of 16 /16
Nama : Joko Adhi Prasetyo NPM : 10501162 Fakultas : Psikologi Tgl. Sidang : 17 Februari 2007 Judul Skripsi : Penyesuaian Diri dalam Perkawinan Pada Wanita Suku Batak yang Menikah dengan Pria Suku Jawa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya suku bangsa di Indonesia yang mendiami berbagai pulau yang ada. Mereka tersebar di Kepulauan Nusantara yang berjumlah sekitar 13.677 pulau. Mereka dikelompokkan pada sekitar 300 suku bangsa atau kelompok etnis dengan menggunakan bahasa komunikasi yang berbeda-beda yang jumlahnya lebih dari 250 bahasa. Semua dengan segala aneka warna kebudayaan sendiri-sendiri yang masing-masing dapat dibedakan. Indonesia sebagai negara yang multi-etnik dengan derajat keberagaman yang tinggi mempunyai peluang yang besar dalam berlangsungnya perkawinan antar-etnik atau beda budaya. Salah satu dampak dari bertemunya individu-individu dengan berbagai latar belakang etnik adalah memungkinkan terjadinya perkawinan antar etnik atau beda budaya. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan dalam hubungan antar kelompok etnik, dimana ada sekelompok individu yang ingin mempertahankan identitas kelompoknya namun ada juga individu yang memilih untuk melakukan integrasi sosial yang lebih luas, misalnya melalui perkawinan antar etnik atau beda budaya. Perkawinan antar etnik atau beda budaya adalah perkawinan antar individu dari kelompok etnik yang berbeda dan dengan latar belakang budaya yang berbeda pula. Perbedaan budaya yang dimaksud berkaitan dengan nilai-nilai, keyakinan, adat istiadat, tradisi, dan gaya hidup. Melalui perkawinan campur, individu dari latar belakang etnik yang berbeda dapat saling membantu dalam memperkenalkan tradisi yang berlangsung dalam kelompok etniknya (Duvall & Miller 1985). Jika seorang wanita suku Batak menikah dengan pria suku Jawa, maka disamping menghadapi penyesuaian perkawinan ia juga harus menghadapi perbedaan-perbedaan karena menyatunya dua suku yang berbeda. Perbedaan ini memungkinkan terjadinya benturan-benturan karena perbedaan nilai, sikap, dan kebiasaan baik dalam hubungan dengan suaminya juga hubungan dengan keluarga pihak suami. Adanya perbedaan atau karena tuntutan yang baru tersebut maka membuat pasangan harus mampu menyesuaikan diri. Salah satu prinsip penting dari penyesuaian diri yang baik adalah membuat tujuan yang realistis dan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Haber & Runyon (1984) ada beberapa karakteristik penyesuaian diri yang baik dan harus dimiliki oleh seseorang, yaitu memiliki persepsi yang akurat terhadap realitas atau kenyataan, mampu mengatasi atau menangani stres dan kecemasan, memiliki citra diri yang positif, mampu untuk mengekspresikan perasaan, dan yang terakhir memiliki hubungan interpersonal yang baik.

Penyesuaian Diri da

Embed Size (px)

Text of Penyesuaian Diri da

  • Nama : Joko Adhi PrasetyoNPM : 10501162Fakultas : PsikologiTgl. Sidang : 17 Februari 2007Judul Skripsi : Penyesuaian Diri dalam Perkawinan Pada Wanita Suku Batak yang

    Menikah dengan Pria Suku Jawa

    BAB IPENDAHULUAN

    A. Latar Belakang MasalahBangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Hal ini dapat dilihat dari

    banyaknya suku bangsa di Indonesia yang mendiami berbagai pulau yang ada. Merekatersebar di Kepulauan Nusantara yang berjumlah sekitar 13.677 pulau. Merekadikelompokkan pada sekitar 300 suku bangsa atau kelompok etnis dengan menggunakanbahasa komunikasi yang berbeda-beda yang jumlahnya lebih dari 250 bahasa. Semuadengan segala aneka warna kebudayaan sendiri-sendiri yang masing-masing dapatdibedakan. Indonesia sebagai negara yang multi-etnik dengan derajat keberagaman yangtinggi mempunyai peluang yang besar dalam berlangsungnya perkawinan antar-etnik ataubeda budaya.

    Salah satu dampak dari bertemunya individu-individu dengan berbagai latarbelakang etnik adalah memungkinkan terjadinya perkawinan antar etnik atau bedabudaya. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan dalam hubungan antar kelompoketnik, dimana ada sekelompok individu yang ingin mempertahankan identitaskelompoknya namun ada juga individu yang memilih untuk melakukan integrasi sosialyang lebih luas, misalnya melalui perkawinan antar etnik atau beda budaya.

    Perkawinan antar etnik atau beda budaya adalah perkawinan antar individu darikelompok etnik yang berbeda dan dengan latar belakang budaya yang berbeda pula.Perbedaan budaya yang dimaksud berkaitan dengan nilai-nilai, keyakinan, adat istiadat,tradisi, dan gaya hidup. Melalui perkawinan campur, individu dari latar belakang etnikyang berbeda dapat saling membantu dalam memperkenalkan tradisi yang berlangsungdalam kelompok etniknya (Duvall & Miller 1985).

    Jika seorang wanita suku Batak menikah dengan pria suku Jawa, maka disampingmenghadapi penyesuaian perkawinan ia juga harus menghadapi perbedaan-perbedaankarena menyatunya dua suku yang berbeda. Perbedaan ini memungkinkan terjadinyabenturan-benturan karena perbedaan nilai, sikap, dan kebiasaan baik dalam hubungandengan suaminya juga hubungan dengan keluarga pihak suami. Adanya perbedaan ataukarena tuntutan yang baru tersebut maka membuat pasangan harus mampu menyesuaikandiri.

