Cdk 064 Filariasis (i)

  • Published on
    08-Jun-2015

  • View
    4.999

  • Download
    6

Embed Size (px)

Transcript

<p>No.64 1990International Standard Serial Number: 0125 913X</p> <p>Diterbitkan oleh :Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma</p> <p>Daftar Isi :2. Editorial Artikel 3. Program Pemberantasan Filaria di Indonesia 7. Masalah dalam Pemberantasan Filariasis di Indonesia 11 Aspek Epidemiologi Filariasis yang Berhubungan dengan Pemberantasnnya 15. Aspek Sosio Budaya dalam Penanggulangan Filariasis 18. Beberapa Aspek Imunologi dan Bioteknologi dalam Penanggulangan Masalah Filariasis 22. Identifikasi Komponen Proten Mikrofilaria B malayi dan hubungannya dengan Status Kliniko Parasitologik dari Filaria 27. Nutritional Polyneuropathy in Surabaya and its Surrounding 33. Ulkus Dekubitus 36. Pola Preskripsi Obat yang Dikaitkan dengan Diagnosis di Unit Rawat Jalan rumah Sakit Umum Kelas C, Kelas D, dan Puskesmas 42. Kunjungan Pasien Kanker di Unit Rawat Jalan Beberapa Rumah Sakit di Indonesia 46. Purifikasi Antibiotik 50. Identifikasi Tipe Lepromatous Leprosy (LL) pada Pasien Lepromatosa secara Tes transformasi Limfosit 53. Kegiatan Ilmiah : Simposium Peranan Akupunktur dalam Dunia Kedokteran 54. Kalender Kegiatan Ilmiah 55. Informasi Obat : Facid 56. 56. 58. 60. Pengalaman Praktek : Nyaris Makan Tanah;Sampah Humor Ilmu Kedokteran Abstrak-abstrak. RPPIK</p> <p>Bagi sementara orang, filariasis menypakan. penyakit yang hanya didengar ceritanya saja taa pernah melihat sendiri penderitanya. Penyakit ini memang sejenis penyakit parasit yang penyebarannya tidak merata, melainkan terkonsentrasi di beberapa kantong-kantong wilayah tertentu. Meskipun demikian, penyakit ini tetap merupakan masalah kesehatan yang penting, karena menyebabkan kerugian masyarakat berupa penurunan produktivitas penderitanya, apalagi sarana pemberantasannya sebenarnya sudah cukup tersedia. Adanya kendala yang dijumpai di lapanganlah yang mengakibatkan mash terdapatnya daerah-daerah endemik filariasis sampai saat ini. Edisi kalil ini menampilkan kumpulan makalah yang pernah dibahas pada Seminar Penyakit Menular yang diadakan oleh Pusat Penelitian Penyakit Menular Departemen Kesehatan RI beberapa waktu yang lalu, ditambah dengan artikel yang membahas aspek imunologi dan bioteknologinya. Seminar tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi yaitu : Karena keterbatasan biaya operasi untuk pemberantasan filariasis, maka sejak tahun anggaran 1987 - 1988 pelaksanannya diserahkan ke Puskesmas dengan melakukan pengobatan bagi penderita yang berobat ke Puskesmas setempat. Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka forum diskusi simposium filariasis memandang perlu untuk menyiapkan penanggulangan filariasis di tingkat Puskesmas. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah sebagai berikut : 1) Petugas Puskesmas dengan memakai indikator gejala klinis: adenolimfangitis dan elephantiasis, dapat memperkirakan adanya filariasis di suatu daerah atau desa. 2) Suatu desa yang diperkirakan merupakan daerah endemis, dianjurkan melaksanakan pemeriksaan darah jari 20 ul pada malam hari, dari sejumlah 10% dari penduduknya. 