Tumor Maksila

  • View
    215

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

pendidikan dokter gigi tumor maksilofasial tumor maksila mandibula

Text of Tumor Maksila

TUMOR MAXILLA YANG DISEBABKAN OLEH KELAINAN ODONTOGEN DAN NON-ODONTOGENOleh: Nathasia Suryawijaya 07120100046Febby Andri 07120100058FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPANI. PendahuluanTumor adalah jaringan baru (neoplasma) yang timbul dalam tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab dan menyebabkan jaringan setempat pada tingkat gen dan adanya kehilangan kendali normal atas pertumbuhannya. Istilah neoplasma pada dasarnya memiliki makna sama dengan tumor. Keganasan merujuk kepada segala penyakit yang ditandai hiperplasia sel ganas, termasuk berbagai tumor ganas dan leukemia. Tumor dapat dibagi menjadi tumor odontogenik dan non-odontogenik. Tumor odontogenik adalah neoplasma yang melibatkan jaringan perkembangan gigi. Tumor odontogenik dibagi lagi menjadi tumor yang berasal dari ektodermal, mesodermal, dan campuran mesio-ektodermal. Sedangkan tumor non-odontogenik dibagi menjadi tumor osteogenik tumor jaringan vaskuler, dan tumor jaringan syaraf. Pertumbuhan tumor tersebut dapat terjadi dimana saja, salah satunya pada daerah rahang, yang disebut dengan tumor rahang. Rahang tersusun atas banyak jaringan, yaitu tulang, otot, kelenjar, dan mukosa, oleh karena itu setiap jaringan tersebut rentan untuk terjadi pertumbuhan yang abnormal. Terkadang terdapat kerancuan dalam mendiagnosa tumor yang terjadi pada pasien. Untuk menghindari kesalahan dalam mendiagnosis serta penatalaksanaan kasus tumor jinak dan ganas, diperlukan pemahaman lebih lanjut mengenai perbedaan setiap tumor yang ada pada daerah rahang.

II. ANATOMIMaksila dibentuk oleh tulang maksila dan palatum, yang merupakan tulang terbesar setelah mandibula (rahang bawah). Masing-masing maksila mempunya bagian:1. Corpus : yang berbentuk pyramid dengan 4 permukaan dinding:a. Facies orbitalis yang ikut membentuk dasar cavum orbib. Facies nasalis yang ikut membentuk dinding lateral cavum nasic. Facies infra temporalis yang menghadap postero-laterald. Facies anterior.2. Processus : ada 4 proscessus yaitua. Proc. Frontalis yang bersendi dengan os. Frontale, nasal dan lacrimaleb. Proc. Zygomaticus yang bersendi dengan os. Zygomaticusc. Proc. Alveolaris yang ditempati akar gigid. Proc. Palatines yang memisahkan cavum nasi dengan cavum oris.

Corpus maksila merupakan bangunan berongga, berdinding tipis, terutama pada facies nasalis. Rongga tersebut dinamakan sinus maksilaris, yang merupakan sibus terbesar dari keempat sinus paranasalis yang ada. Di bawah mukosanya, pada dinding anterior dan posterior, terdapat anyaman saraf yang dibentuk cabang n. maksilaris yang masuk menuju sinus melalui canalis alveolaris dan canalis infra orbitalis untuk mempersarafi gigi rahang atas. Akar gigi yang tumbuh pada proc. Alveolaris maksila kadang-kadang dapat menembus sinus, yaitu akar gigi dari M1. Terdapat juga otot-otot yang kecil dan tipis yang melekat pada maksila yang mendapat persarafan motorik dari nervus fasialis.

