of 29 /29
1. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang PT Agincourt Resources merupakan perusahaan tambang emas yang beroperasi di daerah Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Perusahaan ini bergerak dalam kegiatan penambangan emas. Dalam Aktivitas penambangan di PT. Agincourt Resources dimulai dari mencakup aktivitas pengupasan overburden, pemboran peledakan, pemuatan, pengangkutan, peremukan hingga didapatkan produk akhir dengan berbagai ukuran hingga proses pengapalannya. Dengan maraknya perusahaan tambang yang melakukan kegiatan peledakan saat ini, saya memilih PT. Agincourt Resources sebagai tempat penelitian. Dalam penambangan emas diperlukan kegiatan pemboran dan peledakan dengan tujuan untuk menghasilkan beraian batuan yang sesuai dengan sasaran produksi, ukuran fragmentasi yang sesuai serta meminimalkan terjadinya boulder pada setiap peledakan. Dalam peningkatan produksi yang ada pada saat ini, perlu adanya evaluasi terhadap alat bor yang 1

Proposal Tugas Akhir Martabe (Repaired)

  • Author
    zola1st

  • View
    68

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Proposal

Text of Proposal Tugas Akhir Martabe (Repaired)

1

1. PENDAHULUAN1.1.Latar BelakangPT Agincourt Resources merupakan perusahaan tambang emas yang beroperasi di daerah Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Perusahaan ini bergerak dalam kegiatan penambangan emas. Dalam Aktivitas penambangan di PT. Agincourt Resources dimulai dari mencakup aktivitas pengupasan overburden, pemboran peledakan, pemuatan, pengangkutan, peremukan hingga didapatkan produk akhir dengan berbagai ukuran hingga proses pengapalannya. Dengan maraknya perusahaan tambang yang melakukan kegiatan peledakan saat ini, saya memilih PT. Agincourt Resources sebagai tempat penelitian. Dalam penambangan emas diperlukan kegiatan pemboran dan peledakan dengan tujuan untuk menghasilkan beraian batuan yang sesuai dengan sasaran produksi, ukuran fragmentasi yang sesuai serta meminimalkan terjadinya boulder pada setiap peledakan. Dalam peningkatan produksi yang ada pada saat ini, perlu adanya evaluasi terhadap alat bor yang dipergunakan. Karena dalam melakukan suatu peledakan terlebih dahulu mempersiapkan lubang bor.Berdasarkan informasi tentang kegiatan penambangan yang sedang berlangsung di PT. Agincourt Resources, Masalah yang sering timbul pada penambangan adalah diperolehnya ukuran batuan yang tidak sesuai dengan ukuran gape crusher pada proses peremukan sehingga diperlukan adanya peledakan ulang (secondary blasting). Hal ini menyebabkan kegiatan pembongkaran dengan peledakan tidak ekonomis lagi. Biasanya masalah ini terjadi karena geometri peledakan tidak sesuai dan pola pemboran, dan pengisian bahan peledak. Dengan perencanaan yang baik yang mencakup penentuan geometri peledakan, pola pemboran, pemilihan alat bor yang tepat dan diameter mata bor yang dipergunakan dimana penentuan arah pemboran, akan sangat menentukan keberhasilan proses pembongkaran batuan sehingga akan diperoleh ukuran fragmentasi yang dibutuhkan. Sehingga pada kesempatan ini topik yang diambil adalah mengenai Kajian Teknis Geometri Peledakan Guna Mendapatkan Fragmentasi Batuan Yang Di Butuhkan Pada Tambang Terbuka (Surface Mining) Di PT. Agincourt Resources.1.2. Maksud dan Tujuan PenelitianMaksud dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sejauh mana pengaruh geometri peledakan terhadap hasil fragmentasi hasil peledakan.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil peledakan yang diharapkan yaitu dapat menghasilkan fragmentasi yang sesuai untuk proses yang lebih lanjut, dan Cycle time dari alat Bor.1.3. Perumusan Masalah kegiatan pemboran peledakan tidak asing lagi kita dengar dalam dunia pertambangan, dimana kegiatan pemboran dan peledakan digunakan untuk membongkar batuan dari batuan induknya sehingga mudah untuk di angkut. Dalam peledakan yang sering terjadi adalah terdapatnya hasil peledakan yang berupa fragmentasi batuan yang berupa boulder ini biasanya di sebabkan dari geometri peledak seperti, Burden, Spasing, Stemming, kedalaman lubang ledak, kemiringan pemboran dan sud driling.1.4. Batasan Masalah

Dalam melakukan penelitian ini terdapat batasan-batasan masalah, yaitu : 1. Metode yang digunakan untuk pengolahan data yaitu dengan menggunakan metode R.L. Ash.

