of 241/241
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera. Sesuai dengan Undang–Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, disebutkan bahwa Program Keluarga Berencana (KB) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (UU 10/1992). Keluarga berencana juga berarti mengontrol jumlah dan jarak kelahiran anak, untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara dengan menggunakan kontrasepsi sedangkan untuk menghindari kehamilan yang sifatnya menetap bisa dilakukan dengan cara sterilisasi. 1 Peran program KB sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan reproduksi seseorang, baik itu untuk kesehatan reproduksi wanita maupun kesehatan reproduksi 1

Proposal Chill Rev (Repaired)

  • View
    34

  • Download
    12

Embed Size (px)

DESCRIPTION

proposal

Text of Proposal Chill Rev (Repaired)

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangProgram keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera. Sesuai dengan UndangUndang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, disebutkan bahwa Program Keluarga Berencana (KB) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (UU 10/1992). Keluarga berencana juga berarti mengontrol jumlah dan jarak kelahiran anak, untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara dengan menggunakan kontrasepsi sedangkan untuk menghindari kehamilan yang sifatnya menetap bisa dilakukan dengan cara sterilisasi.1Peran program KB sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan reproduksi seseorang, baik itu untuk kesehatan reproduksi wanita maupun kesehatan reproduksi pria. Peran KB bagi kesehatan reproduksi wanita diantaranya yaitu menghindari bahaya infeksi, eklamsia, abortus, emboli obstetri, perdarahan post partum, dan komplikasi masa nifas.2 Selain itu, program KB juga bertujuan untuk mengatur umur ibu yang tepat untuk melakukan proses persalinan, sebab jika umur ibu terlalu muda atau terlalu tua ketika melakukan persalinan, akan sangat beresiko mengakibatkan perdarahan serius yang bisa mengakibatkan kematian bagi ibu maupun bayinya.2 Program KB juga berperan bagi kesehatan reproduksi pria antara lain untuk mencegah Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti: sifilis, gonorhea, dan penyakit kelamin lain yang diakibatkan oleh tidak menggunakan alat kontrasepsi (kondom) ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangannya yang terkena PMS. Selain mencegah terkena penyakit menular seksual, Program KB juga dimaksudkan untuk membantu pria yang mengalami gangguan disfungsi seksual serta membantu pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun tetapi belum juga memiliki keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.2Di Indonesia Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 34 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia masih berada pada posisi tertinggi di Asia untuk angka kematian ibu. Angka tersebut juga masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 yaitu AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 24 per 1000 kelahiran hidup. Oleh karena itu, dengan program KB yang terus digalakkan pemerintah, diharapkan target MDGs 2015 dapat tercapai.3Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa pada tahun 2013 ada 8.500.247 Pasangan Usia Subur (PUS) yang merupakan peserta KB baru dan hampir separuhnya (48,56%) menggunakan metode kontrasepsi suntikan. Pada tahun 2013, cakupan KB aktif secara nasional sebesar 75,88%. Dari 33 provinsi, ada 15 provinsi yang cakupannya masih dibawah cakupan nasional. Provinsi Bengkulu merupakan provinsi dengan cakupan tertinggi sebesar 87,70%, dan provinsi Papua merupakan provinsi dengan cakupan terendah, yaitu 67,15%. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa wanita usia 15-49 tahun dengan status kawin 59,3% menggunakan metode kontrasepsi modern (implan, MOW, MOP, implan, IUD, suntik, dan pil), 0,4% lainnya menggunakan metode kontrasepsi tradisional (kalender, senggama terputus, lainnya), 24,7% pernah melakukan KB, dan 15,5% lainnya tidak pernah melakukan KB.4Data Pasangan Usia Subur (PUS) yang telah ber-KB yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur adalah sebagai berikut, cakupan KB aktif dalam 3 bulan terakhir (April-Juni) adalah sebanyak 66,04%, cakupan KB baru sebanyak 55,75%, sedangkan cakupan PUS 4T sebanyak 21,75%. Data yang didapatkan dari Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur untuk pemasangan KB dan jenis yang digunakan dari bulan April-Juni adalah sebagai berikut, pasangan yang tercantum sebagai pengguna KB baru jenis IUD adalah sebanyak 30 orang, untuk yang menggunakan implant sebanyak 19 orang, pengguna kondom sebanyak 7 orang, untuk KB jenis suntik baik per 3 bulan maupun per 1 bulan sebanyak 172 orang, sedangkan KB pil sebanyak 74 orang, sedangkan yang telah melakukan MOW adalah sebanyak 17 orang.Prevalensi pasangan yang belum mengikuti program KB masih cukup rendah dan kurangnya penelitian mengenai PUS 4T yang mengikuti program KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur menjadi latar belakang pemilihan topik ini untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

1.2 Perumusan MasalahMengetahui hasil kegiatan program pelayanan di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur dibandingkan dengan SPM yang berlaku periode April-Juni 2015.

1.3 Tujuan Penulisan1.3.1 Tujuan umum Tujuan dari evaluasi program ini adalah untuk mengevaluasi hasil kerja puskesmas selama 3 bulan dibandingkan dengan sasaran 3 bulan yang ada di puskesmas Cilandak timur.1.3.2 Tujuan khusus a. Mengetahui hasil pencapaian program KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur pada bulan April Juni 2015.b. Menentukan alternatif pemecahan masalah dan solusi dari program KB Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur. c. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan cakupan dari program KB di Puskesmas Cilandak Timur masih rendah.d. Membuat rencana kegiatan untuk pemecahan prioritas masalah di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur.

1.4 Manfaat Kegiatan1. Bagi Mahasiswa :a. Mengetahui sistem manajemen puskesmas secara keseluruhan.b. Melatih kemampuan analisis dan pemecahan terhadap masalah yang ditemukan didalam program puskesmas.2. Bagi Puskesmas :a. Membantu Puskesmas untuk mengetahui pencapaian yang belum maksimal.b. Membantu Puskesmas dalam mengidentifikasi penyebab dari upaya puskesmas yang belum memenuhi target SPM.c. Membantu Puskesmas dalam memberikan alternatif penyelesaian terhadap masalah tersebut.3. Bagi Masyarakat:Manfaat evaluasi program KB ini bagi masyarakat adalah masyarakat menjadi lebih banyak lagi yang mengikuti program KB sehingga angka kelahiran bayi dapat terkendali.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keluarga Berencana1. Beberapa konsep tentang Keluarga BerencanaKeluarga Berencana adalah merupakan salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan kelahiran.5 Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kelahiran.6Keluarga Berencana adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan jarak anak serta waktu kelahiran.6

2. Tujuan Keluarga Berencanaa. Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia.6b. Terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.6

3. Sasaran Program Keluarga Berencanaa. Sasaran langsungPasangan usia subur yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan.8b. Sasaran tidak langsungPelaksana dan pengelola program Keluarga Berencana, dengan cara menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas dan keluarga sejahtera.8

4. Ruang lingkup Program Keluarga BerencanaRuang lingkup program Keluarga Berencana, meliputi :8a. Komunikasi informasi dan edukasi.b. Konseling.c. Pelayanan infertilitas.d. Pendidikan seks.e. Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan.f. Konsultasi genetik.

5. Manfaat usaha Keluarga Berencana di pandang dari segi kesehatanPeningkatan dan perluasan pelayanan Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang semakin tinggi akibat kehamilan yang dialami wanita.8

2.2 Akseptor Keluarga Berencana1. Konsep tentang Keluarga BerencanaAkseptor Keluarga Berencana adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan jarak anak serta waktu kelahiran.7 2. Jenis - Jenis Akseptor Keluarga Berencanaa. Akseptor aktif adalah akseptor yang ada pada saat ini menggunakan salah satu cara alat kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan.9b. Akseptor aktif kembali adalah pasangan usia subur yang telah menggunakan kontrasepsi selama 3 (tiga) bulan atau lebih yang tidak diselingi suatu kehamilan, dan kembali menggunakan cara alat kontrasepsi baik dengan cara yang sama maupun berganti cara setelah berhenti / istirahat kurang lebih 3 (tiga) bulan berturut-turut dan bukan karena hamil.9c. Akseptor KB baru adalah akseptor yang baru pertama kali menggunakan alat obat kontrasepsi atau pasangan usia subur yang kembali menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan atau abortus.9d. Akseptor KB dini adalah para ibu yang menerima salah satu cara kontrasepsi dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan atau abortus.9e. Akseptor langsung adalah para istri yang memakai salah satu cara kontrasepsi dalam waktu 40 hari setelah melahirkan atau abortus.9f. Akseptor dropout adalah akseptor yang menghentikan pemakaian kontrasepsi lebih dari 3 bulan.9

2.3 Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Pelayanan kontrasepsi saat ini dirasakan masyarakat, khususnya pasangan suami-istri, sebagai salah satu kebutuhannya. Pelayanan kontrasepsi yang semula menjadi program pemerintah dengan orientasi pemenuhan target melalui subsidi penuh dari pemerintah. Peran pelayanan Keluarga Berencana diarahkan untuk menunjang tercapainya kesehatan ibu dan bayi, karena kehamilan yang diinginkan dan berlangsung pada keadaan dan saat yang tepat, akan lebih menjamin keselamtan ibu dan bayi yang dikandungnya.2 Pelayanan KB bertujuan menunda, menjarangkan, atau membatasi kehamilan bila jumlah anak sudah cukup. Dengan demikian 5 pelayanan KB sangat berguna dalam mengaturan kehamilan dan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan tau tidak tepat waktu. Ada lima hal penting dalam pelayanan Keluarga Berencana yang perlu diperhatikan: a. Prioritas pelayanan KB diberikan terutama kepada Pasangan Usia Subur yang isterinya mempunyai keadaan 4 terlalu yaitu terlalu muda (usia kurang dari 20 tahun), terlalu banyak anak (lebih dari 3 orang), terlalu dekat jarak kehamilan (kurang dari 2 tahun), dan terlalu tua (lebih dari 35 tahun).2 b. Menekankan bahwa KB merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan isteri. Suami juga perlu berpartisipasi aktif dalam ber KB dengan menggunakan alat/metode kontrasepsi untuk pria.2 c. Memberi informasi lengkap dan adil tentang keuntungan dan kelemahan masingmasing metode kontrasepsi. Setiap klien berhak untuk mendapat informasi mengenai hal ini, sehingga dapat mempertimbangkan metode yang paling cocok bagi dirinya.2 d. Memberi nasehat tentang metoda yang paling cocok sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik sebelum pelayanan KB diberikan kepada klien, untuk memudahkan klien menentukan pilihan.2 e. Memberi informasi tentang kontraindikasi pemakaian berbagai metode kontrasepsi. Pelaksanaan pelayanan KB perlu melakukan skrining atau penyaringan melalui pemeriksaa fisik terhadap klien untuk memastikan bahwa tidak terdapat kontraindikasi bagi pemakaian metoda kontrasepsi yang akan dipilih.2

