of 23 /23
9 BAB II TINJAUAN TEORI A. Penyesuaian Diri 1. Pengertian Penyesuaian Diri Keberadaan manusia memiliki fungsi yang berbeda dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Selain terlahir sebagai makhluk individu, menusia juga merupakan makhluk sosial. Abraham Maslow (dalam Kartono, 1992) menyebutkan ada lima macam kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Dari tingkatan tersebut, kebutuhan sosial pada diri manusia menempati urutan yang ketiga dari lima macam hirarki yang disusunnya. Pada kebutuhan sosial, manusia memperolehnya dengan cara berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ditempatinya. Schneiders (1964) mengungkapkan penyesuaian diri adalah kemampuan atau kapasitas individu untuk bereaksi secara efektif terhadap kenyataan, situasi dan hubungan sosial untuk mencapai kehidupan social yang memuaskan. Penyesuaian diri mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu adanya motif yang melatarbelakangi munculnya perilaku,ada rintangan dari lingkungan yang menghambat, respon yang muncul pada masing- masing individu bervariasi dan berakhir dengan penemuan suatu pemecahan. Pengertian yang terkandung di dalamnya antara lain

BAB II TINJAUAN TEORI A. Penyesuaian Diri 1. Pengertian ...digilib.ump.ac.id/files/disk1/2/jhptump-a-idamustafa-78-2-babii.pdf · Penyesuaian diri mempunyai cirri-ciri tertentu

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN TEORI A. Penyesuaian Diri 1. Pengertian...

  • 9

    BAB II

    TINJAUAN TEORI

    A. Penyesuaian Diri

    1. Pengertian Penyesuaian Diri

    Keberadaan manusia memiliki fungsi yang berbeda dengan

    makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Selain terlahir sebagai makhluk individu,

    menusia juga merupakan makhluk sosial. Abraham Maslow (dalam

    Kartono, 1992) menyebutkan ada lima macam kebutuhan manusia, yaitu

    kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial,

    kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Dari tingkatan

    tersebut, kebutuhan sosial pada diri manusia menempati urutan yang

    ketiga dari lima macam hirarki yang disusunnya. Pada kebutuhan sosial,

    manusia memperolehnya dengan cara berinteraksi dan menyesuaikan diri

    dengan lingkungan yang ditempatinya.

    Schneiders (1964) mengungkapkan penyesuaian diri adalah

    kemampuan atau kapasitas individu untuk bereaksi secara efektif terhadap

    kenyataan, situasi dan hubungan sosial untuk mencapai kehidupan social

    yang memuaskan. Penyesuaian diri mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu

    adanya motif yang melatarbelakangi munculnya perilaku,ada rintangan

    dari lingkungan yang menghambat, respon yang muncul pada masing-

    masing individu bervariasi dan berakhir dengan penemuan suatu

    pemecahan. Pengertian yang terkandung di dalamnya antara lain

  • 10

    merupakan usaha manusia untuk mengurangi tekanan akibat dorongan

    kebutuhan dan usaha untuk menyelaraskan hubungan undividu dengan

    realitas. Dalam arti yang lebih sempit ditekankan pada penyesuaian diri

    sebagai proses melibatkan respon mental dan perilaku manusia dalam

    usahanya mengatasi dorongan-dorongan dari dalam diri agar diperoleh

    kesesuaian antar tuntutan dari dalam dan dari lingkungan. Ini berarti

    bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan

    kondisi yang statis.

    Penyesuaian diri sebagai proses, cara atau perbuatan yang

    dilakukan oleh seseorang dalam menyesuaikan dengan perubahan

    disekitarnya. Proses penyesuaian diri manusia dalam kelompok berperan

    sesuai dengan peran jenis mereka, baik berjenis kelamin laki-laki atau

    perempuan. (Poerwadarminta, 2006)

    Hurlock (2000), menyatakan bahwa penyesuaian diri yang berhasil

    akan menuju pada kondisi mental yang baik dalam arti mampu

    memecahkan masalahnya dengan cara realistis, menerima dengan baik

    sesuatu yang tidak dapat dihindari, memahami secara objektif kekurangan

    orang lain yang bekerja dengan dirinya.

    Walgito (1990), menyatakan bahwa di dalam hubungan sosial ini

    individu satu dengan lainnya saling mempengaruhi sehingga setiap

    individu akan menerima nilai-nilai dan menyesuaikan dengan norma sosial

    yang berlaku.

    Gerungan (2000), bahwa di dalam penyesuaian, individu dituntut

    untuk mampu mengadakan cara penyesuaian yang baik tanpa

  • 11

    menimbulkan konflik bagi diri sendiri maupun masyarakat. Penyesuaian

    sosial dalam dua kategori yaitu mengubah diri sesuai dengan keadaan

    lingkungan yang disebut dengan autoplastis (dibentuk sendiri), dan

    pengertian kedua adalah mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan

    atau keinginan diri yang disebut aloplastis (dibentuk oleh yang lain).

    Hall dalam Handayani (1996), penyesuaian diri adalah suatu proses

    yang terus menerus berlangsung dan selalu berubah dalam kaitannya

    dengan interaksi individu yang bersangkutan dengan orang lain, peristiwa-

    peristiwa yang dialami dan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi

    kehidupannya seperti teman-temannya, keluarga, perkembangan fisik,

    serta proses penuaan dalam lingkungan. Faktor-faktor ini secara

    kesinambungan akan terus mengalami perubahan selama rentang

    kehidupan. Penyesuaian diri yang dilakukan secara tepat, akan

    menimbulkan seseorang dapat menjalankan fungsinya dalam masyarakat,

    hubungan sosial, pelaksanaan tugas-tugas, serta perasaan subyektif

    mengenai kepuasan dan kesenangan hidupnya akan dapat berlangsung

    dengan baik.

    Schneiders, 1964 berpendapat social adjustment signifies the capacity to react evvectively and wholesomely to social realities, situations so that the requirements for social living are fulfilled in a acceptable ang satisfactory manner.

    Pendapat tersebut bermakna bahwa di dalam penyesuaian sosial

    menandakan kapasitas untuk memberi reaksi yang efektif dan bermanfaat

    dalam kenyataan sosial, situasi sebagai syarat pemenuhan kehidupan sosial

    dan dapat diterima sebagai sikap yang nyaman. (Schneiders, 1964)

  • 12

    Interaksi yang diadakan individu dalam kehidupan sosial

    senantiasa harus melihat kondisi lingkungannya untuk dapat melakukan

    penyesuaian seperti yang dikemukakan oleh Schneiders (1964) berikut :

    A process involving both mental and behavioral responses, by which an individual strives to cope successfully with inner needs, tensions, frustrations, and conflict, and to degree of harmony between these inner demands and those imposed on him by the objective world in which he lives.

    Pendapat tersebut bermakna bahwa di dalam penyesuaian terhadap

    kehidupan sosial, individu melakukan kegiatan atau respon mental dan

    tingkah laku untuk meredakan ketegangan-ketegangan, tekanan, frustasi

    dan konflik-konflik serta menyesuaikan diri dengan norma-norma

    masyarakat dimana ia tinggal, hal ini sebagai suatu proses untuk mencapai

    kesuksesan dengan meningkatkan keinginan dari dalam diri individu itu

    sendiri dan menitikberatkan pada tujuannya pada lingkungan dimana ia

    tinggal.

    Penyesuaian diri manusia dalam kelompok berperan sesuai dengan

    jenis kelaminnya merupakan bagian normal dalam proses perkembangan

    sehingga tidak seorangpun menganggapnya sebagai masalah. Akibat dari

    proses tersebut terbentuklah stereotip jenis kelamin yang secara tidak

    langsung disetujui oleh anggota kedua jenis kelamin dalam suatu

    lingkungan, bergantung pada apa saja yang dihargai untuk lingkungan

    tersebut (Hurlock, 1999).

  • 13

    Hurlock (1999), juga menambahkan bahwa untuk melakukan

    penyesuaian yang baik bukanlah hal yang mudah. Akibatnya, banyak

    individu yang kurang dapat menyesuaikan diri, kurang baik secara sosial

    maupun pribadi. Perkembangan pribadi, sosial dan moral yang dimiliki

    seseorang menjadi dasar untuk memandang diri dari lingkungannya di

    masa-masa selanjutnya.

    Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang

    dimaksud penyesuaian diri adalah kemampuan atau kapasitas individu

    untuk bereaksi secara efektif terhadap kenyataan, situasi, dan hubungan

    sosial untuk mencapai kehidupan sosial yang memuaskan. Dalam

    melakukan penyesuaian sosial, seorang individu akan menjalin hubungan

    dengan lingkungan masyarakat yang merupakan sifat dan kebutuhan

    manusia. Dalam hubungan sosial ini, antar individu akan saling

    mempengaruhi sehingga setiap individu akan menerima nilai-nilai dan

    mengadakan penyesuaian diri yang tepat agar mampu menyesuaikan diri

    dengan norma-norma sosial yang berlaku.

    2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

    Schneiders (1964), menyatakan bahwa penyesuaian diri memiliki

    beberapa faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian

    sosial, yaitu :

    a. Keadaan Fisik dan Jenis Kelamin

    Keadaan fisik sangat mempengaruhi penyesuaian seseorang.

    Adanya cacat fisik atau penyakit tertentu sering menjadi latar belakang

  • 14

    terjadinya hambatan-hambatan sosial. Matches dan Kahn (dalam

    Hurlock, 2000), mengatakan bahwa dalam interaksi sosial, penampilan

    fisik yang menarik merupakan potensi yang menguntungkan dan dapat

    dimanfaatkan untuk memperoleh berbagai hasil yang menyenangkan

    bagi pemiliknya. Salah satu keuntungan yang sering diperoleh ialah

    orang tersebut mudah berteman. Orang-orang yang menarik lebih

    mudah diterima dalam pergaulan dan dinilai lebih positif oleh orang

    lain dibandingkan orang yang kurang menarik. Karena banyak hal

    positif yang disebabkan oleh penampilan yang menarik ini, maka

    orang tersebut lebih mudah menyesuaikan diri dari pada yang kurang

    menarik.

    Lingkungan masyarakat memberikan stereotip tertentu pada jenis

    kelamin laki-laki dan perempuan yang menyebabkan terjadinya

    perbedaan status sosial. Dalam lingkungan sosial pada umumnya, laki-

    laki mendapat kebebasan lebih banyak. Laki-laki cenderung lebih

    bebas, lebih berkuasa, lebih berani menentang segala peraturan yang

    ada. Sebaliknya, perempuan lebih banyak terikat pada keluarga dan

    mempunyai kecenderungan lebih patuh dan menerima aturan yang

    berlaku. Perempuan juga lebih mudah menghayati perasaan orang lain

    dan merasa lebih senang bersama dan menciptakan hubungan yang erat

    dengan teman-temannya.

    b. Keadaan Lingkungan

    Menurut Hurlock (1999) menyatakan bahwa keadaan lingkungan

    yang baik, damai dan penuh penerimaan dan memberikan

  • 15

    perlindungan kepada anggota masyarakatnya merupakan lingkungan

    yang akan memperlancar proses penyesuaian individu.

    c. Tingkat Pendidikan dan Intelegensi

    Individu yang mempunyai tingkat pendidikan dan intelegensi yang

    tinggi cenderung dapat melakukan kemampuan komunikasi yang baik.

    Dan seseorang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik,

    biasanya diikuti dengan tingkat pendidikan dan intelegensi yang tinggi

    pula. Calvin (dalam Arifah, 2005) juga menyebutkan bahwa

    intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan

    lingkungan sosialnya.

    d. Kebudayaan dan Agama

    Kebudayaan secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pada

    pembentukan tingkah laku individu. Kebudayaan memudahkan atau

    bahkan menyulitkan penyesuaian individu. Individu yang dapat

    bertingkah laku sesuai dengan budaya yang berlaku akan mudah untuk

    menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Demikian halnya

    dengan agama, sebagai sarana untuk mengurangi konflik, frustasi, dan

    ketegangan psikis lainnya akan memberi rasa aman bagi individu

    dalam penyesuaiannya.

    e. Kondisi Psikologis

    Individu yang sehat dan matang secara psikologis akan dapat

    menyelaraskan dorongan-dorongan internalnya dengan tuntutan-

    tuntutan yang berasal dari lingkungan. Bahkan tidak hanya itu,

  • 16

    individu tersebut akan berusaha memenuhi tuntutan tersebut

    (Hurlock, 1999).

    Sedangkan menurut Daradjat (1986) mengungkapkan faktor-faktor

    yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah :

    a. Frustasi atau tekanan perasaan

    Frustasi atau tekanan perasaan adalah sutu proses yang

    menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap

    terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya atau menyangka bahwa akan

    terjadi sesuatu hal yang menghalangi keinginannya. Orang yang sehat

    mentalnya akan dapat menerima frustasi tersebut untuk sementara.

    Frustasi disebabkan oleh tanggapan terhadap situasi yang dipengaruhi

    oleh kepercayaan kepada diri sendiri dan kepercayaan terhadap

    lingkungan.

    b. Konflik atau pertentangan batin

    Konflik jiwa atau pertentangan batin adalah terdapatnya dua

    macam dorongan atau lebih yang berlawanan atau bertentangan satu

    sama lain, hal tersebut tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang

    sama. Konflik tersebut bisa berupa dua hal yang sama-sama diingini,

    yang pertama diingini dan yang kedua tidak diingini, dan dua hal yang

    sama-sama tidak diingini.

    c. Kecemasan

    Kecemasan adalah manifestasi dari berbagai proses emosi yang

    bercampur baur yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan

  • 17

    perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Rasa cemas bisa

    ditimbulkan dari melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam

    dirinya, berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk dan arena

    perasaan berdosa atau bersalah disebabkan telah melakukan hal-hal

    yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.

    Winarno dan Thomas (dalam Novirianti, 2006) mengatakan faktor-

    faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah faktor dari dalam

    individu dan faktor dari luar individu. Menurut Hilgar (dalam

    Novirianti, 2006) mengatakan bahwa berhasil atau tidaknya individu

    dalam mengadakan penyesuaian diri dipengaruhi oleh motif dan emosi

    individu yaitu keseimbangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan

    masalah yang dihadapi oleh individu. Cara untuk memahami

    perkembangan dan penyesuaian diri orang dewasa adalah dengan

    meneliti jalan yang dipilih orang tersebut saat menghadapi saat-saat

    yang penting dalam hidupnya.

    Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada 5 faktor

    penting yang mempengaruhi penyesuaian diri seseorang, yaitu keadaan

    fisik dan jenis kelamin, keadaan lingkungan, tingkat pendidikan dan

    intelegensi, kebudayaan dan agama, kondisi psikologis.

    3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri

    Hurlock (1999), menyatakan bahwa istilah penyesuaian mengacu

    pada seberapa jauh kepribadian seorang individu berfungsi secara efisien

    dalam masyarakat. Terdapat pola perilaku tertentu yang secara

  • 18

    karakteristik dikaitkan dengan individu yang berpenyesuaian baik dan pola

    yang dikaitkan dengan individu yang berpenyesuaian buruk. Selain factor-

    faktor yang dapat mendukung terjadinya penyesuaian diri pada individu

    secara umum, terdapat pula aspek lain yang menjadi penentu hasil dari

    proses ini sehingga dapat dilihat apakah individu tersebut mempunyai

    kemampuan penyesuaian diri yang baik atau sebaliknya.

    Schneiders (1964) mengungkapkan individu disebut mempunyai

    penyesuaian diri yang baik bila mempunyai keterampilan sosial dan

    kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain baik dengan orang

    sebaya maupun dengan orang yang belum dikenalnya. Lebih lanjut

    disebutkan bahwa ada beberapa aspek penting yang menjadi penentu

    keberhasilan individu dalam penyesuaian diri di lingkungannya, yaitu :

    a. Adaptation (Penyesuaian Diri)

    Penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan beradaptasi

    karena di dalamnya diartikan pada konotasi fisik, misalnya untuk

    menghindari ketidaknyamanan akibat cuaca yang tidak diharapkan,

    jadi seseorang membuat sesuatu untuk bernaung. Orang yang

    penyesuaian dirinya baik, berarti individu tersebut mempunyai

    hubungan yang memuaskan dengan lingkungannya.

    b. Conformity (Kecocokan)

    Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri

    yang baik jika mempunyai kriteria sosial dan hati nuraninya akan

    merasakan kenyamanan dalam berhubungan dengan individu lain di

  • 19

    lingkungan sosialnya karena adanya keserasian antara tuntutan dari

    luar dan kemampuan dari dalam diri individu tersebut.

    c. Mastery (Penguasaan)

    Kemampuan seseorang membuat rencana dan mengorganisasikan

    respon diri, sehingga dapat menguasai dan menanggapi segala hal

    masalah dengan efisien merupakan salah satu keberhasilan individu

    dalam menyesuaikan diri.

    d. Individual Variation (Perbedaan Individu)

    Adanya perbedaan individual dan respon manusia dalam

    menanggapi masalah sehingga mengakibatkan tidak semua individu

    mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan yang sama walaupun

    latar belakang sosial ekonomi sama.

