of 226/226
BAHASA INDONESIA: MEMBANGUN KARAKTER BANGSA LEMBAGA PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN DAN PENJAMINAN MUTU (LP3M) PUSAT PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN IDEOLOGI KEBANGSAAN (P3KIK) UNIVERSITAS JEMBER A. Erna Rochiyati S. Ali Badrudin Rusdhianti Wuryaningrum Fitri Nura Murti Ahmad Syukron

BAHASA INDONESIA: MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAHASA INDONESIA: MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

LEMBAGA PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN DAN PENJAMINAN MUTU (LP3M) PUSAT PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN IDEOLOGI KEBANGSAAN (P3KIK)
UNIVERSITAS JEMBER
Rusdhianti Wuryaningrum Fitri Nura Murti Ahmad Syukron
BAHASA INDONESIA: MEMBANGUN KARAKTER BANGSA
Penerbit:
Redaksi/Distributor Tunggal:
UNEJ Press
tertulis dari penerbit, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik
cetak, photoprint, maupun microfilm.
Penulis:
A. Erna Rochiyati S. Ali Badrudin Rusdhianti Wuryaningrum Fitri Nura Murti Ahmad Syukron
Desain Sampul dan Tata Letak
Risky Fahriza
M. Arifin
M. Hosim
ISBN: 978-623-7226-76-5
bahasa, lambang negara, dan lagu kebangsaan merupakan atribut
kebangsaan” karenanya tidak ada yang boleh menghina dan merendahkan
atribut-atribut kebangsaan tersebut. Bahasa Indonesia merupakan identitas
bangsa yang membawa karakter dan jati diri bangsa. Sesuai fungsi dan
kedudukannya, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi
negara, wajib dikuasai, dijunjung tinggi, dan digunakan sesuai konteksnya
di masyarakat. Oleh sebab itu, Matakuliah Bahasa Indonesia wajib
ditempuh oleh seluruh mahasiswa Universitas Jember.
Buku ini merupakan salah satu wujud komitmen Pusat
Pengembangan Pendidikan Karakter dan Ideologi Kebangsaan (P3KIK) di
Matakuliah Wajib Umum (MKWU) memiliki potensi yang sangat
besar dalam membentengi krisis nasionalisme dan ideologi bangsa.
Pembelajaran MKWU sebagai rumpun matakuliah kepribadian harus
mampu membentuk karakter generasi muda agar memberikan peranannya
dalam mengukuhkan kedaulatan bangsa dan negara. Melalui Matakuliah
Bahasa Indonesia, nasionalisme berbahasa Indonesia dikuatkan dengan
cara menelisik kembali sejarah perkembangan bahasa Indonesia yang
digagas oleh para pemuda sebagai bagian dari strategi merancang
kemerdekaan. Melalui peristiwa Sumpah Pemuda, kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia dibentuk dan diikat melalui politik bahasa
Indonesia. Oleh sebab itu, sudah sepantasnyalah kita mendukung upaya
pemerintah dalam pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia.
LP3M telah berkomitmen dalam mendukung visi misi Universitas
Jember menjadi universitas kebangsaan yang menjunjung nilai
nasionalisme-religius. Oleh sebab itu, secara sistematis LP3M telah
merumuskan kurikulum berbasis karakter dan wawasan kebangsaan dan
telah mengeluarkan Pedoman Penyusunan Kurikulum Program Studi di
Lingkungan Universitas Jember (Keputusan Rektor Universitas Jember
No.17527/UN25/KP/2017) yang di dalamnya termaktub secara jelas
bahwa karakter yang akan dikembangkan dalam kurikulum program studi
di Universitas Jember adalah karakter religius-nasionalis. Salah satunya
melalui Matakuliah bahasa Indonesia (MKWU).
iv
03/M/SE/VIII/2017 tentang Penguatan Pendidikan Pancasila dan
Matakuliah Wajib Umum pada Pendidikan Tinggi yang secara eksplisit
menyatakan bahwa Matakuliah Umum Bahasa Indonesia harus berperan
aktif mendukung ideologi bangsa demi mempertahankan keutuhan NKRI.
Selanjutnya, buku ini diharapkan menjadi acuan guna menjaga kualitas
dan memudahkan monitoring yang dilakukan LP3M terhadap jalannya
perkuliahan matakuliah wajib umum di lingkungan Universitas Jember.
Pusat Pengembangan Pendidikan Karakter dan Ideologi Kebangsaan
(P3KIK)
v
PRAKATA
dijunjung tinggi oleh bangsa dan negara sebagai identitas dan atribut
kebangsaan. Rakyat Indonesia harus berbangga diri memiliki bahasa
Indonesia. Di tengah popularitas bahasa Indonesia yang semakin dikenal
secara internasional, bahasa Indonesia harus menjadi tuan rumah di
negaranya sendiri.
harus secara sadar menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar
sesuai konteks penggunaannya. Mahasiswa harus memahami peran bahasa
Indonesia dalam mendukung ideologi bangsa dan mempertahankan jati diri
bangsa. Untuk mendukung hal tersebut, mahasiswa perlu dibekali berbagai
pengetahuan tentang bahasa Indonesia agar memiliki keterampilan
berbahasa yang mumpuni dalam kegiatan-kegiatan akademisnya.
Dalam buku ajar yang berjudul “Bahasa Indonesia: Membangun
Karakter Bangsa” ini diuraikan hal-hal pokok mengenai: (1) sejarah,
fungsi, dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai identitas dan jati diri
bangsa Indonesia; (2) bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam
berbagai konteks penggunaannya; (3) penggunaan bahasa Indonesia ragam
ilmiah; (4) analisis bahasa ragam ilmiah; (5) menulis karya ilmiah; dan (6)
keterampilan berbicara dalam forum ilmiah. Buku ini disusun guna
memberikan informasi yang memadai kepada mahasiswa tentang capaian-
capaian akademis yang perlu dikuasai mencakup capaian ideologis, empat
keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, menulis, dan berbicara),
dan penulisan karya tulis ilmiah.
Tim Penyusun
Tentunya hal yang kami sajikan masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami butuhkan guna terwujudnya
buku ajar yang mampu secara praktis memudahkan mahasiswa memahami
materi bahasa Indonesia sebagai matakuliah wajib umum (MKWU) di
lingkungan Universitas Jember yang sangat kita cintai. Semoga buku ini
dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan berbahasa
Indonesia dan menguatkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia.
Demikian, harapan kami. Jayalah Indonesia, gemalah bahasa Indonesia.
vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................. iii PRAKATA ................................................................................................. v DAFTAR ISI ............................................................................................. vi DAFTAR TABEL ...................................................................................... x TINJAUAN MATAKULIAH .................................................................. xi BAB 1. SEJARAH, KEDUDUKAN, DAN FUNGSI BAHASA
INDONESIA ............................................................................... 1 1.1 Pengantar .............................................................................. 1 1.2 Sejarah Bahasa Indonesia ..................................................... 2
1.2.1 Sebelum Kemerdekaan ............................................. 7
1.2.2 Sesudah Kemerdekaan............................................ 10
1.3 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia .......................... 15 1.3.1 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional ........... 15
1.3.2 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara .............. 17
1.4 Rangkuman ......................................................................... 19 1.5 Bahan Diskusi..................................................................... 19 1.6 Daftar Rujukan ................................................................... 20 1.7 Latihan Soal ........................................................................ 21
BAB 2. BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR ........... 22 2.1 Pengantar ............................................................................ 22 2.2 Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar ............................. 22 2.3 Kesantunan Berbahasa ....................................................... 26
2.3.1 Konsep Kesantunan Berbahasa .............................. 28
2.3.2 Kesantunan di Lingkungan Kampus ...................... 32
2.3.3 Kesantunan Ilmiah .................................................. 34
2.4 Ragam Bahasa Indonesia .................................................... 37 2.4.1 Pengertian Ragam Bahasa ...................................... 38
2.4.2 Macam-macam Ragam Bahasa .............................. 38
2.5 Rangkuman ......................................................................... 40 2.6 Bahan Diskusi..................................................................... 40 2.7 Daftar Rujukan ................................................................... 41 2.8 Latihan Soal ........................................................................ 41
BAB 3. BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH .......................... 42 3.1 Pengantar ............................................................................ 42
vii
3.2 Pengertian Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah ...................... 42 3.3 Ranah Penggunaan Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah ........ 42 3.4 Ciri-ciri Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah .......................... 43 3.5 Diksi ................................................................................... 47 3.6 Kalimat ............................................................................... 52
3.6.1 Pengertian Kalimat ................................................. 52
3.6.2 Unsur-unsur Kalimat .............................................. 53
3.6.3 Struktur Kalimat ..................................................... 58
3.7.2 Ciri-ciri Kalimat Efektif ......................................... 66
3.8 Paragraf .............................................................................. 70 3.8.1 Pengertian Paragraf ................................................ 70
3.8.2 Ciri-ciri Paragraf .................................................... 71
3.8.3 Fungsi Paragraf ...................................................... 71
3.8.5 Syarat-syarat Paragraf yang Baik ........................... 76
3.8.6 Jenis Paragraf ......................................................... 82
3.8.7 Hubungan Antarparagraf ........................................ 85
3.8.8 Pengembangan Paragraf ......................................... 85
3.8.9 Paragraf Berdasarkan Fungsi ................................. 87
3.9 Rangkuman ........................................................................ 89 3.10 Bahan Diskusi .................................................................... 89 3.11 Daftar Rujukan ................................................................... 89 3.12 Latihan Soal ....................................................................... 90
BAB 4. ANALISIS BAHASA RAGAM ILMIAH .............................. 91 4.1 Pengantar ............................................................................ 91 4.2 Kesalahan Berbahasa Tataran Fonologi ............................. 92
4.2.1 Perubahan Fonem ................................................... 92
4.2.2 Penghilangan Fonem .............................................. 94
4.3 Kesalahan Berbahasa Tataran Morfologi ........................... 95 4.3.1 Kesalahan Berbahasa dalam Afiksasi..................... 95
4.3.2 Kesalahan Berbahasa dalam Reduplikasi ............... 97
4.3.3 Kesalahan Berbahasa dalam Komposisi................. 98
4.3.4 Kesalahan Berbahasa dalam Bidang Kata ............ 100
viii