2.4 Pengertian pasangan usia subur dan 4TPasangan usia subur yaitu pasangan suami istri yang istrinya masih mengalami menstruasi (datang bulan).9 Untuk pengertian 4T adalah pasangan yang Terlalu Tua, Terlalu Muda, Terlalu Sering Melahirkan, Terlalu Dekat Jarak Kelahiran. Pasangan suami istri yang hidup bersama, dimana umur istrinya antara 15 tahun sampai dengan 44 tahun. Batasan umur yang digunakan disini adalah 15 sampai 44 tahun dan bukan 1549 tahun. Hal ini tidak berarti berbeda dengan perhitungan fertilitas yang menggunakan batasan 1549, tetapi dalam kegiatan keluarga berencana mereka yang berada pada kelompok 4549 bukan merupakan sasaran keluarga berencana lagi. Hal ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa mereka yang berada pada kelompok umur 4549 tahun, kemungkinan untuk melahirkan lagi sudah sangat kecil sekali.4

2.5 Kontrasepsi1. PengertianIstilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti melawan atau mencegah, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari konsepsi adalah menghindari / mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua - duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan.5Kontrasepsi adalah usaha - usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, usaha itu dapat bersifat sementara dapat bersifat permanen.102. Akseptor Keluarga Berencana menurut sasarannyaa. Fase menunda kehamilanMasa menunda kehamilan pertama sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 tahun.Karena usia di bawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya menunda untuk mempunyai anak dengan berbagai alasan. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin 100%. Hal ini penting karena pada masa ini pasangan belum mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi. Kontrasepsi yang cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR.11

b. Fase mengatur / menjarangkan kehamilanPeriode usia istri antara 20 - 30 tahun merupakan periode usia paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2-4 tahun. Kriteria kontrasepsi yang perlukan yaitu efektifitas tinggi, reversibilitas tinggi karena pasangan masih mengharapkan punya anak lagi. Kontrasepsi dapat dipakai 3-4 tahun sesuai jarak kelahiran yang direncanakan.11

c. Fase mengakhiri kesuburan / tidak hamil lagiSebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih dari 30 tahun tidak hamil. Kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi, karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Di samping itu jika pasangan akseptor tidak mengharapkan untuk mempunyai anak lagi, kontrasepsi yang cocok dan disarankan adalah metode kontap, AKDR, implan, suntik KB dan pil KB.11

3. Syarat - Syarat KontrasepsiSebagai usaha untuk mencegah kehamilan hendaknya kontrasepsi memiliki syarat-syarat sebagai berikut :11a. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya.b. Efek samping yang merugikan tidak ada.c. Lima kerjanya dapat diatur menurut keinginan.d. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan.e. Tidak memerlukan bantuan medik atau control yang ketat selama pemakaiannya.f. Cara penggunaannya sederhana.g. Harganya murah supaya dapat dijangkau oleh masyarakat luas.h. Dapat diterima oleh pasangan suami istri.

BAB IIIDATA UMUM DAN KHUSUS PUSKESMAS CILANDAK TIMUR

3.1 Data Umum Puskesmas3.1.1 Keadaan Geografis dan Lingkungan1. Lokasi Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur terletak di Jalan Madrasah No.11 Rt.010 / Rw.04 Kelurahan Cilandak Timur Kecamatan Pasar Minggu Kota Administrasi Jakarta Selatan. 2. Wilayah Kerja Meliputi seluruh wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur, yang terdiri dari 7 RW dan 72 RT3. Batas wilayah : Sebelah Utara: Kelurahan Bangka Sebelah Selatan: Kelurahan Jagakarsa Sebelah Timur: Kelurahan Ragunan Sebelah barat: Cipete Selatan4. Keadaan Tanah Luas wilayah Kelurahan Cilandak Timur : 352.06 Ha (3,53km2) Terlampir seluruhnya untuk pemukiman Terdapat daerah rawan banjirDaerah rawan banjir di wilayah Kelurahan Cilandak Timur terdapat di sekitar aliran Sungai Kerukut (Kali Kerukut)

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kelurahan Cilandak Timur

3.1.2 Data DemografiJumlah Penduduk sampai dengan akhir Juni 2015 = 30.871 jiwa.1) Jenis kelaminBerdasarkan jenis kelamin, maka jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas kelurahan Cilandak Timur terbagi atas :Laki-laki : 16.697 jiwaWanita : 14.174 jiwa

2) Kelompok usiaTabel 3.1 Komposisi penduduk berdasarkan kelompok usia.UmurJumlah Persentase

0-41.2744.12

5-144.52714.66

15-4417.01555.11

45-644.30813.95

>655341.72

Tabel 3.1 menunjukkan komposisi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur berdasarkan kelompok usia. Usia 15-44 tahun merupakan kelompok usia dengan jumlah tertinggi, yaitu 17.015 penduduk sedangkan usia >65 adalah kelompok usia yang jumlahnya paling sedikit, yaitu 534 penduduk. Berdasarkan data diatas, didapatkan sex ratio sebesar 117,8 dimana menunjukan dalam 100 orang perempuan terdapat 118 laki-laki. Dari data diatas dapat juga diketahui dependency ratio, yaitu sebesar 29,7, dimana setiap 100 orang usia produktif menanggung beban 30 orang penduduk non produktif.3) Mata pencaharianTabel 3.2 Mata Pencaharian Penduduk No.Status PekerjaanJumlahPersentase (%)

1.Pemerintahan19.09758,2

2.Pedagang4.59914,0

3.Industri5211,6

4.Buruh4.71514,3

5.Swasta2.9248,9

6.Lain-lain9863,0

Dapat dilihat pada tabel 3.2 bahwa sebagian besar penduduk bekerja dalam sektoral pemerintahan sebanyak 19.097 orang dari 65.709 jumlah penduduk. Sedangkan 986 orang bekerja lain-lain.4) AgamaTabel 3.3 Pembagian agama NoAgamaJumlahPersentase(%)

1Islam53.54881,5

2Kristen6.5439,9

3Khatolik3.7185,66

4Hindu/Budha1.8752,85

Tabel 3.3 menunjukan data dan persentase pemeluk agama di wilayah kerja Puskesmas Cilandak Timur. Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Cilandak Timur mayoritas beragama Islam dengan jumlah 53.548 orang dan persentase sebesar 81,5%.5) Fasilitas PendidikanTabel 3.4 Fasilitas pendidikanNo.Fasilitas PendidikanJumlah

1.TK10

2.SD15

3.MI6

4.SLTP3

5.MTS1

6.SMU1

7.SMK1

Berdasarkan tabel 3.4 didapatkan fasilitas pendidikan yang terdapat di Kelurahan Cilandak Timur sebanyak 37 fasilitias. Terbanyak adalah fasilitas SD dengan jumlah 15 sekolah dan Kelurahan Pejaten Timur hanya memiliki 1 sekolah MTS, SMU dan SMK.6) Fasilitas KesehatanTabel 3.5 Fasilitas kesehatanNo.FasilitasJumlah

1.Rumah sakit1

2.Puskesmas1

3.Rumah Bersalin-

4.Dokter 24 jam1

5.Dokter Gigi2

6.Balkesmas1

7.Bidan Swasta3

8.Laboratorium-

9.Apotik2

10.Klinik3

11.Posyandu23

12.Kader160

Terdapat berbagai macam fasilitas kesehatan di Kelurahan Cilandak Timur, dimana Posyandu merupakan pelayanan kesehatan yang terbanyak, yaitu sebanyak 23, sedangkan hanya terdapat satu puskesmas, rumah sakit, dokter 24 jam, dan balkesmas di Kelurahan Cilandak Timur.

7) Sepuluh Penyakit Terbanyak di Puskesmas Cilandak TimurTabel 3.6 Sepuluh penyakit terbanyak di Puskesmas Cilandak TimurNoDiagnosis penyakitJumlah kunjungan

1.Infeksi akut lain pada saluran pernapasan atas5712

2.Penyakit lainnya2759

3.Hipertensi1860

4.Diabetes mellitus732

5.Penyakit pada sistem otot732

6.Penyakit kulit alergi520

7.Gastritis330

8.Penyakit mata201

9.Diare (termasuk tersangka kolera)182

10.Penyakit kulit infeksi141

Total13.178

Berdasarkan data pada Tabel 3.6, jumlah penderita infeksi akut pada saluran napas bagian atas adalah yang tertinggi diantara 9 penyakit lainnya, yaitu sebesar 5712 penderita. Berdasarkan teori Bloom ISPA didapatkan karena adanya masalah perilaku dimana masyarakat belum mengerti sepenuhya mengenai ISPA baik dari penyebab, gejala, pengobatan, cara penularan maupun pencegahannya. Faktor perilaku hidup sehat yang tidak diterapkan seperti makanan dengan menu seimbang, olahraga yang teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras, serta istirahat yang cukup berperan sebagai penyebab ISPA.

3.1.3 Sumber Daya Puskesmasa. Sarana FisikGedung Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur pertama kali didirikan pada tahun 1976 di atas tanah seluas 300 m2 dengan luas bangunan 160 m2. Bangunan puskesmas telah direhab sebanyak 4 kali yaitu: tahun 1986, tahun 1989, tahun 1995 dan tahun 2009. Kemudian pada tahun 1995 didirikan Gedung Rumah Bersalin (RB) Kelurahan Cilandak Timur di atas tanah seluas 510 m2 dengan luas bangunan 180 m2. Gedung Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur terdiri dari dua Gedung yaitu Gedung Puskesmas dan Gedung Rumah Bersalin RB. Pada akhir tahun 2009 direhab total, dibangun menjadi satu Gedung diatas tanah seluas 810 m2 dengan luas bangunan 230 m2 yang terdiri dari dua Lantai.

b. KetenagaanTabel 3.7 Ketenagaan Puskesmas Kelurahan Cilandak TimurNo.Nama PetugasPendidikan TerakhirUmur (Thn)StatusPNS/HonorMasa KerjaGolPKM / RB

1Dr.Wida WildaniDokter34PNSIVPKM

2Drg.NerlaelaFKG50PNSIIIPKM

3AzizahBidan46PNSIIIPKM

4Fenny SusantiBidan41PNSIIIPKM

5Kelina SimarmataPerawat56PNSIIIPKM

6Mince KarliniPerawat40PNSIIPKM

7Nurani Sudi RahayuPrwt Gigi30Honor1IIPKM

8Retno Asri FitriyaniPerawat23Honor2IIPKM

9AbdurahmanS142Honor20-PKM

11MasuhudSLTA43PT7-PKM

12TukirahSD54PT7-PKM

13Heru SetawanSLTA30PT2PKM

Tenaga di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur berjumah 13 orang dengan rincian yang terdiri dari 6 orang PNS, 3 orang Honorer, dan 3 orang Outshorsing.