2. Menentukan ukuran fragmentasi dari batuan yang diinginkan.

3. Geometri peledakan, fragmentasi hasil peledakan (persentase bongkah), jumlah batuan yang berhasil diledakkan dan besarnya Powder factor.4. Menghitung Cycle time dari alat Bor

1.5 Metodologi Penelitian Pengambilan data.

Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Data primer berupa Berden (B), Spacing (S), Stemming (T), Subdrilling (J), Tinggi jenjang (L), Kedalaman lubang tembak (H), Kolom isian (PC), Diameter bit (De), Waktu pemboran, dan data sekunder merupakan data pendukung yang di peroleh dari arsip perusahaan seperti peta lokasi, serta literatur yang berhubungan dengan perhitungan fragmentasi. Pengolahan data.

Data yang diolah dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan metode lapangan dan metode R.L. Ash.

Pembahasan

Setelah dilakukan perhitunga data eksiting hasil yang di harapkan kurang baik, sehingga dilakukan lagi dengan perhitungan dengan metode R.L.Ash. maka fragmentasi hasil ledakan sempurna.

Untuk lebih jelasnya, tahap-tahap penelitian dapat dilihat pada gambar 1.1 diagram alir penelitian, sebagai berikut:

Gambar 1.1. Diagram Alir Penelitian1.6. Rencana Waktu PenelitianRencana Penelitian akan dilakukan selama kurang lebih dua bulan yaitu pada bulan agustus minggu ke-2 sampai bulan september 2013. BulanAgustus 2013 September 2013

MingguIIIIIIIVIIIIIIIV

Studi Literatur

Observasi

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Pembuatan Laporan

2. DASAR TEORI2.1. Pemboran Pemilihan alat bor untuk suatu pekerjaan biasanya didasarkan pada ukuran pekerjaan peledakan dan produksi yang diperlukan untuk setiap tahapan operasi. Kriteria yang dipakai untuk memilih alat bor pada pekerjaan yang berukuran kecil akan berbeda dengan pekerjaan yang berukuran besar.Kecepatan menembus netto suatu alat bor tergantung pada sifat-sifat teknis dan struktur dari batuan (rock drillability) dan ciri-ciri teknis dan operasional alat bor. Rock drillability dinyatakan dengan Drilling Rate Index (DRI), yaitu ukuran relatif drillability dari bermacam-macam batuan. Disamping itu, kapasitas pemboran tergantung juga pada keterampilan operatornya. Pola Pemboran

Pola pemboran merupakan suatu pola pada kegiatan pemboran dengan menempatkan lubang lubang tembak secara sistematis. Berdasarkan letak letak lubang bor maka pola pemboran pada umumnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Pola pemboran sejajar (paralel pattern)

Pola pemboran selang-seling (staggered pattern)

Pola pemboran sejajar adalah pola dengan penempatan lubang-lubang tembak yang saling sejajar pada setiap kolomnya. Sedangkan pola pemboran selang-seling, adalah pola dengan penempatan lubang-lubang tembak secara selang seling pada setiap kolomnya. Dalam penerapannya di lapangan, pola pemboran sejajar merupakan pola yang lebih mudah dalam melakukan pemboran dan untuk pengaturan lebih lanjut.

Menurut hasil penelitian di lapangan pada jenis batuan kompak, menunjukan bahwa hasil produktivitas dan peledakan dengan menggunakan pola pemboran selang-seling lebih baik dari pada pola pemboran sejajar, hal ini disebabkan energi yang dihasilkan pada pemboran selang-seling lebih optimal dalam mendistribusikan energi peledakan yang bekerja dalam batuan.