    Salah satu prinsip penting dari penyesuaian diri yang baik adalah membuat tujuanyang realistis dan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Haber & Runyon(1984) ada beberapa karakteristik penyesuaian diri yang baik dan harus dimiliki olehseseorang, yaitu memiliki persepsi yang akurat terhadap realitas atau kenyataan, mampumengatasi atau menangani stres dan kecemasan, memiliki citra diri yang positif, mampuuntuk mengekspresikan perasaan, dan yang terakhir memiliki hubungan interpersonalyang baik.

  • Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa individu yang penyesuaiandirinya baik atau akurat adalah mereka yang dengan keterbatasan, kemampuan sertakepribadiannya untuk bereaksi terhadap lingkungan dengan cara yang matang, efisien,bermanfaat dan memuaskan. Selain itu, ia dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan yangberasal dari dalam diri maupun lingkungannya. Dengan demikian, agar individu dapatmenyesuaikan diri dengan baik, maka ia harus memiliki beberapa karakteristikpenyesuian diri diatas. Sedangkan individu yang penyesuaian dirinya tidak baik atautidak akurat adalah mereka yang tidak mampu mengatasi konflik yang dimilikinyasehingga menimbulkan perasaan frustrasi pada dirinya.

    Selain beberapa karakteristik di atas, menurut Burgess & Locke (1971) terdapatjuga beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dalam perkawinan,yaitu karakteristik pribadi, latar-belakang budaya, partisipasi sosial, pengalamanberhubungan dengan lawan jenis, usia saat menikah, pendidikan, penyesuaian terhadapkeluarga, tingkah laku seksual, dan jumlah anak.

    Dari gambaran tersebut terlihat bahwa penyesuaian diri di dalam perkawinantidak terlepas dari kesediaan masing-masing individu untuk bisa memahami pasangannyadalam berbagai cara. Tetapi kepribadian, kesediaan berempati, latar-belakang individudan berkomunikasi yang baik juga merupakan syarat yang penting dalam penyesuaianperkawinan.

    Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin melihat gambaran penyesuaian diridalam perkawinan wanita Batak yang menikah dengan pria suku Jawa.

    B. Pertanyaan Penelitian1. Bagaimana gambaran penyesuaian diri dalam perkawinan pada wanita suku Batak

    yang menikah dengan pria suku Jawa ?2. Mengapa penyesuaian diri dalam perkawinan pada wanita suku Batak yang menikah

    dengan pria suku Jawa terbentuk demikian ?3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian diri dalam perkawinan ?

    C. Tujuan Penelitian1. Untuk mendapatkan gambaran secara mendalam mengenai penyesuaian diri dalam

    perkawinan wanita suku Batak yang menikah dengan pria suku Jawa.2. Untuk mengetahui secara mendalam mengapa penyesuaian diri dalam perkawinan

    wanita suku Batak yang menikah dengan pria suku Jawa terbentuk demikian.

    D. Manfaat PenelitianAdapun menfaat dari penelitian ini adalah :

    1. Manfaat PraktisMemberikan informasi dan gambaran tentang penyesuaian diri dalam perkawinanpada pasangan suami-istri yang berbeda budaya sehingga secara tidak langsung dapatmengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam proses penyesuaian perkawinandengan latar belakang budaya yang berbeda.

    2. Manfaat TeoritisMemberikan masukan yang bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Psikologikhususnya Psikologi Lintas Budaya dan diharapkan dapat digunakan sebagai

  • referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai penyesuaian diri dalam perkawinanpada pasangan suami-istri yang berbeda budaya.

    BAB IITINJAUAN PUSTAKA

    A. Penyesuaian Diri Dalam Perkawinan1. Pengertian Penyesuaian Diri dalam Perkawinan

    Sebelum membahas teori tentang penyesuaian diri dalam perkawinan, terlebihdahulu akan dibahas mengenai penyesuaian diri secara umum. Hal ini dikarenakanpenyesuaian diri merupakan bagian dari penyesuaian perkawinan.

    Atwater (1983) mengemukan salah satu konsep tentang penyesuaian yaitupenyesuaian diri merupakan suatu perubahan yang dialami seseorang untuk mencapaisuatu hubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya.

    Bila diperhatikan lebih lanjut, tampaknya ada tiga elemen di dalam prosespenyesuaian diri tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Atwater (1983). Ketigaelemen tersebut adalah diri seseorang (ourselves), orang lain (others) dan perubahan(changes). Ketiga elemen ini merupakan unsur yang ada dalam setiap proses adaptasi.

    Selain itu, Lazarus (1976) mengatakan bahwa penyesuaian diri dapat dilihatmelalui dua perspektif, antara lain :a. Penyesuaian sebagai hasil (Adjustment as an achievement).

    Di sini penyesuaian menyangkut kemampuan, hasil, atau status akhir. Dalampandangan ini, seseorang dikategorikan mampu menyesuaikan diri dengan baik(adjusted) atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik (maladjusted). (Haber& Runyon 1984).

    b. Penyesuaian sebagai proses (Adjustment as a process).Di sini penyesuaian dipandang sebagai proses yang sedang berlangsung, atausebagai suatu keadaan yang tengah atau terus berlangsung.

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu perubahan yangdialami seseorang dalam hidupnya sebagai suatu proses yang sedang berlangsung,atau sebagai suatu keadaan yang tengah atau terus berlangsung untuk mencapai suatuhubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

    Locke (dalam Scanzoni & Scanzoni 1976) mendefinisikan penyesuaian diridalam perkawinan sebagai suatu kepuasan yang akan dirasakan pasangan bilapasangan dapat mencegah terjadinya konflik dan menyelesaikan masalah dengan baikmelalui proses penyesuaian diri.

    Selain itu, Atwater & Duffy (1999) mengemukakan bahwa penyesuaian diridalam perkawinan adalah perubahan dan penyesuaian dalam kehidupan pasanganselama masa perkawinan. Laswell & Laswell (1987) mengatakan bahwa penyesuaiandiri dalam perkawinan berarti kedua individu telah belajar untuk mengakomodasikebutuhan, keinginan, dan harapan masing-masing pihak, ini berarti mencapai suatuderajat kebahagiaan dalam hubungan. Penyesuaian perkawinan bukan suatu keadaanabsolut melainkan suatu proses yang terus-menerus terjadi.

    Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dalamperkawinan adalah perubahan dan penyesuaian dalam kehidupan pasangan selamamasa perkawinan yang ditandai dengan adanya persetujuan antara suami-istri padahal-hal yang penting dalam perkawinan, seperti adanya minat dan aktivitas yang

  • dilakukan bersama, saling mengungkapkan kasih sayang serta saling percaya di manapasangan tersebut merasa cocok satu sama lain dan hubungan di antara keduanyadapat berjalan dan berfungsi dengan baik.

    2. Karakteristik Penyesuaian Diri dalam PerkawinanMenurut Haber & Runyon (1984) ada beberapa karakteristik penyesuaian diri

    yang baik yang harus dimiliki oleh seseorang, yaitu :a. Memiliki Persepsi yang Akurat terhadap Realitas atau Kenyataan (Accurate

    Perception of Reality)Persepsi yang dimiliki individu biasanya diwarnai dengan keinginan danmotivasinya. Hanya pada saat-saat tertentu individu dapat melihat dan mendengarapa yang benar-benar dilihat dan didengar. Sehubungan dengan persepsi yangakurat terhadap kenyataan, aspek yang terpenting adalah kemampuan individuuntuk mengenali konsekuensi dari tindakannya dan mengarahkan tingkahlakunya.

    b. Mampu Mengatasi atau Menangani Stres dan Kecemasan (Ability to Cope withStress and Anxiety)Di dalam kehidupan, individu sering menghadapi berbagai macam masalah.Masalah-masalah tersebut ada yang dapat diatasi, namun ada juga yang tidakberhasil ditangani dengan baik. Masalah yang tidak terselesaikan akanmenimbulkan rasa kecewa, stres, kecemasan bahkan rasa tidak bahagia dalam diriindividu.

    c. Memiliki Citra Diri yang Positif (A Positive Self Image)Banyak psikolog sepakat bahwa persepsi diri seseorang itu merupakan indikatordari kualitas penyesuaian dirinya.

    d. Mampu untuk Mengekspresikan Perasaan (Ability to Express Feeling)Penyesuaian diri yang sehat dilandasi dengan kontrol diri yang baik, yaitu tidakmengontrol diri secara berlebihan namun juga bukan berarti lepas kontrol samasekali.

    e. Memiliki Hubungan Interpersonal yang Baik (Good Interpersonal Relation)Orang yang penyesuaian dirinya efektif, mampu untuk mencapai tingkatkeakraban (intimacy) yang cocok dalam hubungan sosialnya. Mereka biasanyakompeten dan selalu merasa nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain. Selainitu, mereka pun akan membuat orang lain merasa nyaman ketika ia adabersamanya.

    Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa individu yang memilikipenyesuaian diri yang baik adalah mereka yang dengan keterbatasan, kemampuanserta kepribadiannya untuk bereaksi terhadap lingkungan dengan cara yang matang,efisien, bermanfaat dan memuaskan. Dengan demikian, agar individu dapatmenyesuaikan diri dengan baik, maka ia harus memiliki beberapa karakteristik diantaranya adalah memiliki persepsi yang akurat terhadap realitas, mampu mengatasikecemasan, memiliki citra diri yang positif, mampu mengekspresikan perasaan, danmemiliki hubungan interpersonal yang baik. Sedangkan individu yang memilikipenyesuaian diri yang tidak baik adalah mereka yang tidak mampu mengatasi konflikyang dimilikinya sehingga menimbulkan perasaan frustrasi pada dirinya.

  • 3. Area Penyesuaian Diri dalam PerkawinanJohn, Sutton & Webster (1970) menyatakan bahwa ada beberapa area

    penyesuaian pada suatu perkawinan, yaitu :a. Kepribadian dan Kemampuan untuk Saling Menyesuaikan Diri dengan Pasangan

    (Personality-Getting Along with Each Other).Hal ini menyangkut kemampuan untuk saling menyesuaikan diri terhadap pribadiserta kebiasaan-kebiasaan pasangannya.

    b. Pembagian Peran (Roles).Suami-istri harus membicarakan peran-peran yang berkaitan dengan tugasnyasebagai suami-istri.

    c. Pendapatan Keluarga (Family Income).Pada area ini, pasangan suami-istri harus melakukan penyesuaian terhadappengelolaan pendapatan atau sumber keuangan keluarga termasuk pemakaiannya.

    d. Rekreasi atau Kegiatan Waktu Luang (Recreation).Kesesuaian antara suami dan istri mengenai pemakaian waktu bagi keluarga untukberekreasi atau bersenang-senang bersama keluarga.

    4. Kriteria Penyesuaian Diri dalam Perkawinan.Burgess & Locke (1960) membatasi kriteria penyesuaian dalam perkawinan

    yang ditandai oleh hal-hal berikut :a. Adanya kesesuaian pendapat antara suami dan istri dalam hal-hal yang dapat

    menjadi permasalahan berat/ besar.b. Adanya minat dan kegiatan bersama.c. Adanya pengungkapan kasih sayang dan rasa saling percaya.d. Memiliki sedikit keluhan.e. Tidak banyak memiliki perasaan kesepian, sedih, marah dan semacamnya.

    Menurut tokoh tersebut, terpenuhinya kriteria-kriteria tersebutmengindikasikan dan menunjukkan adanya penyesuaian perkawinan. Semakinbanyak tanda-tanda tersebut ditemukan dalam sebuah perkawinan berarti semakintinggi tingkat penyesuaian di antara pasangan tersebut.

    5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri dalam Perkawinan.Burgess & Locke (1971) mengungkapkan 9 faktor dasar yang mempengaruhi

    penyesuaian perkawinan, yaitu :a. Karakteristik Pribadi.

    Persamaan karakteristik pribadi antar pasangan suami-istri sangat berhubungandengan penyesuaian perkawinan.

    b. Latar-Belakang Budaya.Persamaan latar-belakang budaya adalah suatu hal yang menguntungkan bagisuami-istri.

    c. Partisipasi Sosial.Kepuasan perkawinan sangat berhubungan dengan jumlah orang yang dekatdengan pasangan suami-istri.

    d. Pengalaman Berhubungan dengan Lawan Jenis.

  • Masa pacaran dan pertunangan yang cukup lama berhubungan denganpenyesuaian perkawinan yang mudah, sedangkan keterbatasan waktuberhubungan akan berdampak pada kesulitan penyesuaian perkawinan.

    e. Usia Saat Menikah.Usia adalah faktor yang turut menentukan keberhasilan penyesuaian perkawinan.

    f. Pendidikan.Individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan memiliki penyesuaianperkawinan yang lebih baik bila dibandingkan dengan individu yang tingkatpendidikannya rendah.

    g. Penyesuaian Terhadap Keluarga.Seorang pria atau wanita yang menikah tidak hanya menikahi pasangannya sajatetapi juga menikah dengan keluarga pasangannya.

    h. Tingkah Laku Seksual.Penyesuaian perkawinan juga berhubungan dengan persamaan nilai dan harapanpasangan suami-istri dalam masalah seks.

    i. Jumlah Anak.Karena setiap pasangan suami-istri memiliki perbedaan tentang jumlah anakyang diinginkan sesuai dengan latar-belakang yang ada pada pasangansuami-istri.

    6. Tahap Tahap Perkawinan.Kurdek & Smith (dalam Hoffman, Paris & Hall 1994) menyatakan bahwa ada

    tiga tahap yang dilalui pasangan suami-istri dalam usaha membangun pernikahanmereka, yaitu :a. Fase Blending yang terjadi pada tahun pertama.

    Suami dan istri belajar hidup bersama dan memahami bahwa mereka salingtergantung sehingga perbuatan seseorang akan mempunyai konsekuensi terhadapyang lain.

    b. Fase Nesting yang terjadi antara tahun kedua dan ketiga.Suami dan istri mengeksplorasi batas-batas kecocokan mereka sehingga mulaitimbul konflik-konflik dalam pernikahan.

    c. Fase Maintaining biasanya dimulai setelah tahun keempat.Pada fase ini tradisi sudah mulai terbentuk dan konflik yang muncul pada fasesebelumnya biasanya sudah mulai dapat teratasi. Kualitas dari pernikahan itu punsudah mulai terlihat.

    B. Gambaran Etnis Batak dan Jawa

    1. Etnis Bataka. Masyarakat Batak

    Yang disebut sebagai wilayah Batak, biasa disebut tano (tanah) Batak,yaitu daerah sekitar Danau Toba di Sumatera bagian Utara ditambah bagianSelatan dan Tenggara Aceh, atau antara 0,5 - 3,5 Lintang Utara dan 97,5 - 100Bujur Timur dengan luas wilayah 50.000 km (Joustra dalam Purba dan Purba1997).

  • Bangso Batak dipecah-pecah menjadi Batak Toba, Batak Karo, BatakSimalungun, Batak Dairi, Batak Angkola-Mandailing, dan Batak Nias (Malau2000).

    b. Nilai - Nilai Budaya Masyarakat BatakNilai budaya Batak mencakup segala aspek kehidupan orang Batak.

    Harahap (1987) mengelompokkannya menjadi tujuh nilai yang dapat dianggapsebagai nilai utama, yaitu :a) Kekerabatan.

    Nilai kekerabatan berada di tempat yang paling utama. Nilai inti kekerabatanmasyarakat Batak terwujud dalam pelaksanaan adat Dalihan Na Tolu.

    b) Agama.Ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam,seperti Angkola-Mandailing, ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknyamenganut agama Kristen seperti Batak Toba, dan ada wilayah yangpenganutnya berimbang, seperti wilayah Batak Simalungun.

    c) Hugabeon.Nilai budaya hugabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu,dan baik-baik. Kebahagiaan bagi orang Batak belum lengkap jika belummempunyai anak, terlebih lagi anak laki-laki.

    d) Hamoraon.Adapun nilai kehormatan menurut adat Batak terletak pada keseimbanganaspek spiritual dan materil yang ada pada diri seseorang.

    e) Uhum dan Ugari.Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari ketaatan pada ugari (habit) sertadengan padan (janji). Setiap orang Batak yang menghormati uhum, ugari, danjanjinya dipandang sebagai orang Batak yang sempurna.

    f) Pengayoman.Prinsipnya semua orang menjadi pengayom dan mendapat pengayoman darisesamanya adalah pendirian yang kokoh dalam pandangan adat Batak.

    g) Marsisarian.Artinya saling mengerti, menghargai, dan membantu. Prinsip ini merupakanantisipasi dalam mengatasi konflik atau pertikaian.

    2. Etnis Jawaa. Masyarakat Jawa

    Etnis Jawa tinggal di Pulau Jawa yang termasuk Kepulauan Sunda Besardi Kepulauan Indonesia. Pulau ini panjangnya 1.100 km, sedangkan lebarnya 120 km. Luas Pulau Jawa adalah 132.187 km. Daerah suku bangsa Jawa adalahJawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

    Menurut Malik (dalam Indriyani 2002) batasan yang disebut sebagai orangJawa adalah orang-orang yang berasal dari etnis bangsa Jawa, dalam arti iamerupakan anak dari pasangan suami-istri Jawa. Apabila ia telah menikah, makaistri atau suaminya tersebut juga berasal dari etnis bangsa Jawa.

