portofolio psikiatri

  • View
    223

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gangguan tidur

Text of portofolio psikiatri

GANGGUAN TIDUR

A. Pola TidurTidur merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang memiliki fungsi perbaikan dan homeostatic ( mengembalikan keseimbangan fungsi-fungsi normal tubuh ) serta penting pula dalam pengaturan suhu dan cadangan energy normal. Rasa kantuk berkaitan dengan hipotalamus dalam otak. Dalam keadaan badan segar dan normal, hipotalamus bekerja baik sehingga mampu member respon normal terhadap perubahan tubuh maupun lingkungannya. Namun setelah badan lelah seusai bekerja seharian, ditambah jam rutin tidur serta sesuatu yang bersifat menenangkan di sekelilingnya kemampuan merespon menjadi berkurang sehingga menyebabkan seseorang mengantuk. Disini yang berperan adalah zat yang disebut GABA (Gamma Aminobutyric Acid), merupakan asam amino yang berfungsi sebagai neurotransmitter.Dikatakan sehat dan normal bila begitu naik ke atas tempat tidur dengan tatanan rapi, kurang lebih selang 30 menit sudah tertidur. Salah satu criteria yang digunakan adalah Siklus Kleitman yang terdiri dari aktivitas bangun atau aktivitas harian dan siklus tidur yang juga dikenal dengan activity atau rest cycle. Siklus ini terdiri dari Rapid eye Movement ( REM ) dan Non Rapid Eye Movement (NREM). Secara obyektif, EEG dapat digunakan untuk mencatat fase REM maupun NREM selama tidur. Tidur yang dipengaruhi oleh NREM ditandai dengan gelombang EEG yang bervoltase tinggi tetapi berfrekuensi rendah, sedangkan tidur yang dipengaruhi REM ditandai dengan gambaran EEG yang berfrekuensi tinggi tetapi bervoltase rendah.Siklus dari Kleitmann akan berulang selama periode tidur setiap pengulangan disertai dengan pemendekan fase 3-4 dari NREM yang disebut SWS ( slow wafe sleep ) sedangkan lama REM lebih panjang. Kenyenyakan tidur sebenarnya tergantung lamanya fase-fase yang dilalui dari fase pertama sampai fase empat dari NREM. Sedangkan fase ini berjalan cepat, maka norang itu belum tidur nyenyak.Pada usia lanjut, jumlah tidur yang dibutuhkan setiap hari akan makin berkurang dan disertai fragmen-fragmen tidur yang banyak sehingga jumlah SWS makin berkurang dan ini meninjukkan bahwa mereka mengalami masa tidur yang tidak terlalu nyenyak.Tidur dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :1. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM) 75 %Stadium 1 = 5 persenStadium 2 = 45 persenStadium 3 = 12 persenStadium 4 = 13 persen

2. Tipe Rapid Eye Movement ( REM ) 25 %Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antar 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16-20 jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan dewasa 7-7,5 jam/hariTahapan tidur normal orang dewasa adalah sebagai berikut :Stadium 0 Periode dalam keadaan masih bangun tetapi mata menutup. Fase ini ditandai dengan gelombang voltase rendah, cepat, 8-12 siklus per detik. Tonus otot meningkat. Aktivitas alfa menurun dengan meningkatnya rasa kantuk. Pada fase mengantuk terdapat gelombang alfa campuran.

