Buletin BSNP Edisi 2 Tahun 2016

  • View
    221

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Buletin BSNP Edisi 2 Tahun 2016

  • Penanggungjawab: Zainal A. Hasibuan

    Pemimpin Redaksi: Bambang Suryadi

    Redaksi Eksekutif:Kiki Yuliati

    Nanang Arif GuntoroZaki SuudKhomsiyah

    Redaksi Pelaksana: Teuku Ramli Zakaria

    Penyunting/Editor:Titi Savitri Prihatiningsih

    Erika Budiarti LaconiIpung Yuwono

    Djoko Luknanto

    Desain Grafis & FotograferArief Rifai Dwiyanto

    Ibar Warsita

    Sekretaris RedaksiNing Karningsih

    Alamat: BADAN STANDAR NASIONAL

    PENDIDIKAN

    Gedung D Lantai 2, Mandikdasmen

    Jl. RS. Fatmawati, CipeteJakarta Selatan

    Telp. (021) 7668590 Fax. (021) 7668591

    Email: info@bsnp-indonesia.orgWebsite: http://www.bsnp-indonesia.org

    Vol. XI/No. 2/Juni 20162

    Keterangan Gambar Cover

    Laporan Kunjungan Kerja ke Australia (Bagian ketiga/terakhir)

    Daftar Isi

    Pengantar Redaksi

    3-8

    13-23 Berita BSNP:- BSNP dan Balitbang Lakukan Harmonisasi Empat Standar

    Acuan Revisi Kurikulum 2013- Tantangan Lembaga Kursus dan Pelatihan ke Depan Lebih

    Berat; Pengembangan Standar Sarana dan Prasarana Lembaga Kursus dan Pelatihan

    - Anies Baswedan Serahkan Hasil UN SMA Sederajat ke Panitia SNMPTN di Bandung: Peningkatan Mutu dan Kredibilitas UN Terus Dilakukan

    - Kepala Balitbang Serahkan Hasil UN SMP ke Dinas Pendidikan Provinsi, Komisi X DPR-RI Apresiasi Pelaksanaan UN 2016

    - BSNP Berpartisipasi dalam Acara Harmoni Bersama Masyarakat; Warga Antusias dan Puas Mendapat Informasi dan Layanan Pendidikan dan Kebudayaan

    - Penilaian Buku Teks Pelajaran SMA/MA Kelompok Peminatan; 198 Buku Lolos dan 25 Tidak Lolos Penilaian- Penilaian Buku Matematika dan PJOK Kelas IV SD; Ketua

    BSNP: Buku Berkualitas Melahirkan Peserta Didik Berkualitas- Pendaftaran Uian Nasional Perbaikan SMA Sederajat Telah

    Dibuka Mulai 1 Juni 2016- Kabalitbang : Laksanakan UNBK Secara Alami, Jangan

    Paksakan Diri!

    Lensa BSNP24-27

    Alhamdulillah, di tengah-tengah menjalankan ibadah pua-sa Ramadhan, kami bisa menghadirkan Buletin BSNP Edisi Kedua tahun 2016 ke tangan pembaca. Pada edisi kedua ini kami sajikan laporan bagian ketiga (terakhir) dari kunjungan kerja ang-gota BSNP ke Australia untuk melihat lebih dekat tentang sistem penilaian, kurikulum, dan pendidikan vokasi. Kami juga menyaji-kan 10 kebijakan Wali Kota Surabaya dalam mengimplementasi-kan Kurikulum 2013. Selain itu, ulasan tentang pelaksanaan Ujian Nasional juga kami jadikan kado istimewa buat pembaca. Tidak kalah pentingnya adalah informasi tentang penilaian buku teks pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan (PJOK) kelas IV SD/MI.

    Atas nama pengelola Buletin BSNP, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin.

    Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berfoto bersama siswi Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta pada hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional SMP sederajat (12/5/2016/foto atas). Kiki Yuliati anggota BSNP (kanan) menyerahkan cinderamata kepada mahasiswa program doktor dan dosen dari Michigan State University seusai dialog tentang sistem pendidikan nasional di BSNP (12/5/2016/foto bawah)

    9-10 Kuliah Umum Pendidikan Sains- Profesor Bruce Alberts: Generasi Masa Depan Perlu

    Memiliki Pola Pikir Ilmiah- Anies Baswedan: Mari Kita Tumbuhkan Tradisi Ilmiah10 Kebijakan Walikota Surabaya Untuk Implementasi Kurikulum 2013; BSNP Siap Memfasilitasi Forum Berbagi Pengalaman

    11-12

  • Vol. XI/No. 2/Juni 2016 3

    Bambang Suryadi*

    LAPORAN KUNJUNGAN KERJA KE AUSTRALIA

    Bagian Ketiga (Terakhir)

    * Anggota BSNP dan dosen

    Fakultas Psikologi

    UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta

    1. ACARA

    a. LembagaACARA merupakan sebuah badan

    nasional yang bertanggungjawab dalam mengembangkan dan menerapkan kuri-kulum nasional dan melaksanakan asesmen nasional. Di Indonesia ACARA ini seperti Badan Pengembangan dan Penelitian (Balitbang) yang menangani kurikulum dan penilaian pendidikan.

    SelainMelbourne dan Canberra, salah satu negara bagian yang menjadi tar-get kunjungan delegasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah

    negara bagian Sydney. Selama di Sydney (17-18/9/2015), rombongan melakukan kunjungan kerja ke dua

    lembaga yaitu Australian Curriculum, Assessment, and Reporting Authority

    (ACARA) dan Board of Studies Teaching and Educational Standards

    (BOSTER). Berikut ini catatan hasil kun-jungan di dua lembaga tersebut.

    Kantor ACARA berada di Level 10, 255 Pitt Street, Sydney NSW 2000. Website: www.acara.edu.au.

    Dalam pertemuan yang berlangsung tiga jam, rombongan mendapat penjela-san dari Robert Randall CEO ACARA dan Dr. Stanley Rabinowitz General Manager, Assessment and Reporting.

    Selain ACARA, di Australia juga ada badan yang menangani peningkatan kualitas guru, yaitu Australian Institute for Teaching and School Leadership Limited (AITSL). Lembaga ini memiliki tanggungjawab mengembangkan stan-dar guru dan kepemimpinan kepala sekolah.

    Terkait dengan pelayanan pendi-dikan, Australia memiliki badan yang disebut dengan Education Services Australia (ESA).

    Menarik untuk dicatat, antara ACARA, AITSL, dan ESA ada koordinasi dan kerjasama yang baik, sehingga ke-bijakan yang telah dibuat, dalam imple-mentasinya, mendapat dukungan dari semua pihak dan berhasil diterapkan.

    b. Isu yang dibahas Ada dua isu penting yang dibahas di

    ACARA, yaitu kurikulum dan asesmen.

    Rombongan memanfaatkan

    waktu untuk berfoto bersama di ruang

    tamu ACARA, sebelum diskusi dimulai.

    Dari kiri ke kanan, Bambang Suryadi, Anindito Aditomo,

    Sarah Lendon, Nizam, Doni Koesoema

    Albertus, dan Suprananto. Dadang

    Sudiyarto, tidak nampak di gambar.

  • Vol. XI/No. 2/Juni 20164

    Gambar 1: Struktur Kurikulum Australia F-10

    Bagian yang paling menarik dari kuri-kulum adalah konsep kurikulum yang mensinergikan antara tiga aspek, yaitu (1) kemampuan umum (general capabil-ities) yang harus dicapai siswa, (2) mata pelajaran atau learning areas yang ha-rus dipelajari siswa, dan (3) cross-curric-ulum priorities.

    Hubungan antar ketiga aspek terse-but diilustrasikan dalam gambar di atas.