  • b. Nilai Nilai Budaya Masyarakat JawaBagi masyarakat Jawa terdapat dua nilai yang dianggap sebagai kaidah

    dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Kaidah pertama disebut dengan nilaikerukunan, sedangkan kaidah yang kedua disebut sebagai nilai penghormatan.Kedua nilai ini merupakan kerangka normatif yang menentukan segala bentukinteraksi dalam masyarakat Jawa (Suseno 2001).

    Adapun penjelasan dari kedua nilai tersebut adalah :a) Nilai Kerukunan.

    Nilai kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaanharmonis. Rukun berarti berada dalam keadaan selaras, tenang, dan tenteram.

    b) Nilai Penghormatan.Menurut prinsip ini setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri harusselalu menunjukkan sikap hormat pada orang lain, sesuai dengan derajat dankedudukannya

    BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN

    A. Pendekatan PenelitianPendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

    Pendekatan kualitatif disini berupa studi kasus. Studi kasus adalah studi yangmempelajari fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi. Kasus inidapat berupa individu, peran, kelompok kecil, organisasi, komunitas, atau bahkan suatubangsa (Poerwandari 1998).

    Menurut Poerwandari (1998) studi kasus dapat dibedakan dalam beberapa jenis,yaitu :a. Studi Kasus Instrinsik.

    Penelitian dilakukan karena ketertarikan atau kepedulian pada suatu kasus khusus.Penelitian dilakukan untuk memahami secara utuh kasus tersebut tanpa harusdimaksudkan untuk menghasilkan konsep-konsep atau teori-teori ataupun tanpaupaya menggeneralisasikan.

    b. Studi Kasus Instrumental.Penelitian pada suatu kasus unik tertentu, dilakukan untuk memahami isu denganlebih baik, juga untuk mengembangkan atau memperhalus teori.

    c. Studi Kasus Kolektif.Suatu studi kasus instrumental yang diperluas sehingga mencakup beberapa kasus.Tujuannya adalah untuk mempelajari fenomena atau populasi dengan lebihmendalam. Karena menyangkut kasus majemuk dengan fokus yang baik didalamkasus maupun antar kasus, studi kasus ini sering juga disebut studi kasus majemukatau studi kasus komparatif.

    B. Subjek Penelitian1. Karakteristik Subjek

    Subjek penelitian adalah seorang wanita dari suku Batak yang telah menikahdengan pria suku Jawa selama 2 tahun. Alasan mengapa mengambil subjek yangtelah menikah selama 2 tahun adalah karena usia perkawinan yang terjadi antara

  • tahun kedua dan ketiga termasuk dalam fase Nesting, yaitu dimana suami dan istrimengeksplorasi batas-batas kecocokan mereka sehingga mulai timbul konflik-konflikdalam pernikahan (Kurdek & Smith 1994).

    2. Jumlah SubjekTidak ada aturan tertentu mengenai jumlah subjek dalam penelitian kualitatif.

    Subjek tergantung pada apa yang ingin diketahui oleh peneliti, tujuan penelitian,kredibilitas dan manfaat penelitian serta apa yang dapat dilakukan peneliti denganwaktu dan sumber yang terbatas (Patton 1990).

    Jadi, dalam penelitian ini subjek berjumlah satu orang.

    C. Tahap - Tahap PenelitianAdapun tahap-tahap dalam penelitian kualitatif ini terbagi atas dua tahap, yaitu

    persiapan dan pelaksanaan.1. Tahap Persiapan :

    a. Membuat pedoman wawancara.b. Meminta pembimbing untuk menilai dan memberikan masukan terhadap

    pedoman wawancara yang telah disusun oleh peneliti.c. Peneliti menghubungi responden untuk menentukan waktu dan tempat

    wawancara.2. Tahap Pelaksanaan :

    a. Menemui subjek di tempat dan waktu yang telah disepakati sebelumnya.b. Menjelaskan tujuan penelitian dan menekankan bahwa identitas subjek akan

    dirahasiakan.c. Mengisi identitas subjek.d. Menanyakan kesediaan subjek untuk menggunakan alat perekam selama proses

    wawancara berlangsung.e. Mulai mengajukan pertanyaan yang ada di dalam pedoman wawancara.

    D. Teknik Pengumpulan DataDalam melakukan penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik

    penelitian kualitatif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara.1. Pengertian Metode Observasi

    Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan caramengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Tujuan dariobservasi menurut Poerwandari (1998) adalah mendeskripsikan setting yangdipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalamkejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, faktual dan teliti.

    Ada dua jenis observasi menurut Ritandiyono (1998), yaitu :a. Observasi Naturalis.

    Observasi naturalis adalah kegiatan mengamati dan mencatat secara telitikejadian-kejadian yang muncul secara alami tanpa adanya manipulasi.

    b. Observasi Sosiometri.Merupakan bentuk observasi khusus dan berharga. Anggota-anggota suatukelompok saling mengamati, merekam reaksi-reaksi mereka antara satu dengan

  • yang lain dengan cara tertentu yang memungkinkan peneliti menaksir statussosiometri kelompok.

    Dalam melakukan penelitian ini jenis observasi yang digunakan adalahobservasi naturalis.

    2. Pengertian Metode WawancaraMenurut Sarwono (1984) wawancara adalah tanya jawab antara si pemeriksa

    dan orang yang diperiksa. Maksudnya adalah agar orang yang diperiksa itumengemukakan isi hatinya, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lainsehingga pemeriksa dapat lebih mengenalnya. Wawancara yang baik memerlukanlatihan yang banyak, karena sangat tidak mudah untuk membuka pintu hati seseorangdalam waktu singkat yang tersedia dalam suatu wawancara.