4.4 Kesalahan Berbahasa Tataran Sintaksis ........................... 104 4.4.1 Kesalahan dalam Frasa ......................................... 105
4.4.2 Kesalahan dalam Kalimat ..................................... 108
4.5 Kesalahan Berbahasa Tataran Semantik .......................... 112 4.6 Kesalahan Berbahasa Tataran Wacana ............................. 121
4.6.1 Ketidakefektivan Paragraf karena Tidak Ada
Pelesapan .............................................................. 121
4.6.2 Kesalahan karena Terdapat Kalimat Sumbang ..... 121
4.7 Kesalahan Berbahasa Tataran Ejaan dan Tanda Baca ...... 122 4.7.1 Kesalahan Berbahasa tataran Ejaan Bahasa
Indonesia .............................................................. 123
4.8 Rangkuman ....................................................................... 131 4.9 Bahan Diskusi................................................................... 132 4.10 Daftar Rujukan ................................................................. 132 4.11 Latihan Soal ...................................................................... 134
BAB 5. MENULIS KARYA ILMIAH ............................................... 135 5.1 Pengantar .......................................................................... 135 5.2 Hakikat Menulis ............................................................... 136
5.2.1 Menulis sebagai Produk ....................................... 136
5.2.2 Menulis sebagai Proses Kreatif ............................ 136
5.2.3 Proses Menulis Karya Ilmiah ............................... 137
5.3 Keterampilan Membaca dalam Intelektualisasi Pikiran dan
Karya ................................................................................ 139 5.3.1 Membaca dan Proses Berpikir .............................. 139
5.3.2 Teknik Membaca .................................................. 140
5.3.3 Membaca Karya Ilmiah ........................................ 142
5.4 Hakikat Karya Tulis Ilmiah .............................................. 143 5.4.1 Bagian-bagian Karya Tulis Ilmiah ....................... 144
5.4.2 Tiga Pilar Ilmu: Ontologis, Epistimologis, dan
Aksiologis ............................................................. 151
5.5 Tahapan Menulis Karya Ilmiah ........................................ 152 5.5.1 Perencanaan Penulisan Karya Ilmiah ................... 153
5.5.2 Penyusunan Kerangka Karangan .......................... 153
5.5.3 Pengembangan Tulisan ......................................... 158
5.6.2 Artikel .................................................................. 162
5.6.3 Proposal dan Laporan Penelitian .......................... 165
5.7 Teknik Pengutipan dan Sumber Rujukan ......................... 170 5.8 Tips Menghindari Plagiarism ........................................... 176 5.9 Rangkuman ...................................................................... 177 5.10 Bahan Diskusi .................................................................. 177 5.11 Daftar Rujukan ................................................................. 178 5.12 Latihan Soal ..................................................................... 179
BAB 6. KETERAMPILAN BERBICARA DALAM FORUM
ILMIAH (PRESENTASI) ..................................................... 180 6.1 Pengantar .......................................................................... 180 6.2 Berbicara sebagai Kapabilitas Berbahasa......................... 180 6.3 Hubungan Keterampilan Berbicara dengan Keterampilan
Berbahasa Lain ................................................................. 182 6.3.1 Hubungan Berbicara dengan Menyimak .............. 183
6.3.2 Hubungan Berbicara dengan Membaca ............... 186
6.3.3 Hubungan Berbicara dengan Menulis .................. 186
6.4 Berbicara pada Forum Ilmiah ........................................... 187 6.4.1 Teknik Berbicara yang Baik ................................. 187
6.4.2 Teknik Berbicara di Depan Umum ...................... 188
6.4.3 Teknik Membuka dan Menutup Pembicaraan ...... 189
6.4.4 Diskusi Ilmiah ...................................................... 190
6.5 Etika Diskusi .................................................................... 195 6.6 Kesantunan Berdiskusi ..................................................... 198 6.7 Rangkuman ...................................................................... 204 6.8 Bahan Diskusi .................................................................. 204 6.9 Daftar Rujukan ................................................................. 204 6.10 Latihan Soal ..................................................................... 205
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 206 DAFTAR ISTILAH (GLOSARIUM) ................................................... 212 TIM PENYUSUN .................................................................................. 213
x
Tabel 3.1 Kata Tidak Baku dan Baku ........................................................ 48
Tabel 3.2 Kata Tidak Baku dan Baku ........................................................ 49
Tabel 3.3 Kata Tidak Baku dan Baku ........................................................ 49
Tabel 3.4 Kata Konotatif dan Denotatif .................................................... 49
Tabel 3.5 Kata Tidak Tepat dan Tepat ...................................................... 49
Tabel 3.6 Kata Emotif dan Tidak Emotif .................................................. 50
Tabel 3.7 Kata Ganti .................................................................................. 50
Tabel 3.8 Kata Kebijakan dan Kebijaksanaan ........................................... 50
Tabel 3.9 Kata dari dan daripada ............................................................. 51
Tabel 3.10 Kata Bentuk Frasa ................................................................... 51
Tabel 3.11 Kata Frasa Tidak Tepat dan Tepat ........................................... 52
Tabel 5.1 Matrik Penelitian ..................................................................... 147
Tabel 5.2 Kerangka Karangan ................................................................. 155
Tabel 5.3 Judul ........................................................................................ 160
ditempuh oleh seluruh mahasiswa Universitas Jember. Bahasa Indonesia
sebagai matakuliah wajib umum (MKWU) berperan sebagai matakuliah
pendidikan karakter, khususnya pengembangan dan pengenalan kembali
jati diri bangsa melalui pembelajaran bahasa Indonesia. Setelah menempuh
Matakuliah Bahasa Indonesia (MKWU), mahasiswa diharapkan mampu
menciptakan sikap yang baik, santun, dan kreatif dalam menggunakan
bahasa Indonesia sebagai media pengungkapan pikiran, gagasan, dan sikap
ilmiah dalam berbagai bentuk karya ilmiah yang berkualitas, baik secara
lisan maupun tulis.
membekali mahasiswa terkait wawasan dan pemahaman bahasa Indonesia
dalam ranah akademis dan ideologis sebagai identitas bangsa. Pada
ranah ideologis, mahasiswa dibekali pengetahuan mengenai sejarah,
kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia, serta posisinya sebagai
identitas bangsa; sedangkan ranah akademis, mahasiswa dibekali
pengetahuan tentang kecermatan penggunaan bahasa Indonesia yang baik
dan benar, kesantunan berbahasa Indonesia dalam berbagai konteks
penggunaannya di masyarakat maupun di ruang akademis, ragam
ilmiah bahasa Indonesia, analisis bahasa,menulis karya ilmiah,
mempresentasikannya dengan bahasa yang baik, santun, serta kreatif.
Materi-materi yang disajikan dalam Matakuliah Bahasa Indonesia
(MKWU) ialah (1) sejarah, kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia, (2)
bahasa indonesia yang baik dan benar, (3) bahasa indonesia ragam ilmiah,
(4) praktik menganalisis bahasa karya tulis ilmiah, (5) praktik menulis
karya tulis ilmiah, dan (6) presentasi karya tulis Ilmiah. Selanjutnya,
mahasiswa diharapkan menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan
inovatif dalam konteks penggunaan bahasa Indonesia baik secara lisan
maupun tulis; mencerminkan budaya berbahasa Indonesia yang santun;
serta mampu mengembangkan bidang profesi melalui penggunaan bahasa
Indonesia yang kreatif dan inovatif.
1
INDONESIA
itulah yang disampaikan Folley, W.A. (1997) dalam buku yang berjudul
“Anthroplogical Linguistics: An Introduction”. Masyarakat Indonesia
memiliki banyak peribahasa yang mengarah kepada hal yang sama di
antaranya: “Ajining diri ana ing lathi” (Jawa) yang berarti harga diri
seseorang terletak pada ucapannya, “Mulutmu harimaumu” yang memiliki
arti ucapanmu menunjukkan jati dirimu, dan banyak lagi. Bahasa
menunjukkan karakter/watak, pola pikir (mainset), tradisi, dan bahkan
intelegensi seseorang. Melalui bahasa yang dipergunakan (diksi, dan
intonasi yang diucapkan) dapat diketahui watak penuturnya. Seseorang
yang berhati lembut akan bertutur kata yang lembut juga dan sebaliknya.
Demikianlah, bahasa mencerminkan hati dan kepribadian penggunanya.
Bahasa Indonesia yang kita miliki tidak hanya berfungsi sebagai alat
komunikasi saja. Peranan bahasa Indonesia lebih dari bahasa yang lainnya
yaitu sebagai alat perjuangan. Keberadaan bahasa Indonesia di masa
kolonial menjadi pemicu sikap nasionalisme (persatuan anak bangsa).
Ikrar Sumpah Pemuda yang dideklarasikan para pemuda Indonesia pada
tanggal 28 Oktober 1928 menjadi tonggak kesatuan cita-cita bangsa. Ikrar
tersebut telah menghapuskan segala bentuk perbedaan SARA (suku,
agama, ras, dan golongan) serta mampu menyatukan seluruh elemen
bangsa.
merupakan bentuk terima kasih kita atas jasa-jasa para pahlawan dalam
merajut kemerdekaan. Mempelajari sejarah bahasa Indonesia merupakan
Kemampuan Akhir yang Diharapkan (KAD)
Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah, fungsi, dan kedudukan
bahasa Indonesia; memiliki penghargaan yang tinggi terhadap
bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa; dan mampu
menggunakan bahasa Indonesia sesuai fungsi dan kedudukannya.
2
wujud penghargaan kepada bangsa dan negara ini, sekaligus sebagai upaya
pemertahanan bahasa. Sebagai warga negara Indonesia, sudah selayaknya
kita menjaga diri kita agar tidak hanyut dalam gelombang penyalahgunaan
bahasa dan memiliki kesadaran di lubuk hati terdalam untuk berbahasa
yang baik dan benar tanpa harus menanggalkan keinginan untuk
berekspresi dan bereksplorasi. Mempelajari sejarah bahasa Indonesia
sangat penting bagi warga negara Indonesia untuk mengenal kepribadian
atau karakter bangsa sehingga dapat menggunakan bahasa Indonesia sesuai
fungsi dan kedudukannya.
perkembangan baik dari segi jumlah pemakainya maupun dari segi sistem
tata bahasa, kosa kata, dan maknanya. Saat ini, bahasa Indonesia telah
menjadi bahasa yang digunakan dan dipelajari tidak hanya di seluruh
Indonesia, tetapi juga di beberapa negara lain. Sebagai warga negara
Indonesia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat negara Indonesia,
mahasiswa peserta matakuliah bahasa Indonesia perlu disadarkan akan
kenyataan ini dan perlu juga ditumbuhkan rasa kebanggaannya terhadap
bahasa Indonesia. Lebih lanjut, para mahasiswa perlu juga ditingkatkan
rasa kesadarannya akan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa
negara dan bahasa nasional. Bahasa Indonesia sebagai lingua franca
berpotensi untuk mempersatukan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
kemerdekaan sampai dengan era globalisasi dewasa ini sangat berwarna.