3) Bila hasil pemeriksaan darah.menunjukkan mikrofilaremia 5% atau lebih dari jumlah yang diperiksa, maka sebaiknya dilakukan pengobatan massal dengan biaya dari Daerah. 4) Pengobatan massal dianjurkan dengan dosis rendah yang diberikan secara berkala sampai dicapai dosis total Dietilkarbamasin sejumlah 4 g untuk B. malayi dan 6 g untuk W. bancrofti lama pengobatan ditetapkan oleh kebijaksanaan dokter Puskesmas. Pengobatan tersebut dianjurkan dengan peran serta masyarakat. 5) Vektor potensialdi daerah endemis ini perlu ditentukan, untuk mengetahui tempat perindukannya. Selanjutnya bila memungkinkan dilakukan pengendalian lingkungan dengan kerjasama lintas sektoral khususnya bidang pertanian. 6) Evaluasi pengobatan dianjurkan dilaksanakan 3 tahun setelah pengobatan. 7) Memasukkan Dietilkarbamasin dalam daftar obat essensial filariasis obat Inpres Puskesmas. Artikel tambahan yang melengkapi edisi ini adalah mengenai polineuropati, ulkus dekubitus dan beberapa lainnya lagi. Selamat membaca, Redaksi</p> <p>2</p> <p>Cermin Dunia Kedokteran No. 64, 1990</p> <p>Artikel Program Pemberantasan Filaria di IndonesiaDr. Isrin Ilyas DTMH, MPH.Sub Direktorat Filariasis, Direktorat Jenderal PPM dan PLP Departemen Kesehatan RI., Jakarta</p> <p>PENDAHULUAN Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh sejenis cacing darah-jaringan dari Genus Filaria, yang penularannya pada manusia melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan rakyat yang penting terutama bagi daerah pedesaan di luar pulau Jawa-Bali karena mengakibatkan berkurangnya kemampuan kerja masyarakat dan cacat yang ditimbulkannya. Kantong-kantong daerah endemis biasanya merupakan daerah dataran rendah yang berawa dengan di sana-sini dikelilingi oleh daerah yang bersemak belukar dan berhutan. Diperkirakan ada sekitar 5.000 daerah kantong filariasis yang mengancam kira-kira sejumlah 20 juta penduduk, di antaranya sekitar 2 juta orang terinfeksi mikrofilaria dalam darahnya, kira-kira 200.000 penduduk menderita serangan akut dan 100.000 orang menanggung cacat (elephantiasis) sepanjang hidupnya. Pendatang barn ke daerah endemis yang belum mempunyai daya imunitas terhadap filariasis akan lebih mudah mendapat serangan akut serta akibat menahun selanjutnya. Di Indonesia ditemukan tiga spesies cacing Filaria yang merupakan penyebab penyakit ini, yaitu Wuchereria bancrofii, Brugia malayi dan Brugia timori dan berpuluh-puluh spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor penular penyakit. Filariasis-malayi disamping mempunyai gejala-gejala yang lebih berat memberikan masalah tersendiri dengan adanya hospes binatang (kucing dan kera) sebagai sumber penularan. Tentang bionomik dan perilaku vektor nyamuk masih banyak yang belum diketahui sehingga sampai saat ini metode vektor kontrol yang tepat guna belum ditemukan. Sejak tahun 1970 (Pelita I) dengan kerja sama WHO, US Namru dan Bagian Parasitologi UI mulai dilaksanakan penelitian dan percobaan lapangan untuk pemberantasan filariasis dan sejak tahun 1975 (Pelita II) Program Pemberantasan Filariasis secara intensif mulai dilaksanakan. Sampai saat ini ProDibacakan pada Simposium Filariasis, Seminar Penyakit Menu/ar, Pusat Penelitian Penyakit Menular Departemen Kesehatan RI., 21 Maret 1988.