3. Peran Serta Masyarakat1. PosyanduPosyandu Kelurahan Cilandak Timur terdiri dari : 23 Posyandu yang tersebar di 6 RW (kecuali Rw.06), dan keseluruhannya berjalan aktif.Keadaan derajat posyandu yang dimiliki saat ini adalah : Posyandu Pratama: 0 buah Posyandu Madya: 3 buah Posyandu Purnama: 6 buah Posyandu Mandiri: 14 buah

4. LansiaUsia 45-59 Tahun: Laki-Laki = 1381 Orang Perempuan = 1254 Orang

Usia 60-69 Tahun: Laki-laki = 347 Orang Perempuan = 309 Orang

Usia > 70 Tahun Laki-laki = 90 Orang Perempuan = 95 OrangJumlah Keseluruhan Lansia : 3476 orang.

5. Sarana dan PrasaranaTabel 3.8 Sarana dan PrasaranaNoJenis SaranaUraianKondisi

1Lantai I

-Ruang BersalinTempat TidurBaik

-Ruang LoketKomputerBaik

-Ruang JagaLemari, Tempat tidurBaik

-Ruang Bayi MejaBaik

-Ruang Perawatan 1Tempat TidurBaik

-Ruang Perawatan 2Tempat TidurBaik

-Ruang Dokter JagaTempat TidurBaik

-Ruang DapurRak PiringBaik

-Ruang CuciMejaBaik

-Ruang TungguBangku TungguBaik

-Ruang PanelBaik

-Ruang PompaJet PumpBaik

-ToiletBaik

-LobiBaik

2. Lantai II

-Ruang 1 : KIA / KBTempat Tidur Periksa (2), Maja (2), Kursi (4), Kulkas (1), Lemari Alkes (2), Lemari Buku (1), AC (2) Tensi meter (2) Stetoscope, Timbangan bayi (1), Timbangan dws (1)Baik

-Ruang 2 : Ka.Puskesmas Tempat Tidur Periksa (1), Kursi Tamu (1 set), Lemari Perpustakaan (1), Filing Kabinet (1)Baik

-Ruang 3 : Poli GigiDental Unit (2), Meja (2), Kursi (4), Lemari Alkes (2), Kompresor (2), Sterilisator (1), Alat-alat Kesehatan lain Baik

-Ruang 4 : Poli UmumTempat tidur periksa (1), Meja periksa (2), kursi (5), Lemari alkes (2), Filing kabinet (1), Toa (1 set), Sterilisator (1)Baik

-Ruang 5 : Apotik/GudangLemari obat (3 ), Meja (1), meja obat (1), Rak Obat (2), Filing kabinet (1)Baik

-Ruang 6 : LaboratriumLemari Alkes (1), Lemari obat (1), Meja (1), Kursi (2), tempat tidur (1), Sterilisator (1), dan alat kesehatan lainnya Baik

-Ruang LoketRak Status (2), Meja (1), Komputer (1 set), Filing kabinet (1), buku status dllRusak / baik

-Ruang TungguBangku Tunggu (10), Televisi (1), Toa (1) dan posterBaik

-MusholahKarpet, sajadah, kipas anginBaik

-Ruang PanelAlat-alat listrik dan alat kebersihanBaik

-ToiletSabun dan lap

3.1.4 Fungsi Puskesmas Puskesmas Kelurahan merupakan unit pelaksanan teknis Dinas Kesehatan yang mempunyai tugas melaksanakan pelayanan, pembinaan, pengendalian, pengembangan upaya kesehatan, pendidikan, dan pelatihan diwilayah kerjanya Melakukan pembinaan, pengawasan, pengendalian terhadap pengelolaan dan pelayanan kesehatan Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar ISO 9001-2008 yang meliputi, Loket, Poli Umum, Poli Gigi, rekam medis, KIA, KB, Gizi, jiwa, Askes, Gakin, Laboratrium sederhana, apotik dan penyuluhan kesehatan serta klinik lain sesuai kebutuhan. Mengkoordinasikan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan yang meliputi keder kesehatan, posyandu, RS, BPS, PKK, RT/RW, karang taruna dll. Mengkoordinasi program, temu litas sektoral dalam penanggulangan masalah kesehatan masyarakat Menilai dan melaporkan kinerja, terjangkau, berksinambungan, mandiri dan mengutamakan kepuasan pelanggan

3.1.5 Tugas PokokPuskesmas Kelurahan Cilandak Timur merupakan unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan yang bertanggung jawab menyelenggarakan tercapainya tujuan pembangunan kesehatan Nasional yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan, pendidikan, dan pelatihan kesehatan serta kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah sekitarnya terutama di wilayah Kelurahan Cilandak Timur.Pembangunan Kesehatan di arahkan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan perioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi mulai dari dalam kandungan sampai dengan usia lanjut.Puskesmas memiliki tugas pokok adalah sebagai berikut : Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan ibu dan anak Pelayanan Keluarga berencana Upaya Pelayanan kesehatan gigi dan mulut Upaya Pelayanan gizi Upaya pelayanan kesehatan keluarga miskin (Gakin) Pencegahan dan pemberantasan penyakit Penyuluhan kesehatan masyarakat Kesehatan Sekolah Pelayanan kesehatan jiwa dan Napza Pelayanan Laboratrium Sederhana Pelayanan kesehatan mata Peningkatan kesehatan remaja Peningkatan kesehatan lingkungan Pengobatan dan Penanggulangan bencana Peningkatan kesehatan kerja Peningkatan kesehatan olah raga Upaya pengobatan tradisional Pencatatan dan pelaporan

3.1.6 Tujuan Mengembangkan profesionallisme SDM medis dan non medis Terwujudnya penempatan karyawan sesuai dengan ahlinya Meningkatkan prestasi kerja dan kinerja karyawan Terwujudnya mutu pelayanan kesehatan yang paripurna untuk kepuasan pelanggan sesuai standar ISO 9001-2008 Terwujudnya sistem manajemen puskesmas Terwujudnya kerjasama dengan mitra kerja, lintas sektoral dan institusi baik pemerintah maupun swasta Terwujudnya pengetahuan masyarakat tentang betapa pentingnya masalah kesehatan

3.2 Data Khusus Puskesmas3.2.1 VISI dan MISIVISI :Puskesmas adalah sebagai Unit Pelayanan Prima yang profesional, terjangkau, berkesinambungan, mandiri dan mengutamakan pelanggan.( sesuai standar ISO 9001-2008).MISI : Memberdayakan SDM yang professional dalam menghadapi era globalisasi Mengembangkan mutu pelayanan secara optimal baik promotif, preventif, kuantatif dan rehabilitatif Menggalang kerja sama dengan mitra kerja

3.2.2 SasaranSeluruh lapisan masyarakat terutama diwilayah kerja puskesmas baik masyarakat luar gedung puskesmas maupun petugas puskesmas itu sendiri.

I. MANAJEMEN PUSKESMASManajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang berkerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efisien (KepMenkes RI No.128/MENKES/SK/2004).Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada tiga fungsi manajemen puskesmas yang dikenal yakni P1, P2, dan P3.Berdasarkan wawancara dan pengamatan mengenai proses manajemen di Puskesmas Salaman I, diperoleh data sebagai berikut

1. Perencanaan (P1)a. Tahap PersiapanKepala puskesmas membentuk tim yang terdiri dari ketua, sekretaris dan penanggungg jawab masing-masing unit. Bahan perencanaan mengacu pada buku Pedoman Perencanaan tingkat Puskesmas. Kepala Puskesmas memberikan bahan perencanaan kepada masing-masing penanggungjawab dan menjelaskan mengenai Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP), kemudian mengadakan pengkajian bahan perencanaan tersebut untuk menentukan tujuan dan sasaran kegiatan. b. Tahap Analisis SituasiTim Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) mengumpulkan data umum dan data pencapaian target. Data umum diantaranya adalah data kependudukan dan data wilayah yang diperoleh dari kantor kelurahan dan kecamatan. Data sekolahdiperoleh dari kantor pendidikan nasional kecamatan. Sedangkan data pencapaian target diperoleh dari data Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas.Tiap unit mengumpulkan data hasil pencapaian kegiatan selama satu tahun kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk grafik, tabel dan peta. Data tersebut dianalisa dan dengan membandingkan dengan target yang mengacu pada SPM sebelumnya. Hasil analisa digunakan untuk laporan kegiatan tahunan dan acuan langkah berikutnya.c. Tahap Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan Masing-masing tim mengajukan rencana usulan kegiatan (RUK) dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung dan penghambat untuk menghasilkan hasil yang seoptimal mungkin. Prioritas masalah ditentukan oleh kepala Puskesmas beserta tim. Setelah prioritas ditentukan maka dipikirkan pemecahan masalah yang paling realistis dan logis. Alternatif pemecahan masalah harus memperhatikan biaya, sarana, tenaga, waktu serta teknologi yang ada. d. Tahap Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) disusun untuk setahun yang akan datang oleh pemimpin Puskesmas beserta tim dilaksanakan setelah dilakukan stratifikasi.RPK disusun berdasarkan priotitas masalah dan dirangkum dalam dokumen perencanaan. RPK disusun dengan memperhitungkan dana yang dimiliki dan dana yang didapatkan.

2. Penggerakan, Pelaksanaan dan Pengendalian (P2)a. Pengorganisasian Puskesmas sebagai organisasi fungsional dalam menjalankan fungsinya telah mempunyai struktur organisasi yang sesuai dengan fungsi Puskesmas dan uraian yang jelas mengenai target, wewenang dan tanggungjawab masing-masing staf, yang ditentukan pada lokakarya mini tahunan.Masing-masing staf mempunyai uraian yang jelas mengenai target, wewenang dan tanggung jawab yang ditentukan pada Lokakarya Mini Tahunan. Karena Puskesmas Salaman I merupakan Puskesmas rawat inap maka pembagian tugas agak berbeda dengan Puskesmas yang lain. Tenaga Puskesmas dibagi menjadi 3 kelompok tugas yaitu: Murni bertugas di lapangan Murni bertugas di rawat inap Campuran (bertugas di lapangan dan rawat inap)Untuk petugas rawat inap, jadwal kerja dibagi dalam 4 shift yaitu pagi, sore, malam dan libur.

b. Kepemipinan dan Pengisian StafPemimpin Puskesmas Salaman I berfungsi sebagai manajer, konsultan medis, dan penggerak masyarakat. Sebagai manajer pimpinan mendelegasikan tugas-tugas kepada staf sesuai kemampuannya. Pengisian staf dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga tiap unit, kemudian diinventarisasikan sesuai dengan jenis tenaga yang dibutuhkan. Setiap staf yang mengalami kesulitan dapat berhubungan langsung dengan kepala Puskesmas.