Stadium 1 Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. ( berlangsung 3-5 menit ) dan mudah untuk dibangunkan Didapatkan : kelopak mata tertutup, tonus otot berkurang dan tampak gerakan bola mata ke kiri dan kekanan Gambaran EEG biasanya terdiri dari gelombang campuran alfa, beta dan kadang-kadang gelombang theta dengan amplitude rendah, tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan komplek K.Stadium 2 Pada fase ini didapatkan : bola mata berhenti bergerak, tonus otot masih berkurang, tidur lebih dalam daripada fase pertama Gambaran EEG : gelombang theta simetris. Terlihat adanya gelombang sleep spindle, gelombang vertex dan komplek K.Stadium 3 Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya Gambaran EEG : lebih banyak gelombang delta simetris serta tampak gelombang sleep spindleStadium 4 Merupakan tidur yang dalam serta sukar untuk dibangunkan Gambaran EEG : lebih banyak gelombang delta seitar 50% dan tampak gelombang sleep spindleFase tidur NREM ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM.2. Tidur REMDisebut juga tidur bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Pola tidur REM ditandai adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah, denyut nadi bertambah, tonus otot menunjukan relaksasi yang dalam. REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih instan dan panjang saat menjelang pagi. Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan seseorang seperti periode neonatal bahwa tidur REM mewakili 50% dari waktu total tidur. Periode neonatal ini pada EEG nya masuk ke fase REM tanpa melalui stadium 1-4. Pada usia 4 bulan pola berubah sehingga persentasi total tidur REM berkurang menjadi 40% hal ini sesuai dengan kematang sel-sel otak, kemudian akan masuk ke periode awal tidur yang didahului oleh fase NREM kemudian ke fase REM pada dewasa muda.Periode REM terjadi kira-kira 90-100 menit selama semalam. Periode REM pertama cenderung periode yang paling singkat biasanya berlangsung < 10 menit, periode REM selanjutnya masing-masing berlangsung selam 15-40 menit. Sebagian besar pola tidur REM terjadi pada sepertiga bagian terakhir dari malam, sedangkan sebagian besar tidur stadium 4 terjadi sepertiga bagian pertama malam.B. Proses Tidur NormalPasien memasuk tidur yang paling ringan ( fase 1 ) turun bertahap selama kurang lebih 30 menit ke tidur yang paling dalam ( fase 4 ). Kemudian stabil selama 30-40 menit, lalu naik ke fase yang lebih ringan (1-2) untuk masuk ke dalam tidur REM 90-100 menit tertidur kemudian siklus ini berulang. Semakin malam, periode REM memanjang, fase 4 menghilang dan tidur menjadi lebih ringan. Lamanya berada pada setiap fase bervariase, tergantung pada usia ( misal fase 3 dan 4 pada orang muda lebih panjang dan pada orang tua lebih singkat dan sedikit ).

Perubahan Hormonal Fisiologis pada Siklus Tidur NormalHPA axis ( Hypotalamus-pituitary-adrenal Axis ) merupakan jalur hormonal penting yang berfungsi mengatur siklus tidur manusia. Disfungsi axis ini pada tingkat manapun ( reseptor CRH- Corticotropin Hormone, reseptor glukokortikoid atau reseptor mineralokortikoid ) dapat mengganggu proses tidur. Tidur normal dikuti dengan organisasi HPA axis dan control serta modulasi dari cortisol circadian rhytym khusunya pada efek kortisol terhadap tidur dan aktivasi reseptor glukokortikoid spesifik ( GRs ) terhadap CRH ( ACTH secara tidak langsung ) juga kortisol.HPA AXIS NormalCRH dapat ditemukan pada tingkat hipotalamik ( PVN-nucleus paraventrikularis maupun ekstrahipotalamik) misalnya di system limbic dan system simpatik batang otak. Bagian dari system limbic yang berperan penting pada HPA axis adalah amygdale dan nucleus stria terminalis. Terdapat 2 jenis reseptor CRH yaitu CRH 1 dan 2 yang terletak di Hipofisis anterior. Selain CRH terdapat neuropeptida lain yang dapat mempengaruhi efek CRH yaitu : AVP ( arginin vasopressin ) dan urcortin. Kedua neuropeptida ini memiliki efek sinergis terhadap CRH dikedua jenis reseptornya. Urocortin dan CRH bersifat agonis pada reseptor CRH 1, sedangkan Urocortin 1, 2 dan CRH bersifat agonis pada reseptor CRH 2.PVN mengeluarkan CRH yang akan bekerja pada respetor CRH dihipofisis anterior. Interaksi CRH dengan reseptornya memicu pengeluaran ACTH dari hipofisis anterior. ACTH ini akan bekerja pada korteks adrenal untuk mengeluarkan hormone kortisol, dimana hormone kortisol memiliki berbagai macam efek termasuk diantaranya untuk negatife feedback pada tingkat PVN dan hipofisis anterior dalam rangka mengontrol sekresi CRH dan ACTH.HPA Axis dalam system irama SirkadianIrama sirkadian dari sekresi kortisol berasal dari hubungan anatar PVN dengan sebuah system induksi yang bernama nucleus suprakiasmatik (SCN). Jalur sekresi kortisol dimulai saat tengah malam, terutama ketika sesorang sedang tidur, level kortisol mulai meninggi 2-3 jam setelah mulai tidur dan akan terus meningkat sampai sesaat sebelum bangun. Puncak dari sekresi kortisol terjadi pada pukul 09.00 setelah mencapai puncak level kortisol akan menurun seiring berjalannya waktu. Bila orang tersebut tidur sebelum waktu tidur dimalam hari, maka level kortisol akan turun terus sampai mencapai level rendah (period quiescent)C. Gangguan Pola TidurHampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50 % dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10-15) disebabkan gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alcohol. Menurut data International of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur sebagai berikut : penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam (16%), psychopysiological (15%), sindrom kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alcohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65%), Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (