Stase interna lapkas.doc

  • View
    17

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Stase interna lapkas.doc

Identitas Pasien Nama

: Tn. S : 48 tahun : solo, 27 agustus 1963 : Laki-laki : pegawai swasta : Menikah

Usia TTL Jenis Kelamin

Pekerjaan Status

Masuk Rumah Sakit : 25 maret 2012 No. kamar Anamnesis (Autoanamnesis) KU KT RPS : Pusing seperti mau pingsan SMRS : Berat dan pegal di tengkuk kepala, mual, muntah, keringat dingin : OS masuk ke RS karena mengeluh pusing seperti mau pingsan, pusing seperti berputar-putar, pusing seperti ini jarang dirasakan OS tetapi saat ini yang dirasakan paling parah. Saat masuk UGD tensi OS 250/100mmHg kemudian diberikan tindakan (obat antihipertensi captopril 25mg), OS juga mengeluh berat dan pegal di daerah tengkuk kepala. flu (-), batuk (-), mual (+), muntah (+) saat di UGD berupa cairan bening 3sendok makan, sesak napas (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan, keringat dingin (+), demam disangkal. OS mengaku punya riwayat hipertensi. RPD Riwayat Keluarga Riwayat Alergi : DM (-), penyakit ginjal (-), jantung (-) : Hipertensi (+), DM (-), stroke (+) ibu : disangkal (setengah bungkus rokok/hr), Minum kopi ( 1x/hr), Bergadang (jarang), Olahraga (-) : marwah atas

Riwayat Pengobatan : Konsumsi obat antihipertensi (captopril) tiap pusing atau sakit kepala Riwayat Psikososial : menu makanan tidak diperhatikan, Merokok

Pemeriksaan Fisik1

Keadaan umum : sakit ringan kesadaran Tanda Vital TD P N : compos mentis : : 170/100 mmHg : 18x /menit, : 80/ menit

Suhu : 36 0C Antropometri : BB TB : 75 kg : 168cm

IMT : 26,57 (obes 1) Status Generalisata Kepala : normal - Mata Konjungtiva Sklera Pupil Hidung mulut Leher Telinga Paru Inspeksi : kedua lapang paru simetris, otot bantu pernapasan (-) Palpasi : nyeri tekan (-), krepitasi (-) Perkusi : sonor di seluruh lapang paru Auskultasi : vesikuler Jantung Auskultasi Abdomen Inspeksi : simetris2

: anemis (-) : ikterik (-) : Ishokor : Sekret (-), epitaksis (-), : bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), : pembesaran KGB (-) : tidak ada kelainan

Reflex cahaya : (+)

: BJ I&II normal

Auskultasi Palpasi Perkusi Ekstremitas atas Ekstremitas bawah RCT

: bising usus(+) : nyeri tekan epigastrium (+) , hepatomegali (-),splenomegali (-) : timpani pada ke empat kuadran : akral hangat,udem (-) :akral hangat, udem (-) : 600 3.Aktivitas fisik

14

Beberapa studi menunjukan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan penyakit jantung dan pembuluh darah. Aktivitas fisik akan memperbaiki sistem kerja jantung dan pembuluh darah, dengan meningkatkan efesiensi kerja jantung, mengurangi keluhan nyeri dada/angina pektoris, melebarkan pembuluh darah, membuat kolateral atau jalan baru bila sudah ada penyempitan pembuluh darah koroner, mencegah timbulnya gumpalan darah, meningkatkan kemampuan tubuh termasuk meningkatkan kemampuan seksual, dan meningkatkan kesegaran jasmani.9 Dianjurkan melakukan latihan fisik (olahraga) minimal 30 menit setiap hari selama 3 4 hari dalam seminggu (istirahat selang sehari), sehingga tercapai hasil yang ,maksimal. Setelah latihan 4 6 minggu, kemampuan fisik meningkatkan sebesar 30 33%, dan hasil optimal akan dicapai setelah latihan fisik 6 bulan.9 Penilaian atas aktivitas fisik responden sehari-hari, yang mencakup aktivitas pada waktu bekerja, olah raga, dan aktivitas selama waktu senggang.29 4.Stres Stres juga sangat erat merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis, peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stres yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stres yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.9 Stres adalah reaksi tubuh berupa serangkaian respons yang bertujuan untuk mengurangi dampak. Resiko terjadinya gangguan ini makin bertambah apabila ada kelelahan fisik atau faktor organik lain, misalnya lanjut usia.9 5. Obesitas Timbulnya hipertensi pada obesitas adalah peningkatan volume plasma dan peningkatan curah jantung yang terjadi pada obesitas berhubungan dengan hiperinsulinemia, resistensi insulin dansleep apnea syndrome, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini terjadi pergeseran konsep, dimana diduga terjadi perubahan neuro-hormonal yang mendasari kelainan ini. Hal ini mungkin disebabkan karena kemajuan pengertian tentang obesitas yang berkembang pada tahun-tahun terakhir ini dengan ditemukannya leptin.18

