Click here to load reader

HASIL PENELITIAN DAN SINTESA IN PROGRESS RPI 9. … · leprosula di Gn. Lumut, Berau dan Kutai Timur Kaltim. 5 pohon induk jenis S. johorensis di Gn. Lumut, Berau, Gn. Gajah Kaltim

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HASIL PENELITIAN DAN SINTESA IN PROGRESS RPI 9. … · leprosula di Gn. Lumut, Berau dan Kutai...

HASIL PENELITIAN DAN SINTESA IN PROGRESS RPI 9. PENGELOLAAN DIPTEROKARPA

TIM: Balai Besar Penelitian Dipterokarpa, Samarinda

Balai Penelitian Kehutanan, Banjarbaru

Hotel Royal, 13 -14 Nopember 2014

Visi /misi :

Sejalan dengan Rencana Induk Penelitian Dipterokarpa (RIPD)

Menyediakan luaran yang komprehensif per jenis Dipterokarpa

(A-Z ) dan ekosistemnya

Sentuhan-sentuhan inovatif+ (misalnya MSS)

Terdiri dari 6 luaran dan 15 kegiatan

KEGIATAN PENELITIAN RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA

Penyusunan Konsep Berpikir RPI Pengelolaan Dipterokarpa

Luaran 1 Teknik inovasi media tanam semai dan produksi bibit jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 1 2012 2014

Teknik aplikasi media tanam dan limbah biomassa hutan dan industri kayu

Hasil & sintesis 1. Teknologi pembuatan pembuatan kompos dari serbuk gergaji limbah saw mill, serbuk gergaji limbah chain saw, pakis, seresah dan rumput yang digunakan sebagai media tanam.

2. Teknologi pembuatan alat trans-plantation bibit. 3. Teknologi pembuatan alat packing bibit berupa rak bibit

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 1 Teknik inovasi media tanam semai dan produksi bibit jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 2 2012 2014 Teknik produksi bibit 3 jenis Dipterokarpa

Hasil & sintesis 1. Eksplorasi dan pengumpulan materi sebanyak 20 pohon induk jenis S. leprosula di Gn. Lumut, Berau dan Kutai Timur Kaltim. 5 pohon induk jenis S. johorensis di Gn. Lumut, Berau, Gn. Gajah Kaltim serta Bukit Baka Kalteng. 5 jenis S. smithiana di Gn. Lumut dan Berau dan Gn. Gajah Kaltim.

2. Perbedaan populasi & pohon induk memberikan variasi bagi hasil pembibitan, terlihat pada hasil cabutan jenis S. leprosula memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tinggi, diameter dan pertambahan daun baru. Populasi Kutai Timur terbaik dan berbeda nyata dengan Gn Lumut namun tidak dengan populasi Berau. Pada pertumbuhan diameter, ketiga populasi berbeda nyata satu sama lain. Pada pertambahan daun baru, populasi Kutai Timur dan Gn Lumut berbeda nyata dengan populasi Berau.

3. Pada stump dan stek pucuk jenis S. leprosula hanya tinggi tunas pada perlakuan populasi saja yang tidak memberikan perbedaan nyata, sedangkan yang lain berbeda nyata untuk jumlah tunas, tinggi tunas dan jumlah daun baru. Populasi Kutai Timur memiliki jumlah tunas terbanyak dan berbeda nyata dengan populasi lainnya. Populasi Kutai Timur memliki jumlah daun baru terbanyak dan berbeda nyata dengan Berau namun tidak dengan Gn. Lumut.

4. Persen berakar, persen bertunas maupun tinggi tunas pada stek jenis S. johorensis, populasi Berau lebih baik dibandingkan dengan populasi Bukit Baka. Perbanyakan jenis S. smithiana terkendala masalah teknis.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (2)

Luaran 2 Teknik manipulasi lingkungan dalam memacu peningkatan riap dan pertumbuhan jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 1 2012 - 2014

Teknik manipulasi lingkungan dalam memacu peningkatan riap dan pertumbuhan jenis Dipterokarpa prioritas

Hasil & sintesis

1. Percobaan penanaman jenis S. leprosula dengan pemberian pupuk tablet meningkatkan prosentase hidup tanaman pada penggunaan tablet yang lebih banyak (6 tablet/tanaman).