c. Kerjasama Lintas ProgramPenggalangan kerja sama lintas program dilaksanakan dalam bentuk Lokakarya Mini Tahunan. Pada lokakarya ini dibahas pembagian tugas masing-masing staf berupa:1. Tugas Pokok merupakan tugas pelayanan dan pembinaan kesehatan masyarakat, yaitu tugas yang berhubungan dengan fungsi Puskesmas dan berhubungan dengan pelayanan dan pembinaan kesehatan masyarakat di Puskesmas yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pokok.2. Tugas integrasi merupakan tugas pengembangan peran serta masyarakat, yaitu tugas yang dibebankan kepada seseorang yang berkaitan dengan pengembangan dan pembinaan peran serta masyarakat.3. Tugas tambahan merupakan tugas yang dibebankan kepada setiap petugas berdasarkan kesepakatan bersama serta atas perintah pimpinan. Masing-masing petugas sesuai tugas pokok, integrasi dan tambahan dibuatkan uraian tugas dan uraian kegiatan. Untuk memudahkan pelaksanaan tugas dibuatkan prosedur kerja yang merupakan rangkaian kerja yang berkaitan satu sama lain. Selain itu juga dibuatkan protap-protap baik medis teknis maupun teknis administratif.Lokakarya Mini Tahunan kemudian dilanjutkan dengan rapat kerja bulanan, yang membahas pencapaian kegiatan tiap bulan, masalah-masalah yang dihadapi serta rencana kegiatan pada bulan berikutnya. Pada rapat ini juga dibahas mengenai masalah individu berkaitan dengan motivasi kerja. Yang paling penting dari Lokakarya Mini tahunan ini adalah keluarannya, yaitu mengenai pembagian tugas dan masukan program.Berdasarkan hasil kunjungan kami ke Puskesmas Salaman I, kami belum melakukan pengamatan pada dokumen Lokakarya Mini Puskesmas yang seharusnya berisi : Daftar hadir peserta, Materi / Agenda, dan Tindak lanjut.

d. Kerjasama Lintas SektoralPuskesmas menjalin kerjasama lintas sektoral yang terkait dengan kesehatan dan mempunyai persamaan sasaran untuk merumuskan dan menetapkan tujuan-tujuan kegiatan kerjasama. Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk rapat koordinasi kecamatan (konferensi desa) yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Dalam pertemuan tersebut dibahas program-program sektoral yang mempunyai kesamaan sasaran dengan program kesehatan, contoh kesehatan ibu dan anak. Bentuk hasil pertemuan tersebut dapat berupa informasi yang akan ditindaklanjuti oleh Puskesmas sendiri ataupun dalam bentuk kesepakatan dan pembentukan tim. Puskesmas yang menjalin kerjasama dengan Puskesmas Salaman I yakni Puskesmas disekitar Kawedanan Salaman yakni : Puskesmas Salaman II, Puskesmas Kajoran I, Puskesmas Kajoran II, Puskesmas Borobudur, Puskesmas Tempuran.

e. Kerjasama Lintas WilayahPuskesmas menjalin kerjasama lintas wilayah dengan Puskesmas lain terkait dengan masalah kesehatan yang menuntut adanya kerja sama dan kesamaan dalam tujuan yang ingin dicapai.

f. PembimbinganPembimbingan oleh kepala puskesmas dilakukan dalam bentuk penyampaian informasi kebijakan terbaru kepada para staf dan konsultasi jika staf menemui masalah dalam pelaksanaannya. Kepala puskesmas berusaha mencarikan jalan keluar, selain itu juga memberikan pembinaan dalam segi administrasi dan teknis serta peran serta masyarakat. Para staf dapat memperoleh peningkatan pengetahuan atau wacana dari kepustakaan yang dimiliki puskesmas.

3. Pengawasan, Penilaian dan Pertanggungjawaban (P3) Adalah proses memperoleh kepastian, kesesuaian penyelenggaraan, dan pencapaian tujuan Puskesmas terhadap rencana dan Undang- undang yang berlaku. Pengawasan terdiri atas pengawasan internal dari atasan langsung (Kepala Puskesmas) terhadap seluruh staf dan pengawasan eksternal yang dilakukan sebagian masyarakat dan dinas kesehatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan Puskesmas, dengan ruang lingkup administratif, keuangan, teknis pelayanan yang dilakukan di Puskesmas Cilandak Timur. Penilaian dilakukan pada akhir tahun meliputi penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan dan standar pelayanan. Untuk program KIA dan imunisasi, penilaian hasil kegiatan adalah dengan sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yaitu pemantauan adanya kenaikan kasus.Pertanggungjawaban dilakukan melalui laporan pertanggung-jawaban tahunan yang berisi tentang pelaksanaan kegiatan, perolehan sumber dana (keuangan), dan penggunaan sumber daya. Laporan pertanggungjawaban dibuat oleh Kepala Puskesmas pada setiap akhir tahun anggaran yang mencakup didalamnya pelaksanaan kegiatan serta perolehan dan penggunaan berbagai sumber daya termasuk keuangan, disampaikan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota serta pihak- pihak terkait lainnya, termasuk masyarakat.

18

3.2.3 Struktur Organisasi dan Deskripsi Kerja PuskesmasKepala PusksmasDr.Wida WildaniWaka PuskesmasDrg.NurlaelaKegiatan Luar GedungKegiatan Dalam GedungTata Usaha Posyandu: Azizah Imunisasi: Feny Susanti GSI: Azizah CHN: Mince Karlini Lansia: Retno Asri F PSN/DBD: Kelina Diare: Retno Asri F KB: Azizah & PLKB TTU: Kelina Toga: Kelina Promkes: Kelina Jiwa: Retno Asri F Napza: Mince Karlini TBC: Mince Karlini PE: Kelina UKS: Kelina KRR: Dr.Wida Wildani UKGS: Drg.Nurlela-Nur UKGMD: Drg.Nurlela-Nur Kusta: Mince Karlini Keuangan: Drg.Nurlela Tata Usaha: Abdurahman Bp Umum: Dr.Wida Bp Gigi: Drg.Nurlela KIA: Feny Susanti KB: Azizah Imunisasi: Feny Susanti TBC: Mince Karlini ISPA: Retno Asri F Diare: Retno Asri F DBD: Kelina MTBS: Retno Asri F Tindakan: Retno Asri F Obat: Retno Asri F Lab Sederhana: Mince Karlini Kematian: Kelina Loket: Rahman Kasir: Rahman BPJS: Rahman Inventaris: Rahman SP2TP: Rahman SIK: Rahman Kebersihan: Heru/Tukirah Keamanan: Suhud Dapur: TukirahDaerah BinaanRw.01Rw.02Rw.03Rw.04Rw.05Rw.06Rw.07

LoketBPUBPGKIA-KBObatLabTindakanAbdurahmanDrg.Lela-NurAzizah-FenyRetnoMinceKelinaDr.Wida

Gambar 3.2 Struktur Organisasi Dokter/ Kepala Puskesmasa. Tugas pokok: merencanakan, mengusahakan, dan mengevaluasi program-program serta fungsi Puskesmas agar berjalan dengan baik. b. Fungsi : Sebagai seorang manager : Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen di Puskesmas. Melaksanakan kerjasama lintas program maupun sektorial baik secara vertikal maupun horizontal. Menerima konsultasi semua kegiatan di Puskesmas. Sebagai seorang dokter : Melakukan pemeriksaan dan pengobatan pasien Merujuk kasus yang tidak bisa ditangani di Puskesmas Memberikan penyuluhan, edukasi kesehatan, dan motivasi kepada pasien dan masyarakat Mengawasi pelaksanaan pelayanan obat di Puskesmas Membantu membina kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan peran masyarakat. Melakukan pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan di Puskesmas Dokter Gigia. Tugas Pokok: mengusahakan agar pelayanan kesehatan gigi dan mulut dapat berjalan dengan baik.b. Fungsi: Mengawasi pelaksanaan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada pasien dan masyarakat Membina kerjasama lintas sektoral baik secara vertikal maupun horizontal Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan di Puskesmas Perawata. Tugas Pokok: Membantu melaksanakan pelayanan kesehatan umum di Puskesmasb. Fungsi: Membantu dokter umum dalam melakukan pelayanan kesehatan di Puskesmas Melaksanakan program UKS ( Usaha Kesehatan Sekolah) Melaksanakan kunjungan kesehatan Perawat Gigia. Tugas Pokok: membantu melaksanakan pelayanan kesehatan gigi di Puskesmas.b. Fungsi: Membantu dokter gigi dalam pelayanan kesehatan di puskesmas. Merujuk kasus yang perlu ditindaklanjuti seorang dokter gigi. Melaksanakan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah). Melaksanakan kunjungan kesehatan gigi. Bidana. Tugas Pokok: melaksanakan kegiatan pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas agar dapat berjalan dengan baik.b. Fungsi : Melakukan pemeriksaan berkala pada ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak Memberikan imunisasi pada bayi dan ibu hamil Membina bidan dan dukun bayi Melaksanakan kegiatan Posyandu dan kegiatan terpadu lain yang terkait dengan KIA Melakukan penyuluhan kesehatan Melakukan rujukan kasus bila tidak mampu mengatasi Melakukan pencatatan dan pelaporan Tata Usahaa. Tugas pokok: Menghimpun dan menyusun semua laporan kegiatan Puskesmas Menghimpun, mengatur, dan menyimpan surat-surat masukb. Fungsi : Membuat dan mengumpulkan surat-surat penting Mengumpulkan laporan berkala setiap hasil kegiatan Puskesmas Penyiapan dan pengaturan tata usaha kepegawaian Puskesmas Melakukan laporan berkala terkait ketatausahaan.

Petugas Kesehatan Lingkungana. Tugas pokok: merencanakan, melaksanakan dan mengkoordinasi kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular di wilayah kerja Puskesmas.b. Fungsi : Mengawasi dan memantau berbagai penyakit di wilayah kerja Puskesmas Melaksanakan tindakan pemberantasan penyakit menular Melaksanakan penyuluhan kesehatan tentang penyakit menular Melakukan pengobatan kepada pasein dengan penyakit menular atas anjuran dokter Melakukan kunjungan rumah Ikut dalam kegiatan Puskesling dan kegiatan terpadu lain yang terkait P2P Melakukan pencatatan dan pelaporan Petugas Gizia. Tugas pokok: merencanakan, melaksanakan, dan mengkoordinasi kegiatan perbaikan gizi di wilayah kerja Puskesmasb. Fungsi : Memantau keadaan gizi masyarakat Membantu meningkatkan kerja sama lintas sektoral terkait dengan gizi Memberikan penyuluhan dan melatih kader gizi Melaksanakan pemberian makanan tambahan Melakukan pembagian vitamin A secara periodik Melakukan monitoring garam beryodium secara periodik Melakukan pembinaan Posyandu Melakukan rujukan kasus gizi yang tidak dapat ditangani di Puskesmas Melaksanakan pemberian makanan tambahan

Honorer Cleaning Servicea. Tugas pokok: mengendalikan dan menghilangkan semua unsur fisik dan lingkungan yang memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat.b. Fungsi : Pengawasan lingkungan Puskesmas Melaksanakan kerjasama lintas sektoral baik vertikal maupun horizontal Ikut serta dalam Puskesling dan kegiatan terpadu Pengawasan dan penyehatan lingkungan perumahan Pengawasan pembuangan sampah Pengawasan makanan dan minuman Pembuatan SPAL (Sistem Pembuangan Air Limbah) Melakukan pencatatan dan pelaporan.