15

Leptin sendiri merupakan asam amino yang disekresi terutama oleh jaringan adipose dan dihasilkan oleh gen ob/ob. Fungsi utamanya adalah pengaturan nafsu makan dan pengeluaran energi tubuh melalui pengaturan pada susunan saraf pusat, selain itu leptin juga berperan pada perangsangan saraf simpatis, meningkatkan sensitifitas insulin, natriuresis, diuresis dan angiogenesis. Normal leptin disekresi kedalam sirkulasi darah dalam kadar yang rendah, akan tetapi pada obesitas umumnya didapatkan peningkatan kadar leptin dan diduga peningkatan ini berhubungan dengan hiperinsulinemia melalui aksis adipoinsular.30 6. Kopi Kopi terkenal akan kandungan kafeinnya yang tinggi. Kafein sendiri merupakan senyawa hasil metabolisme sekunder golongan alkaloid dari tanaman kopi dan memiliki rasa yang pahit. Berbagai efek kesehatan dari kopi pada umumnya terkait dengan aktivitas kafein di dalam tubuh. Peranan utama kafein ini di dalam tubuh adalah meningkatan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap terjaga dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan energi. Efeknya ini biasanya baru akan terlihat beberapa jam kemudian setelah mengonsumsi kopi. Kafein tidak hanya dapat ditemukan pada tanaman kopi, tetapi juga terdapat pada daun teh dan biji cokelat.32 Tabel 2.3 kandungan kafein dalam minuman Sumber Secangkir kopi Secangkir the Minuman berkarbonasi Minuman berenergi Kandungan kafein 85 mg 35 mg 35 mg 50 mg

Batas aman konsumsi kafein yang masuk ke dalam tubuh perharinya adalah 100-150 mg. Dengan jumlah ini, tubuh sudah mengalami peningkatan aktivitas yang cukup untuk membuatnya tetap terjaga. 7 Kontrasepsi Hormonal Penelitian menunjukkan bahwa pemakaian pil KB sebagai kontrasepsi hormonal akan meningkatkan kejadian tromboemboli dan gangguan pembuluh darah otak. Tromboemboli terjadi akibat perubahan sistem pembekuan darah akibat estrogen. Estrogen antara lain akan meningkatkan aktivitas pembekuan darah, sehingga akan memudahkan trombosis (pembekuan) di pembuluh darah, dengan akibat lanjut menyebabkan sumbatan dan gangguan pada aliran16

darah. Makin besar dosis estrogen yang diberikan, makin besar pula efeknya. Efek ini akan makin diperbesar dengan pengaruh anti-estrogen dan progesteron. Disamping efek aterosklerosis oleh pengaruh progesteron. Risiko akan meningkat pada perokok dan berkurang bila dosis estrogen dikurangi. Risiko tromboemboli ini tidak dipengaruhi oleh lamanya pemakaian pil KB. Tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat terjadi pada 5% pemakai pil KB. Hal ini dipengaruhi usia, jenis kelamin, suku dan riwayat keluarga. Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan bersifat tak menetap. Jika hipertensi menetap setelah pil KB dihentikan, berarti telah terjadi perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis.Penggunaan pil KB akan meningkatkan angka kejadian penyakit jantung koroner. Risiko ini dihubungkan dengan lama pemakaian pil KB, dan adanya risiko penyakit jantung koroner yang lain seperti usia lanjut, merokok, kegemukan dan hipertensi. Penggunaan sediaan dengan estrogen dan progesteron dosis rendah akan mengurangi risiko tersebut tetapi tidak menghilangkannya. Kejadian gangguan pada peredaran darah otak pada pengguna pil KB lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak memakai. Gangguan ini terutama pada pemakai pil KB kombinasi yang berusia di atas 35 tahun perokok, dengan kadar lemak darah tinggi, dan menderita hipertensi. 8 Alkohol Minum alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko mendapat serangan stroke (3 kali lebih besar) terutama pada anak muda. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebagai penyebab ialah rebound thrombocytosis, perubahan otoregulasi aliran darah ke otak, aritmia kordis, hipertensi, dan hiperlipidemia. 9 Penyakit lain 1. Penyakit Ginjal Hipertensi sekunder yang terkait dengan ginjal disebut hipertensi ginjal (renal hypertension). Gangguan ginjal yang paling banyak menyebabkan tekanan darah tinggi adalah penyempitan arteri ginjal, yang merupakan pembuluh darah utama penyuplai darah ke kedua organ ginjal. Bila pasokan darah menurun, ginjal akan memproduksi berbagai zat yang meningkatkan tekanan darah. 2. Hipo atau Hipertiroid Hipertiroid atau kelebihan hormon tiroid ditandai dengan mudah kepanasan (merasa gerah), penurunan berat badan, jantung berdebar dan tremor. Hormon tiroid yang berlebih merangsang aktivitas jantung, meningkatkan produksi darah, dan meningkatkan resistensi pembuluh darah17

sehingga menimbulkan hipertensi.Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid ditandai dengan kelelahan, penurunan berat badan, kerontokan rambut dan lemah otot. Hubungan antara kekurangan tiroid dan hipertensi belum banyak diketahui, namun diduga bahwa melambatnya metabolisme tubuh karena kekurangan tiroid mengakibatkan pembuluh darah terhambat dan tekanan darah meningkat.3. Koarktasi Aorta (Aortic coarctation)

Koarktasi atau penyempitan aorta adalah kelainan bawaan yang menimbulkan tekanan darah tinggi. 4. Gangguan Kelenjar Adrenal Kelenjar adrenal berfungsi mengatur kerja ginjal dan tekanan darah. Bila salah satu atau kedua kelenjar adrenal mengalami gangguan, maka dapat mengakibatkan produksi hormon berlebihan yang meningkatkan tekanan darah. 5. Gangguan Kelenjar Paratiroid Empat kelenjar paratirod yang berada di leher memproduksi hormon yang disebut parathormon. Produks