    Ada beberapa macam wawancara (Sarwono 1984), antara lain :a. Wawancara bebas, ciri khas wawancara ini adalah pertanyaan dan jawaban

    diberikan sebebas-bebasnya oleh pemeriksa atau yang diperiksa.b. Wawancara terarah, ciri khas dari wawancara ini adalah sudah ada beberapa fokus

    yang harus diikuti oleh si pemeriksa dalam mengadakan wawancara.c. Wawancara terbuka, ciri khas dari wawancara ini adalah pertanyaan-pertanyaan

    sudah ditentukan sebelumnya tetapi jawaban dapat diberikan bebas dan tidakterikat.

    d. Wawancara tertutup, ciri khas dari wawancara ini adalah pertanyaan-pertanyaansudah ditentukan sebelumya dan kemungkinan-kemungkinan jawaban juga sudahdisediakan, sehingga orang yang diperiksa tinggal memilih antara kemungkinanjawaban itu, misal antara ya dan tidak atau setuju dan tidak setuju.Dalam penelitian ini wawancara yang digunakan adalah wawancara terbuka.

    E. Alat Bantu PenelitianDalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat bantu yang terdiri dari :

    1. Pedoman Wawancara.2. Alat Perekam.3. Pedoman Observasi.4. Alat Tulis.

    F. Keabsahan dan KeajeganYin (1994) mengajukan empat kriteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan

    dalam suatu penelitian kualitatif. Empat hal tersebut adalah :1. Keabsahan Konstruk (Construct Validity).

    Keabsahan konstruk berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang terukur benar-benar merupakan variabel yang ingin diukur.

    2. Keabsahan Internal (Internal Validity).Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulanhasil penelitian menggambarkan keadaan sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapaimelalui proses analisis dan interpretasi yang tepat

    3. Keabsahan Eksternal (External Validity).Keabsahan eksternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapatdigeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memiliki sifat

  • tidak ada kesimpulan akhir yang pasti, penelitian kualitatif tetap dapat dikatakanmemiliki keabsahan eksternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebutmemiliki konteks yang sama.

    4. Keajegan (Reliability).Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnyaakan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama sekali lagi.

    Dalam meningkatkan keajegan dalam penelitian ini, maka peneliti akanmelakukannya dengan cara membuat desain penelitian sebaik mungkin sertamenerapkan konsep triangulasi terhadap data-data yang telah diperoleh, dan memakaipedoman wawancara yang paling cocok dalam menggambarkan penyesuaian diridalam perkawinan wanita suku Batak yang menikah dengan pria suku Jawa.

    G. Teknik Analisis DataAdapun proses analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini akan dianalisa

    dengan teknik data kualitatif yang diajukan oleh Marshall dan Rossman. MenurutMarshall & Rossman (1995) dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapatahapan yang perlu dilakukan. Tahapan-tahapan tersebut adalah :1. Mengorganisasikan Data.

    Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam(indepth interview), yang mana data direkam dengan tape recorder dan alat tulis.

    2. Pengelompokkan Berdasarkan Kategori, Tema, dan Pola Jawaban.Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara peneliti menyusun

    sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan coding.3. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang Ada Terhadap Data.

    Pada tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kembaliberdasarkan landasan teori sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antaralandasan teoritis dengan hasil yang dicapai.

    4. Mencari Alternatif Penjelasan Bagi Data.Berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitan tersebut, penulis perlu

    mencari suatu alternatif penjelasan lain tentang kesimpulan yang telah didapat.5. Menulis Hasil Penelitian.

    Dalam penelitian ini penulisan yang dipakai adalah presentasi data yangdidapat, yaitu penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalamdan observasi dengan tiap-tiap subjek.

    BAB IVHASIL DAN ANALISISA. Pelaksanaan dan Hasil

    1. Identitas SubjekNama : SUsia : 26 tahunJenis Kelamin : PerempuanAgama : IslamSuku Bangsa : BatakPendidikan : D III

  • Pekerjaan : Pegawai Negeri SipilUsia Perkawinan : 2 tahunAlamat : Jl. Kruing V / 310 Rt. 09/ 006 - Depok Timur

    B. Analisis Kasusa. Rangkuman Biografi Subjek Pertama (Istri)

    WaktuTahun

    Kejadian/ Peristiwa Penghayatan Subjek/ Interpretasi

    1996 Saat kelas satu SMA subjekberkenalan dengan pasangannyayang sekarang dan mulaiberpacaran.

    Subjek merasa senang sekali danberharap hari-harinya akan semakinindah dengan cerita yang merekaciptakan berdua.

    1996 Oleh pasangannya subjekdiperkenalkan kepada ibunya.

    Subjek sangat senang karena bisaberkenalan dan bertemu dengan orangtua dari pasangannya. Subjekberharap hubungan subjek denganpasangannya mendapatkan responyang positif dari orang tuapasangannya.

    1998 Pasangan subjek pindah sekolahke luar kota.

    Saat pasangan subjek pindah sekolahsubjek merasa sangat sedih karenaharus berpisah dengan pasangannya.Tetapi walaupun berbeda kota dansekolah, subjek tetap menjalinkomunikasi dengan pasangannya.

    1999 Subjek dan pasangannyamelanjutkan pendidikan keperguruan tinggi dan kembalitinggal di kota yang sama.

    Subjek merasa senang karena padaakhirnya bisa kembali tinggal di kotayang sama dan dekat denganpasangannya. Subjek danpasangannya sudah mulai untukberpikir tentang rencana masa depan.

    2002 Subjek menyelesaikanpendidikan D-III.

    Subjek merasa senang, akhirnyapendidikan D-III jurusan TeknikInformatika telah selesai.

    2002 Subjek dan pasangannyabertunangan.

    Subjek merasa senang sekali. Ia danpasangannya sudah resmi diikat.Mereka berencana akan segeramenikah bila pasangannya telahmenyelesaikan pendidikannya dipreguruan tinggi.

    2003 Subjek resmi bekerja sebagaipegawai negeri sipil di PemdaDKI Jakarta.

    Subjek merasa senang karena sudahbekerja dan mempunyai penghasilansendiri.