Honorer Umuma. Tugas Pokok: melakukan proses pelayanan di loket pendaftaran pada semua pengunjung Puskesmas.b. Fungsi : Melakukan pelayanan pendaftaran pengunjung secara berurutan Memberikan status/catatan medis untuk setiap pasien. Mencatat semua kunjungan pasien pada buku Menata kembali dengan rapi status yang sudah digunakan pada hari tersebut Melakukan pencatatan dan pelaporan

Honorer Asisten Apotekera. Tugas pokok: menerima resep, meracik, membungkus, dan memberikan obat.b. Fungsi : Melaksanakan kegiatan pengelolaan obat Membantu pelaksanaan kegiatan petugas gudang obat Membantu dalam penyimpanan obat dan administrasi dari obat di apotek Membantu distribusi obat ke Puskesling dan Pustu Melakukan pencatatan dan pelaporan obat.

3.3 Program Pokok Puskesmas1. Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global, serta yang mempunyai daya tingkat tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah : 1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB)2. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat3. Upaya Kesehatan Lingkungan4. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P)5. Promosi Kesehatan6. Upaya Pengobatan

2. Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemmapuan puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada yakni:a. Upaya Kesehatan Sekolahb. Upaya Kesehatan Jiwac. Upaya Perawatan Kesehatan masyarakatd. Upaya Kesehatan Usia Lanjute. Upaya Pembinaan Pengobatan tradisionalf. Upaya Kesehatan Olah Ragag. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut

3. Upaya Kesehatan Inovasia. Rawat Inapb. Laboratoriumc. EKGd. Apoteke. Radiologi f. Klinik Gizig. Klinik sanitasih. Pelayanan Kebersihan Gedung dan Lingkungan

A. Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas1. Kesehatan Ibu dan Anak Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak merupakan upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak pra sekolah. Tujuan dari program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu menuju NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) serta meningkatkan derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.Tabel 3.9 Hasil Kegiatan Pelayanan KIA Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur AprilJuni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Cakupan kunjungan bumil K11005911471359191

Cakupan kunjungan bumil K49659114710470,773.64

Ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani88709177158,59,6

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan985571391289293,8

CPR (KB Aktif)85300475149666,0477,69

Kunjungan Nifas 985571391007273,50

Cakupan Kn1 (lahir - 48 jam)1005371349268,6568,65

Cakupan KN9753713412593,296,08

Cakupan PKN1008120157575

Cakupan kunjungan bayi9753713412794,797,6

Cakupan kunjungan balita921301325360110,7120,4

Cakupan kunjungan balita sakit92146336630081,9689,08

Hasil kegiatan KIA di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur pada bulan April Juni 2015 menunjukkan 12 indikator yang dinilai. Dari indikator-indikator tersebut didapatkan 11 indikator yang pencapaiannya tidak mencapai 100%, sedangkan 1 indikator, yaitu cakupan kunjungan balita, memiliki pencapaian yang melebihi target, yaitu 120,4%.

Tabel 3.10 Hasil Kegiatan Pelayanan KB Puskesmas Cilandak Timur April-Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran tahunanSasaran 3 bulanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

KB Baru88111127815555,7563,35

KB Aktif85300475149666,0477,69

PUS 4T berKB7810462625721,7527,89

Tabel 3.10 menunjukkan hasil kegiatan pelayanan KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur periode April-Juni 2015. Dari 3 indikator yang dinilai, tidak ada 1 indikator pun yang mencapai target 100%. Pencapaian yang paling tinggi adalah indikator KB aktif, sedangkan yang paling rendah adalah indikator PUS 4T berKB.

2. GiziTujuan dari program perbaikan gizi adalah untuk menurunkan angka penyakit akibat kurang gizi yang umumnya diderita oleh masyarakat berpenghasilan rendah, terutama balita dan wanita. Kegiatan gizi terdiri dari konseling gizi, monitoring garam di pasar atau masyarakat, pemberian vitamin A dosis tinggi pada balita dan ibu hamil, pemberian kapsul yodium pada ibu nifas dan anak, kunjungan rumah BGM dan gizi buruk.a. Jenis kegiatan: pemantauan dan pertumbuhan balitab. Indikator: Balita yang datang dan ditimbang Balita yang gizi buruk mendapat perawatan Balita usia 6 59 bulan medapat kapsul vitamin A Balita usia 0 6 bulan mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif Cakupan ibu hamil diberi 90 tablet Fe Rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium

Tabel 3.11 Hasil Kegiatan Pemantauan dan Pertumbuhan Balita Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur April Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Balita yang datang dan ditimbang 851301325,21983152,4179,3

Balita yang gizi buruk mendapat perawatan1001301325,2000

Balita usia 6 59 bulan medapat kapsul vitamin A85Tidak Ada

Balita usia 0 6 bulan mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif801301325,227921,4426,8

Cakupan ibu hamil diberi 90 tablet Fe9559114714497,9103,05

Rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodiumTidak ada

Presentase kabupaten/kota melaksanakan surveilensi gizi

Presentase penyediaan buffer stock Makanan Pendamping ASI untuk daerah bencana

Tabel 3.11 menunjukkan hasil kegiatan pemantauan pertumbuhan balita di Puskesmas Ciladak Timur periode April-Juni 2015. Kegiatan ini menilai 8 indikator, 2 diantaranya yaitu balita yang datang ditimbang dan cakupan ibu hamil diberi 90 tablet Fe, memiliki pencapaian yang melebihi target 100%, sedangkan 4 indikator tidak memiliki data.

3. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P)Tujuan program ini adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari penyakit.Jenis Kegiatan:a. P2 ISPAIndikator :1) Cakupan balita dengan pneumoni yang ditemukan/ditangani (sesuai standar) (100%)Tabel 3.12 Hasil Kegiatan P2 ISPA Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur April Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Cakupan balita dengan pneumoni yang ditemukan/ditangani (sesuai standar)10015839000

Dari tabel 3.12 di atas dapat dilihat bahwa pencapaian kegiatan P2 ISPA adalah 0 karena tidak ditemukannya kasus tersebut selama 3 bulan berjalan.a. P2 DiareIndikator :1) Balita dengan diare yang ditangani sesuai standar

Tabel 3.13 Hasil Kegiatan P2 Diare Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur Bulan April Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Balita dengan diare yang ditangani100129032320964,764,7

Tabel 3.13 menunjukkan pencapaian hasil kegiatan P2 Diare di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur masih kurang dari target 100%. b. ImunisasiIndikator :1) HB02) BCG3) DPT HB Total (1)4) DPT HB Total (2)5) DPT HB Total (3)6) Polio 17) Polio 2 8) Polio 39) Polio 410) Campak

Tabel 3.14 Hasil kegiatan P2P Imunisasi Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur April - Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

HB0*80536134836277,5

BCG*9553613410477,681,68

DPT HB Total (1)*9553613410779,8584,05

DPT HB Total (2)*9553613412291,0495,83

DPT HB Total (3)*9553613410175,3779,33

Polio 1*9553613411585,8290,3

Polio 2*905361349873,1381,25

Polio 3*9053613411283,5892,87

Polio 4*905361348966,473,78

Campak*955361348865,6769,12

Tabel 3.14 menunjukkan 10 indikator kegiatan P2P Imunisasi. Dari 10 indikator tersebut, tidak ada satu pun yang mencapai target 100%. Pencapaian tertinggi terdapat pada indikator imunisasi DPT HB Total (2), sedangkan yang paling rendah adalah indikator imunisasi Campak.

4. Kesehatan LingkunganUpaya kesehatan lingkungan ini bertujuan agar berubahnya, terkendalinya atau hilangnya semua unsur fisik dan lingkungan yang terdapat di masyarakat dimana dapat memberikan pengaruh jelek terhadap kesehatan.Jenis kegiatan :a. Pelayanan Kesehatan Lingkungan Indikatornya : Institusi yang dibina Rumah sehat Penduduk yang memanfaatkan jamban Rumah yang mempunyai SPAL

Tabel 3.15 Hasil Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur April-Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Rumah sehat704896122426621,7331,04

Penduduk yang memanfaatkan jamban sehat75523513094217322,15429,53

Rumah yang mempunyai SPAL65523513094120314,74484,21

Tabel 3.15 menunjukkan 3 indikator kegiatan pelayanan kesehatan lingkungan. Satu indikator yaitu rumah sehat memiliki pencapaian yang masih kurang dari target, sedangkan 2 indikator lainnya memiliki angka pencapaian yang melebihi target.a. Pelayanan higienis dan sanitasi di tempat umumIndikatornya : TTU yang diperiksa TTU yang memenuhi syarat sanitasi TP2M yang diperiksa TP2M yang memenuhi syarat sanitasi Rumah/bangunan bebas jentik Aedes

Tabel 3.16 Hasil kegiatan Pelayanan Higienis dan Sanitasi Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur April Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang diperiksa1001236200200

Tempat-tempat umum(TTU) yang memenuhi syarat sanitasi801038266,6333.3

Tempat Pengolahan Makanan & Penjualan(TP2M) diperiksa90625250277,78

TP2M yang memenuhi syarat sanitasi751243185274,2365,58

Rumah/bangunan bebas jentik Aedes100489612241296105,8105,88

Tabel 3.16 menunjukkan 5 indikator pelayanan sanitasi. Kelima indikator tersebut sudah memiliki angka pencapaian yang melebihi target. Pencapaian tertinggi dimiliki oleh TP2M yang memenuhi syarat sanitasi, yaitu 365,58%, sedangkan yang terendah adalah rumah/bangunan bebas jentik Aedes dengan angka 105,88%.

5. Promosi KesehatanPelayanan promosi kesehatan merupakan upaya di bidang kesehatan yang menitikberatkan pada peningkatan kesehatan taraf hidup masyarakat melalui upayaupaya pembinaan dan pengembangan peran aktif masyarakat melalui media penyuluhan. Tujuan dari program promosi kesehatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.Jenis kegiatan:a. Penyuluhan, pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA1) Penyuluhan P3NAPZA di sekolah 2) Penyuluhan HIV/AIDS di sekolah 3) Penyuluhan NAPZA dan HIV/AIDS oleh petugas kesehatan4) Kasus infeksi menular seksual yang diobati

Tabel 3.17 Hasil kegiatan Promosi Kesehatan Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur April-Juni 2015IndikatorTarget (%)Sasaran1 TahunSasaran3 Bulan BerjalanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

Penyuluhan P3 NAPZA* di Sekolah10052513111890,0790,07

Penyuluhan HIV/AIDS* di Sekolah1005251319673,2873,28

Penyuluhan NAPZA dan HIV/AIDS oleh petugas kesehatan8696888494,31392,95

Klien yang mendapatkan penanganan HIV/AIDS7520524053,3

Kasus infeksi menular seksual yang diobati75205480106,67

Tabel 3.17 menunjukkan 5 indikator kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur. Dua diantaranya memiliki angka pencapaian yang melebihi target, yaitu indikator penyuluhan NAPZA dan HIV/AIDS (392,95%) dan kasus infeksi menular seksual yang diobati (106,67%). Tiga indikator lainnya memiliki angka pencapaian yang masih kurang dari target, dengan pencapaian terendah adalah indikator klien yang mendapatkan penanganan HIV/AIDS, yaitu 53,3%.