    Hurlock (1999) menyebutkan individu yang mempunyai

    penyesuaian baik memiliki semacam harmoni dalam, artinya individu

    tersebut merasa puas dengan dirinya walaupun kadangkala terdapat

    kekecewaan namun individu tersebut bisa memodifikasi agar seimbang.

    Setidaknya ada 20 aspek penting yang menandakan seseorang memiliki

    penyesuaian diri yang baik di lingkungan, yaitu :

    a. Mampu dan bersedia menerima tanggung jawab yang sesuai usia

    b. Berpartisipasi dengan gembira dalam kegiatan sesuai tingkat usia

    c. Bersedia menerima tanggung jawab yang berhubungan dengan

    perannya

    d. Segera menangani masalah yang menuntut penyelesaian

  • 20

    e. Senang memecahkan dan mengatasi berbagai hambatan yang

    mengancam kebahagiaan

    f. Mengambil keputusan dengan senang tanpa konflik dan tanpa banyak

    minta nasehat

    g. Tetap pada pilihannya sampai diyakinkan bahwa pilihannya itu salah

    h. Lebih banyak memperoleh kepuasan daripada prestasi yang nyata

    dibandingkan prestasi yang imajiner

    i. Dapat menggunakan pikiran sebagai alat untuk merencanakan cetak

    biru tindakan bukan sebagai akal untuk menunda atau menghindari

    tindakan

    j. Belajar dari kegagalan dan tidak mencari-cari alasan menutupi

    kesalahan

    k. Tidak membesar-besarkan keberhasilan atau menerapkannya pada

    bidang yang tidak berkaitan

    l. Mengetahui bagaimana pembagian waktu antara bekerja dan bermain

    m. Dapat mengatakan Tidak dalam situasi yang membahayakan

    n. Dapat mengatakan Ya dalam situasi yang menguntungkan

    o. Dapat menunjukan amarah secara langsung bila tersinggung atau bila

    hak-haknya dilanggar

    p. Dapat menunjukan kasih sayang secara langsung dengan cara dan

    takaran yang sesuai

    q. Dapat berkompromi bila menghadapi kesulitan

    r. Dapat menahan sakit dan frustasi emosional jika perlu

  • 21

    s. Dapat memusatkan energi pada tujuan yang penting

    t. Menerima kenyataan bahwa hidup adalah perjuangan yang tak

    berakhir.

    Menurut uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa

    penyesuaian dari dalam individu meliputi beberapa sikap pribadi individu

    seperti adanya penerimaan diri terhadap dirinya, mempunyai perasaan /

    afeksi yang harmonis dan seimbang, memiliki kepribadian yang matang

    dan terintegrasi, dapat mengendalikan luapan emosi, berpegang teguh pada

    pendirian, berpikir menggunakan rasio, mempunyai spontanitas yang

    bagus dalam mengungkapkan perasaannya, sanggup mengatasi

    permasalahan dengan baik dan dapat berkomunikasi secara efektif dengan

    berbagai lapisan masyarakat. Sedangkan penyesuaian dari luar individu

    meliputi kemampuan individu dalam menangani masalah yang menuntut

    penyelesaian secara efisien, berpartisipasi dalam kelompok dengan latar

    belakang yang berbeda, selain itu juga memiliki keterampilan, kebiasaan

    dan kelincahan yang baik sehingga dapat membentuk dan menjaga

    hubungan baik dalam masyarakat, keluarga maupun kelompok tertentu

    B. Nikah Sirri

    1. Pengertian Nikah Sirri

    Nikah sirri adalah pernikahan yang dilakukan oleh wali pihak

    perempuan dengan seorang laki-laki dan disaksikan oleh dua orang saksi,

    tetapi tidak dilaporkan atau tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama

  • 22

    (KUA). Pernikahan sirri yang menjadi praktik umum di masyarakat

    memudahkan laki-laki berpoligami tanpa melalui prosedur yang

    disyaratkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan,

    padahal Undang-Undang ini pada prinsipnya menganut asas monogami.

    Asas perkawinan ini dalam hukum Islam juga menganut asas

    monogami. Ketentuan ini terdapat dalam Al Quran Surat An-Nisaa ayat 3

    : jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri

    kamu itu, seyogyanyalah kamu mengawini seorang perempuan saja, yang

    demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

    Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa walaupun seorang laki-

    laki diperbolehkan mengawini wanita lebih dari seorang, tapi seandainya

    tidak dapat memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, sebaiknya menikah

    dengan satu perempuan saja. Perkawinan lebih dari satu dianggap sebagai

    suatu perkecualian.

    Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa nikah sirri sah

    bila dihadirkan wali pihak perempuan dan juga dua orang saksi, namun

    tidak dilaporkan atau dicatat dalam Kantor Urusan Agama (KUA).

    Pernikahan sirri seringkali dilakukan untuk memudahkan laki-laki

    berpoligami yang kurang sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam

    Undang-Undang Perkawinan. Namun dalam agama Islam sendiri,

    poligami memang dibolehkan asal memenuhi syarat-syarat yang telah

    ditentukan, dan seandainya tidak mampu, maka lebih baik tidak usah

    berpoligami.

  • 23

    2. Dampak Nikah Sirri

    Nikah sirri mempunyai dampak positif dan negatif, yaitu antara lain :

    a. Dampak Positif

    1) Dapat meminimalisir adanya sex bebas, serta berkembangnya

    penyakit AIDS, HIV, maupun penyakit kelamin yang lainnya

    2) Mengurangi beban atau tanggung jawab seorang wanita yang

    menjadi tulang punggung keluarganya.

    b. Dampak Negatif

    1) Pernikahan sirri tidak memiliki kekuatan hukum dan dianggap

    tidak sah di mata hukum sehingga istri yang dinikahi secara sirri

    dianggap tidak sah di mata hukum

    2) Istri dan anak dari pernikahan sirri tidak berhak atas nafkah dan

    warisan dari suami jika meninggal nanti.

    3) Istri dari pernikahan sirri tidak berhak atas harta gono-gini jika

    terjadi perpisahan, karena secara hukum, pernikahan sirri dianggap

    tidak sah dan tidak pernah terjadi

    4) Kerugian dalam aspek sosial yang harus ditanggung oleh wanita

    yang terikat dengan nikah sirri adalah sulitnya bersosialisasi

    dengan masyarakat sekitar. Biasanya wanita yang tinggal serumah

    dengan suami dari nikah sirri akan dianggap kumpul kebo atau

    dianggap sebagai wanita simpanan. Wanita tersebut akan menjadi

    buah bibir di lingkungan tempat tinggalnya.

  • 24

    5) Kerugian yang harus ditanggung anak adalah akan dianggap

    sebagai anak yang tidak sah, dan pada akhirnya anak tersebut

    hanya akan memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga

    ibunya saja. Secara hukum, anak tersebut tidak memiliki hubungan

    dengan sang ayah. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang

    Perkawinan Pasal 42 dan 43 ayat 1 :

    Pasal 42: Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan

    dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah

    Pasal 43 ayat (1): Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya

    mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga

    ibunya.

    Akte kelahiran anakpun hanya akan dicantumkan nama ibunya

    saja, nama ayahnya tidak ada. Selain itu, status anakpun akan

    tertulis sebagai anak di luar nikah. Hal ini banyak sekali

    mengakibatkan melekatnya cap negatif masyarakat terhadap anak

    tersebut.

    6) Status anak yang tidak jelas di mata hukum tentu saja akan

    menimbulkan lemahnya hubungan anak dengan ayahnya. Dan

    seandainya ayahnya tidak mengakui bahwa anak itu bukan anak

    kandungnya, maka anak tidak akan memiliki kekuatan apa-apa

    yang dapat digunakan untuk melakukan pembelaan atau gugatan.

    (www.eramuslim.com/konsultasi/motivasi/nikahsirri).

  • 25

    Menikah sirri biasanya dilakukan untuk menikah kedua dan

    seterusnya, karena untuk meminta izin kepada istri sebelumnya sangat

    sulit. Sedangkan untuk berpoligami sulit untuk ditempuh.

    Dari pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa nikah

    sirri memiliki beberapa dampak negatif, diantaranya orang yang

    melakukan nikah sirri tidak memiliki kekuatan hukum, dan kerugian

    banyak ditanggung oleh istri dan anaknya mengenai statusnya, masa

    depan, warisan, dan status sosial. Namun diantara sekian banyak

    dampak negatif, nikah sirri juga memiliki dampak yang positif, yaitu

    dapat meminimalisir adanya sex bebas, yang akan menimbulkan

    penyakit kelamin. Jadi, sebaiknya melihat dulu apa yang melatar

    belakangi nikah sirri tersebut sehingga tidak semena-mena

    memberikan penilaian negatif, karena bagaimanapun juga nikah sirri

    adalah perjanjian suci yang dibolehkan Allah, jadi seandainya ada

    penyimpangan fungsi, maka itu mutlak kesalahan individu yang

    menjalani.