</p> <p>gram Pemberantasan Filariasis telah mencakup 1860 daerah kantong endemis filariasis meliputi 21 dari 27 propinsi seluruh Indonesia. Hasil yang dicapai cukup meinuaskan prevalensi penyakit secara nyata turun dari 13,3% pada tahun 1970 menjadi 3,29% pada tahun 1987. Walaupun angka penurunan ini belum menggambarkan keadaan yang sebenamya, tapi dapat disimpulkan bahwa Program Pemberantasan Filariasis yang telah dilaksanakan jelas memberikan dampak yang nyata dalam menekan potensi penularan sekaligus melindungi dan meringankan kerugian masyarakat terhadap berkurangnya kemampuan kerja. Dengan tidak adanya bantuan dana sejak tahun 1987/1988, maka praktis kegiatan operasional pemberantasan Filariasis terhenti, sehingga dapat diperkirakan untuk masa-masa mendatang potensi penularan filariasis akan meningkat kembali dan rakyat pedesaan di daerah endemis filariasis akan tetap menanggung penderitaan akibat penyakit ini. Di samping faktor sumber daya untuk menunjang pemberantasan 'filariasis, cukup banyak faktor-faktor teknis-epidemiologis penyakit yang belum terpecahkan sehingga metode pemberantasan yang efektif dan efisien belum ditemukan.</p> <p>TUJUAN Program Pemberantasan Filariasis bertujuan untuk melindungi masyarakat dari ancaman penyakit filariasis agar terhindar dari serangan penularan dan terbebas dari penderita akibat penyakit. Secara operasional tujuan tersebut digambarkan dengan memakai indikator Microffilaria rate (dalam %) dan Acute Disease Rate (dalam %), yaitu : 1. Menurunkan M -f rate sampai kurang dari 2%; 2. Menurunkan ADR sampai menjadi 0%</p> <p>Cermin Dunia Kedokteran No. 64, 1990</p> <p>3</p> <p>KEBIJAKSANAAN</p> <p>Mempertimbangkan banyak dan luas tersebarnya kantongkantong daerah endemis filariasis di aneka ragam medan geografis, keterbatasan sumber daya dan faktor-faktor teknis epidemiologis, maka dalam pelaksanaan Program Pemberantasan Filariasis ditetapkan beberapa kebijaksanaan. 1) Prioritas. Urutan prioritas daerah endemis yang akan diberantas adalah : a) daerah sosio-ekonomi produktif; b) daerah lokasi transmigrasi; c) daerah dengan derajat endemisitas tinggi; d) daerah endemis yang memerlukan pemberantasan ulang. 2) Metode intervensi. Kegiatan utama pemutusan rantai penularan adalah dengan jalan pengobatan massal penduduk dengan pemberian obat pembunuh parasit (Diethylcarbamazine Citrate). Jadi dengan tujuan melenyapkan sumber infeksi pada manusia. 3) Peran serta masyarakat. Agar target dan sasaran pemberantasan tercapai masyarakat harus dilibatkan secara aktif untuk ikut Tabel 1. Hasil survei dan pengobatan Filariasis di Indonesia sejak 1970/1971 s.d. 1986/1987 berperan dalam kegiatan pemberantasan. 