17

53

BAB IVMETODE DIAGNOSTIK KOMUNITAS

0. Rancangan Diagnostik KomunitasPenelitian ini menggunakan mix method dimana penelitian dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan mendeskripsikan dan menganalisa data untuk memberikan gambaran objektif dari suatu program tertentu.Rancangan penelitian yang digunakan berupa survei data untuk menilai penyelenggaraan suatu program, kemudian hasil analisa data tersebut dapat digunakan untuk rencana perbaikan program bagi kesehatan masyarakat.0. Metode Diagnostik4.2.1 Jenis DataJenis data pada evaluasi program ini adalah menggunakan data kualitatif dan data kuantitatif.1. Data KualitatifData ini diperoleh dari hasil wawancara dengan pasangan usia subur yang belum mengikuti program KB dan hasil wawancara dengan pemegang program KB2. Data KuantitatifData ini diperoleh dari data pelaporan cakupan KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur.

4.2.2 Sumber DataSumber data berasal dari dokumen-dokumen program KB, wawancara kepada koordinator pemegang program KB dari Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dan Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur, serta warga Kelurahan Cilandak Timur baik yang berkunjung ke poli KIA, KB, atau dari kunjungan rumah.4.2.3 Indikator KesehatanMenurut World Health Organization (WHO) yang mengeluarkan World Health Statistic, kesehatan penduduk dilihat dari indikator-indikator kesehatan. Indikator tersebut mewakili status kesehatan komunitas secara umum; ketersediaaan dan kualitas dari data; reabilitas dan komparabilitas dari perkiraan hasil. Indikator tersebut berada dalam area-area: 1. Cakupan pelayanan kesehatan1. Tenaga kesehatan, infrastruktur, dan obat-obatan1. Biaya kesehatan 1. Penyamarataan dalam tingkat kesehatan1. Statistik demografi dan sosial ekonomi1. Sistem informasi kesehatan dan ketersediaan data.Berdasarkan hal tersebut diatas, maka cakupan penemuan pasien yang mengikuti program KB memenuhi semua aspek indikator kesehatan menurut World Health Statistic WHO yang harus diperhatikan.

4.3 Lokasi dan WaktuLokasi penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur, kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan dengan data yang digunakan dari bulan April 2015 sampai dengan Juni 2015.

4.4 Sampel Diagnostik Komunitas Sampel yang digunakan pada evaluasi program rencana peningkatan cakupan KB PUS 4T memiliki kriteria inklusi sebagai berikut :1. Pasangan usia subur yang belum mengikuti program KB1. Pasangan usia subur dengan kriteria 4T.1. Terdaftar sebagai penduduk Kelurahan Cilandak Timur.Adapun kriteria eksklusi pada evaluasi ini sebagai berikut :1. Pasangan usia subur yang belum ber-KB namun tidak bersedia diwawancara.2. PUS 4T yang tidak bersedia untuk diwawancara.

4.5 Analisis KomunitasBerdasarkan data yang didapatkan dari pelaporan tahunan yang ada di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur diketahui bahwa cakupan program KB selama 3 bulan belum memenuhi sasaran yang telah ditetapkan.Masalah belum tercapainya target cakupan KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur perlu disusun alternatif pemecahan masalah dengan mencari tahu penyebab utama dari masalah tersebut. Menurut keragka teori faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakberhasilan program KB adalah:1. Keinginin pasanga usia subur untuk memiliki anak lebih dari 2.1. Ketakutan ibu usia subur akan cara pemasangan dan efek samping dari KB.1. Ketidaktahuan atau kurangnya informasi yang dimiliki para Pasangan Usia Subur di wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur.1. Tenaga kesehatan: Kinerja tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan KB, memberikan penyuluhan untuk memperluas informasi para calon pengguna KB, dan peran aktif kader.1. Kader: Kinerja dan motivasi kader.

BAB VANALISIS MASALAH

Hasil cakupan Standar Pelayanan Minimal (SPM) kegiatan KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur pada bulan April sampai dengan Juni 2015 menunjukkan beberapa indikator yang masih bermasalah dan perlu diupayakan pemecahannya dengan menggunakan kerangka pemikiran pendekatan sistem sebagai berikut :1. Input:1. Man: - pemegang program dokter umum bidan kader pasangan usia subur 4T yang belum mengikuti kegiatan KB1. Money : Biaya operasional kesehatan1. Material : - puskesmas alat-alat yang dibutuhkan untuk pemasangan kontrasepsi media promosi kegiatan KB, seperti brosur, leaflet, dll1. Machine: transportasi untuk memudahkan kegiatan KB1. Method: - skrining pasangan usia subur dengan kriteria 4T penyuluhan tentang kegiatan KB pemasangan alat kontrasepsi

2. Prosesa. Proses 1 (P1): - pembentukan tim penanggung jawab program KB oleh kepala puskesmas Membuat perencanaan tingkat puskesmas untuk kegiatan KB Pengumpulan data umum dan data pencapaian target program KB Penetuan prioritas masalah dalam kegiatan KB Perencanaan usulan kegiatan program KB Rencana pelaksanaan kegiatan program KB yang disusun untuk 1 tahunb. Proses 2 (P2): - pengorganisasian staf pelaksana program KB Melaksanakan kerjasama dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan program KB, misal kader, ketua RT setempat, dll Melaksanakan kerja sama sektorial dengan pemegang program KB di Kecamatan dan dengan puskesmas lainnya Pengarahan oleh kepala puskesmas tentang pelaksanaan kegiatan KB Pelaksanaan program kegiatan KB dengan sasaran masyarakat

3. Proses 3 (P3): - pengawasan internal dari kepala puskesmas terhadap staf pelaksana kegiatan KB Penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan KB dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu Pembuatan laporan hasil kegiatan KB dan sumber daya yang digunakan4. Lingkungan: kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang resiko dari 4T dan program KBPendekatan sistem ini kemudian akan dianalisis dengan menggunakan sistem fish bone analysis.5.1 Alur Pemecahan MasalahAdapun kerangka pemikiran pendekatan sistem dapat diselesaikan dengan menggunakan algoritma problem solving cycle di bawah ini:7. Penentuan rencana penerapan3. Penentuan penyebab masalah8.Monitoring dan evaluasi2. Penentuan proritas masalah1. Identifikasi Masalah4. Memilih penyebab yang paling mungkin6. Penetapan pemecahan masalah terpilih5. Menentukan alternatif pemecahan masalah

Gambar 5.1 Siklus Pemecahan Masalah

Siklus pemecahan masalah adalah seperti berikut :1. Identifikasi/ Inventarisasi masalahPengumpulan seluruh data kegiatan wajib Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur dari masing-masing pemegang program, kemudian data-data tersebut dinilai menggunakan format SPM untuk dibandingkan hasil kegiatan program dengan sasaran dan target yang telah ditentukan. 2. Penentuan prioritas masalahSetelah dibandingkan hasil kegiatan program puskesmas dengan sasaran dan target yang telah ditentukan, didapatkan 41 masalah yang pencapaiannya kurang atau lebih dari 100%, kemudian dilakukan penentuan prioritas masalah menggunakan metode Hanlon kuantitatif. Masalah yang menjadi prioritas di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur adalah Program PUS 4T berKB dengan target 78%, sedangkan pencapaiannya hanya 27.89%.3. Penentuan penyebab masalahAnalisis penyebab masalah terdiri dari input, proses dan output yang masing-masing telah dijelaskan diatas. Analisis dilakukan dengan sistem fish bone.1. Menentukan alternatif pemecahan masalahSetelah dilakukan analisis penyebab masalah, maka akan direncanakan beberapa alternatif pemecahan masalah, seperti pendekatan ke masyarakat untuk menggalakan program KB dan alternatif lainnya.2. Penetapan pemecahan masalah terpilihSetelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan pemilihan prioritas pemecahan yang terpilih. Apabila ditemukan beberapa alternatif maka digunakan Hanlon kualitatif untuk menentukan pemecahan terbaik, dengan menggunakan rumus M x I x I/C.3. Penyusunan rencana penerapanRencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plan of Action atau Rencana Kegiatan).4. Monitoring dan evaluasiAda dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan.

5.2 Kerangka Pikir MasalahMasalah yang didapatkan di Puskesmas Cilandak Timur adalah Pasangan Usia Subur dengan Kriteria 4T yang mengikuti kegiatan KB dengan pencapaian 27.89% pada bulan April 2015 Juni 2015 dari target yang sudah ditentukan yaitu 78%. Hasil cakupan kegiatan tersebut merupakan masalah yang perlu dicari pemecahannya.Untuk memecahkan masalah tersebut digunakan kerangka pendekatan sistem yang terdiri dari input, proses, output dan lingkungan yang mempengaruhi input dan proses. Input terdiri dari Man (Pemegang program, Dokter, Bidan, Kader, Pasangan Usia Subur dengan Kriteria 4T), Money (Biaya operasional kesehatan), Material (Puskesmas, Posyandu, Alat-alat kontrasepsi), Method (Peningkatan pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya kontrasepsi, menyediakan fasilitas pelayanan KB), Machine (Media promosi dalam penyuluhan, Transportasi untuk memudahkan kegiatan KB). Untuk proses terdiri dari P1 (Pembentukan staf untuk menjalankan kegiatan KB, perencanaan kegiatan program KB), P2 (Terlaksananya penyuluhan sesuai jadwal, Pelaksanaan pelayanan KB kepada masyarakat), P3 (Pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan). Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap input dan proses yaitu kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengikuti program KB.Setelah ditentukan penyebab masalah, maka selanjutnya menentukan alternatif pemecahan masalah dan menentukan prioritas pemecahan masalah yang terbaik dengan rumus M x I x V/C. Kemudian membuat rencana penerapan pemecahan masalah yang dibuat dalam bentuk POA (plan of action). Kegiatan tersebut dipantau apakah penerapannya sudah baik dan apakah masalah tersebut sudah dapat dipecahkan.