2. Penggunaan kombinasi kompos arang pada S. leprosula juga menunjukkan prosentase hidup yang cukup tinggi diatas 70% pada umur 5 tahun. Akan tetapi kompos tanpa arang memberikan pengaruh lebih baik terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman dibandingkan pemberian kompos arang atau tanpa perlakuan.

3. Penggunaan mulsa serasah pada S. leprosula memberikan respon pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan mulsa lainnya.

4. Penggunaan pupuk tablet dengan kombinasi ukuran lubang tanaman memberikan respon terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter S. johorensis, akan tetapi respon tersebut setelah dilakukan uji statistika tidak menunjukkan pengaruh nyata.

5. Penggunaan mulsa serasah dengan kombinasi ukuran lubang tanaman kecil pada S. smithiana memberikan respon pertumbuhan tinggi dan diameter serta persentase hidup yang cukup baik yaitu mencapai 66% pada umur 3 tahun.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (2)

Luaran 2 Teknik manipulasi lingkungan dalam memacu peningkatan riap dan pertumbuhan jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 2 2012 - 2014

Penelitian Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jenis Dipterokarpa

Hasil & sintesis

1. Tersedia database pengukuran pertumbuhan dan hasil

2. Tegakan S. polyandra P. Ashton Umur 34 Tahun di PT. Inhutani II Kota Baru, Kalimantan Selatan

3. Kondisi Pertumbuhan Meranti Merah (S. leprosula Miq.) Asal Biji dan Stek pada Umur 13 Tahun di Lahan Gambut PT. Arara Abadi, Kab. Siak, Riau

4. Keragaman Pertumbuhan Tanaman Meranti Merah (S. leprosula Miq.) Pada Berbagai Lokasi

5. Produktivitas Tegakan Tanaman Meranti Tembaga (S. leprosula Miq.) dari Cabutan Alam dan Stek Pucuk

6. Rekomendasi berupa tindakan-tindakan silvikultur yang dapat diterapkan pada masing-masing tapak untuk memacu pertumbuhan tanaman agar bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 2 Teknik manipulasi lingkungan dalam memacu peningkatan riap dan pertumbuhan jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 3 2012 - 2014

Penelitian Persyaratan Tumbuh Jenis Dipterokarpa

Hasil & sintesis

1. Pertumbuhan tingkat pohon jenis Shorea smithiana, Shorea johorensis dan Shorea leprosula pada hutan alam masih cukup baik, terlihat pada areal kawasan konservasi Sangkima Taman Nasional Kutai INP ketiga jenis tersebut secara berurut 23,81%, 43,60% dan 22,03%, pada areal PT. ITCI Hutani Manunggal secara berurut 35,86%, 19,76% dan 16,93%, pada areal PT.

2. Kemakmuran Berkah Timber secara berurut 14,55%, 28,56% dan 42,02%, kemudian pada areal Taman Nasional Bukit Tiga Puluh hanya

ditemukan jenis Shorea leprosula dengan INP 30,06%. 3. Pada lokasi penelitian ketiga jenis ini tumbuh pada kelas kelerengan

berkisar 8% s.d >40%, bahwa ketiga jenis tersebut mampu tumbuh pada kelas kelerengan yang ekstrim. Jenis tersebut tumbuh dengan kondisi tanah yang sangat masam, kandungan C organik, Nitrogen, Fosfor, KTK dan Bulk density yang tergolong rendah dan tumbuh pada tanah dengan tekstur lempung berpasir sampai lempung berliat.

4. Ketiga jenis ini cenderung berasosiasi negatif pada jenis-jenis yang mendominasi pada keempat kawasan penelitian dan sedikit yang berasosiasi positif, yaitu jenis Shorea smithiana berasosiasi positif nyata dengan Santiria grafithii, Shorea johorensis berasosiasi sangat nyata dengan Mirystica iners Blume, Shorea smithiana dan Palaquium sp

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 2 Teknik manipulasi lingkungan dalam memacu peningkatan riap dan pertumbuhan jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 4 2012 - 2014 Teknik Silvikultur Intensif Dipterokarpa Penghasil Tengkawang