Sejarah perkembangan bahasa Indonesia harus sung-sungguh dipahami
oleh warga negara Indonesia karena melalui perkembangannya, bahasa
Indonesia merupakan pemersatu bangsa. Oleh sebab itu, membahas sejarah
bahasa Indonesia tidak mungkin dilepaskan dari konteks fungsi dan
kedudukannya, baik sebagai bahasa negara maupun sebagai bahasa
nasional.
Indonesia merupakan salah satu identitas nasional bagi bangsa dan negara
Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan
bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan
penggunaannya satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945, bersamaan dengan mulai
berlakunya Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
3
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu
dari banyak ragam bahasa Melayu. Ragam yang dipakai sebagai dasar bagi
bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau. Pada Abad ke-19, bahasa
Melayu merupakan bahasa penghubung antaretnis dan suku-suku di
kepulauan nusantara. Selain menjadi bahasa penghubung antaretnis
(antarsuku), dulu bahasa Melayu juga menjadi bahasa penghubung dalam
kegiatan perdagangan internasional di wilayah nusantara. Transaksi
antarpedagang, baik yang berasal dari pulau-pulau di wilayah nusantara
maupun orang asing, menggunakan bahasa pengantar bahasa Melayu.
Bahasa melayu kala itu sebagai lingua franca (bahasa pergaulan). Hal ini
merupakan salah satu alasan mengapa bahasa Melayu disepakati sebagai
dasar bagi bahasa Indonesia.
Alasan lain mengapa bahasa Melayu dipilih menjadi bahasa nasional
bagi negara Indonesia adalah karena hal-hal sebagai berikut. Dibandingkan
dengan bahasa daerah lain, misalnya bahasa Jawa, sesungguhnya jumlah
penutur bahasa Melayu tidak lebih banyak. Dipandang dari jumlah
penuturnya, bahasa Jawa jauh lebih besar karena menjadi bahasa ibu bagi
sekitar setengah penduduk Indonesia, sedangkan bahasa Melayu dipakai
tidak lebih dari sepersepuluh jumlah penduduk Indonesia. Di sinilah letak
kearifan para pemimpin bangsa kala itu. Mereka tidak memilih bahasa
daerah yang besar sebagai dasar bagi bahasa Indonesia karena
dikhawatirkan akan dirasakan sebagai pengistimewaan yang berlebihan.
Alasan kedua, bahasa Melayu dipilih sebagai dasar bagi bahasa
Indonesia karena bahasa itu sederhana sehingga lebih mudah dipelajari dan
dikuasai. Bahasa Jawa lebih sulit dipelajari dan dikuasai karena kerumitan
strukturnya, tidak hanya secara fonetis dan morfologis, tetapi juga secara
leksikal. Seperti diketahui, bahasa Jawa memiliki ribuan morfem leksikal
dan stuktur gramatikal yang banyak dan rumit. Penggunaan bahasa Jawa
juga dipengaruhi oleh struktur budaya masyarakat Jawa yang cukup rumit.
Ketidaksederhaan itulah yang menjadi alasan mengapa bukan bahasa Jawa
yang dipilih sebagai dasar bagi bahasa Indonesia. Yang sangat
menggembirakan adalah bahwa orang-orang Jawa pun menerima dengan
ikhlas kebedaraan bahasa Melayu sebagai dasar bagi bahasa Indonesia,
meskipun jumlah orang Jawa jauh lebuih banyak daripada suku-suku lain
(Susanti, 2014:2).
pergaulan bagi suku-suku di wilayah nusantara dan orang-orang asing
yang datang ke wilayah nusantara dibuktikan dalam berbagai temuan
prasasti dan sumber-sumber dokumen. Dari dokumen-dokumen yang
ditemukan diketahui bahwa orang-orang Cina, Persia dan Arab, pernah
4
datang ke kerajaan Sriwijaya di Sumatera untuk belajar agama Budha.
Pada sekitar abad ke-7 kerajaan Sriwijaya merupakan pusat internasional
pembelajaran agama Budha dan negara yang terkenal sangat maju
perdagangannya. Kala itu, bahasa Melayu merupakan bahasa pengantar
dalam pembelajaran agama Budha dan perdagangan di Asia Tenggara.
Bukti-bukti yang menyatakan hal itu adalah prasasti-prasasti yang
ditemukan di Kedukan Bukit di Palembang (683 M), Talang Tuwo di
Palembang (684 M), Kota Kapur (686 M), Karang Birahi di Jambi (688
M). Prasasti-prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari dan berbahasa Melayu
Kuno. Bahasa Melayu Kuno ternyata tidak hanya dipakai pada masa
kerajaan Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Ganda Suli) juga ditemukan
prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor berangka tahun 942 M yang
juga menggunakan bahasa Melayu kuno.
Pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu juga
dipakai sebagai bahasa kebudayaan dan pendidikan. Pada saat itu bahasa
Melayu sudah dipergunakan dalam penulisan buku-buku pelajaran agama
Budha. Seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing yang belajar agama Budha di
Sriwijaya, antara lain menyatakan bahwa di Sriwijaya kala itu ada bahasa
yang bernama Koen Loen yang berdampingan dengan bahasa Sanskerta.
Sebutan Koen-Luen bermakna bahasa perhubungan (lingua franca), yaitu
bahasa Melayu (Ali Syahbana, 1971).
Sejarah bahasa Melayu yang telah lama menjadi lingua franca
tampak makin jelas dari peninggalan-peninggalan kerajaan Islam, antara
lain tulisan pada batu nisan di Minye Tujah, Aceh (tahun 1380 M) dan
karya sastra abad 16-17, misalnya syair Hamzah Fansuri yang berisi
hikayat raja-raja Pasai dan buku Sejarah Melayu, yaitu Tajussalatin dan
Bustanussalatin. Selanjutnya, bahasa Melayu menyebar ke seluruh pelosok
nusantara bersama dengan menyebarnya agama Islam di wilayah.
Meskipun dipakai oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa
Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Bahasa ibu
bagi sebagian besar warga Indonesia adalah salah satu dari 748 bahasa
daerah yang ada di Indonesia. Dalam pemakaian sehari-hari, bahasa
Indonesia sering dicampuradukkan dengan dialek Melayu lain atau bahasa
daerah penuturnya. Meskipun demikian, bahasa Indonesia digunakan
sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat
lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya sehingga
dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga
Indonesia.
Melayu telah digunakan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, yang kemudian
5
istilah pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari
cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini pun cukup luas,
karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau
Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra,
kepala, kawin, dan kaca adalah kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta.
Pada Abad XV M berkembang varian baru bahasa Melayu yang
disebut sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval
Malay). Bahasa Melayu varian ini digunakan sebagai bahasa pengantar di
wilayah Kesultanan Melaka. Pada periode selanjutnya, bahasa Melayu
varian ini disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas
di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung
Malaya. Tome Pires, seorang pedagang asal Portugis menyebutkan adanya
bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan
Jawa. Pada masa itu, bahasa Melayu Tinggi banyak dipengaruhi oleh kosa
kata bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama
Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti
masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti
anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada
periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga
sekarang.
Inggris mulai berdatangan. Mereka kemudian banyak mempengaruhi
perkembangan bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-
kata yang diambil dari kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Melayu kemudian mengenal kosa kata baru, seperti gereja, sepatu,
sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda memperkaya kosa
kata bahasa Melayu di bidang administrasi dan kegiatan resmi (misalnya
dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi. Kata-kata seperti asbak,
polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa itu.
Para pedagang dari Cina juga ikut memperkaya kosa kata bahasa
Melayu, terutama yang berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-
hari. Kata-kata seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong
berasal dari kosa kata bahasa Cina. Jan Huyghen van Linschoten pada
abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan
bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling
penting di “dunia timur”. Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini
melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan
menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur
dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat.
6
pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan
Kesultanan Melaka) menulis kamus bahasa Melayu. Sejak saat itu
kedudukan bahasa Melayu menjadi setara dengan bahasa-bahasa lain di
dunia, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi
dengan jelas. Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling
sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara:
bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu
Tinggi yang terbatas pemakaiannya, tetapi memiliki standar. Bahasa ini
dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai
bahasa kedua atau ketiga.
Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu
administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa
Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri
pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan)
sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa.
Pengenalan bahasa Melayu pun dilakukan di sejumlah institusi pemerintah,
seperti sekolah-sekolah dan lembaga pemerintahan. Sastrawan juga mulai
menulis karyanya dalam bahasa Melayu. Sebagai dampaknya, terbentuklah
cikal-bakal bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari asal-
usulnya, yaitu bahasa Melayu Riau.
Menyadari akan pentingnya kedudukan bahasa Melayu, campur
tangan pemerintah semakin kuat. Pada tahun 1908 pemerintah kolonial
membentuk Commissie voor de Volkslectuur atau “Komisi Bacaan
Rakyat” (KBR). Lembaga ini merupakan embrio Balai Poestaka. Di bawah
pimpinan D.A. Rinkes, pada tahun 1910 KBR melancarkan program
Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai
sekolah pribumi dan beberapa instansi pemerintah. Perkembangan
program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700
perpustakaan. Cara ini ditempuh oleh pemerintah kolonial Belanda karena
melihat kelenturan bahasa Melayu Pasar yang dapat mengancam eksistensi
jajahanannya. Pemerintah kolonial Belanda berusaha meredamnya dengan
mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan
karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Namun,
bahasa Melayu Pasar sudah telanjur berkembang dan digunakan oleh
banyak pedagang dalam berkomunikasi. Pada tahun 1917 pemerintah
kolonial belanda mengubah KBR menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit
ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-
buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang
7
masyarakat luas.
perhubungan atau lingua franca bukan saja di kepulauan Nusantara,
melainkan juga di hampir seluruh Asia Tenggara yang mempunyai bahasa
yang berbeda-beda. Bangsa asing pun yang datang di Indonesia juga
menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan penduduk
setempat. Kenyataan itu dapat dilihat dari berbagai batu bertulis (prasasti)
kuno yang ditemukan seperti: (1) prasasti Kedukan Bukit di Palembang
tahun 683; (2) prasasti Talang Tuo di Palembang tahun 684; (3) prasasti
Kota Kapur di Bangka Barat tahun 686; dan (4) prasasti Karang Brahi di
antara Jambi dan Sungai Musi, tahun 688. Prasasti-prasasti tersebut
bertuliskan Prae-Nagari dan bahasanya bahasa Melayu Kuno. Hal itu
memberi petunjuk kepada kita bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasa
Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman
Sriwijaya (Halim, 1979:6–7). Prasasti-prasasti yang juga tertulis di dalam
bahasa Melayu Kuno terdapat di Jawa Tengah yaitu pada Prasasti
Gandasuli, tahun 832 dan di Bogor pada Prasasti Bogor, tahun 942. Kedua
Prasasti di pulau Jawa ini lebih memperkuat dugaan bahwa bahasa Melayu
Kuno bukan saja dipakai di Pulau Sumatra, melainkan juga di Pulau Jawa
(Arifin, 1988:3).