    2004 Pasangan subjek menyelesaikanpendidikan S 1.

    Subjek merasa senang karenapendidikan pasangannya telah selesai.

    2004 Subjek dan pasangannya Subjek merasa senang dan bahagia,

  • menikah. akhirnya kisah perjalanan cintasubjek dan pasangannya berakhirdengan indah dalam sebuahpernikahan.

    2004 Subjek tinggal di rumah orangtua pasangannya.

    Setelah menikah subjek tinggal dirumah mertua. Subjek melakukanadaptasi terhadap kehidupan barunyasebagai seorang istri dan seorangmenantu. Subjek melakukan adaptasisebaik mungkin.

    2006 Subjek pindah ke rumah sendiri. Subjek merasa senang karena telahmemiliki tempat tinggal sendiri danhanya ditempati oleh subjek danpasangannya. Subjek danpasangannya kini bisa merasakankehidupan rumah tangga yangsebenarnya.

    b. Gambaran Penyesuaian Diri dalam Perkawinan Pada Wanita Suku Batak yangMenikah dengan Pria Suku Jawaa) Memiliki Persepsi yang Akurat terhadap Realitas dan Kenyataan

    Subjek memiliki persepsi yang akurat terhadap realitas dan kenyataan.Terhadap pendapatan keluarga, ia merasa sudah cukup dengan penghasilan yangdidapat oleh suaminya dan subjek sendiri tiap bulannya.

    Hal tersebut diatas sesuai dengan teori dari Haber & Runyon (1984) yangmengatakan bahwa seseorang yang penyesuaian dirinya baik adalah seseorangyang persepsinya akurat terhadap realitas dan kenyataan.

    b) Mampu Mengatasi atau Menangani Stres dan KecemasanSubjek juga mampu untuk mengatasi stres dan kecemasan yang muncul

    dalam rumah tangganya. Cara mengatasi stres atau kecemasan tersebut biasanyasubjek bercerita kepada ibu mertuanya atau menginap dirumah ibu mertuanya.

    Hal ini sesuai dengan teori dari Haber & Runyon (1984) yang mengatakanbahwa seseorang yang penyesuaian dirinya baik adalah seseorang yang mampumengatasi stres dan kecemasan yang ada dalam dirinya.

    c) Memiliki Citra Diri yang PositifSubjek juga memiliki citra diri yang positif. Subjek cukup mampu untuk

    bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Pemda DKI Jakarta dan sekaligus menjadiseorang istri yang baik bagi suaminya.

    Hal ini sesuai dengan teori dari Haber & Runyon (1984) yang mengatakanbahwa seseorang yang penyesuaian dirinya baik adalah seseorang yang memilikicitra diri yang positif.

    d) Mampu Untuk Mengekspresikan PerasaanSubjek juga mampu untuk mengekspresikan perasaannya. Bila sedang ada

    masalah, kepada pasangannya biasanya ia mengekspresikan perasaannya lewatsebuah surat. Subjek juga mampu mengekspresikan perasaannya terhadap ibumertuanya.

  • Hal ini sesuai dengan teori dari Haber & Runyon (1984) yang mengatakanbahwa seseorang yang penyesuaian dirinya baik adalah seseorang yang mampuuntuk mengekspresikan perasaannya.

    e) Memiliki Hubungan Interpersonal yang BaikHubungan subjek dengan pasangannya saat ini baik-baik saja. Kepada

    keluarga subjek sendiri hubungan subjek dan kelurganya saat ini baik-baik saja,subjek juga memiliki hubungan yang baik terhadap keluarga pasangannya.

    Hal ini sesuai dengan teori dari Haber & Runyon (1984) yang mengatakanbahwa seseorang yang penyesuaian dirinya baik adalah seseorang yang memilikihubungan interpersonal yang baik.

    c. Mengapa Penyesuaian Diri dalam Perkawinan Pada Wanita Suku Batak yangMenikah dengan Pria Suku Jawa Terbentuk Demikian

    Salah satu faktor yang mendukung terciptanya adaptasi yang baik antarasubjek dan pasangannya adalah lamanya mereka tinggal di kota yang sama, yaitu kotaDepok. Keduanya lahir dan dibesarkan di kota Depok. Begitu juga orang tua masing-masing yang sudah puluhan tahun tinggal di kota Depok. Persamaan keduanya iniyang membuat penyesuaian diri dalam perkawinan berbeda latar-belakang budayadapat berjalan dengan baik. Hal ini sesuai dengan teori Landis (1970) yangmenyatakan bahwa latar-belakang masing-masing individu berpengaruh terhadappenyesuaian perkawinan. Semakin mirip latar-belakang pasangan suami-istri makasemakin mudah penyesuaian perkawinan terbentuk.

    Faktor lain yang membuat subjek dan pasangannya dapat melakukan prosespenyesuaian diri dengan baik adalah pengalaman berhubungan dengan pasangan.Subjek dan suami menjalani masa pacaran selama sembilan tahun dan pertunangandua tahun sebelum pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Ini sesuai dengan teoriHurlock (1991) yang menyatakan bahwa masa pacaran dan pertunangan yang cukuplama berhubungan dengan penyesuaian perkawinan yang mudah.

    Faktor usia saat menikah juga membantu subjek dan pasangannya dalammelakukan penyesuaian diri dalam perkawinan. Subjek dan pasangannya saatmenikah berada di usia yang matang, yaitu sama-sama berusia 24 tahun. Hal inisesuai dengan teori dari Burgess & Locke (1971) yang menyatakan bahwa usia saatmenikah adalah faktor yang turut menentukan keberhasilan penyesuaian perkawinan,dimana usia seperti itu adalah usia-usia yang matang.

