Lia Stase Jiwa

  • View
    41

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kjv;dsljfafk

Text of Lia Stase Jiwa

PROPOSAL PENYULUHAN

PSIKOSISDISUSUN OLEH

LIA FAUZIAHASEPSTASE ILMU KESEHATAN JIWA

RUMAH SAKIT JIWA ISLMA KLENDER

2013

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat allahSWT yang telah memberikan petunjukNya, akhirnya dengan ini kami menyelesaikan proposal penyuluhan tentang Skizofrenia sesuai pada waktu yang telah ditentukan. Proposal penyuluhan yang telah kita susun ini dikerjakan penulis, serta tambahan masukan dan bantuan dari rekan rekan dan dosen pembimbing sehingga kami mendapat banyak inspirasi dan tambahan wawasan.

Tujuan disusunnya proposal penyuluhan ini adalah sebagai dasar kewajiban dari suatu proses kegiatan yang kami lakukan yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk praktiknya sebagai proses pembelajaran secara kolaboratif dalam diskusi pleno, sehingga kami dapat melihat, mengetahui, menerima dan menyerap materi dalam diskusi kelompok secara baik dan sistematis.

Penyusunan proposan penyuluhan ini dimasukan sebagai syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik stase Ilmu Kesehatan Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.

Melalui laporan ini kami mengucapkan terimakasih kepada:

1. Direktur Rumah Sakit Jiwa Islam Klender, yang sudah memberi kesempatan kepada kami untuk menjalankan dan mengikuti kepaniteraan klinik.

2. dr. Frendly Ahdimar sebagai pembimbing dalam menyelesaikan proposal penyuluhan dan memberikan masukan dan arahan saat diskusi berlangsung.

3. Kepada seluruh tenaga medis dan nonmedis di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu juga kepada rekan-rekan satu kelompok

Jakarta, 10 Desember 2013

Penulis

SATUAN ACARA PENYULUHANSKIZOFRENIA

I. IDENTITASTopik

: PSIKOSISSub Topik

: Mengenali apa itu PSIKOSISHari/Tanggal: Februari 2015Waktu

: Jam 09.00 10.00

Sasaran

: Pasien dan keluarga pasien yang berkunjung ke poliklinik

Tempat

: Ruang tunggu poliklinik

II. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM

Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya mengetahui apa itu PSIKOSIS diharapkan pasien dan keluarga pasien yang merupakan sasaran dari penyuluhan ini memahami apa itu PSIKOSIS

III. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah dilakukan penyuluhan selama 60 menit, diharapka peserta dapat:

1. Memahami tentang PSIKOSIS2. Memahami pentingnya dan maksud dari pemeriksaan PSIKOSISIV. MATERI (terlampir)

V. MEDIA

1. Laptop

2. LCD

3. Microphone

4. LeafletVI. METODE

1. Ceramah

2. Diskusi

3. Tanya jawabKEGIATAN PENYULUHANNo.KegiatanPenyuluhanAudienceWaktu

1.Pembukaan Mengucapkan salam

Memperkenalkan diri Menjawab salam Memperhatikan5 menit

2.Isi Pengertian PSIKOSIS secara umum dan factor yang mempengaruhi Klasifikasi PSIKOSIS PenyebabPSIKOSIS Penatalaksanaan PSIKOSIS Menyampaikan pengetahuan Mendengarkan dan memperhatikan penyampaian materi.45 menit

3. Penutup Menyimpulkan materi Memberikan kesempatan kepada audience untuk bertanya

Menutup dan mengucapkan salam Mendengarkan dan memperhatikan Aktif mengajukan pertanyaan

Menjawab salam10 menit

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.,( )DAFTAR ISI..( )BABI. PENDAHULUAN ......( )BAB II. PEMBAHASAN......( )

II.1. PENGERTIAN PSIKOSIS...( )

II.2. KLASIFIKASI PSIKOSIS( )

II.3. PENATALAKSANAAN( )BAB III. PENUTUP..( )DAFTAR PUSTAKA.( )LAMPIRAN POWER POINT..( )LAMPIRAN LEAFLET.( )BAB IPENDAHULUANDalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Mula-mula Emil Kreaplin (18-1926) menyebutkan gangguan dengan istilah dementia prekok yaitu suatu istilah yang menekankan proses kognitif yang berbeda dan onset pada masa awal. Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler (1857-1939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emmosi dan perilaku pada pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering, hampir 1% penduduk dunia menderita psikotik selama hidup mereka di Amerika.Skizofrenia lebih sering terjadi pada Negara industri terdapat lebih banyak populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah.

Walaupun insidennya hanya 1 per 1000 orang di Amerika Serikat, skizofrenia seringkali ditemukan di gawat darurat karena beratnya gejala, ketidakmampuan untuk merawat diri, hilangnya tilikan dan pemburukan sosial yang bertahap. Kedatangan diruang gawat darurat atau tempat praktek disebabkan oleh halusinasi yamg menimbulkan ketegangan yang mungkin dapat mengancam jiwa baik dirinya maupun orang lain, perilaku kacau, inkoherensi, agitasi dan penelantaran.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA PSIKOSIS

II.1 DEFINISIPsikosis secara sederhana dapat didefinisikan sebagai berikut : suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan. Hal ini diketahui dengan terganggunya pada hidup perasaan (afek dan emosi), proses berfikir, psikomotorik dan kemauan, sedemikian rupa sehingga semua ini tidak sesuai dengan kenyataan lagi. Penderita tidak dapat dimengerti dan tidak dapat dirasai lagi oleh orang normal, karena itu seorang awam pun dapat mengatakan bahwa orang itu gila, bila psikosa itu sudah jelas. Penderita sendiri juga tidak memahami penyakitnya, ia tidak merasa sakit.