(1) bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan
hidup dan sastra; (2) bahasa perhubungan (lingua franca) antarsuku di
Indonesia; (3) bahasa perdagangan, terutama di tepi-tepi pantai baik antar-
suku yang ada di Indonesia maupun terhadap pedagang-pedagang yang
datang dari luar Indonesia; dan (4) sebagai bahasa resmi kerajaan (Arifin,
1988:4).
antara lain huruf Pallawa, yang digunakan untuk menulis pada prasasti
tertua yang berasal dari abad ke-7, dan setelah masuknya Islam ke
Indonesia sekitar abad ke-13, digunakan huruf Arab yang dikenal dengan
tulisan Jawi. Penggunaan huruf Arab berlangsung sampai abad ke-19.
Pada masa penjajahan Belanda, bahasa Melayu tetap digunakan
sebagai bahasa perhubungan di antara bangsa Indonesia. Pemerintah
Belanda tidak mau menyebarkan penggunaan bahasa Balanda pada
penduduk pribumi. Oleh karena itu, hanya sekelompok kecil orang
8
yang berbeda-beda bahasanya, sebagian besar dilakukan dengan
menggunakan bahasa Melayu. Selama masa penjajahan Belanda, banyak
surat kabar yang diterbitkan dan ditulis dengan bahasa Melayu.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda yang
dihadiri oleh aktivis dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kesempatan
itulah bahasa Melayu diubah namanya menjadi bahasa Indonesia dan
diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan atau bahasa
nasional. Naskah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928 berisi
tiga butir kebulatan tekad, yaitu: (1) kami putra dan putri Indonesia
mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; (2) kami putra dan
putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonsia; dan (3)
kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa
Indonesia.
yang bertebaran dan lautan yang menghubungkan pulau-pulau yang
merupakan wilayah Republik Indonesia sekarang, adalah satu kesatuan
tumpah darah, yang disebut tanah air Indonesia. Pernyataan yang kedua
adalah pengakuan bahwa manusia–manusia yang menempati wilayah
Indonesia itu juga merupakan satu kesatuan, yang disebut bangsa
Indonesia. Pernyataan yang ketiga tidak merupakan pengakuan “berbahasa
satu”, tetapi merupakan pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan
bahwa kita, bangsa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu
bahasa Indonesia (Halim, 1983:2–3). Pengakuan bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan merupakan peristiwa penting dalam perjuangan bangsa
Indonesia, karena dengan adanya bahasa persatuan, rasa persatuan bangsa
menjadi semakin kuat.
Mereka mengikrarkan bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia sebagai alat
pemerdekaan bangsa Indonesia. Pada saat itu, tahun 1928, Indonesia
belum merdeka dan belum bernama negara “Indonesia”.
Kata “Indonesia” sendiri sebenarnya telah terdengar jauh sebelum
itu. Kata “Indonesia” pertama kali diusulkan oleh George Windsor Earl
(1813-1865) pada tulisannya yang termuat pada majalah ilmiah tahunan di
Singapura yakni Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia
(JIAEA). Ia berpendapat bahwa area di bawah administrasi Hindia Belanda
harus memiliki nama yang khas. Ketika itu, ia mengajukan dua pilihan
nama yakni Indunesia atau Malayunesia. Indus berarti India, nesia atau
9
perkembangannya, kata “Indunesia” diucapkan “Indonesia” akibat maksim
kemudahan pada tataran fonologis.
luas dan digunakan. Organisasi yang pertama mempopulerkan kata
Indonesia ialah Indonesische Studie Club (1924) oleh Dr. Sutomo,
Perserikatan Komunis Hindia berubah nama menjadi Partai Komunis
Indonesia (1924), Nationaal Indonesische Padvinderij (1925) oleh Jong
Islamieten Bond, dan Tan Malaka yang menulis buku dengan judul Naar
de Republiek Indonesia (1925).
secara teknis ketika itu adalah bahasa Melayu modern. Namun dalam
diskusi kongres, penamaan dengan “bahasa Melayu” dianggap
kurang sejalan dengan visi pemersatuan nasional. Oleh karena itu,
digunakanlah nama “bahasa Indonesia”.
lingua franca di Indonesia, yaitu sebagai bahasa perhubungan dan bahasa
perdagangan; (2) sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari
karena pada bahasa Melayu tidak dikenal adanya tingkatan bahasa seperti
pada bahasa Jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa kasar dan halus
seperti pada bahasa Sunda (kasar, lemes); (3) suku Jawa, suku Sunda dan
suku-suku yang lain dengan suka rela menerima bahasa Melayu menjadi
bahasa Nasional Indonesia; dan (4) bahasa Melayu mempunyai
kesanggupan untuk digunakan sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang
luas (Arifin, 1988:5–6).
memberlakukan larangan penggunaan bahasa Belanda. Larangan ini
berdampak positif terhadap bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia
digunakan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk kehidupan politik
dan pemerintahan yang sebelumnya lebih banyak dilakukan dengan
menggunakan bahasa Belanda.
perkembangan bahasa Melayu sebelum masa kemerdekaan antara lain :
a. Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. van
Ophuysen dan dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
b. Pada tahun 1908 Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-
buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur
(Taman bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah
menjadi Balai Pustaka. Balai Pustaka menerbitkan buku-buku novel,
bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit
membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
c. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling
menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada
tanggal itulah para pemuda pilihan memancangkan tonggak yang
kokoh untuk perjalanan bahasa Indonesia.
d. Pada tahun 1933 resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang
menamakan dirinya Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir
Alisyahbana dan kawan-kawan.
e. Pada tanggal 25 s.d. 28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa
Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres di Solo ini dapat disimpulkan
bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah
dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan kita saat itu.
f. Masa pendudukan Jepang (1942–1945) juga merupakan suatu masa
penting. Jepang memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
resmi antara pemerintah Jepang dan rakyat Indonesia karena niat
menggunakan bahasa Jepang sebagai pengganti bahasa Belanda untuk
alat komunikasi tidak terlaksana. Bahasa Indonesia juga dipakai
sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dan untuk
keperluan ilmu pengetahuan.
1.2.2 Sesudah Kemerdekaan
dalamnya terdapat salah satu pasal yaitu pasal 36 menyatakan bahwa
“Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.” Dengan demikian, selain
berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga
berkedudukan sebagai bahasa negara. Sebagai bahasa negara, bahasa
Indonesia digunakan dalam semua urusan yang berkaitan dengan
pemerintahan dan kenegaraan.
yang pesat. Setiap tahun jumlah pemakai bahasa Indonesia bertambah.
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara
juga semakin kuat. Perhatian terhadap bahasa Indonesia baik dari pihak
pemerintah maupun dari masyarakat sangat besar. Pemerintah Orde Lama
dan Orde Baru menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan
bahasa Indonesia di antaranya melalui pembentukan lembaga yang
mengurus masalah kebahasaan yang sekarang menjadi Pusat Bahasa dan
pusat penyelenggaraan Kongres Bahasa Indonesia. Perubahan ejaan bahasa
11
Indonesia dari ejaan van Ophuijsen ke ejaan Soewandi hingga Ejaan Yang
Disempurnakan selalu mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat.
Beberapa peristiwa penting yang sangat menentukan dalam
perkembangan bahasa Indonesia setelah masa kemerdekaan antara lain:
a. Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang
Dasar 1945, yang dalam Pasal 36 “menetapkan bahasa Indonesia
sebagai bahasa negara”.
b. Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik
(Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuysen yang
berlaku sebelumnya.
c. Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I
di Solo. Kongres Bahasa Indonesia adalah pertemuan rutin 5 tahunan
yang diadakan oleh pemerintah dan praktisi bahasa dan sastra
Indonesia untuk membahas bahasa Indonesia dan perkembangannya.
Pada mulanya, kongres diadakan untuk memperingati hari Sumpah
Pemuda yang terjadi pada tahun 1928, selanjutnya kegiatan ini tidak
hanya dilaksanakan untuk memperingati Sumpah Pemuda, melainkan
pula untuk membahas perkembangan bahasa dan sastra Indonesia
serta rencana pengembangannya.
d. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada 28 Oktober sampai
dengan 2 November 1954 juga merupakan salah satu perwujudan
tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa
Indonesia yang diangkat sebagai bahasa nasional dan ditetapkan
sebagai bahasa negara.
meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan melalui pidato kenegaraan di depan sidang DPR yang
dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
f. Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi
berlaku di seluruh Indonesia.
g. Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada
28 Oktober sampai dengan 2 November 1978 merupakan peristiwa
penting bagi bahasa Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka
peringatan hari Sumpah Pemuda yang kelima puluh ini, selain
memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa
Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan
dan fungsi bahasa Indonesia (Badudu, 1975 : 8–10).
12
h. Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada 21–26
November 1983. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka
peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya
disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia
harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum dalam
Garis-Garis Besar Haluan Negara yang mewajibkan kepada semua
warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan
baik dan benar dapat tercapai semaksimal mungkin. Selain itu,
kongres menugasi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk
memantau hasil-hasil kongres dan melaporkannya kepada kongres
berikutnya.
i. Kongres Bahasa Indonesia V juga diadakan di Jakarta pada tanggal 28
Oktober sampai dengan 3 November 1988. Kongres ini merupakan
kongres yang terbesar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia
karena selain dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa
Indonesia dari seluruh Nusantara, kongres ini juga diikuti oleh peserta
tamu dari negara sahabat, seperti Malaysia, Singapura, Brunai
Darussalam, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ke-5 ini dibuka
oleh Presiden Soeharto di Istana Negara Jakarta. Kongres ini ditandai
dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa kepada seluruh pencinta bahasa di Nusantara,
yakni berupa: (1) Kamus Besar Bahasa Indonesia; (2) Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia; dan (3) buku-buku bahan penyuluhan bahasa
Indonesia.
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Kongres
Bahasa Indonesia VI diikuti oleh peserta sebanyak 770 pakar bahasa
dari Indonesia dan 53 peserta mancanegara yakni Australia,
Singapura, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, India,
Hongkong, Rusia, Italia, Jerman, dan Amerika Serikat. Kongres
mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia dan
agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan
statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia.
k. Tanggal 26–30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa
Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Pada kongres tersebut
diusulkan pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa.
l. Kongres Bahasa Indonesia VIII diselenggarakan Oktober tahun 2003.
Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober
tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu
bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun
13
bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan bahasa
Indonesia.
m. Kongres Bahasa Indonesia IX pada 28 Oktober–1 November 2008 di
Jakarta dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80
tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa dan
dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Lima hal utama yang
dibahas pada kongres tersebut ialah bahaa Indonesia, bahasa daerah,
penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa
media massa.
n. Kongres Bahasa Indonesia X pada 28–31 Oktober 2013 di Hotel
Grand Sahid Jaya, Jakarta diputuskan sembilan subtema yang menjadi
landasan perumusan rekomendasi kongres:
2) Pengutamaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik
3) Bahasa, Sastra, dan Teknologi Informasi;
4) Ragam Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Ranah Kehidupan;
5) Pemetaan dan Kajian Bahasa dan Sastra Daerah;
6) Pengelolaan Bahasa dan Sastra Daerah;
7) Bahasa, Sastra, dan Kekuatan Kultural Bangsa Indonesia;
8) Bahasa dan Sastra untuk Strategi dan DiplomasI
9) Politik dan Perencanaan Bahasa dan Sastra.
o. Kongres Bahasa Indonesia XI di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta,
pada 28–30 Oktober 2018. Isi rekomendasi tersebut Sebanyak 22
rekomendasi disepakati dan disampaikan oleh Ketua Tim Perumus,
Prof. Djoko Saryono, M.Pd. sebagai berikut.
1) Pemerintah perlu meningkatkan sinergi, baik di dalam maupun
luar negeri, untuk pengembangan strategi dan diplomasi
kebahasaan guna memperluas penggunaan bahasa Indonesia ke
ranah internasional.
bahasa pengantar dalam pendidikan di sekolah.
3) Pemerintah harus memperluas penerapan Uji Kemahiran Bahasa
Indonesia (UKBI) di berbagai lembaga pemerintah dan swasta.
4) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) harus
meningkatkan pemasyarakatan kamus bidang ilmu dan
teknologi.
untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter dan literasi
14
memaksimalkan teknologi informasi.
menetapkan jumlah karya sastra yang wajib dibaca oleh siswa
pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
7) Pemerintah melalui lembaga terkait harus mendorong kebijakan
pengembangan publikasi ilmiah yang berbahasa Indonesia dan
bereputasi internasional.
dan sastra Indonesia yang berkenaan dengan model, metode,
bahan ajar, media, dan penilaian yang memantik keterampilan
bernalar aras tinggi.
kesastraan untuk dimanfaatkan seluruh masyarakat Indonesia.
10) Pemerintah harus menegakkan peraturan perundang-undangan
kebahasaan dengan mendorong penertiban peraturan daerah yang
memuat sanksi atas pelanggaran.
12) Pemerintah harus meningkatkan dan memperluas revitalisasi
tradisi lisan untuk mencegah kepunahan.
13) Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus mengintensifkan
pendokumentasian bahasa dan sastra daerah secara digital dalam
rangka pengembangan dan pelindungan bahasa dan sastra.
14) Pemerintah daerah harus mengembangkan sarana kebahasaan
dan kesastraan bagi penyandang disabilitas.
15) Pemerintah bersama seluruh komponen masyarakat harus
meningkatkan kebanggaan berbahasa Indonesia dalam berbagai
ranah kehidupan seiring dengan peningkatan penguasaan bahasa
daerah dan bahasa asing.
dengan tepat oleh pemerintah pusat dan daerah.
17) Pemerintah daerah harus berkomitmen dalam pengutamaan
penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara di ruang
publik berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
dengan melibatkan lembaga-lembaga pengawasan terhadap
kinerja penyelenggaraan layanan publik.
upaya pelestarian dan penyusunan data dasar melalui penguatan
15
pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan media.
19) Pemerintah bersama organisasi profesi harus meningkatkan
profesionalisme Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA),
program studi S2 BIPA, dan pendirian lembaga sertifikasi profesi
pengajar BIPA.
tokoh publik.
sama dengan berbagai pihak untuk menuntaskan penelitian
pemetaan dan melakukan penelitian kekerabatan bahasa daerah
di seluruh Indonesia.
memperkuat kelembagaannya sesuai dengan perkembangan
zaman.
bahasa asing dalam perdagangan global, bahasa Indonesia mendapatkan
tantangan yang luar biasa besar untuk mempertahankan eksistensinya di
masyarakat. Walaupun, hal tersebut juga diimbangi oleh perkembangan
yang cukup pesat di dunia internasional. Saat ini, bahasa Indonesia telah
menjadi bahasa internasional ke-2 di Asia Tenggara dan bahasa
internasional ke-5 di Asia. Masyarakat telah memiliki ketertarikan untuk
mempelajari bahasa Indonesia di antaranya disebabkan oleh terbukanya
investasi dan hubungan kerja Indonesia dengan nega-negara Asia. Hal
tersebut merupakan kesempatan emas bagi masyarakat Indonesia untuk
mengangkat dan mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa
internasional. Melalui bahasa, masyarakat Indonesia dapat menguatkan
identitasnya di mata dunia.
Pada bagian ini, dipaparkan bahasan tentang bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional dan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara
1.3.1 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Bersumber dari salah satu bunyi irkrar Sumpah Pemuda tahun
1928, yaitu “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa
persatuan, bahasa Indonesia”, dapat diketahui bahwa bahasa Indonesia
berkedudukan sebagai bahasa nasional. Kedudukan bahasa Indonesia di
atas bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.
16
lambang kebanggaan kebangsaan; (2) lambang identitas nasional; (3) alat
pemersatu berbagai suku bangsa yang mempunyai latar belakang sosial
budaya dan bahasa sendiri-sendiri dalam kesatuan kebangsaan; dan (4)
alat perhubungan antardaerah, antarwarga dan antarbudaya.
a. Bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan kebangsaan
Tidak semua bangsa di dunia ini mempunyai sebuah bahasa
nasional yang digunakan secara luas dan dijunjung tinggi oleh
pemakainya. Adanya sebuah bahasa yang dapat menyatukan berbagai
suku bangsa yang berbeda merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa
Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sanggup
mengatasi berbagai perbedaan yang ada.
Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia
mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa
kebangsaan kita. Atas dasar rasa kebanggaan inilah bahasa Indonesia
kita pelihara dan kita kembangkan, serta rasa bangga memakainya
senantiasa kita bina.
Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya dan
bahasanya berbeda-beda. Untuk membangun kepercayaan diri yang
kuat, sebuah bangsa memerlukan identitas. Identitas sebuah bangsa
dapat diwujudkan antara lain melalui bahasanya. Dengan adanya
sebuah bahasa yang dapat mengatasi berbagai bahasa yang berbeda,
suku-suku bangsa yang berbeda, dapat mengidentikkan diri sebagai
satu bangsa melalui bahasa tersebut.
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita
junjung tinggi di samping bendera dan lambang negara kita. Di dalam
melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentu harus memiliki
identitas tersendiri sehingga dapat serasi dengan lambang kebangsaan
kita yang lain.
masyarakat pemakainya mau membina dan mengembangkannya
sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain
terutama bahasa asing yang tidak benar-benar diperlukan.
c. Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa
Sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang
budaya dan bahasanya berbeda-beda akan mengalami masalah besar
dalam melangsungkan kehidupannya. Perbedaan dapat memecah-
belah bangsa tersebut. Dengan adanya bahasa Indonesia yang diakui
sebagai bahasa nasional oleh semua suku bangsa yang ada,
17
merasa satu. Jika tidak ada sebuah bahasa, seperti bahasa Indonesia,
yang dapat menyatukan suku-suku bangsa yang berbeda, akan banyak
muncul masalah perpecahan bangsa.
identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta
latar belakang bahasa daerahnya. Lebih dari itu, dengan bahasa
nasional, kita dapat menempatkan kepentingan nasional di atas
kepentingan daerah atau golongan.
Antarwarga, dan Antarbudaya
bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda, adalah
komunikasi. Dalam hal ini diperlukan sebuah bahasa yang dapat
digunakan oleh suku-suku bangsa yang berbeda bahasanya sehingga
mereka dapat saling berhubungan. Bahasa Indonesia sudah lama
memenuhi kebutuhan tersebut. Sudah berabad-abad lamanya bahasa
Indonesia menjadi lingua franca di wilayah Indonesia.
Berkat adanya bahasa nasional, kita dapat berhubungan satu
dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman sebagai
akibat dari perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa tidak
perlu dikhawatirkan. Kita dapat bepergian dari satu pelosok daerah ke
pelosok daerah yang lain di tanah air ini dengan memanfaatkan
bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.
1.3.2 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: (1)
bahasa resmi kenegaraan; (2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan;
(3) alat perhubungan di tingkat nasional untuk kepentingan pembangunan
dan pemerintahan; dan (4) alat pengembang kebudayaan, ilmu
pengetahuan dan teknologi.
kenegaraan, dokumen dan surat-surat resmi harus ditulis dalam
bahasa Indonesia. Upacara-upacara kenegaraan juga dilangsungkan
dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa
Indonesia pada acara-acara kenegaraan sesuai dengan UUD 1945
18
pelanggaran terhadap UUD 1945.
Dunia pendidikan di suatu negara memerlukan sebuah bahasa
yang seragam sehingga kelangsungan pendidikan tidak terganggu.