Hasil & sintesis

1. Penanaman jenis tengkawang Shorea macrophylla dan Shorea pinanga di lahan terbuka (didominasi semak, alang-alang dan pakis-pakisan) memberikan hasil sementara bahwa tanaman tersebut mampu hidup pada lahan yang kondisinya jauh dari habitat aslinya (di pinggir sungai dan daerah berbukit atau daerah dengan suhu dan kelembaban tinggi). Persentase hidup tanaman pada umur 1 bulan setelah ditanam 97%, sedang pada lahan belukar dengan kondisi lebih tertutup persentase hidupnya mencapai 99%.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 2 Teknik manipulasi lingkungan dalam memacu peningkatan riap dan pertumbuhan jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 5 2012 - 2014

Studi Nutrisi Shorea balangeran dan Shorea stenoptera

Hasil & sintesis

1. Penambahan unsur hara makro NPKCaMg dengan dosis 10:20:10:10

(gram/10 L) dengan frekuensi aplikasi 2 minggu sekali dan penambahan

unsur hara mikro Fe dengan dosis 1 gr/ 10 L dan frekuensi aplikasi 2 minggu

sekali merupakan perlakuan yang terbaik bagi peningkatan pertumbuhan

belangeran di persemaian.

2. Pada tanah di bawah tegakan S. stenoptera di KHDTK Kintap Kalsel, nilai KTK

menjadi pembeda tapak baik dan tapak sedang sedangkan pada tanah di

bawah tegakan S. stenoptera di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat,

yang membedakan antara tapak baik, sedang dan jelek adalah kandungan P

tersedia (PBray1) dan K total.

3. N merupakan unsur hara makro yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter S. stenoptera sampai umur 4 bulan di persemaian. Unsur P, Ca dan Mg berpengaruh terhadap penambahan jumlah daun umur 4 bulan di persemaian.

4. Penambahan unsur hara makro N,P, K, Ca dan Mg berpengaruh nyata terhadap berat kering total tanaman, akan tetapi unsur N tidak berpengaruh nyata terhadap nisbah pucuk/akar tanaman di persemaian.

5. Unsur N dan CaMg berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan akar dan daun terbukti dari berat kering akar dan pucuk yang berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol.

6. Aplikasi NPK dosis 2 gram dengan frekuensi aplikasi sebulan sekali berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan pertambahan jumlah daun tanaman S. stenoptera di persemaian.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 3 Optimasi pemanfaatan kawasan hutan produksi untuk peningkatan produktivitas melalui multisistem silvikultur

Kegiatan 2012 - 2013

Multisistem Silvikultur Dalam Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari

Hasil & sintesis

1. Fragmentasi kawasan menyediakan ruang bagi manajemen IUPHHK untuk mengembangkan usaha dengan mengoptimalkan pemanfaatan kawasannya dalam konsep MSS. Optimasi ini didasarkan dengan kondisi tipologi yang tersedia di dalam kawasannya, dimana tipologi ini menjadi faktor pembatas dalam pembagian unit/bagian kelola kawasan berdasarkan sistem silvikulturnya dalam MSS

2. Faktor pembatas ini dapat diuraikan sebagai kriteria dan indikator. Berdasarkan uji coba dan kajian yang dilakukan, terdapat 7 tujuh kriteria yang dapat digunakan meliputi topografi, potensi tegakan, jenis tanah, curah hujan, lokasi desa (pemukiman), aksesibilitas dan keputusan direksi. Kriteria topografi dan potensi tegakan dikelompokkan sebagai kelompok kriteria absolut.

3. Berdasarkan uji coba yang dilakukan di IUPHHK contoh PT. Sarpatim, diperoleh hasil bahwa ruang penggunaan beberapa sistem silvikultur dalam satu unit usahanya tersedia dalam empat opsi atau alternatif yang dapat dipilih. Empat opsi disediakan untuk bisa dipilih oleh dewan direksi dengan dilengkapi dengan data indicator pada masing-masing opsi, meliputi indikator optimasi pemanfaatan, proyeksi produksi, penyerapan tenaga kerja, B/C R, NPV dan IRR.

4. Konsep MSS sudah diadopsi oleh Dirjen BUK

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 4 Teknik pengendalian gulma, hama dan penyakit 3 jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 1 2012 - 2014

Teknik pengendalian gulma tanaman jenis Dipterokarpa

Hasil & sintesis

1. Pertumbuhan W. Trilobata lebih baik di tempat ternaungi, akan tetapi kemampuan tanaman untuk membentuk hamparan penutup tanah masih sangat kurang.