Menninger telah menyebutkan lima sindrom klasik yang menyertai sebagian besar pola psikotik, yaitu:

1. Perasan sedih, bersalah dan tidak mampu yang mendalam

2. Keadaan terangang yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai pembicaraan dan motorik berlebihan

3. Regresi ke autisme manerisme pembicaraan dan perilaku, isi pikiran yang berwaham, acuh tak acuh terhadap harapan social

4. Preokupasi yang berwaham, disertai kecurigaan, kecenderungan membela diri atau rasa kebesaran

5. Keadaan bingung dan delirium dengan disorientasi dan halusinasi

Psikosis merupakan gangguan tilikan pribadi yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya. Psikosis adalah suatu kumpulan gejala atau sindrom yang berhubungan gangguan psikiatri lainnya, tetapi gejala tersebut bukan merupakan gejala spesifik penyakit tersebut, seperti yang tercantum dalam kriteria diagnostik DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) maupun ICD-10 (The International Statistical Classification of Diseases) atau menggunakan kriteria diagnostik PPDGJ- III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa). Arti psikosis sebenarnya masih bersifat sempit dan bias yang berarti waham dan halusinasi, selain itu juga ditemukan gejala lain termasuk di antaranya pembicaraan dan tingkah laku yang kacau, dan gangguan daya nilai realitas yang berat. Oleh karena itu psikosis dapat pula diartikan sebagai suatu kumpulan gejala/terdapatnya gangguan fungsi mental, respon perasaan, daya nilai realitas, komunikasi dan hubungan antara individu dengan lingkungannya.

Setiap kelainan jiwa mayor dengan penyebab organic atau kejiwaan yang ditandai oleh gangguan kepribadian dan kehilangan kontak dengan kenyataan sering timbul waham, halusinasi atau ilusi disebut dengan psikosis (psychose).

Pasien yang mengalami psikosis mengalami kehilangan sense of reality-nya. Pasien sering kali mengalami delusi dan halusinasi yang tidak dapat dibedakannya antara kenyataan atau tidak.

ETIOLOGI

Psikosis dapat disebabkan banyak hal atau multifaktorial, yaitu sebagai berikut:

* Alcohol and certain drugs

* Brain tumors

* Dementia (termasuk Alzheimer's disease)

* Epilepsy

* Manic depression (bipolar disorder)

* Psychotic depression

* Schizophrenia

* Stroke

Psikoanalisa Freud

Pada awalnya Sigmund Freud mengembangkan penatalaksanaan menggunakan teknik hipnosa yang kemudian berkembang teknik lain yaitu Metode konsentrasi dan Metode asosiasi bebas. Metode konsentrasi adalah pasien berbaring pada dipan dengan mata tertutup dan dilakukan penekanan pada dahi pasien untuk meningkatkan konsentrasi. Kemudian Metode asosiasi bebas adalah metode tanpa penekanan di dahi tapi tetap dengan berbaring dan mata tertutup. Dengan teknik konsentrasi tersebut pasien akan mengeluarkan segala pikiran yang timbul pada alam bawah sadarnya. Hambatan pengeluaran isi pasien biasanya karena pasien berusaha menghilangkan perasaan menyakitkan atau tidak menyenangkan.

Teori naluri (instinct) dalam hal libido :

Fase oral

Berlangsung sejak dari lahir hingga tahun kedua. Mendapatkan kepuasan melalui mulutnya yang didorong oleh rasa lapar sehingga saat menelan sesuatu akan merasa nyaman dan merasa ketegangan bila memuntahkan sesuatu. Pada masa ini ibu bertindak sebagai obyek cinta.

Fase anal sadistic

Dimulai pada umur 2 hingga 4 tahun. Pada fase ini terdapat kesenangan dalam mengeluarkan tinja dan urine. Fase ini akan melibatkan ibu dalam hal mengendalikan pengeluaran tinja dan urine pada waktu dan tempat tertentu. Obyek cinta pada fase ini adalah tinja itu sendiri dengan cara ambivalen.

Fase falik

Dimulai pada usia 2 sampai 4 tahun. Misalnya anak pria lebih dekat dengan ibunya dan menganggap ayah sebagai saingannya. Tapi saat melihat persamaannya yang mirip dengan ayah maka dia akan lebih dekat dengan si ayah.

Teori naluri lainnya :

Naluri ego adalah nafsu untuk mempertahankan dirinya sendiri

Naluri agresi bertujuan untuk menghancurkan dan berasal dari otot rangka

Naluri hidup dan mati adalah kecenderungan organism dalam melakukan reproduksi atau menjadi benda yang tak bernyawa.

Prinsip yang mendasari teo