    Delapan mata pelajaran (learning areas) yang diajarkan memberikan kon-tribusi kepada dua aspek lainnya, yai-tu 7 general capabilities dan 3 cross-curriculum priorities. Ada ukurannya tersendiri, sekian persen kontribusi dari masing-masing pelajaran terhadap dua aspek tersebut.

    Penting untuk dicatat, khusus un-tuk mata pelajaran bahasa Inggris, Matematika, dan Sains, tidak dituntut untuk memberikan kontribusi kepada cross-curriculum priorities. Sedangkan mata pelajaran lainnya, tetap memberi-kan kontribusi dengan porsi tersendiri.

    Mulai tahun 2015, siswa dari negara bagian mana saja memiliki kesempatan untuk menerima isi kurikulum nasional dan prestasi mereka bisa diukur den-gan alat ukur yang baku (standardized test).

    Bagian yang menarik dari asesmen adalah adanya minimum standards and Common Scale, seperti yang dipaparkan dalam gambar 1 di atas.

    Keterangan:1. Secara nasional ada 10 band yang

    menggambarkan pencapaian (capa-

    bilities) siswa. 2. Pada tahun tertentu, ada 6 band

    yang harus dicapai siswa. 3. Siswa tahun 3, harus mencapai band

    1-6. Band 1 artinya, siswa berada di bawah standar nasional minimal. Band 2 artinya, siswa berada pada standar nasional minimal. Band 3-6 artinya, siswa berada di atas standar nasional minimal.

    4. Siswa tahun 5, harus mencapai band 3-8. Band 3 artinya, siswa berada di bawah standar nasional minimal. Band 4 artinya, siswa berada pada standar nasional minimal. Band 5-8 artinya, siswa berada di atas standar nasional minimal.

    5. Siswa tahun 7, harus mencapai band 4-9. Band 4 artinya, siswa berada di bawah standar nasional minimal. Band 5 artinya, siswa berada pada standar nasional minimal. Band 6-9 artinya, siswa berada di atas standar

  • Vol. XI/No. 2/Juni 2016 5

    nasional minimal.6. Siswa tahun 9, harus mencapai band

    5-10. Band 5 artinya, siswa berada di bawah standar nasional minimal. Band 6 artinya, siswa berada pada standar nasional minimal. Band 7-10 artinya, siswa berada di atas standar nasional minimal.

    7. Siswa yang belum mencapai stan-dar nasional minimal, mendapat in-tervensi dari pihak guru (sekolah) sampai siswa yang bersangkutan mencapai standar nasional minimal, bahkan melebihi.

    2. BOSTES

    a. Lembaga Selain ke ACARA, rombongan juga

    mengunjungi Board of Studies Teaching

    negara bagian yang mengimplementa-sikan kebijakan nasional yang dibuat oleh ACARA. Penjelasan tentang kuriku-lum disampaikan oleh Howard Kennedy Director Curriculum and Assessment Standards. Sedangkan Chris Thompson Project Manager, Literacy and Numeracy menjelaskan tentang asesmen dan NAPLAN.

    b. Isu-Isu yang dibahas1) Standard Setting Dalam menentukan standard set-

    ting ada dua langkah yang dilaku-kan oleh BOSTES. Pertama, judg-es (experienced markers) work through the examination and look at student responses to di-termine what they think are cut-scores at each band level. Kedua,

    and Educational Standards (BOSTES), yaitu sebuah badan yang bertanggung-jawab menangani kurikulum, asesmen, dan standar pengajaran untuk sekeo-lah-sekolah di Negara Bagian New Short Wales.

    BOSTES merupakan badan di tingkat

    Robert Randall (tengah) Chief

    Executive Officer ACARA,

    didampingi Dr. Stanley

    Rabinowits (deret kanan, paling

    kiri) menerima rombongan

    untuk bertukar pengajaran

    tentang kurikulum dan asesmen.

    Consultative Committee reviews the judges recommendation and determines the actual cut-scores.

    2) Soal asesmen terdiri atas pilihan ganda (40%), short answer (40%