5.3 Cakupan Program Puskesmas Yang BermasalahBerdasarkan data yang diperoleh dari hasil analisis data Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur bulan April sampai dengan Juni 2015, program KIA, KB merupakan program yang sebagian komponennya belum mencapai hasil yang ditargetkan. Komponen - komponen program tersebut yaitu:Tabel 5.1 Hasil Kegiatan Puskesmas yang BermasalahNoProgramPencapaian(< 100%)

1.Cakupan kunjungan bumil k191

2.Cakupan kunjungan bumil k473,64

3.Ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani9,6

4Pertolongan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan93,8

5.CPR (KB Aktif)77,69

6.Kunjungan nifas73,5

7.Cakupan Kn1 (lahir - 48 jam)68,65

8.Cakupan KN96,08

9.Cakupan PKN75

10.Cakupan kunjungan balita sakit89,08

Dari data diatas, Kami mengambil komponen indikator yang paling lengkap dan menjadi pokok masalah di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur pada Bulan April Juni 2015, yaitu Keluarga Berencana (KB). Indikator Target (%)Sasaran tahunanSasaran 3 bulanCakupanPencapaian (%)

KegiatanPersen (%)

KB Baru881111277,7515555,7563,35

KB Aktif85300475149666,0477,69

PUS 4T berKB781046261,55721,7527,89

Tabel 5.2 Hasil kegiatan program KB yang bermasalah

5.4 Teknik Prioritas MasalahDari tabel diatas didapatkan 3 masalah pada Standar Pelayanan Minimal KB Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur bulan April Juni 2015. Untuk menentukan prioritas masalah, perlu dilakukan dengan metode Hanlon Kuantitatif.I. Metode Hanlon Kuantitatif Merupakan metode yang mudah dipakai untuk menentukan prioritas masalah, dengan rumus :(A + B) x C x D

Kriteria A : Besar Masalah Langkah 1: Menentukan besar masalah dengan cara menghitung selisih persentase pencapaian dengan target. Tabel 5.3 Program-Program yang Belum Mencapai TargetNoProgramPencapaian(< 100%)Besarnya masalah(100% - % pencapaian)

1.KB baru63,3536,65

2.KB aktif77,6922,31

3.PUS 4T yang menggunakan KB27,8972,11

Langkah 2 : Menentukan kelas dengan menggunakan rumus Sturgessk = 1 + 3,3 Log nKeterangan: n = jumlah masalahk = jumlah kelas

dalam contoh masukkan ke rumus : k = 1 + 3.3 log n = 1 + 3.3 log 3 = 1 + 3,3 x = 1 + 1,65 = 2,65 3Langkah 3 : Menentukan interval dengan menghitung selisih persentase masalah terbesar dengan masalah terkecil kemudian dibagi dengan nilai kelas.Nilai besar masalah : terbesar= 72,11terkecil = 22,31

Interval :nilai terbesar nilai terkecil k : 72,11 22,3116,6 3

Tabel 5.4 Pembagian Interval KelasKolom/KelasSkala intervalNilai

Skala 1Skala 2Skala 3Skala 422,31 38,9139,92 55,5255,53 72,1372,14 88,74

1234

Langkah 4 : Menentukan nilai tiap masalah sesuai dengan kelasnyaTabel 5.5 Nilai Masalah Sesuai KelasMasalahBesarnya masalah terhadap presentase pencapaianNilai

22,31 38,91(1)39,92 55,52(2)55,53 72,13(3)72,14 88,74(4)

KB baruX1

KB aktifX1

PUS 4T berKBX3

Kriteria B : Kegawatan MasalahKriteria ini dilakukan dengan cara menentukan kegawatan, tingkat urgensi, dan kecenderungan penyebaran dengan sistem skoring dengan skor 1- 5.

Tabel 5.6 Daftar Masalah Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur Berdasarkan Kriteria BMasalahKegawatanTingkat urgensiTingkat PenyebaranNilai

KB baru4,04,852,911,75

KB aktif4,253,63,010,85

PUS 4T yang berKB4,84,92,211,9

Kriteria C : Kemudahan dalam penanggulanganKemudahan dalam penanggulangan masalah diukur menggunakan sistem skoring dengan nilai 15.

Tabel 5.7 Daftar Masalah Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur Berdasarkan Kriteria CNoProgramPenanggulangan

1.KB baru4

2.KB aktif4

3.PUS 4T yang berKB4

Kriteria D: PEARLKelompok kriteria D terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan dapat atau tidaknya suatu program dilaksanakan dengan skor nilai 1 bila jawaban ya dan 0 jika tidak.

Tabel 5.8 Daftar Masalah Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur Berdasarkan Kriteria DMasalahPropriateEconomicAcceptabilityResourcesLegalityHasil kali

KB baru111111

KB aktif111111

PUS 4T yang berKB111111

I. Penilaian Prioritas MasalahSetelah didapatkan nilai dari kriteria A, B, C, dan D, hasil tersebut dimasukkan dalam formula Nilai Prioritas Dasar (NPD) serta Nilai Prioritas Total (NPT) untuk menentukan prioritas masalah yang dihadapi:NPD = (A + B) x CNPT = (A + B) x C x D

Tabel 5.9 Urutan Prioritas Berdasarkan Perhitungan Hanlon KuantitatifNoProgramABCDNPDNPTPeringkat Masalah

1.KB baru111,75415151II

2.KB aktif110,854147,447,4III

3.PUS 4T berKB311,94159,659,6I

5.5 Urutan Prioritas Masalah

1. PUS 4T berKB1. KB baru1. KB aktif

BAB VIANALISIS PEMECAHAN MASALAH

6.1 Analisis Penyebab MasalahTerdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan kesenjangan antara target yang ditetapkan dengan hasil yang dicapai. Untuk memudahkan menentukan kemungkinan penyebab masalah dapat digunakan diagram fishbone yang berdasarkan pada kerangka pendekatan sistem meliputi input, proses, output, outcome dan environtment sehingga dapat ditemukan hal-hal yang dapat menyebabkan munculnya suatu masalah.

Tabel 6.1 Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah Cakupan PUS 4T Yang Mengikuti Program KB dari Faktor InputINPUTKELEBIHANKEKURANGAN

MAN(Tenaga Kerja) Tersedianya tenaga kesehatan di Puskesmas (dokter umum, bidan dan perawat) Tersedianya penanggung jawab setiap program Tersedianya petugas yang membuat pencatatan Terdapat kader di setiap wilayah RW Bidan yang memegang program KB juga bertanggung jawab dengan program lain Belum adanya regenerasi kader Kurangnya pelaporan dan informasi kader mengenai PUS 4T

MONEY(Pembiayaan) Tersedianya dana operasional kesehatan-

METHOD (Metode) Tersedianya SOP untuk pelayanan KB Terdapat pencatatan PUS 4T yang berkunjung ke Puskesmas

Kegiatan penyuluhan untuk PUS 4T mengenai pentingnya KB tidak dilaksanakan secara rutin Kurangnya konseling terhadap PUS 4T mengenai penting nya KB Tidak adanya kunjungan ke rumah PUS 4T

MACHINE (Peralatan) Tersedianya formulir dan buku laporan kunjungan PUS 4T Belum ada sarana untuk promosi kesehatan dan penyuluhan KB

Tabel 6.2 Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah Cakupan PUS 4T yang Mengikuti Program KB Ditinjau dari Faktor Proses dan LingkunganPROSESKELEBIHANKEKURANGAN

P1(Perencanaan) Tersedianya jadwal pelayanan KB di Puskesmas Tidak adanya jadwal yang tertulis untuk penyuluhan KB

P2(Penggerakan & Pelaksanaan) Terlaksananya intervensi dalam praktik pelayanan KB

Pelaksanaan program KB pada PUS 4T di masyarakat tidak berjalan dengan baik Cara penyampaian informasi tidak didukung dengan media yang menarik.

P3(Penilaian, Pengawasan Pengendalian) Terdapat sistem pencatatan dan pelaporan tentang cakupan PUS 4T BerKB Terdapat penilaian terhadap semua program setiap bulannya Kurangnya pemantauan dan evaluasi terhadap penyuluhan yang telah dilaksanakan

Lingkungan Puskesmas yang dapat dijangkau oleh masyarakat Adanya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) Antrian pelayanan KB di Puskesmas yang panjang Kurangnya kesadaran PUS 4T untuk berKB

PROSESKELEBIHANKEKURANGAN

Terdapatnya kader KB di lingkungan PUS 4T Terdapatnya dukungan dari suami dan keluarga ibu PUS 4T untuk melakukan KB PUS 4T tidak datang untuk melakukan KB PUS 4T tidak mendengar nasihat bidan untuk melakukan KB

Rendahnya Cakupan kunjungan bumil K4 86,24% dari 96%PROSESTidak tersedianya jadwal tertulis untuk penyuluhanP1Pelaksanaan upaya pencegahan komplikasi pada ibu hamil di masyarakat tidak berjalan dengan baik

INPUTLINGKUNGAN Antrian puskesmas yang panjang Ibu hamil tidak mematuhi nasihat yang diberikan bidanMONEYKurang lengkapnya alat-alat pemeriksaan penunjang untuk ibu hamilMACHINEMAN Tidak adanya dokter spesialis kebidanan dalam pelayanan kesehatan ibu hamil sehari-hari Bidan yang memegang program KIA juga memegang program lain Belum adanya regenerasi kaderMETHODTidak ada ruangan khusus pemeriksaan pelayanan kesehatan ibu hamilMATERIALTidak adanya kelas ibu hamil untuk ibu hamil trimester 1 dan 2P2P3

81

Rendahnya Cakupan PUS 4T BerKB 27,89 % dari 78 %PROSESTidak tersedianya jadwal tertulis untuk penyuluhanP1Kegiatan penyuluhan untuk PUS 4T tidak dilaksanakan secara rutinKurangnya pemantauan dan evaluasi terhadap penyuluhan yang telah dilakukanLINGKUNGAN Antrian pelayanan KB di puskesmas yang panjang PUS 4T tidak mematuhi nasihat yang diberikan bidanMONEYBelum ada sarana untuk promosi kesehatan dan penyuluhan KBMACHINEMAN Bidan yang memegang program KB juga memegang program lain Belum adanya regenerasi kader Kurangnya pelaporan dan informasi kader mengenai PUS 4TMETHODTidak ada ruangan khusus pemeriksaan pelayanan KBMATERIALKegiatan penyuluhan KB untuk PUS 4T tidak dilaksanakan secara rutinP2P3

INPUT

Gambar 6.1 Diagram FishboneRekapitulasi analisa penyebab masalah :1. Bidan yang memegang program KB juga juga memegang program lain2. Belum adanya regenerasi kader3. Kurangnya pelaporan dan informasi kader mengenai PUS 4T4. Kegiatan penyuluhan untuk PUS 4T mengenai pentingnya KB tidak dilaksanakan secara rutin 5. Kurangnya konseling terhadap PUS 4T mengenai pentingnya KB6. Tidak adanya kunjungan ke rumah PUS 4T oleh bidan7. Belum ada sarana untuk promosi kesehatan dan penyuluhan KB 8. Tidak adanya jadwal yang tertulis untuk penyuluhan KB9. Pelaksanaan upaya KB pada PUS 4T di masyarakat tidak berjalan dengan baik10. Tidak tersedianya ruangan khusus untuk pelayanan KB11. Cara penyampaian informasi tidak didukung dengan media yang menarik12. Kurangnya pemantauan dan evaluasi terhadap penyuluhan yang telah dilaksanakan13. Antrian pelayanan KB di Puskesmas yang panjang 14. PUS 4T tidak mematuhi nasehat yang diberikan bidan

