900.000,00 Total Biaya Tetap (b) 1.080.533,33 1264.300,00 1.208.500,00 1.550.166,67 1.796.433,33 1.799.766,67 1.787.766,67 1.785.266,67 Total Biaya (a+b) 34.128.068,33 43.485.540,00 42.193.575,00 55.699.191,67 58.993.148,33 58.507.266,67 64.845.606,67 67.781.339,17 Penerimaan Penjualan Ayam 36.038.812,50 44.495.172,20 42.412.524,00 57.169.812,00 59.140.278,40 60.221.250,00 66.464.275,20 71.360.882,45 Bonus FCR 461.296,80 572.899,20 920.115,00 920.115,00 501.188,80 963.540,00 570.508,80 920.290,80 Bonus Mortalitas 115.324,20 143.224,80 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 230.072,70 Total Penjualan 36.615.433,50 45.211.296,20 43.332.639,00 58.089.927,00 59.641.467,20 61.184.790,00 67.034.784,00 72.511.245,95 Pendapatan (c-(a+b)) 2.487.365,17 1.725.756,20 1.139.064,00 2.390735,333 648.318,87 2.677.523,33 2.189.177,33 4.729.906,78

    Sumber : Data Primer Diolah

  • 49 Lampiran 5. Pendapatan Peternak Skala II pada Periode Pemeliharaan Agustus-September 2007

    Sumber : Data Primer Diolah

    Unus Jaja Kardi Sukardi Uci Eka Olib Mamad Saefullah Affandi

    Biaya Variabel Usaha

    DOC 15.000.000,00 15.000.000,00 15.000.000,00 16.500.000,00 16.500.000,00 18.000.000,00 18.000.000,00 25.500.000,00 27.000.000,00 36.000.000,00

    Pakan 44.062.500,00 43.500.000,00 43.125.000,00 54.187.500,00 49.875.000,00 55.125.000,00 56.250.000,00 92.812.500,00 82.875.000,00 111.187.500,00

    Obat,vaksin dan Vitamin 2.566.600,00 1.960.000,00 2.118.450,00 2.073.000,00 2.063.600,00 2.400.400,00 2.650.100,00 3.837.600,00 4.017.100,00 4.476.800,00

    Bahan Bakar Pemanas 1.250.000,00 1.000.000,00 750.000,00 1.250.000,00 750.000,00 1.750.000,00 1.750.000,00 1.500.000,00 1.750.000,00 2.500.000,00

    Listrik 375.000,00 350.000,00 350.000,00 375.000,00 400.000,00 350.000,00 400.000,00 500.000,00 600.000,00 800.000,00

    Tenaga Kerja 1.782.295,00 1.822.875,00 1.798.875,00 2.215.255,00 2.044.520,00 2.231.613,00 2.280.335,00 3.773.193,00 3.524.875,00 4.425.525,00

    Desinfektan 140.000,00 140.000,00 140.000,00 140.000,00 140.000,00 155.000,00 155.000,00 175.000,00 175.000,00 200.000,00

    Sekam 500.000,00 500.000,00 475.000,00 750.000,00 500.000,00 550.000,00 550.000,00 875.000,00 900.000,00 1.500.000,00

    Total Biaya Variabel (a) 65.676.395,00 64.272.875,00 63.757.325,00 77.490.755,00 72.273.120,00 80.562.013,00 82.035.435,00 128.973.293,00 120.841.975,00 161.089.825,00

    Biaya Tetap

    Penyusutan Peralatan 979.500,00 974.500,00 994.500,00 1.104.600,00 1.102.933,33 1.093.900,00 1.103.066,67 1.659.766,67 175.566,00 2.521.800,00

    Penyusutan Kandang 1.000.000,00 1.000.000,00 916.666,67 1.100.000,00 1.008.333,33 1.200.000,00 1.000.000,00 1.558.333,33 1.800.000,00 2.400.000,00

    Total Biaya Tetap (b) 1.979.500,00 1.974.500,00 1.911.166,67 2.204.600,00 2.111.266,66 2.293.900,00 2.103.066,67 3.218.100,00 1.975.566,00 4.921.800,00

    Total Biaya (a+b) 67.655.895,00 66.247.375,00 65.668.491,67 79.695.355,00 74.384.386,66 82.855.913,00 84.138.501,67 13.219.139,00 122.817.541,00 166.011.625,00

    Penerimaan

    Penjualan Ayam 67.299.459,20 68.357.812,50 67.457.812,50 82.584.706,40 76.669.500,00 83.685.468,75 85.512.562,50 140.211.833,30 131.407.340,00 165.957.187,50