III. EtiologiPenyebab dari tumor maxilla odontogenik paling banyak disebabkan oleh tumbuhnya gigi bungsu (molar 3) yang tidak seharusnya (impaksi). Hal tersebut mengakibatkan gigi di sekitarnya menjadi terdesak dan memicu terjadinya pembengkakan dan pembengkakan tersebut akan memicu terbentuknya tumor. Selain itu terdapat penyebab lain yang memicu tumbuhnya tumor adalah:1. Masalah pada mulutMasalah pada mulut seperti gigi berlubang, karies, gigi yang patah, dan gigi yang tumbuh di luar jalur dapat mengakibatkan pembengkakan pada mulut yang akan menjadi penyebab terbentuknya tumor.2. Trauma rahangTrauma rahang seperti rahang patah, bruxism (menggertak) atau pertumbuhan tulang rahang yang berada di luar batas yang terkadang muncul pada usia lanjut.3. Infeksi sinusInfeksi ini dapat menyebabkan nyeri pada rahang akibat adanya tekanan di rongga sinus sehingga dapat menjalar dan berdampak pada rahang.4. Lain-lainAdanya penyakit lain seperti migraine, tetanus, keracunan strychnine atau penyakit Caffey. Atau dapat juga berupa penyebaran dari tempat lain (metastasis), oral hygiene, bad habit (rokok dan alcohol), dan faktor genetic.IV. KlasifikasiKlasifikasi tumor odontogenik regio rahang:A. Tumor jinak. (Kramer, Pindborg, Shear-1992)a. Tumor odontogenik epithelium : hanya melibatkan jaringan epitel odontogenik tanpa partisipasi odontogenik ektomesenkimal.1. Ameloblastoma Tumorjinakepitel yang bersifat infiltratif, tumbuh lambat, diawali dengan asimptomatik, tidak berkapsul, berdiferensiasi baik. Berasal dari lamina dentalis atau unsur-unsurnya. Kasustumorini terjadi lebih banyak di rahang bawah, khususnya di daerah posterior dan ramus, dibandingkan dengan maksila dengan perbandingan 5:1 Gambaran radiologi: unilocular atau multilocular radioluscent dalam berbagai bentuk dan ukuran, yang biasa disebut sebagai soap bubble atau honeycomb-like appearance.

2. Tumor odontogenik epithelium berkalsifikasi (Pindborg Tumour) Tumor ini tidak umum dan biasanya menyerang pasien laki-laki maupun wanita berusia 30-50 tahun. Tumor ini diperkirakan berasal dari sel-sel stratum intermedium dari benih gigi atas dasar adanya kesamaan morfologi sel tumor dengan sel dari stratum intermedium, dan aktivitas yang tinggi dari alkalin fosfatase dan adenine trifosfat. Tumor ini memiliki presentase sekitar 1% dari tumor odontogenik secara keseluruhan. Biasanya berlokasi di dalam tulang dan memproduksi zat mineralisasi seperti zat amiloid. Tumor ini paling sering ditemukan pada rahang bawah region molar/premolar dan sisanya pada maksila. Tumor ini timbul dari epitel enamel yang berkurang dari gigi yang tidak erupsi atau impaksi dalam 50% kasus. Gejala klinis pasien: diawali dengan asimptomatik kemudian bengkak secara perlahan. Gambaran radiologi pada tumor: dapat berupa unilocular (lebih sering pada maxilla) atau multilocular radioluscent. Kalsifikasi biasa tersebar di dalam tumor (driven snow appearance) dan paling sering berada di sekitar mahkota dari gigi impaksi (pericoronal radioluscent).

3. Odontogenic myxomaTumor ini lebih sering pada wanita berusia 10-30 tahun. Tumor ini biasa berhubungan dengan kelainan congenital atau gigi yang tidak tererupsi. Pertumbuhan tumor ini lambat, dapat atau tidak disertai dengan nyeri, pergeseran gigi, ulserasi, parestesia. Tumor ini dipercaya berasal dari periodontal ligament. Dapat menyerang daerah maxillary sebesar 25% kasus. Predileksi: posterior mandibular. Gambaran: batas tidak jelas, jellylike tumor (myxoid)