2. Berdasarkan hasil penelitian selama tiga tahun tanaman S. leprosula dan S. johorensis tumbuh baik pada kelas cahaya rumpang. Pertumbuhan awal pada tingkat semai dari jenis Dipterokarpa memerlukan naungan. Oleh karena itu perlakuan pengendalian gulma pada tanaman jenis Dipterokarpa harus disesuaikan dengan kondisi setiap tanaman dan jenis gulma yang ada di sekitar tanaman. Dengan kondisi hutan yang berbeda akan berpengaruh terhadap kehadiran gulma sehingga tidak mutlak dilakukan pengendalian gulma beberapa bulan setelah tanam, bisa saja pada tahun pertama tidak perlu dilakukan pengendalian gulma dan bila dilakukan pengendalian gulma cukup dengan pengendalian gulma melingkar setempat (sistem piringan) atau pengendalian gulma melingkar setempat + mulsa (sistem piringan + mulsa) yang dapat menghemat waktu dan biaya daripada pengendalian gulma dengan cara tebas total.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 4 Teknik pengendalian gulma, hama dan penyakit 3 jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 2 2012 - 2014

Teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman jenis Dipterokarpa

Hasil & sintesis

1. Serangan rayap tanah(Coptotermes sp) pada tanaman S. leprosula di KHDTK Sebulu dan Samboja, Kalimantan Timur menyebabkan kematian. Rayap tersebut tidak hanya menyerang S. leprosula dari hasil penanaman, tetapi juga menyerang yang tumbuh secara alami (bukan tanaman) yang mengakibatkan kematian. Ciri-ciri serangan rayap tersebut adalah adanya kerak tanah menutupi sebagian atau seluruh batang. Serangan Coptotermes sp kecendrungan semakin meningkat, bila tidak dilakukan tindakan pengendaliannya. Karena di sekitar tanaman/pohon yang terserang ditemukan sarang rayap yang merupakan sumber asal serangan.

2. Serangan kumbang pada daun S. leprosula bervariasi tergantung dari kondisi lingkungan setempat. Pada areal hutan yang masih banyak vegetasi alam, serangan kumbang tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun sebaliknya pada areal yang kurang vegetasinya seperti hutan sekunder dan pernah terbakar, serangan kumbang cukup mengkhawatirkan. Karena sebagian besar tanaman terserang dan percabangan gundul dan meranggas. Daun S. leprosula merupakan makanan utama dari kumbang, selain memakan daun dari jenis S. ovalis, S. lohorensis, S. parvifolia, Duabanga moluccana, Arthocarpus anysophyllus dan jenis lainnya.

3. Pemberantasan rayap menggunakan larutan insektisida berbahan aktif Endosulfan dan Deltametrin cukup efektif bila serangan rayap belum masuk ke bagian kayu gubal. Pemberantasan rayap dengan cara membakar batang pohon yang terserang dan sarang rayap cukup efektif untuk mengurangi serangan dan menekan populasi rayap

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 4 Teknik pengendalian gulma, hama dan penyakit 3 jenis Dipterokarpa prioritas

Kegiatan 3 2012 - 2014

Pengendalian hama kutu loncat pada S.balangeran dengan menggunakan ekstrak mimba

Hasil & sintesis

1. Hama dan penyakit tanaman Belangeran yang ditemukan adalah hama : Kutu Loncat (Diaphorina sp), Ulat Pemotong (Ophiusa triphaenoides), Belalang (Catantops splendens), dan Bintil daun oleh Eulophidae serta penyakit : Bercak daun (Lasiodiplodia sp dan Colletotrichum sp)

2. Pada penelitian uji coba pengendalian hama diperoleh kombinasi perlakuan dosis dan waktu aplikasi ekstrak mimba 4ml/l-pagi hari dan 3ml/l-sore hari memberikan hasil terbaik dalam menekan intensitas serangan dan persentase serangan kutu loncat pada tanaman belangeran.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 5 Informasi kelayakan usaha 3 jenis Dipterokarpa prior

Kegiatan 2012 - 2014

Analisis Kelayakan Finansial Pengembangan Usaha Tanaman Jenis Dipterokarpa Dengan Menerapkan Sistem Silvikultur (1) TPTI; (2) TPTJ dan (3) Pada Lahan Terdegradasi.