    3. Syarat dan Rukun Perkawinan / Perkawinan Sirri Menurut

    Hukum Islam

    Syarat dan Rukun Perkawinan menurut hukum Islam :

    a. Harus ada calon pengantin laki-laki dan calon perempuan yang akil

    baligh

    b. Adanya persetujuan yang bebas antara kedua calon pengentin

    tersebut

    c. Ada wali nikah bagi calon pengantin perempuan

  • 26

    d. Ada 2 orang saksi laki-laki muslim yang adil

    e. Adanya mahar dari laki-laki untuk perempuan

    f. Ijab qabul

    g. Walimah

    Syarat dan rukun perkawinan sirri sama dengan yang ada dalam

    perkawinan resmi, perbedaannya jika perkawinan resmi tercatat di

    KUA, nikah sirri tidak dicatatkan di KUA. Jadi, bila pernikahan sudah

    mencakup syarat-syarat tersebut, maka pernikahan sudah dikatakan sah

    menurut agama.

    Namun pengumuman dan pendaftaran itu penting dan perlu

    untuk menghindari akibat hukum yang timbul dari perkawinan sirri/

    perkawinan bawah tangan itu dalam hubungannya dengan pihak

    ketiga, misalnya tentang sahnya anak, wali nikah, waris mal waris.

    Bahwa pengumuman dan pendaftaran itu penting bagi kemaslahatan

    kedua belah pihak dan kepastian hukum bagi masyarakat, demikian

    juga baik suami maupun istri tidak demikian saja dapat mengingkari

    perjanjian perkawinan tersebut, dan tidak dengan mudah menjatuhkan

    talaq, sesuai dengan analogi (qias) Al-Quran, apalagi bila

    dihubungkan dengan Undang-Undang no.22 tahun 1946, Undang-

    Undang no.32 tahun 1954, pasal 2 Undang-Undang no.1 tahun 1974,

    yang merupakan ijma sebagian besar ulama Islam, dan demi

    kemaslahatan umat Islam sendiri patutlah, bahkan wajib untuk ditaati

    (Ramulyo, 2000)

  • 27

    Adakalanya akibat negatif yang harus diderita oleh hanya salah

    satu pihak, dalam hal ini adalah istri beserta anaknya, disebabkan oleh

    penerapan suatu peraturan seperti yang ditawarkan pihak laki-laki,

    itulah yang dimaksud dengan penerapan hukum yang kosong dari

    sasarannya bahkan berakibat sebaliknya dari suatu hukum. Setiap

    bentuk hukum dirumuskan dengan pertimbangan adanya manfaat yang

    akan diraih oleh pihak-pihak yang menerapkannya atau adanya

    mudharat yang akan dihilangkan (Zein, 2004).

    Dari uraian di atas, dapat diberi kesimpulan bahwa pernikahan

    sirri sah secara agama bila memenuhi syarat yang telah ditentukan.

    Namun pendaftaran dan pengumuman itu sangatlah penting untuk

    kemaslahatan kehidupan rumah tangga nantinya. Karena jika tidak

    demikian, akan banyak hal yang memungkinkan akan merugikan salah

    satu pihak, karena itu patut bahkan wajib untuk ditaati. Hal ini

    dikarenakan memungkinkan adanya pihak-pihak tertentu yang

    dirugikan.

    C. Penyesuaian Diri Istri Yang Dinikahi Secara Sirri Pada Perkawinan

    Poligami

    Penyesuaian diri manusia dalam kelompok berperan sesuai dengan

    jenis kelaminnya merupakan bagian normal dalam proses perkembangan

    sehingga tidak seorangpun menganggapnya sebagai masalah. Akibat dari

    proses tersebut terbentuklah stereotip jenis kelamin yang secara tidak

  • 28

    langsung disetujui oleh anggota kedua jenis kelamin dalam suatu

    lingkungan, bergantung pada apa saja yang dihargai untuk lingkungan

    tersebut (Hurlock, 1999).