4) Di daerah endemis dengan prevalensi M-frate SURVEI MIKROFILARIA PENGOBATAN kurang dari 2%, kegiatan pemberantasan filariasis Tahun Jumlah Jumlah Jumlah ML Range Jumlah Jumlah dilakukan oleh Puskesmas setempat dengan metoDesa diperiksa positif rate Mf. rate Desa diobati de pengobatan DEC secara selektif. 1970/1971 POKOK POKOK KEGIATAN 1) Pengumpulan data dasar, sensus penduduk dan pemetaan lokasi. Kegiatan ini bermaksud untuk mengetahui dan menentukan keadaan endemisitas suatu daerah, keadaan penduduk, situasi geografis dan fasilitas yang mendukung, sehingga dapat dibuat rencana kegiatan pemberantasan selanjutnya. 2) Penyuluhan kesehatan masyarakat. Kepada seluruh penduduk diberikan penyuluhan tentang penyakit filariasis, penyebarannya, cara pemberantasannya dan bagaimana perilaku masyarakat untuk menunjang pemberantasan penyakit. 3) Pemeriksaan klinis dan pemeriksaan darah jari. Dari ditemukannya tanda-tanda dan gejala-gejala klinis akut dan menahun akan dapat ditentukan besarnya Acute Disease Rate (ADR) dan Elephantia - sis Rate (ER). Dari jumlah penduduk yang ditemukan mikro-filaria dalam darah jarinya akan dapat diketahui besarnya tingkat penularan penyakit (Micro-filaria rate : M f rate4). 4) Pengobatan massal. Ada tiga altematif cara pemberian obat DEC, yaitu : a) Pengobatan DEC dosis standar Kepada setiap penduduk diberikan obat DEC dengan dosis tunggal sehari 5 mg/kg BB selama 15 hari untuk Filariasis bancrofti dan1971/1972 1972/1973 1973/1974 Pelita I. 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 Pelita II 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 Pelita III 1984/1985 1985/1986 1986/1987 Pelita IV s.d Th. Ke-3 35 42 46 60 11.022 16.703 21.266 30.952 2.383 2.561 2.780 2.905 21,6 15,3 13,1 9,4 0,6 -37,6 0,0 -68,5 0,0 -85,7 0,0 -60,4 1 833 19.286 20.819 10.861 37.880 72.885 75.274 30.869 227.769 101.982 162.700 178.260 229.116 212.005 884.063 276.047 199.066 94.772 569.885 5 7 0,0 - 45,4 0,0 - 53,3 0,0 - 42,7 0,0 - 34,2 0,0 - 28,2 15 24 80 79 33 231 0,0 - 34,4 0,0 -70,0 0,0 -70,0 0,0 - 37,5 0,0 - 34,0 74 140 144 183 164 705 258 201 111 570</p> <p>selama 10 hari untuk Filariasis malayi dan Filariasis timori. b) Pengobatan DEC dosis bertahap. Dosis tunggal sehari cukup 1 tablet Filarzan(50 mg. DEC) bagi penduduk berumur di atas 10 tahun dan 1/2 tablet bagi yang berumur di bawah 10 tahun. Pemberian dosis ini berlangsung selama 4 hari dan hari-hari berikutnya pengobatan dilanjutkan dengan pemberian dosis standar . c) Pengobatan DEC dosis rendah. Kepada setiap penduduk diberikan dosis tunggal sehari 1/2 tablet bagi yang berumur di atas 10 tahun dan 1/4 tablet bagi yang berumur di bawah 10 tahun. Obat hanya diminum setiap minggu selama 6 bulan dan dilanjutltan selama 6 hari lagi dengan dosis standar . 