Penggunaan lebih dari satu bahasa dalam dunia pendidikan akan
mengganggu keefektivan pendidikan. Dengan satu bahasa, peserta
didik dari tempat yang berbeda dapat saling berhungan. Bahasa
Indonesia merupakan satu-satunya bahasa yang dapat memenuhi
kebutuhan akan bahasa yang seragam dalam dunia pendidikan di
Indonesia. Bahasa Indonesia telah berkembang pesat dan
penggunanya sudah tersebar luas. Penggunaan bahasa Indonesia pada
dunia pendidikan tidak hanya terbatas pada bahasa pengantar,
melainkan juga digunakan pada penulisan bahan-bahan ajar.
c. Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan di Tingkat Nasional
untuk Kepentingan Pembangunan dan Pemerintahan
Untuk kepentingan pembangunan dan pemerintahan di tingkat
nasioanl diperlukan sebuah bahasa sebagai alat perhubungan sehingga
komunikasi tidak terhambat. Jika terdapat lebih dari satu bahasa yang
digunakan sebagai alat perhubungan, keefiektifan pembangunan dan
pemerintahan akan terganggu karena akan diperlukan waktu yang
lebih lama dalam berkomunikasi. Dalam hal ini bahasa Indonesia juga
dapat mengatasinya.
Pengetahuan dan Teknologi
teknologi diperlukan bahasa yang dapat digunakan untuk keperluan
tersebut dan bahasa tersebut dapat dimengerti oleh masyarakat luas.
Tanpa bahasa seperti itu, pengembangan kebudayaan, ilmu
pengetahuan, dan teknologi akan mengalami hambatan karena proses
pengembangannya akan memerlukan waktu yang lama dan hasilnya
pun tidak akan tersebar secara luas. Dalam hal ini, bahasa Indonesia
merupakan satu-satunya bahasa di Indonesia yang memenuhi syarat
sebagai alat pengembang kebudayaan, ilmu pemgetahuan, dan
teknologi karena bahasa Indonesia telah dikembangkan untuk
keperluan tersebut.
19
daerah. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat digunakan sebagai alat
untuk menyatakan nilai-nilai sosial budaya nasional kita (Halim,
1979:49-56 ; Moeliono, 1980:15-31).
Bahasa Indonesia yang semula hanya sebagai salah satu dialek dari
bahasa Melayu telah lama menjadi alat perhubungan atau lingua franca di
kepulauan Nusantara dan di beberapa wilayah Asia Tenggara. Hal itu
terbukti dari ditemukannya beberapa prasasti yang menggunakan bahasa
Melayu Kuno baik di pulau Sumatera maupun di pulau Jawa.
Dengan latar belakang seperti itulah maka bahasa Indonesia
diangkat menjadi bahasa nasional, seperti salah satu bunyi ikrar Sumpah
Pemuda tahun 1928. Bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan di
wilayah negara Republik Indonesia. Ada empat faktor yang menyebabkan
bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa nasional, yaitu (1) bahasa Melayu
sudah merupakan lingua franca di Indonesia; (2) sistem bahasa Melayu
sederhana; (3) suku-suku bangsa di Indonesia dengan suka reka menerima
bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional Indonesia; dan (4) bahasa Melayu
mempunyai kesanggupan untuk digunakan sebagai bahasa kebudayaan
dalam arti yang luas.
ditetapkan sebagai bahasa negara. Dalam hal ini, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai: (1) bahasa resmi kenegaraan; (2) bahasa pengantar
dalam dunia pendidikan; (3) alat perhubungan di tingkat nasional untuk
kepentingan pembangunan dan pemerintahan; dan (4) alat pengembang
kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pentingnya bahasa
Indonesia, sudah seharusnyalah bahasa Indonesia digunakan sesuai fungsi
dan kedudukannya.
bangsa. Mari diskusikan peran bahasa, nasionalisme, dan keutuhan NKRI.
20
1.6 Daftar Rujukan
Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 1988. Cakrawala Bahasa Indonesia.
Jakarta : Gramedia.
Chapman.
diterbitkan). Disamapaikan pada Pelatihan Nasional Dosen bahasa
Indonesia kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di
Perguruan Tinggi.
Massachussetts: Blackwell Publisher Inc.
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Sebuah Pengajaran” dalam majalah Pembinaan Bahasa Indonesia
Jilid I No. 1. Jakarta: Bratara.
Susanti. 2014. Modul Pembelajaran MPK Bahasa Indonesia. Jambi:
Universitas Jambi Pers.
Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. (E-Book)
Tim. 2018. Putusan Kongres Bahasa Indonesia XI Jakarta, 28—31
Oktober 2018 (On Line)
mengenai Bab Sejarah, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia!
1. Apakah yang dimaksud dengan lingua franca?
2. Bagaimana rasionalitas diangkatnya bahasa Melayu menjadi embrio
bahasa Indonesia?
dengan contoh!
bahasa negara. Jelaskan perbedaan dari kedua istilah tersebut !
5. Bagaimana padangan Saudara tentang bahasa Indonesia merupakan
alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa di
Indonesia ?
nasional, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Berilah contoh
perwujudan dari pernyataan tersebut!
7. Bagaimana tanggapan Saudara bila di suatu kantor, seseorang asyik
berbicara dengan teman sesama pemakai bahasa daerah tertentu
dengan menggunakan bahasa daerahnya? Padahal, di kantor tersebut
banyak karyawan yang berasal dari suku bangsa lain turut
mendengarkan pembicaraannya!
kedudukannya baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa
negara!
22
2.1 Pengantar
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Idealnya, kita wajib menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari,
terlebih untuk kepentingan nasionalisme. Lantas, apakah sebenarnya yang
dimaksud bahasa Indonesia yang baik itu? Apa pula yang dimaksud
dengan bahasa Indonesia yang benar? Bagaimana menerapkannya dalam
pergaulan sehari-hari? Berikut materi tersebut diuraikan secara jelas.
2.2 Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Pada umumnya bahasa merupakan sarana komunikasi. Manusia
tidak pernah terlepas dari bahasa karena setiap hari manusia selalu
melakukan aktivitas komunikasi. Berdasarkan proses komunikasi, terdapat
tiga aspek penting, yakni pembicara (komunikator), pendengar
(komunikan), dan pesan yang ingin disampaikan komunikator kepada
komunikan. Sebagai sarana komunikasi, bahasa digunakan dalam berbagai
lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam. Secara
khusus, pengertian bahasa menurut Harimurti Kridalaksana (2014:32)
adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota
klompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi
diri.
Berkaitan dengan pengertian tersebut, ada beberapa hal penting
yang menunjukkan sifat dan ciri bahasa yang hakiki. Sifat dan ciri tersebut
yaitu: (1) bahasa adalah sebuah sistem, artinya ada unsur-unsur tertentu
yang saling berkaitan untuk membentuk totalitas bahasa; (2) bahasa itu
berwujud lambang, artinya, kata-kata sebagai penyusun bahasa sebagai
lambang atau simbol; (3) bahasa itu berupa bunyi, artinya hakikat bahasa
adalah bunyi karena pada awalnya bahasa adalah bunyi yang keluar dari
alat ucap manusia sehingga bahasa primer adalah bahasa lisan; (4) bahasa
Kemampuan Akhir yang Diharapkan (KAD)
Mahasiswa mampu memahami dan membandingkan bahasa
Indonesia yang baik dan benar serta mampu menerapkan prinsip-
prinsip tersebut berdasarkan kesantunan dengan berbagai ragam
bahasa Indonesia baik secara lisan maupun secara tulis.
23
bermakna, artinya jika tidak mempunyai makna/arti itu bukan bahasa; (6)
bahasa itu bersifat konvensional, artinya hal ini tidak terlepas dari sifat
bahasa yang arbitrer karena walaupun semena-mena, tetapi bahasa harus
tetap konvensional artinya bahasa itu merupakan kesepakatan bersama
dari masyarakat pengguna bahasa untuk menggunakan bahasa yang sama;
(7) bahasa itu bersiaft unik, artinya bahasa itu mempunyai ciri-ciri khas
tersendiri yang, tidak sama dengan bahasa yang lain; (8) bahasa itu
bersifat universal, artinya tidak hanya mempunyai ciri-ciri khusus yang
khas, tetapi juga mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bahasa-bahasa di
dunia; (9) bahasa itu bervariasi, artinya masyarakat bahasa terdiri atas
berbagai status yang berbeda-beda dan beragam, hal ini yang
memunculkan bahasa yang beragam atau bervariasi, misalnya idiolek,
dialek dan ragam bahasa; (10) bahasa itu bersifat dinamis, artinya bahasa
itu terus-menerus mengalami perkembangan; (11) bahasa berfungsi
sebagai alat interaksi sosial, artinya fungsi penting bahasa sebagai alat
komunikasi, dengan memanfaatkan bahasa kita dapat melakukan aktivitas
sehari-hari; (12) bahasa merupakan identitas penutur, artinya dengan
menggunakan bahasa, dapat diketahui identitas dari pengguna bahasa
tersebut, antara lain latar belakang, asal, dan identitasnya.
Sifat dan ciri-ciri tersebut menjadi dasar tentang pemahaman bahasa
secara fundamental yang akan memberikan landasan penggunaan bahasa,
dalam konteks ini ialah bahasa Indonesia. Pola pikir seseorang akan
terlihat dari bahasa yang ia gunakan. Mempelajari bahasa memiliki nilai
praktis sesuai dengan keperluan dan tujuan mempelajari bahasa.
Proses pembelajaran bahasa Indonesia yang berlandaskan pada sifat
dan ciri-ciri tersebut, tidak pernah terlepas dari kedudukan dan fungsi
bahasa Indonesia. Berdasarkan kedudukannya bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan (bahasa nasional) dan sebagai bahasa resmi negara yang
masing-masing mempunyai fungsi. Berdasarkan kedudukan dan fungsi-
fungsi tersebut dan karena begitu luasnya wilayah pemakaian bahasa serta
berbagai macam latar belakang penuturnya, muncullah berbagai ragam
bahasa. Pada pokoknya, ragam bahasa berdasarkan medianya dibagi ke
dalam dua bagian, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.
Bahasa Indonesia ragam lisan dan ragam tulis sangat berbeda. Di
satu sisi, ragam bahasa tulis adalah pengalihan ragam lisan ke dalam
ragam tulis (huruf). Namun, dalam sisi yang lain tidak semua ragam lisan
dapat dituliskan, sebaliknya tidak semua ragam tulis dapat dilisankan.