    Lingkungan masyarakat memberikan stereotip tertentu pada jenis

    kelamin laki-laki dan perempuan yang menyebabkan terjadinya perbedaan

    status sosial. Dalam lingkungan sosial pada umumnya, laki-laki mendapat

    kebebasan lebih banyak. Laki-laki cenderung lebih bebas, lebih berkuasa,

    lebih berani menentang segala peraturan yang ada. Sebaliknya, perempuan

    lebih banyak terikat pada keluarga dan mempunyai kecenderungan lebih

    patuh dan menerima aturan yang berlaku. Perempuan juga lebih mudah

    menghayati perasaan orang lain dan merasa lebih senang bersama dan

    menciptakan hubungan yang erat dengan teman-temannya.

    Salah satu dampak negatif dari nikah sirri adalah kerugian dalam

    aspek sosial yang harus ditanggung oleh wanita yang terikat dengan nikah

    sirri adalah sulitnya bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Biasanya

    wanita yang tinggal serumah dengan suami dari nikah sirri akan dianggap

    kumpul kebo atau dianggap sebagai waniota simpanan. Wanita

    tersebut akan menjadi buah bibir di lingkungan tempat tinggalnya.

    (www.eramuslim.com/konsultasi/motivasi/nikahsirri).

    Adakalanya akibat negatif yang harus diderita oleh hanya salah

    satu pihak, dalam hal ini adalah istri beserta anaknya, disebabkan oleh

    penerapan suatu peraturan seperti yang ditawarkan pihak laki-laki, itulah

    yang dimaksud dengan penerapan hukum yang kosong dari sasarannya

  • 29

    bahkan berakibat sebaliknya dari suatu hukum. Setiap bentuk hukum

    dirumuskan dengan pertimbangan adanya manfaat yang akan diraih oleh

    pihak-pihak yang menerapkannya atau adanya mudharat yang akan

    dihilangkan (Zein, 2004).

    Banyak istri yang sangat menderita dan tidak bahagia dalam

    perkawinannya yang disebabkan oleh ketidaksiapan dan kurangnya

    kemampuan istri tersebut memainkan beberapa peranan yang berbeda-

    beda dalam status perkawinan. Kemampuan tersebut tidak hanya

    diperlukan dalam kondisi perkawinan saja, akan tetapi berlaku juga pada

    setiap kondisi kehidupan manusia. Oleh karena itu, agar istri tersebut

    mampu melakukan berbagai macam peranannya, maka diperlukan

    kedewasaan psikis yaitu memiliki emosi yang stabil, bisa mandiri,

    menyadari tanggung jawab, terintegrasi segenap komponen kejiwaan,

    mempunyai tujuan dan arah hidup yang jelas, serta produktif-kreatif dan

    etis-religius. (Kartono, 1992)

    Oleh karena itu seorang istri yang dinikahi secara sirri harus

    mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik agar mampu

    menciptakan keselarasan dan keseimbangan dalam hidupnya. Seorang istri

    yang dinikahi secara sirri juga mendapatkan hak yang tidak sepenuhnya,

    karena seorang suami harus membagi dengan istri yang lainnya. Keadilan

    yang dimaksud adalah keadilan dalam waktu dan giliran saja. Tepatnya,

    ketika seorang suami datang kepada salah seorang istrinya dan adil dalam

    pembagian standar hidup, tidak menelantarkan yang satu dan memberikan

  • 30

    secara berlebihan kepada yang lain. Akan tetapi keadilan dalam cinta

    adalah sebuah hal yang mustahil dilakukan, karena hal tersebut di luar

    kemampuan manusia. Quran Surat Al-Ahzaab : 4 : Allah sekali-kali

    tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya. (As-

    Syarawi, 2005).

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa istri yang dinikahi

    secara sirri akan mengalami akibat negatif dari pernikahannya, sehingga

    istri tersebut harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan

    peran yang dijalaninya. Kedewasaan psikis sangat diperlukan dalam

    kondisi perkawinannya.

  • 31

    D. Kerangka Berpikir

    Perempuan dinikahi secara sirri memiliki alasan yang berbeda-beda.

    Setelah terjadi perkawinan sirri, istri ini akan menghadapi berbagai permasalahan

    yang menyangkut kehidupannya. Dan istri yang dinikahi secara sirri itu akan

    berusaha melakukan cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Kemudian

    istri sirri ini membutuhkan penyesuaian diri untuk mengatasi masalah-

    masalahnya.

    Cara mengatasi masalah

    Penyesuaian diri yang dilakukan istri yang dinikahi secara sirri

    Alasan kenapa bersedia menjadi istri yang dinikahi secara sirri

    Cara mengamati masalah