Hasil & sintesis

1. Pada tingkat suku bunga riil 6,78% kegiatan pengembangan usaha tanaman jenis Dipterokarpa pada PT. Suka Jaya Makmur dan PT. IKANI dan PT. AL layak diusahakan (dapat memberikan harapan keuntungan) sebab memenuhi ketiga kriteria yang dipakai, yaitu NPV 0, BCR 1 dan IRR suku bunga bank yang digunakan. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa hanya pada PT. Suka Jaya Makmur saja yang masih dapat memberikan keuntungan menghadapi perubahan dalam hal penurunan hasil pendapatan sebesar 30% dan kenaikan suku bunga hingga 8% sebab memenuhi ketiga kriteria yang dipakai, yaitu NPV 0, BCR 1 dan IRR suku bunga bank yang digunakan. Tetapi bagi PT. IKANI perubahan tersebut sangat beresiko terhadap kerugian karena nilai NPV, BCR dan IRR 1, meskipun pada kenaikan suku bunga 8% masih

memberi keuntungan yang tipis.

2. Beberapa perusahaan yang telah mengembangkan penanaman jenis Dipterocarpaceae dengan sistem silvikultur baik TPTI dan TPTJ maupun kedua-duanya (TPTI dan TPTJ) harus benar-benar mampu melakukan efisiensi dalam setiap tahapan kegiatannya sehingga dapat menekan biaya-biaya langsung, biaya tidak langsung dan investasi. Namun tetap diperlukan dukungan dari pihak pemerintah dalam upaya-upaya untuk meningkatkan daya tarik investor dengan memberikan insentif biaya, deregulasi kebijakan dalam hal rasionalisasi pungutan, kebebasan memilih jenis dan daur serta jaminan usaha dalam bentuk kepastian hukum dan keamanan kawasan berusaha.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 6 Iptek konservasi jenis dan ekosistem Dipterokarpa yang komprehensif dan aplikatif

Kegiatan 1 2012 - 2014

Ekologi dan konservasi jenis Dipterokarpa di Kalimantan dan Sumatera

Hasil & sintesis

1. Dari 13 lokasi eksplorasi, jumlah jenis Dipterocarpaceae yang tercatat baru mencapai 50 % dari jumlah jenis Dipterocarpaceae yang ada di Pulau Kalimantan. Sedangkan untuk Pulau Sumatera baru 10 % dari seluruh jumlah jenis yang ada.

2. Jumlah jenis Dipterocarpaceae paling banyak berada pada ketinggian 100-199 mdpl, terdapat pada daerah dengan curah hujan 2000-2500 mm/tahun dan 2500-3000 mm/tahun dengan kelerengan yang bervariasi, mulai kelerengan 2 % hingga > 60 %.

3. Berdasarkan analisis extent of occurence (EOO), status konservasi jenis Shorea leprosula dan Shorea johorensis termasuk dalam kategori least concern, sedangkan berdasarkan area of occupancy (AOO) kedua jenis tersebut termasuk dalam kategori Endangered. extent of occurence (EOO) dan area of occupancy (AOO). EOO dan AOO dikalkulasikan dengan menggunakan Geospatial Conservation Assessment Tool (GeoCAT) (http//:geocat.kew.org).

4. Perlu dilakukan pembangunan database terbaru jenis dan sebaran Dipterocarpaceae yang ada di Indonesia.

5. Jumlah jenis Dipterocarpaceae yang dinilai status konservasinya perlu ditambah. Tidak hanya lingkup P. Kalimantan tetapi juga pulau lainnya. Penilaian status konservasi perlu menggunakan metode yang berbeda selain AOO dan EOO seperti yang telah dilakukan. Metode lain yang direkomendasikan adalah Ecological Niche Modelling (ENM) dan harus didukung dengan database dan peta dasar yang kuat.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 6 Iptek konservasi jenis dan ekosistem Dipterokarpa yang komprehensif dan aplikatif

Kegiatan 2 2012 - 2014

Strategi konservasi jenis dan ekosistem Dipterokarpa di hutan produksi dan kawasan konservasi

Hasil & sintesis

1. Populasi dan keanekaragaman jenis Dipterocarpaceae yang tertinggi terdapat pada kawasan lindung yang merupakan hutan primer dan belum pernah dijadikan sebagai areal produksi.

2. Kondisi hutan dan jarak dari permukiman penduduk merupakan faktor yang dapat berpengaruh terhadap populasi dan keanekaragaman jenis Dipterocarpaceae di kawasan lindung hutan produksi.