Kaidah yang berlaku bagi ragam lisan belum tentu berlaku bagi ragam
24
tulis. Dengan demikian, jelas bahwa ada perbedaan antara bahasa ragam
lisan dan bahasa ragam tulis. Perbedaan ragam lisan dan ragam tulis, yaitu
(1) ragam lisan mengharuskan adanya orang kedua atau lawan bicara,
sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya lawan bicara (secara
langsung);(2) pada ragam lisan, unsur-unsur gramatikal seperti subjek,
predikat, objek, keterangan tidak selalu dinyatakan karena didukung oleh
gerak, ekspresi, dan pandangan/mata, sedangkan ragam tulis unsur-unsur
gramatikal harus nyata dan lengkap paling tidak subjek dan predikat (bisa
ditambah objek dan keterangan) termasuk di dalamnya makna/arti dari
struktur kalimatnya; (3) ragam lisan terikat oleh situasi, kondisi, ruang,
dan waktu, sedangkan ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang,
dan waktu, tetapi terikat oleh kelengkapan unsur-unsurnya; (4) ragam lisan
dipengaruhi oleh tinggi dan rendahnya nada dan panjang pendeknya suara,
sedangkan ragam tulis terikat oleh tanda baca, huruf besar, huruf kecil,
huruf miring, dan sebagainya (lihat PUEBI).
Selain terdapat ragam lisan dan tulis, bahasa Indonesia juga
mempunyai ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam
yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat
pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma
bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak
dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma
ragam baku (Arifin dan Tasai, 1991). Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa ragam baku dipergunakan dalam situasi resmi sehingga bisa disebut
sebagai bahasa resmi, sebaliknya bahasa yang tidak baku dipergunakan
dalam situasi yang tidak resmi atau santai. Namun, penggunaannya
disesuaikan atau didasarkan pada kontekstual dan situasional.
Dengan adanya ragam bahasa Indonesia, kita sebagai warga negara
Indonesia dituntut mampu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan
situsi dan kondisi selaras dengan kaidah struktur bahasa sehingga akan
menghasilkan bahasa yang baik dan benar. Lalu, muncullah pertanyaan”
Apakah yang dimaksud dengan bahasa yang baik dan benar?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui bahwa kata
kunci pada pertanyaan tersebut adalah kata baik dan benar yang dua kata
tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. Artinya, dalam berbahasa kita
dituntut tidak hanya baik, tetapi harus benar dan tidak hanya benar, tetapi
juga harus baik. Berbahasa yang baik artinya sesuai dengan konteks
situasi. Dalam kehidupan sehari-hari ada bermacam-macam konteks dan
situasi, misalnya ada situasi resmi dan ada situasi tidak resmi, ada situasi
formal dan ada situasi yang tidak formal atau santai. Pada situasi seperti
itu bahasa yang kita gunakan harus sesuai dengan konteksnya, misalnya
25
pada saat berada pada situasi resmi, kita harus menggunakan bahasa resmi
yang formal, sedangkan pada saat berada pada situasi tidak resmi atau
tidak formal, kita harus menggunakan bahasa yang tidak resmi/tidak
formal yang disebut bahasa pergaulan atau bahasa santai. Perbedaan
konteks dan situasi tersebut tidak hanya pada konteks bahasa lisan, tetapi
juga pada bahasa tulis. Namun, dalam penggunaannya kadang-kadang ada
perbedaannya, khususnya dalam konteks bahasa tulis. Artinya, pada
konteks bahasa lisan dalam situasi resmi ada kemungkinan muncul
bahasa-bahasa yang tidak baku/bahasa santai/bahasa pergaulan. Hal ini
bisa terjadi karena bahasa pergaulan/santai/tidak baku itu dipakai untuk
mencairkan suasana supaya tidak terlalu tegang. Sementara itu, pada
ragam tulis dalam konteks resmi dan formal harus menggunakan bahasa
yang formal/resmi/baku yaitu bahasa yang strukturnya sesuai dengan
kaidah tata bahasa baku.
Indonesia dalam konteks resmi harus menggunakan bahasa
baku/resmi/sesuai dengan kaidah tata bahasa baku. Tata bahasa baku
tersebut menyangkut EYD, kata dan diksi, kalimat dan kalimat efektif,
paragraf, dan wacana. Dengan demikian, yang dimaksud dengan bahasa
Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang sesuai
dengan situasi dan kondisi serta sesuai dengan kaidah tata bahasa
Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah
pemakaian bahasa yang tepat sesuai konteks dan sasaran dengan
mempertimbangkan kaidah bahasa (memenuhi persyaratan kebaikan dan
kebenaran).
Contoh:
a. Masalah daripada lumpur Lapindo semakin berat.
b. Mahasiswa-mahasiswa ikip PGRI masih ragu-ragu
menunjukkan kemampuannya.
b. Mahasiswa-mahasiswa IKIP PGRI masih ragu untuk
menunjukkan kemampuannya.
benar.)
Tukang becak: “sepuluh ribu”
ibu tersebut diantar oleh tukang becak ke Pasar Tanjung’ dengan
biaya sepuluh ribu rupiah. Dari percakapan tersebut dapat diketahui
komunikasi yang terjadi sangat komunikatif.)
2.3 Kesantunan Berbahasa
Salah satu ciri bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah adanya
kesesuaian antara pilihan ekspresi, baik kata maupun kalimat, dengan
konteks terjadinya komunikasi. Bahasa Indonesia yang baik dan benar
adalah bahasa yang sesuai dengan kondisi atau situasi dan sesuai pula
dengan kaidah yang berlaku untuk situasi atau kondisinya. Ketika
berkomunikasi, tentunya kita perlu menyesuaikan dengan situasi yang kita
hadapi. Pengguna bahasa yang baik akan menyesuaikan bahasanya dengan
situasi yang dihadapi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemakaian bahasa
dalam interaksi masyarakat dipengaruhi oleh faktor sosial dan situasional.
Nababan (1986) memaparkan rincian faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor
sosial yang memengaruhi pemakaian bahasa adalah jenis kelamin
(gender), umur, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, dan
sebagainya. Faktor situasional meliputi siapa yang berbicara, kepada siapa,
kapan, di mana, mengenai apa, dalam bahasa apa, dalam situasi yang
bagaimana, apa media yang digunakan, ragam bahasa apa yang
melatarbelakangi, dan tujuan pembicaraan tersebut.
Kepekaan dalam memahami faktor sosial dan faktor situasional akan
menentukan kelancaran atau kesuksesan berkomunikasi. Sebagai penutur
bahasa Indonesia, kita harus mampu menunjukkan sikap positif untuk
menjunjung tinggi karakteristik bahasa Indonesia yang kita banggakan
sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Pada dasarnya, keunggulan
suatu bahasa tidak terletak pada sosok bahasa tersebut, tetapi bergantung
pada kemampuan penutur bahasa tersebut menggali potensi bahasa itu
lebih dari penutur bahasa lain. Dengan demikian, yang menjadi tolok ukur
bukan bahasanya, tetapi penuturnya. Ungkapan bahasa menunjukkan
bangsa bukan persoalan ada bahasa yang lebih baik dari bahasa lain atau
bahasa suatu bangsa lebih baik dari bahasa suatu bangsa yang lain,
melainkan bahasa menunjukkan karakter penutur yang mampu menggali
potensi bahasa tersebut untuk menggunakannya secara baik dan benar
untuk mencerminkan kepribadian pemakainya. Dalam hal tersebut kita
bisa mengacu hipotesis Sapir dan Worf, dua orang peneliti antropologi
dunia. Hipotesis tersebut menyatakan bahwa bahasa menunjukkan perilaku
budaya manusia. Hal tersebut sangat tepat. Penutur yang mampu
27
berkomunikasi, struktur kalimat yang dipilih baik dengan menunjukkan
makna yang tepat menunjukkan kepribadian yang baik pula. Demikian
pula sebaliknya, penutur yang tidak santun menggunakan bahasa secara
serampangan, tidak menghargai kaidah bahasa, dan biasanya menunjukkan
karakter atau kepribadian yang negatif.
Di masa kini, penggunaan bahasa sebagai sarana interaksi sosial
tidak hanya dalam komunikasi secara langsung, tetapi juga tidak langsung,
contohnya media sosial. Suatu persoalan dalam media sosial akan
mengundang penutur untuk bersikap dengan ekspresi yang dipilihnya. Kita
harus berhati-hati terhadap komentar atau pernyataan dalam media sosial.
Harus kita ingat, bahasa menunjukkan kepribadian kita. Komentar yang
relatif kasar, tidak menghargai orang lain, menyinggung SARA,
mencampuri urusan pribadi orang lain, penyebaran berita palsu (hoax)
merupakan hal yang harus kita hindari. Hal tersebut tentu berkaitan dengan
upaya kita sebagai pengguna bahasa Indonesia, menjunjung harkat dan
martabat bangsa Indonesia. Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat
kontrol sosial. penggunaan bahasa merupakan kunci memperbaiki etika
berinteraksi. Bahasa harus mampu menjadi media pengontrol
permasalahan sosial. Namun, penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan
etika di media sosial, dewasa ini, justru akan menyebabkan kerusuhan dan
perpecahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, sebagai pengguna bahasa
yang baik, terutama sebagai kaum intelektual, kita harus mampu
menggunakan bahasa dengan memperhatikan kesantunan berbahasa.
Perilaku berbahasa dari aspek kebahasaan dan etika sosial
merupakan konsep kesantunan berbahasa. Kesantunan merupakan kaidah
atau perilaku etika sosial yang disepakati bersama. Kesantunan disebut
tata krama: tata ‘berkaitan dengan aturan atau penataan dan karama yang
berarti ‘baik atau kebaikan’. Kemampuan kita dalam mengatasi persoalan
sosial menunjukkan kecerdasan sosial kita. Kemampuan kita ber-tata
krama merupakan bentuk kecerdasan sosial. Dalam era kini, kecerdasan
sosial merupakan pertimbangan besar untuk menilai kapabilitas seseorang,
mengalahkan kecerdasan intelektual. Seorang yang cerdas secara
intelektual dan sosial akan lebih dipilih karena mampu melaksanakan tugas
dan memimpin orang lain dengan lebih baik.