    Bonus FCR 0,00 874.980,00 859.140,00 1.063.322,40 981.369,60 0,00 729.707,20 2.263.915,50 2.114.925,00 0,00

    Bonus Mortalitas 213.875,40 218.745,00 215.865,00 265.831,00 0,00 267.793,50 273.640,20 0,00 422.985,00 531.063,00

    Total Penjualan 67.513.334,60 69.451.537,50 68.532.817,50 83.913.859,80 77.650.869,60 83.953.262,25 86.515.909,90 142.475.748,80 133.945.250,00 166.488.250,50

    Pendapatan c-(a+b)) -142.560,40 3.204.162,50 2.864.325,83 4.218.504,80 3.266.482,94 1.097.349,25 2.377.408,23 10.284.355,80 11.127.709,00 476.625,50

  • 50 Lampiran 6. Pendapatan peternak Skala III pada Periode Pemeliharaaan Agustus-September 2007

    Lomri Ubeng Nano Herno Timu Biaya Variabel Usaha DOC 42.000.000,00 60.000.000,00 82.530.000,00 110.010.000,00 Pakan 120.750.000,00 180.000.000,00 282.000.000,00 296.625.000,00 Obat,vaksin dan Vitamin 5.217.300,00 8.560.100,00 11.614.250,00 16.036.200,00 Bahan Bakar Pemanas 3.000.000,00 4.500.000,00 7.250.000,00 10.000.000,00 Listrik 1.000.000,00 1.100.000,00 1.250.000,00 2.000.000,00 Tenaga Kerja 5.107.200,00 7.624.050,00 11.230.310,00 13.023.360,00 Desinfektan 225.000,00 200.000,00 375.000,00 450.000,00 Sekam 1.750.000,00 1.975.000,00 3.000.000,00 3.750.000,00 Total Biaya Variabel (a) 179.049.500,00 263.959.150,00 399.249.560,00 451.894.560,00 Biaya Tetap Penyusutan Peralatan 2.925.722,22 3.836.833,33 5.649.500,00 6.479.222,22 Penyusutan Kandang 2.800.000,00 4.000.000,00 5.502.000,00 7.334.000,00 Total Biaya Tetap (b) 5.725.722,22 7.836.833,33 11.151.500,00 13.813.222,22 Total Biaya (a+b) 184.775.222,20 271.795.983,30 410.401.060,00 465.707.782,20 Penerimaan Penjualan Ayam 191.520.000,00 285.901.875,00 417.992.138,20 488.376.000,00 Bonus FCR 2.451.456,00 4.574.430,00 5.390.548,80 7.814.016,00 Bonus Mortalitas 612.864,00 914.886,00 0,00 0,00 Total Penjualan 194.584.320,00 291.391.191,00 423.382.687,00 496.190.016,00 Pendapatan (c-(a+b)) 9.809.097,78 19.595.207,67 12.981.627,00 30.482.233,78

    Sumber : Data Primer Diolah

  • 51

    Lampiran 7. Hasil Panen Ayam Peternak Skala I

    Nama Total Ayam Dijual (ekor) Bobot Badan Panen (kg)

    Total Ayam Dijual (kg) Nano hendar 2433 1,58 3844,14 Ajum 2876 1,66 4774,16 Jumiati 2758 1,65 4550,70 Aat 3810 1,61 6134,10 Ujang 4291 1,46 6264,86 Edih 4040 1,59 6423,60 Husein 4296 1,66 7131,36 Juhata 4433 1,73 7669,09 Rata-rata 5849,00

    Sumber : Data Primer Diolah Lampiran 8. Hasil Panen Ayam Peternak Skala II

    Nama Total Ayam Dijual (ekor) Bobot Badan Panen (kg)

    Total Ayam Dijual (kg) Unus 4883 1,46 7129,18 Jaja 4861 1,50 7291,50 Kardi 4797 1,50 7195,50 Sukardi 5306 1,67 8861,02 Uci 5176 1,58 8178,08 Eka 5759 1,55 8926,45 Olib 5773 1,58 9121,34 Mamad 8071 1,87 15092,77 Saefullah 8650 1,63 14099,50 Affandi 11570 1,53 17702,10

    Rata-rata 10359,74 Sumber : Data Primer Diolah Lampiran 9. Hasil Panen Ayam Peternak Skala III

    Nama Total Ayam Dijual (ekor) Berat Badan Panen (kg)

    Total Ayam Dijual (kg) Lomri 13440 1,52 20428,80 Ubeng 19180 1,59 30496,20 Nano Herno 26117 1,72 44921,24 Timu 34048 1,53 52093,44 Rata-rata 36984,92

    Sumber : Data Primer Diolah