4. Squamous odontogenic tumour Tumor ini adalah sebuah proliferasi neoplasma dari epitel odontogenik, kemungkinan berasal dari sisa-sisa Malassez dalam PDL dari permukaan lateral gigi yang terupsi. Lokasi yang paling sering yaitu di maxillary incisor-canine dan mandibular molar. Biasa lesi asimptomatik namun terkadang menyebabkan nyeri ringan, tidak nyaman, atau gangguan mobilitas gigi. Gambaran radiologi: semicircular atau triangular radiolucent dengan sklerotik atau berbatas tegas, 5. Tumor odontogenik adenomatoid Tumor ini paling sering menyerang pasien wanita berusia dibawah 30 tahun. Tumor ini jinak dan tidak infasif. Tumor tumbuh dari sisa odontogenik epithelium. Tumor biasa terdapat pada maxilla yang melibatkan caninus dan premolar. Pertumbuhan tumor lambat namun akan berlanjut menginfiltrasi tulang untuk menggantikan gigi. Biasanya tanpa gejala dan seringkali ditemukan ketika melakukan pemeriksaan radiografi rutin. Tumor tersebut tampak berbatas, unilokular radiolucent (fine calcified deposit).

b. Tumor odontogenik campuran: tersusun dari epitel odontogenik dan ektomesenkimal dengan atau tanpa pembentukan jaringan keras dental1. Ameloblastic fibroma Tumor ini merupakan gabungan dari lesi odontogenik yang mencakup ephitelial dan komponen mesenchymal neoplasma. Tumor ini paling sering terjadi di usia muda antara 20-30 tahunan. Tumor ini sering muncul di premolar bawah dan berhubungan dengan gigi impaksi dan terlihat radiolusen karena berkaitan dengan mahkota atau akar dari gigi yang impaksi. Secara radiografis, tumor ini terlihat radiolusen dengan batas tegas antara unilocular dan multilocular.

Tumor Ganasa. Odontogenic carcinomas: Metastasizing ameloblastoma: ameloblasatoma yang bermetastase terlepas dari gambaran histologi yang jinak. Tumor ini tidak memiliki gejala khas. Predileksi metastasis ameloblastoma adalah pada pulmo. Diagnosis tumor ini adalah sama seperti ameloblastoma dengan tambahan gejala metastasis ke tempat lain (paling sering: paru) Ameloblastic carcinoma tipe primer: keganasan yang sangat jarang yang menkombinasikan fitur histologi dari ameloblastoma dengan sitologik yang atipikal. Predileksi di mandibular. Karakteristik histologisnya ditandai dengan adanya sel-sel ganas dengan kombinasi gambaran histologis dari ameloblastoma.

Ameloblastic carcinoma tipe sekunder (Ca ex intraosseous ameloblastoma): karsinoma yang tumbuh dari lokasi yang sebelumnya ameloblastoma jinak. Gejalanya adalah sama seperti ameloblastoma yang ditandai dengan gejala lanjutan yang mengarah ke keganasan. Predileksi di mandibular.

Proyeksi panoramik mengungkapkan radiolusen dalam mandibular yang memanjang ke posterior dari apeks premolar pertama rahang bawah

b. Odontogenic Sarcoma: Ameloblastic fibrosarcoma: tumor ini adalah tipe ganas dari ameloblastik fibroma. Predileksi tumor ini adalah di mandibular. Gejala tumor ini adalah adanya edema dan rasa sakit serta terjadi paresthesia. Pola histologis menyerupai fibroma ameloblastik di mana jaringan epitel jinak tetapi komponen jaringan ikat adalah maligna.

Sedangkan tumor yang berasal dari non odontogenik terdiri atas:A. Jinak: a. Osteogenic neoplasma: cemento-ossifying fibromaTumor yang karakteristiknya menggantikan tulang normal dengan jaringan fibrosa dan material cementum-like.Tumor ini tidak menimbulkan nyeri dan pertumbuhan lambat. Tumor ini biasa pada orang berumur 30-40 tahunan dan lebih banyak pada wanita. Tempat paling sering ditemui di