Ada beberapa cara untuk menghitung kecepatan pemboran dengan rumus sebagai berikut:

Kecepatan Pemboran

- Cycle Time

Ct = Pt + Bt + St + Ft + Dt

Dimana :

Ct = Cycle time

Pt = Waktu untuk mengambil posisi (positioning time)

Bt = Waktu untuk membor (boring time)

St = Waktu untuk menambah, mengganti batang bor

Ft = Waktu untuk mencabut rod dan membersihkan lubang

Dt = Waktu untuk mengatasi hambatan-hambatan (delay time)- Kecepatan pemboran

H1 Vt1 =

Ct1 Dimana :

Vt = Kecepatan pemboran

H = Kedalaman lubang tembak

Ct = Cycle time- Kecepatan pemboran rata-rata (GDR)

Vt1 + Vt2 + . . . + Vtn

Vt =

n Dimana :

n = Jumlah pengamatan Volume Setara

A x L

Veq =

n x H Dimana :

A = luas daerah yang akan diledakkan

L = tinggi jenjang

n = jumlah lubang tembak

H = kedalaman lubang tembak

Produksi Alat Bor

P = Vt x Veq x E

Dimana :

P = produksi alat bor

Vt = kecepatan pemboran

Veq = volume setara

E = effesiensi kerja alat borFaktor-faktor yang mempengaruhi waktu edar alat bor adalah :

1. Kondisi tempat kerja

Kondisi tempat kerja merupakan tempat alat bor melakukan aktifitas.

2. Kondisi material

Kondisi material yang mempengaruhi waktu edar alat bor adalah bentuk ukuran butir, kekerasan material dan kadar air.3. Kondisi alat yang dipergunakan

Semakin baik kondisi alat yang dipergunakan, maka akan memper lancar waktu pemborannya.4. Keterampilan dan pengalaman operator

Operator yang terampil dan berpengalaman dapat memperkecil waktu edar alat bor.2.2 Metode Peledakan Adapun pengertian peledakan adalah salah satu kegiatan untuk penghancuran atau pemecahan suatu material (batuan) dengan menggunakan bahan peledak. Sampai saat ini dikenal ada empat jenis metode peledakkan, yaitu :

* Metode sumbu api

* Metode sumbu ledak

* Metode Listrik

* Metode Non Electric (nonel)

Sedangkan kebutuhan mengenai peralatan dan perlengkapan tergantung dari metode yang akan digunakan.

Pola Peledakkan

Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang lubang bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun antara lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya.

Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan.

Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut (Gambar 2.2) :

a. Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan membentuk kotak

b. Corner cut (echelon cut) , yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut dari bidang bebasnya.

c. V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk huruf V.

Berdasarkan urutan waktu peledakan, maka pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara serentak untuk semua lubang tembak.

b. Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya.

Setiap lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki ruang yang cukup kearah bidang bebas terdekat agar energi terkonsentrasi secara maksimal sehingga lubang tembak akan terdesak, mengembang, dan pecah.

Secara teoritis, dengan adanya tiga bidang bebas (free face) maka kuat tarik batuan akan berkurang sehingga meningkatkan energi ledakan untuk pemecahan batuan dengan syarat lokasi dua bidang bebasnya memiliki jarak yang sama terhadap lubang tembak.

2.3.Geometri peledakan2.3.1. Burden (B)

Burden adalah jarak dari lubang tembak dengan bidang bebas yang terdekat, dan arah di mana perpindahan akan terjadi.

Untuk menentukan burden, maka menggunakan rumus :

B = 3,15 De ( SGe/SGr )1/3 Dimana :

B = Burden

SGe = SG bahan peledak

SGr = SG batuan

De = Diameter lubang tembak

- R.L. Ash Teori

Ep

AF1 = { }1/3 Epst dest

AF2 = { }1/3

de

Dimana :

Ep = energi potensial bahan peledak

Epst = energi potensial peledak standart

de = densitas batuan yang diledakkan

dest = densitas batuan standart

KB terkoreksi = KB standart x AF1 x AF2 KB terkoreksi x De

B =

12 Hubungan antar variabel R.L Ash :

- Burden Ratio

12 B

Kb =

De

- Hole Depth Ratio

H = Kh x B Kh = 1,5 - 4,0

- Sub Drilling Ratio

J = Kj x B Kj = 0,2 - 0,4

- Stemming Ratio

T = Kt x B Kt = 0,7 - 1,0

- Spacing Ratio

S = Ks x B Ks = 1,1 - 1,8

2.3.2. Spasi (S)

Spasi dapat diartikan sebagai jarak terdekat antara dua lubang tembak yang berdekatan dalam satu baris. Yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan spasi adalah apakah ada interaksi di antara isian yang saling berdekatan. Besar spasi dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

keterangan :

S= spasi, meter.

B= burden, meter.