    Faktor terakhir yang membantu subjek dalam memudahkan prosespenyesuaian diri dalam perkawinan terhadap pasangannya adalah faktor pendidikan.Saat menikah pendidikan terakhir subjek adalah D-III jurusan Teknik Informatika,sedangkan pasangan subjek pendidikan terakhirnya adalah S-1 jurusan TeknikIndustri. Ini sesuai dengan teori dari Burgess & Locke (1971) yang menyatakanbahwa individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan memiliki penyesuaianperkawinan yang lebih baik bila dibandingkan dengan individu yang tingkatpendidikannya rendah.

  • BAB VKESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan1. Gambaran Penyesuaian Diri dalam Perkawinan Pada Wanita Suku Batak yang

    Menikah dengan Pria Suku JawaDari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, penyesuaian diri yang

    dimiliki oleh subjek secara umum adalah baik. Hal ini ditandai oleh :a. Subjek memiliki persepsi yang akurat terhadap realitas dan kenyataan.

    Subjek merasa sudah cukup dengan pendapatan keluarga yang diperoleh darisuaminya maupun subjek sendiri tiap bulannya. Subjek juga tidak mengalamikesulitan ketika berhubungan dengan pihak keluarga pasangannya maupunkeluarga subjek sendiri.

    b. Mampu mengatasi dan menangani stres atau kecemasan.Stres yang muncul biasanya diakibatkan karena suami subjek terlambat pulangatau sesekali tidak pulang. Cara mengatasi stres atau kecemasan tersebut biasanyasubjek bercerita kepada ibu mertuanya atau menginap dirumah ibu mertuanya.

    c. Memiliki citra diri yang positif.Subjek cukup mampu untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Pemda DKIJakarta dan sekaligus menjadi seorang istri yang baik bagi suaminya.

    d. Mampu untuk mengekspresikan perasaan.Subjek juga mampu untuk mengekspresikan perasaannya. Bila sedang adamasalah, kepada pasangannya biasanya ia mengekspresikan perasaannya lewatsebuah surat. Subjek juga mampu mengekspresikan perasaannya terhadap ibumertuanya, biasanya lewat telepon atau berkunjung ke rumah ibu mertuanya.

    e. Memiliki hubungan interpersonal yang baik.Hubungan subjek dengan pasangannya saat ini baik-baik saja. Kepada keluargasubjek sendiri hubungan subjek dan kelurganya saat ini baik-baik saja, subjekjuga memiliki hubungan yang baik terhadap keluarga pasangannya.

    2. Mengapa Penyesuaian Diri dalam Perkawinan Pada Wanita Suku Batak yangMenikah dengan Pria Suku Jawa Terbentuk Demikian

    Terdapat beberapa faktor yang membuat proses penyesuaian diri dalamperkawinan subjek dan pasangannya tercipta dengan baik. Faktor-faktor tersebutantara lain :a. Faktor latar-belakang budaya.

    Salah satu faktor yang mendukung terciptanya adaptasi yang baik antara subjekdan pasangannya adalah lamanya mereka tinggal di kota yang sama, yaitu kotaDepok. Begitu juga orang tua masing-masing yang sudah puluhan tahun tinggal dikota Depok.

    b. Pengalaman berhubungan dengan pasangan.Faktor lain yang membuat subjek dan pasangannya dapat melakukan prosespenyesuaian diri dengan baik adalah pengalaman berhubungan dengan pasangan.Subjek dan suami menjalani masa pacaran selama sembilan tahun. Masa pacaranyang cukup lama ini membantu subjek dan pasangannya dalam melakukanpenyesuaian satu sama lain.

    c. Usia saat menikah.

  • Faktor usia saat menikah juga membantu subjek dan pasangannya dalammelakukan penyesuaian diri dalam perkawinan. Subjek dan pasangannya saatmenikah berada di usia yang matang, yaitu sama-sama berusia 24 tahun.

    d. Pendidikan.Faktor terakhir yang membantu subjek dalam memudahkan proses penyesuaiandiri dalam perkawinan terhadap pasangannya adalah faktor pendidikan. Saatmenikah pendidikan terakhir subjek adalah D-III, sedangkan pasangan subjekpendidikan terakhirnya adalah S-1.

    B. SaranDari hasil penelitian tentang gambaran penyesuaian diri dalam perkawinan pada

    wanita suku batak yang menikah dengan pria suku jawa, maka saran yang diajukanpeneliti terhadap penelitian ini adalah :1. Bagi pasangan yang menikah dengan perbedaan latar-belakang dan budaya,

    perbedaan budaya yang tercipta hendakya tidak dijadikan suatu masalah dalammenjalani kehidupan sehari-hari.

    2. Bagi keluarga, agar tetap menjaga kebersamaan dan hubungan yang erat ini dengancara tetap saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

    3. Bagi psikolog atau konselor perkawinan, hasil penelitian ini agar dapat dijadikanpertimbangan dalam menghadapi perkawinan, khususnya perkawinan antar budaya.

    4. Bagi masyarakat, agar tidak lagi memandang perbedaan latar-belakang dan budayasebagai suatu masalah dalam melakukan suatu perkawinan.

    5. Untuk penelitian selanjutnya, agar lebih dapat mengembangkan topik yang telah adaini dengan menggunakan teori dari Burgess & Locke (1960) atau melakukanpenelitian perkawinan beda budaya lain yang tidak sama dengan penelitian ini danmembandingkan gambaran penyesuaian dirinya.

    DAFTAR PUSTAKABurgess, E.W. & Locke, H.J. (1971). The Family (4th ed). Canada : Van Nostrand

    Reinhold Co.Haber, A. & Runyon, R. 1984. Psychology of Adjusment. Homewood, IL : The Dorsey

    Press.Koentjaraningrat. 1981. Manusia & Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.Lasswell, M. & Lasswell, T. 1987. Marriage and the Family. Los Angeles, CA :

    Woodsworth Publishing Co.Poerwandari, E,K. 1998. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta :

    Universitas Indonesia.