Kesantunan berbahasa tercermin dalam tata cara berkomunikasi
yang ditunjukkan dengan tanda verbal atau tata cara berbahasa. Berbahasa
bukan hanya persoalan kemampuan menyampaikan ide atau informasi
dengan baik, tetapi juga menyangkut persoalan mampu merealisasikan
norma atau aturan budaya yang berlaku. Kita harus berusaha memiliki
28
kemampuan kita secara linguistis dan etis dalam berinteraksi dan berusaha
menunjukkan citra diri positif. Hal tersebut berbeda dengan sikap yang
kini dikenal dengan jaim atau ‘jaga image’ atau menjaga citra diri dengan
berpura-pura baik. Kecerdasan adalah kemampuan menghadapi dan
memecahkan masalah. Kemampuan kita menghadapi, beradaptasi, dan
menyelesaikan masalah sosial perlu dipelajari dan diupayakan.
2.3.1 Konsep Kesantunan Berbahasa
bahasa, kita dihadapkan pada kaidah linguistik dan kaidah kesantunan.
Kaidah linguistik berkaitan dengan kaidah tata bunyi (fonologi), tata kata
(morfologi), tata kalimat (sintaksis), tata makna (semantik). Kaidah
kesantunan berkaitan dengan rambu-rambu berkomunikasi yang secara
santun dapat diindentifikasi. Fraser dalam Rahardi (2005) menyebutkan
terdapat empat pandangan dalam memahami kesantunan berbahasa: (1)
kesantunan berkaitan dengan norma, (2) kesantunan yang sesuai dengan
maksim percakapan atau prinsip percakapan sebagai upaya
menyelamatkan muka atau tidak mempermalukan orang lain, (3)
kesantunan sebagai tindakan untuk memenuhi persyaratan terpenuhinya
sebuah kontrak percakapan (conversational contract), (4) kesantunan
berkaitan dengan penelitian sosiolinguistik yang berhubungan pandangan
masyarakat (social reference), honorifik (honorific), dan gaya bicara (style
of speaking).
Dalam konsep berkomunikasi, Chaer (2010: 10) mengemukakan
kaidah atau norma yang harus dipenuhi agar tuturan kita menjadi santun,
yaitu kaidah (1) formalitas (formality), (2) ketidaktegasan (hesistancy),
dan (3) kesamaan atau kesekawanan (equality or camaraderie). Pandangan
tersebut menunjukkan bahwa tuturan disebut santun bila tidak terdengar
memaksa atau angkuh. Tuturan santun tidak menggerakkan atau
mengarahkan orang lain untuk mengikuti keinginananya. Tuturan yang
santun memberikan peluang untuk orang lain melakukan sesuai dengan
kesadaran dirinya. Dalam dunia perdagangan, tuturan yang santun
ditunjukkan dengan paparan manfaat secara ilmiah bukan dengan paksaan
dan penuh agitasi secara langsung yang menunjukkan keegoisan. Tuturan
yang santun memberikan pilihan kepada orang lain untuk melakukan atau
memilih tindakan sesuai yang diyakininya. Tuturan yang santun
memberikan rasa senang kepada lawan tutur dengan memberikan rasa
nyaman dan penghormatan. Kesantunan ditandai dengan norma budaya
yang membuat kita tidak hanya patuh pada norma komunikasi, tetapi juga
norma-norma kemanusiaan yang secara eksplisit dapat diamati dari norma
29
maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan,
maksim kemufakatan, maksim kesimpatisan.
Peserta tutur hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu
mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan
keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Tuturan yang santun
mengindikasikan pemberian kemudahan kepada mitra tutur, bukan
sebaliknya. Sikap bijaksana ditunjukkan dengan tidak merepotkan
mitra tutur untuk terlibat dalam pertuturan, merespon, dan beraktivitas
sesuai materi yang dibahas. Contohnya pada percakapan berikut.
A : “Silakan ambil dulu, saya nanti memilih setelah yang kamu
saja.”
Pada tuturan, A mempersilakan B memilih barang sesuai dengan
seleranya; B khawatir bila barang yang dipilihnya nanti akan disukai
B. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mempersilakan orang lain
untuk mengambil dulu makanan, memberikan jalan, dan berhenti saat
lawan tutur berbicara atau berkomentar. Hal itu merupakan cermin
kesantunan.
diri sendiri sekecil-kecilnya dan berikan keuntungan untuk orang lain
sebesar-besarnya.” Dalam maksim tersebut kita diajarkan untuk tidak
mementingkan diri sendiri. Dengan demikian, sifat egois merupakan
sikap yang melanggar maksim kedermawanan. Jika seseorang
meminjam barang milik kita, misalnya alat tulis, berikanlah
keuntungan untuk tidak membuatnya menghampiri kita, tetapi kita
antar barang tersebut. Dalam konteks budaya Indonesia, sikap tersebut
adalah sikap menguntungkan orang lain. Misalnya, saat ada orang
ingin menolong kita atau membutuhkan bantuan kita, kita merespon
dengan baik. Tuturan santun ditunjukkan dengan meberikan
penawaran yang lebih menguntungkan orang lain.
c. Maksim Penghargaan
menunjukkan sikap menghargai orang lain atas sekecil apa pun yang
dilakukan atau upayanya dalam melibatkan diri. Peserta pertuturan
untuk memaksimalkan rasa hormat dan menghargai kepada orang lain
30
rasa tidak hormat. Hal tersebut dapat diamati pada pertuturan berikut.
A: “Skripsimu tentang apa?”
A: “Wah, bagus itu, itu sangat penting untuk diteliti.”
Dari tuturan tersebut A memberikan penghargaan dengan
mendukung apa yang dilakukan oleh B. Dalam kehidupa sehari-hari,
kita harus menunjukkan dukungan yang merupakan indikator simpati
dan empati. Hal tersebut menunjukkan nilai rasa kita terhadap sesama.
d. Maksim Kesederhanaan (Maksim Kerendahan Hati)
Mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Maksim
kesederhanaan dan kerendahan hati merupakan parameter kesantunan
dalam budaya Indonesia. Dalam maksim ini, kita diajarkan untuk
mengurangi pujian untuk diri sendiri. Maksim ini mengatur sikap
untuk diri sendiri, sejalan dengan maksim penghargaan. Dengan
demikian, kita harus memaksimalkan pujian untuk orang lain dan
meminimalkan pujian untuk diri sendiri. Kita dapat menunjukkan
bahwa kita kurang baik dalam beberapa hal.
e. Maksim Pemufakatan
kemufakatan kepada orang lain. Dengan sikap yang menunjukkan
kecocokan atau kemufakatan pada yang dirasakan orang lain,
pembicara dan lawan bicara menunjukkan sikap saling menghormati.
Misalnya, ada seseorang yang merasa udara sedang panas lalu berkata
kepada teman di sebelahnya, “Kok panas sekali.” Lalu sikap santun
ditunjukkan dengan menyetujui, “Ya, memang panas, panas sekali.”
Hal tersebut menunjukkan adanya kemufakatan atau persetujuan yang
dapat membuat pembicara merasa didukung untuk nyaman dalam
interaksi.
pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap antipati terhadap salah
seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun.
Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan sikap menunjukkan simpati
atau empati. Misalnya, dosen sedang tidak bisa hadir karena sakit, kita
dapat menunjukkan menyatakan, “Semoga lekas sehat, Pak.” Ketika
ada Saudara teman atau orang tua teman yang meninggal, kita bisa
ucapkan pernyataan sesuai agama kita atau pernyataan untuk
menumbuhkan rasa ikut berbela sungkawa atau berduka.
31
perlu dipahami, santun merupakan indikator nilai karakter positif yang
dapat dilatihkan dengan pembiasaan menggunakan bahasa secara santun.
Pranowo (2009) mendeskribsikan beberapa indikator tuturan santun, yakni
sebagai berikut:
1) menggunakan kata “tolong” untuk meminta bantuan pada orang lain;
2) menggunakan kata “maaf” untuk tuturan yang diperkirakan akan
menyinggung perasaan lain;
kebaikan orang lain;
melakukan sesuatu;
dihormati; dan
indikator kesantunan yang terdapat pada tuturan kita. Hal tersebut menjadi
sangat penting di era digital dan media sosial dewasa ini. Bahasa paa
nitizen (orang yang bermedia sosial) tidak lagi menunjukkan etika dan
menggunakan bahasa santu. Dalam media sosial tersebut, perlu kita sadari
bahwa ragam bahasa yang digunakan adalah nonformal. Kesantunan tidak
berkaitan dengan ragam bahasa, tetapi dengan sikap berbahasa. Dalam
situasi santai pun, dalam komunikasi di media sosial, kita dapat
mengontrol diri dengan sikap santun, misalnya hal-hal berikut:
a) tidak menyebarkan berita palsu atau hoax;
b) tidak menyinggung SARA dalam mengunggah informasi atau status
dan berkomentar terhadap orang lain;
c) tidak mencampuri urusan orang lain dengan pertanyaan yang sifatnya
pribadi;
d) tidak bersikap seolah-olah tahu (sok tahu) terhadap sebuah kasus
tanpa berpikir objektif dengan mengomentari kasus sesuai dengan
pandangan pribadi; dan
berdampak pada kerugian orang lain.
Dalam media sosial dan dalam kehidupan sehari-hari, bahasa
merupakan alat kontrol sosial yang dapat mengarahkan situasi pada
suasana nyaman dan tenteram dengan meredam persoalan. Pada masi kini,
ada kalanya bahasa tidak lagi diperankan sebagai alat kontrol sosial karena
pernyataan beberapa pihak yang justru menimbulkan kerusuhan,
meningkatkan emosi, menggugah rasa marah, dan tidak dihargai. Oleh
32
2.3.2 Kesantunan di Lingkungan Kampus
Mahasiswa merupakan generai penerus yang akan menjadi
pemimpin masa depan. Mahasiswa merupakan cerminan karakter bangsa
yang dapat memengaruhi beragam situsi di sebuah negara. Mahasiswa
merupakan kekuatan yang dapat membuat negara menjadi lebih maju.
Sikap santun perlu dipahami sebagai indikator kecerdasan sosial dan
emosionalnya. Kesantunan di lingkungan kampus sangat diperlukan untuk
memperlancar interksi sosial untuk keperluan akademik, misalnya saat
berkomunikasi dengan dosen, dengan teman pada saat diskusi atau
kegiatan lain, atau dengan staf akademik atau tenaga kependidikan yang
mengatur keperluan pelayanan kampus.
keperluan perkuliahan sehari-hari, mahasiswa dihadapkan pada situasi
formal baik secara lisan maupun tulis. Namun, komunikasi secara lisan