Pengaruh Narkotika Terhadap Susunan Saraf Pusat

  • Published on
    06-Jul-2015

  • View
    197

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

Pembimbing: Dr. Untung Gunarto, Sp.S

LATAR BELAKANG DEFINISI

EPIDEMIOLOGI

zat atau obat dari tanaman atau bukan sintetis maupun semisintetis menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan ketergantungan(Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997)

masalah medis dan sosial: (2004) penyalahgunaan meningkat rata-rata 28,9% Pertahun tindak kejahatan narkoba meningkat 28,6% pertahun penyalahguna narkoba yang teratur pakai dan pecandu di Indonesia 3,2 juta dengan kisaran 2,9 sampai 3,6 juta orang 80% pasien berusia antara 16-24 tahun. Angka kematian pecandu 1,5% per tahun

Jenis NarkotikaUndangUndang RI Nomor 22 tahun 1997Golongan I Golongan II Golongan III

Berdasarkan potensi farmakoterapetiknya

Berpotensi tinggi Berpotensi sedang Berpotensi ringan

ReseptorMu ( ) (agonist morphine)

Peptida Endogenendorphin

Kappa ( ) (agonist ketocyclazocine)

enkephalin

Delta ( ) (agonist delta-alaninedelta-leucineenkephalin)

dynorphin

y Secara umum mekanisme dari opioid adalah sebagai

berikut 5: 1. Menghambat Adenilyl cyclase 2. Pada neuron post sinaps :meningkatkan pengeluaran ion K+ dan menyebabkan hiperpolarisasi post sinaps . 3. Pada bagian pre sinaps : mengurangi uptake Ca2+ sehingga menghambat pelepasan neurotransmiter seperti senyawa P, acetylcholine, norepinefrin, glutamat, dan serotonin. 4. Opioid menghasilkan efek depresan dan efek stimulan yang sangat spesifik dengan bertindak di lokasi yang berlainan di Susunan saraf pusat. 5. Mekanisme neuron tersering adalah inhibisi .

1.

Efek Analgesia:Efek analgetik morfin dan opioid lain sangat selektif lebih banyak pada komponen afektif dibandingkan dengan pengaruhnya terhadap ambang nyeri Efek analgetik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme. (1) morfin meninggikan ambang rangsang nyeri. (2) morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya, morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri dari talamus. (3) morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.

y

y

y

2. Efek Terhadap Sistem Limbik y Sistem limbik mengandung reseptor opoid dalam jumlah besar, sistem ini antara lain berperan dalam timbulnya rasa nyeri menetap dan kronik3. Efek Terhadap Mood (Suasana Hati) y Morfin dosis kecil (5-10 mg) menimbulkan euforia pada

penderita yang sedang menderita nyeri, sedih, dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai mual dan muntah4. Perubahan EEG y Pemberian morfin menyebabkan gambaran frekuensi lambat

dan voltase tinggi, yang mirip dengan gambaran EEG saat tidur atau pada pemberian barbiturat dosis rendah

5. Efek Terhadap Sistem Serotonin y pemberian 5HT intraventrikel (otak) mempotensiasi efek analgesik morfin, inhibisi produksi 5HT efek analgesia berurang dan berkurangnya kemungkinan dependensi dan toleransi 6. Efek Terhadap Sistem Noradrenergik y aktivasi sistem noradrenergik (A2) menghambat sensasi nyeri dan memberikan efek sinergi terhadap analgesik oleh opioid (mu reseptor). 7. Efek Terhadap Sistem Dopamin y Metabolisme dopamin di otak distimulasi oleh narkotika; menyebabkan peningkatan turn over dopamin

8. Efek Terhadap Aksis Hipotalamus-Hipofisis 6y penurunan sekresi ACTH, menekan sekresi TSH,

meningkat kan Sekresi GH , menstimulasi sekresi ADH 9. Efek Terhadap Respirasi y menimbulkan depresi napas secara primer dan bersinambung berdasarkan efek langsung terhadap pusat napas di batang otak y mengurangi sensitivitas kemoreseptor terhadap peningkatan kadar C02 10. Mual Dan Muntah y Efek emetin morfin terjadi berdasarkan stimulasi langsung pada emetic chemoreceptor trigger zone di area postrema medula oblongata, bukan oleh stimulasi pusat emetik sendiri

11. Miosis y Miosis ditimbulkan akibat stimulasi pada nukleus Edinger Westphal pada segmen otonom inti saraf okulomotor 12. Eksitasi y Morfin dan opioid lain sering menimbulkan mual dan muntah, sedangkan delirium dan konvulsi lebih jarang timbul

yIntoksikasi yToleransi yWithdrawal yAddiksi

Gejala putus obat: 1. 6 12 jam , lakrimasi, rhinorrhea, bertingkat, sering menguap, gelisah 2. 12 - 24 jam, tidur gelisah, iritabel, tremor, pupil dilatasi (midriasi), anoreksia 3. 24-72 jam, semua gejala diatas intensitasnya bertambah :depresi, nausea, vornitus, diare, kram perut, nyeri pada otot dan tulang, kedinginan dan kepanasan yang bergantian, peningkatan tekanan darah dan denyut jantung,gerakan involunter dari lengan dan tungkai, dehidrasi dan gangguan elektrolit 4. gejala hiperaktivitas otonom mulai berkurang secara berangsurangsur dalam 7-10 hari, tetapi penderita masih tergantung kuat pada obat. Beberapa gejala ringan masih dapat terdeteksi dalam 6 bulan. Pada bayi dengan ibu pecandu obat akan terjadi keterlambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan yang dapat terdeteksi setelah usia 1 tahun Back

1.

Metadon merupakan drug of choice dalam terapi detoksifikasi adiksi opioid. Dosis metadon yang dianjurkan untuk terapi detoksifikasi heroin (morfin) adalah 2-3 x 5-10 mg perhari peroral. Setelah 2-3 hari stabil dosis mulai ditappering off dalam 1-3 minggu. 2. Buprenorphine dosis rendah (1,5-5 mg sublingual setiap 2-3 x seminggu) dilaporkan lebih efektif dan efek withdrawl lebih ringan dibandingkan metadone. 3. Terapi alternatif lain yang disarankan adalah rapid detoxification yang mempersingkat waktu terapi deteksifikasi dan memudahkan pasien untuk segera masuk dalam terapi opoid antagonis. Jenis teknik rapid deteksifikasi antara lain klinidin naltrexon.

Back

y Metadon dan Levo alfa acetyl;methadol (LAAM)

merupakan standar terapi rumatan adiksi opioid. Metadon diberikan setiap hari, sedangkan LAAM hanya 3 kali seminggu. Pemberian metadon dan LAAM pada terapi rumatan sangat membantu menekan prilaku kriminal. Untuk terapi maintenance, dosis metadon dapat ditingkatkan (biasanya 40-100 mg/hari). Untuk menjaga pasien tetap menyenangkan dan diturunkan secara perlahan-lahan.Back