5) Survai evaluasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan darah jari untuk menilai basil pengobatan setelah periode 1 tahun. Bila telah diketahui M -f rate kurang dari 2% dan ADR = 0%, maka pengamatan dan penanggulangan selanjutnya diserahkan kepada Puskesmas setempat. Puskesmas akan membeukan pengobatan DEC secara selektif kepada penduduk yang mem-</p> <p>183 59 85 103 82 78 407 111 136 147 173 196 763 343 224 123 690</p> <p>79.943 25.864 59.898 73.096 57.301 53.695 269.818 76.350 112.667 132.347 164.538 163.108 649.010 164.228 109.296 50.097 323.621</p> <p>10.629 2.919 6.075 7.938 5.100 3.110 25.142 4.851 7.765 6.317 7.547 5.123 31.603 4.679 4.143 1.699 10.521</p> <p>13,3 11,2 10,1 10,8 8,8 5,7 9,31 6,3 6,9 4,7 4,5 3,1 4,86 2,8 0,0 - 21,5 3,8 0,0 - 23,8 3,4 0,0 - 11,7 3,25</p> <p>Keterangan : Tahun anggaran 1987/1988 program pemberantasan Filariasis tidak mendapat anggaran lagi dari APBN, untuk sementara kegiatan terhenti dan kelanjutan pemberantasan diserahkan kepada kesediaan Dinas Kesehatan Propinsi masing-masing. Data di atas menunjukkan hasil survei dan pengobatan pendahuluan maupun ulangan setiap tahunnya; jadi sejumlah desa yang dilakukan intervensi per tahun, sebagian merupakan desa-desa baru dan sebagian lagi merupakan desa-desa yang pernah dilakukan kegiatan pada tahun-tahun sebelumnya (desa lama). Sumber data : Seksi pemberantasan vektor pada Subdit Filariasis &amp; Schistosomiasis.</p> <p>4</p> <p>Cermin Dunia Kedokteran No. 64, 1990</p> <p>Tabel 2. Cakupan Wilayah Pemberantasan Filariasis dan tingkat Prevalensi berdasarkan hasil-hasil survei pendahuluan sejak adanya kegiatan pemberantasan sampai dengan tahun 1985/1986. PROPINSI Jumlah cakupan Jumlah Jumlah desa/lokasi dg. Mf. rate pada survei pendahuluan Tahun awal Desa/ No. KabuKecalokasi &lt; 2% kegiatan 2 % paten matan kegiatJml. % an Jml. % 1. Aceh 2. Sumut 3. Sumbar 4. Riau: 5. Jambi 6. Sumsel 7. Bengkulu 8. Jawa Barat 9. Jawa Tengah 10. Kal - Bar 11. Kal-Teng 12. Kal - Sel 13 Kal- Tim 14.Sul15. Sul-Teng 16. Sul - Set 17. Sul - Tra 18. N.T.T. 19. Maluku Irian Jaya 21. Timor Timur Jumlah 1971/1972 1971/1972 1971/1972 1972/1973 1972/1973 1971/1972 1971/1972 1970/1971 1976/1977 1972/1973 1973/1974 1970/1971 1973/1974 1971/1972 1970/1971 1969/1970 1971/1972 1971/1972 1972/1973 1979/1980 1980/1981 1969/1970 6 6 5 5 2 6 3 5 7 5 7 9 5 4 4 3 4 12 2 7 9 116 22 16 8 23 4 22 12 5 9 17 22 31 30 18 32 8 16 39 8 13 15 390 36 31 63 131 42 101 244 8 18 53 119 104 74 45 270 67 54 251 33 23 93 1860 3 18 34 14 . 8 38 92 6 12 17 29 9 14 20 55 11 6 48 2 8 22 466 8,3 58,0 54,0 10,7 19,0 37,6 37,7 0 66,7 32,0 24,4 8,6 18,9 44,4 20,4 16,4 11,1 19,1 6,1 34,8 23,6 33 13 29 117 34 63 152 2 6 36 90 95 60 25 215 56 48 203 31 15 71 91,7 41,9 46,0 89,3 81,0 62,4 62,3 100 33,3 67,9 75,6 91,3 81,1 55,6 79,6 83,6 88,9 80,9 93,9 65,2 76,3 74,9</p> <p>25,0 1394</p> <p>Pelita IV (th. 1984/1985 s.d th. 1986/1987). Telah disurvei sejumlah 690 desa endemis dengan hasi Mf-rate 3,25% dan telah diobati sejumlah 569.885 orang. Sejak dimulainya tahun 1970/1971 sampai tahun proyek 1986/1987 Program Pemberantasan filariasis telah menjangkau 21 propinsi dari 27 propinsi seluruh Indonesia, meliputi 116 kabupaten, 390 kecamatan dan 1860 desa yang merupakankantong-kantong daerah endemis filariasis. Terlihat ada kecenderungan penurunan penularan dari tahun ke tahun...</p>