3. Masyarakat dan pengelola IUPHHK merupakan pihak yang termasuk dalam stakeholders primer dalam upaya konservasi jenis dan ekosistem Dipterocarpaceae.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 6 Iptek konservasi jenis dan ekosistem Dipterokarpa yang komprehensif dan aplikatif

Kegiatan 3 2012 - 2014

Eksplorasi sebaran dan potensi Dipterokarpa penghasil Tengkawang dan minyak Keruing

Hasil & sintesis

1. Terdapat 11 jenis keruing (Dipterocarpus spp) dan lokasi yang banyak ditemukan jenis keruing adalah KHDTK Labanan yaitu 10 (sepuluh) jenis. Jenis yang menghasilkan minyak keruing sebanyak 7 jenis yaitu Dipterocarpus confertus V. Sl, D. cornutus Dyer, D. grandiflorus (Blco) Blco, D. palembanicus, D. verrucosus Foxw dan D.gracillis Blume.

2. Potensi pohon penghasil minyak keruing terdapat di KHDTK Labanan sangat besar dengan kerapatan pohon 31.8 batang/ha dan rata-rata volume keruing sebesar 126.25 m3/ha.

3. Sebaran pohon keruing umumnya tersebar pada berbagai kelas kelerengan dan banyak hidup di tempat yang agak curam sampai sangat curam antara lain: Dipterocarpus tempehes, D.glagrigemmatus, D.humeratus,D.stellatus dan D.verrucosus. Jenis Tengkawang di banyak ditemukan di tempat agak curam sampai curam antara lain:Shorea beccariana Burck,S.macrophylla Ashton, S. seminisSloot dan S.mecistopteryxRidl.

4. Hasil perhitungan pasangan jenis pohon penghasil minyak keruing terdapat 9 pasang jenis yang berasosiasi negatif dan yang berasosiasi positif 1 jenis yaitu Dipterocarpus glabrigemmatus dengan Shorea patoiensis.

RPI PENGELOLAAN DIPTEROKARPA 2010 2014 (1)

Luaran 6 Iptek konservasi jenis dan ekosistem Dipterokarpa yang komprehensif dan aplikatif

Kegiatan 4 2012 - 2014

Studi level pemanenan buah Tengkawang yang lestari

Hasil & sintesis

1. Dari 2 lokasi penelitian di desa Penyeladi dan Desa Entuma, Kab. Sanggau dan PT. Gunung Gajah Abadi, Kab. Kutai Timur, Kaltim bahwa adanya perbedaan persepsi masyarakatnya terhadap pohon penghasil buah tengkawang. Di Kab. Sanggau, masyarakatnya masih mengganggap buah tengkawang memiliki nilai ekonomi sehingga bisa dimanfaatkan oleh mereka. Karena dipandang bernilai ekonomi, maka ada kegiatan pemanenan buahnya secara tradisional dan ada upaya untuk memelihara pohon penghasil buah. Sedangkan di PT GGA, karena buah tengkawang tidak dianggap bernilai ekonomi, maka buahnya tidak dimanfaatkan oleh masyarakat di desa sekitar hutan tersebut.

2. Produksi rata-rata buah tengkawang/pohon 206,14 kg, Persentase kulit buah 35,73%, Kadar air buah saat akan diekstrak, 56,58 %, Potensi buah tanpa kulit 132,48 kg, Potensi minyak tengkawang yang dihasilkan 19,63 liter. Harga buah tengkawang yang rendah menyebabkan masyarakat pemilik kebun tengkawang mulai mengkonversi lahannya menjadi kebun sawit.

3. Tingkat regenerasi alami di kebun milik masyarakat masih bagus untuk tingkat semai, sedangkan untuk tingkat pancang dan tiang tingkat regenerasi alaminya semakin berkurang. Sedangkan tingkat regenerasi alami untuk tingkat semai, pancang dan tiang di PT. GGA kondisinya cukup rendah, sedangkan untuk tingkat pohonnya masih cukup bagus.

4. Potensi Tengkawang di kebun masyarakat dari ketiga kabupaten di Kalimantan Barat masih dalam kondisi baik yang berarti memenuhi kriteria potensi hutan yang dapat dilakukan pemanfaatannya secara lestari. Hal ini perlu terus dipertahankan dan diinvetarisasi agar keberadaan pohon Tengkawang di kebun masyarakat dapat memberikan manfaat secara ekonomi, ekologi dan sosial bagi masyarakat sekitarnya secara berkelanjutan.