Ks= spacing ratio

2.3.3. Stemming (T)

Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor di atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi stress balance dan untuk mengurung gas-gas hasil ledakan agar dapat menekan batuan dengan kekuatan yang besar. Sedangkan di dalam penggunaan stemming yang perlu diperhatikan adalah panjang stemming dan ukuran material stemming. Panjang stemmingStemming yang pendek dapat menyebabkan pecahnya batuan pada bagian atas, tapi mengurangi fragmentasi keseluruhan karena gas hasil ledakan menuju atmosfir dengan mudah dan cepat, juga akan menyebabkan terjadinya flyrock, overbreak pada bagian permukaan dan juga akan menimbulkan airblast. Panjang stemming dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :keterangan :

T= stemming, meter

Kt= stemming ratio (0,75 1,00) Ukuran material stemming

Ukuran material stemming sangat berpengaruh terhadap hasil peledakan, apabila bahan stemming terdiri dari butiran-butiran halus hasil pemboran, kurang memiliki gaya gesek terhadap lubang tembak sehingga udara yang bertekanan tinggi akan dengan mudah mendorong material stemming tersebut, sehingga energi yang seharusnya untuk menghancurkan batuan, banyak yang hilang keluar melalui lubang stemming.

Untuk mencegahnya maka digunakan bahan yang berbutir kasar dan keras. Bahan ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :

Mempunyai bentuk susunan butir yang saling berkait dengan kuat.

Membentuk sambungan pasak dengan dinding lubang tembak, sehingga mencegah keluarnya gas secara prematur.

Adapun persamaan yang digunakan untuk menentukan ukuran material stemming optimum adalah sebagai berikut :

Sz =0,05 Dh

keterangan :

Sz =ukuran material stemming optimum

Dh =diameter lubang tembak2.3.4. Sub drilling (J)

Subdrilling adalah tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah lantai jenjang yang dibuat agar jenjang yang dihasilkan sebatas dengan lantainya dan lantai yang dihasilkan rata. Bila jarak subdrilling terlalu besar maka akan menghasilkan efek getaran tanah, sebaliknya bila subdrilling terlalu kecil maka akan mengakibatkan problem tonjolan pada lantai jenjang (toe) karena batuan tidak akan terpotong sebatas lantai jenjangnya. Panjang subdrilling dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

keterangan :

J= subdrilling, meter

Kj= subdrilling ratio (0,2 0,3)2.3.5 Tinggi Jenjang (L)Tinggi jenjang adalah jarak antara lantai jenjang dengan bagian atas jenjang. Tinggi jenjang harus diukur untuk mendapatkan rencana kedalaman lubang tembak yang akan dibuat. 2.3.6 Kedalaman Lubang Tembak (H)

Kedalaman lubang tembak biasanya ditentukan berdasarkan kapasitas produksi yang diinginkan dan kapasitas dari alat muat. Sedangkan untuk menentukan kedalaman lubang tembak dapat digunakan rumus sebagai berikut :

keterangan :

H= kedalaman lubang tembak, meter

Kh= Hole depth ratio (1,5 4,0)2.3.7 Kolom Isian (PC)

Panjang kolom isian dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

dimana :

PC= panjang kolom isian, meter

H= kedalaman lubang tembak, meter

T= stemming, meter

S

B

T

L

PC

H

J

P

Keterangan :

B = Burden

S = Spasi

T = Stemming

PC = Colom isian Bahan peledak

J = Sub Drilling

H = Kedalaman Lubang tembak

L = Tinggi Jenjang

P = Panjang pola pemboran

Gambar 2.3 Geometri Peledakan Menurut R.L.Ash2.4 Kapasitas Produksi

1. Jumlah batuan yang diledakkan

W = A x L x dr

Dimana :

W = berat batuan

A = luas daerah yang akan diledakkan

L = tinggi jenjang

dr = densitas batuan 2. Penentuan Tingkat Fragmentasi Batuan Hasil Peledakan

Penentuan tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan dengan cara membandingkan antara volume nyata batuan hasil peledakan dengan volume batuan yang tidak memerlukan pemecahan ulang. Fragmentasi batuan yang memerlukan pemecahan ulang dinyatakan sebagai bongkah (boulder) dari hasil peledakan, sehingga diperlukan upaya pemecahan ulang agar batuan tersebut bisa digunakan.

Dalam menentukan tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan ada beberapa metode yang bisa digunakan, seperti :

Metode photography Metode photogrametry

Metode photography berkecepatan tinggi

Analisa produtivitas alat muat

Analisa volume material pada pemecahan ulang

Analisa visual komputer

Analisa kenampakan kualitatif

Analisa ayakan

Analisa produktivitas alat peremuk

Penentuan fragmentasi batuan hasil peledakan di PT. Agincourt Resources Mining, Sumatera Utara dengan menerapkan analisa volume produktivitas alat peremuk. Cara ini digunakan karena lebih teliti dalam perhitungannya.

X = A (V/Q)0,8 . Q0,17 . (E/115)-0,63 Dimana :

X = ukuran fragmentasi batuan

A = faktor batuan

V = volume batuan yang dihancurkan tiap lubang tembak

Q = berat bahan peledak

E = energi potensial relatif 3. Bahan peledak yang diperlukan

E = de x Pc x N

Dimana :

E = jumlah bahan peledak yang diperlukan

de = densitas bahan peledak

Pe = tinggi kolom isian bahan peledak

N = jumlah lubang tembak

4. Powder Factor (Pf)

W

Pf =

E

5. Blasting Ratio (Br)

E

Br =

W

RENCANA DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

RINGKASAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

BAB

I.PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

1.2.Tujuan Penelitian

1.3.Perumusan Masalah

1.4.Metode Pendekatan

1.5.Pembatasan Masalah

1.6.Metode Penelitian

1.7.Pelaksanaan Penelitian

1.8.Hasil Yang Diharapkan

II.TINJAUAN UMUM

2.1.Sejarah Berdirinya PT. AGINCOURT RESOURCES

2.2.Lokasi dan Kesampaian Daerah

2.3.Keadaan Geologi

2.4.Genesa Batuan

2.5. Morfologi

2.6.Topografi

2.7.Keadaan Seismik

2.8.Stratigrafi

2.9.Hidrologi Air Permukaan dan Tanah

2.10.Iklim dan Curah Hujan

2.11.Operasi Penambangan

III.DASAR TEORI

3.1.Faktor Faktor Yang Tidak Dapat Dikendalikan

3.2.Faktor Faktor Yang Dapat Dikendalikan

3.3.Penentuan Tingkat Hasil Peledakan

3.4.Hasil Peledakan

IV. KAJIAN TEKNIS PELEDAKAN DAN HASIL ANALISA

4.1.Karakteristik Massa Batuan

4.2.Air Tanah

4.3.Pemboran pada

4.4.Peledakan pada

V.PEMBAHASAN

5.1.Karakteristik Massa Batuan

5.2.Faktor Geologi

5.3.Pemboran

5.4.Peledakan

5.5. Kendala Kendala dalam Kegiatan Pemboran dan Peledakan

VIKESIMPULAN DAN SARAN

4.1Kesimpulan

4.2Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Mulai

Studi Literatur

Gamba 2.1. Pola Pemboran

Pola pemboran

Free Face

B

S

Pola pemboran sejajar (paralel).

S = Spasi

B = Burden

Free Face

B

S

Pola pemboran selang-seling (staggered).

S = Spasi

B = Burden

B

Gambar 2.2. Pola peledakan berdasarkan arah runtuhan batuan

5

4

3

2

1

6

5

4

3

ECHELON CUT

Keterangan :

1, 2, = Nomor urutan peledakan

= Arah runtuhan batuan

Bidang Bebas

2

7

6

5

4

3

BOX CUT

Keterangan :

1, 2, = Nomor urutan peledakan

= Arah runtuhan batuan

Bidang Bebas

21

1

1

1

1

21

3

2

2

2

2

3

2

1

0

1

2

4

3

2

3

4

3

2

1

2

3

Bidang Bebas

S = B x Ks

T = B x Kt

J = B x Kj

H = Kh x B

PC = H T

Kegiatan Pemboran dan peledakan

Observasi

Wawancara

Jenis bahan peledak

Karakteristik alat bor

Jenis dinamit

Jumlah dinamit per-lobang

Berat ANFO per- lobang

Jenis Detenator

Sumbu ledak

Geometri Peledakan

Powder Factor

Tinggi jenjang

Diameter mata bor

Waktu pemboran

Pengolahan Data Dengan

Metode R.L.Ash

Persentase fagmentasi batuan yang diinginkan

Tidak sesuai

Sesuai

Selasai

5