6.2 Konfirmasi Kemungkinan Penyebab Masalah1. Bidan yang memegang program KB juga juga memegang program lain2. Belum adanya regenerasi kader3. Kegiatan penyuluhan untuk PUS 4T mengenai pentingnya KB tidak dilaksanakan secara rutin4. Tidak tersedianya ruangan khusus untuk pelayanan KB5. Tidak adanya jadwal yang tertulis untuk penyuluhan KB6. Kurangnya pemantauan dan evaluasi terhadap penyuluhan yang telah dilaksanakan7. Antrian pelayanan KB di Puskesmas yang panjang 8. PUS 4T tidak mematuhi nasehat yang diberikan bidan

6.3 Penentuan Alternatif Pemecahan MasalahSetelah diperoleh daftar masalah, maka langkah selanjutnya ialah menyusun alternatif pemecahan penyebab masalah. Alternatif pemecahan masalah tersebut di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:Tabel 6.3 Alternatif Pemecahan MasalahNoPenyebab MasalahAlternatif Pemecahan Masalah

1.Bidan yang memegang program KB juga juga memegang program laina) Mengajukan ke puskesmas kecamatan untuk menambah tenaga dan fasilitas kesehatan di puskesmas kelurahan

2.Belum adanya regenerasi kader

b) Mengadakan pembinaan dari dokter Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur kepada tenaga kerja tambahan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan KB

3.Kegiatan penyuluhan untuk PUS 4T mengenai pentingnya KB tidak dilaksanakan secara rutin

c) Mengadakan pembinaan dari dokter Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur kepada tenaga kerja tambahan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan KB

4.Tidak tersedianya ruangan khusus untuk pelayanan KB d) Mengajukan ke puskesmas kecamatan untuk menambah tenaga dan fasilitas kesehatan di puskesmas kelurahan

5.Tidak adanya jadwal yang tertulis untuk penyuluhan KBe) Membuat media promosi yang menarik seperti brosur dan leaflet dan dibagikan kepada PUS 4T serta memberikan penyuluhan mengenai KB

6.

Kurangnya pemantauan dan evaluasi terhadap penyuluhan yang telah dilaksanakan

f) Mengadakan pembinaan dari dokter Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur kepada tenaga kerja tambahan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan KB

7.Antrian pelayanan KB di Puskesmas yang panjang g) Pemberdayaan dokter muda atau petugas kesehatan lainnya untuk membantu dalam pelayanan KB

8.PUS 4T tidak mematuhi nasehat yang diberikan bidan

h) Membuat media promosi yang menarik seperti brosur dan leaflet dan dibagikan kepada PUS 4T serta memberikan penyuluhan mengenai KB

Bidan yang memegang program KB juga juga memegang program lain

Mengajukan ke puskesmas kecamatan untuk menambah tenaga dan fasilitas kesehatan di puskesmas kelurahan

Belum adanya regenerasi kader

Kegiatan penyuluhan untuk PUS 4T mengenai pentingnya KB tidak dilaksanakan secara rutin

Mengadakan pembinaan dari dokter Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur kepada tenaga kerja tambahan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan KB

Tidak tersedianya ruangan khusus untuk pelayanan KB

Membuat media promosi yang menarik seperti brosur dan leaflet dan dibagikan kepada PUS 4T serta memberikan penyuluhan mengenai KB

Tidak adanya jadwal yang tertulis untuk penyuluhan KB

Kurangnya pemantauan dan evaluasi terhadap penyuluhan yang telah dilaksanakan

Pemberdayaan dokter muda atau petugas kesehatan lainnya untuk membantu dalam pelayanan KBAntrian pelayanan KB di Puskesmas yang panjang

PUS 4T tidak mematuhi nasehat yang diberikan bidan

Gambar 6.2 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah

6.4 Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah dengan Kriteria MatriksSetelah menentukan alternatif pemecahan masalah, selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Dalam menentukan prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks dengan rumus M x I x V/ C.Masing-masing cara penyelesaian masalah diberi nilai berdasar kriteria:0. Magnitude: Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikanDengan nilai 1-5 dimana semakin mudah masalah yang dapat diselesaikan maka nilainya mendekati angka 5.0. Importancy: Pentingnya cara penyelesaian masalahDengan nilai 1-5 dimana semakin pentingnya masalah untuk diselesaikan maka nilainya mendekati angka 5.0. Vulnerability: Sensitifitas cara penyelesaian masalahDengan nilai 1-5 dimana semakin sensitifnya cara penyelesaian masalah maka nilainya mendekati angka 5.0. Cost: Biaya (sumber daya) yang digunakanDengan nilai 1-5, dimana semakin kecil biaya yang dikeluarkan nilainya mendekati angka 1.

Tabel 6.4 Hasil Akhir Penentuan Prioritas Pemecahan MasalahPenyelesaianMasalahNilai KriteriaHasil akhirUrutan

MIVC(M x I x V) / C

1. Mengajukan ke puskesmas kecamatan untuk menambah tenaga dan fasilitas kesehatan di puskesmas kelurahan34357,2IV

2. Pemberdayaan dokter muda atau petugas kesehatan lainnya untuk membantu dalam pelayanan KB443316II

3. Mengadakan pembinaan dari dokter Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur kepada tenaga kerja tambahan dan kader untuk melaksanakan penyuluhan KB343312III

4. Membuat media promosi yang menarik seperti brosur dan leaflet dan dibagikan kepada PUS 4T serta memberikan penyuluhan mengenai KB333127I

Dari tabel 6.5 maka didapatkan urutan prioritas alternatif pemecahan masalah cakupan PUS 4T BerKB berikut:1. Membuat media promosi yang menarik seperti brosur dan leaflet dan dibagikan kepada PUS 4T serta memberikan penyuluhan mengenai kehamilan.2. Mengadakan pembinaan dari dokter Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur kepada tenaga kerja tambahan dan kader yang membantu pelaksanaan pelayanan KB.3. Pemberdayaan dokter muda atau petugas kesehatan lainnya untuk membantu dalam pelayanan KB.4. Mengajukan ke puskesmas kecamatan untuk menambah tenaga dan fasilitas kesehatan di puskesmas kelurahan.

6.5 Rencana Kegiatan (Plan of Action)Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah menggunakan metode matriks didapatkan hasil prioritas pemecahan masalah berupa membuat media promosi yang menarik seperti brosur dan leaflet dan dibagikan PUS 4T serta memberikan penyuluhan mengenai KB. Tujuan dari rencana kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan serta kesadaran PUS 4T mengenai pentingnya pelayanan KB, dengan sasaran kegiatan adalah PUS 4T yang bertempat di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanakan rencana kegiatan ini berupa penyuluhan langsung kepada PUS 4T sambil memberikan leaflet. Kriteria keberhasilan dari rencana kegiatan ini berupa telah terlaksananya pembuatan leaflet dan disebarkan ke PUS 4T, melakukan penyuluhan yang terlaksana sesuai jadwal, adanya pemantauan serta evaluasi hasil penyuluhan serta PUS 4T dapat memahami materi penyuluhan dan dapat menerapkannya.

Tabel 6.5 Plan of ActionNo.KegiatanTujuanSasaranTempatPena-nggung JawabPelaksa-naWaktuDanaMetodeKriteria Keberhasilan

1Membuat kegiatan promosi kesehatan dengan cara memberi penyuluhan dengan menggunakan lembar balik yang telah tersedia di puskesmas dan melakukan dialog interaktif dengan para responden.Meningkatkan pengetahuan serta kesadaran kepada PUS 4T mengenai pentingnya pelayanan KB.PUS 4TWilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cilandak TimurKepala Puskes-masKoordinator KB, Bidan, Dokter muda dan KaderSepte-mber 2015Dana swa-dayaMetode penyuluhan langsung. Para petugas penyuluhan langsung terjun dan bertatap muka dengan sasaran Metode yang disampaikan diterima sasaran dengan didengar (penyuluhan) dan dilihat (brosur/ leaflet)Indikator: Pembuatan leafet yang akan diberikan kepada PUS 4T Memberikan penyuluhan kepada PUS 4T Terlaksananya penyuluhan sesuai jadwal Adanya pemantauan dan evaluasi hasil penyuluhan PUS 4T dapat memahami materi penyuluhan dan dapat menerapkannya

NoKEGIATANOktNovDesJanFebTabel 6.6 Gant chart

MarAprMeiJunJunlAugSeptOkt

1234123412341234123412341234123412341234123412341234

1Mengumpulkan data subjek pemelitian sesuai kriteria inklusi

2

Membuat dan mempersiapkan materi penyuluhan semenarik mungkin dan mudah dimengerti, serta membuat jadwal kegiatan penyuluhan KB

3

Melakukan penyuluhan kepada responden KB

4Menyusun laporan kegiatan dan mengevaluasi masalah dilapangan dan mencari solusinya.

2

94

BAB VIIHASIL INTERVENSI KEGIATAN

1. Evaluasi Data Kualitatif1. Data Univariat RespondenIntervensi kegiatan berupa penyuluhan dilakukan saat acara PSN dan di depan poli umum, gigi, dan KIA-KB di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur. Dari kegiatan tersebut didapatkan data sosiodemografi subjek penelitian, yaitu usia, pendidikan, dan pekerjaan. Berdasarkan data usia subjek penelitian, maka penelitian ini didominasi oleh kelompok usia 40-50 tahun sebanyak 15 orang (60%), diikuti kelompok usia 30-40 tahun sebanyak 6 orang (24%), dan sisanya sebanyak 4 orang dari kelompok usia 20-30 tahun (16%).Tabel 7.1 Usia respondenUsiaJumlah respondenPersen

20-30 tahun4 orang16 %

30-40 tahun6 orang24 %

40-50 tahun15 orang60 %

Berdasarkan data pendidikan responden, sebanyak 17 orang (68%) menempuh pendidikan hingga tamat SD-SMP, 5 orang (20%) hingga tamat SMA, dan 3 orang (12%) menempuh pendidikan hingga sarjana.

Tabel 7.2 Pendidikan respondenPendidikanJumlah respondenPersen

SD-SMP1768 %

SMA520 %

Sarjana312 %

Berdasarkan data pekerjaan responden, sebanyak 19 orang bekerja sebagai ibu rumah tangga (76%), dan 6 orang sisanya bekerja sebagai pegawai swasta (24%).

Tabel 7.3 Pekerjaan respondenPendidikanJumlah respondenPersen

Ibu rumah tangga1968 %

Pegawai swasta624 %

1. Hasil Wawancara Responden Sebelum PenyuluhanBerdasarkan hasil wawancara dengan 25 orang ibu berusia subur dengan kriteria 4T, diketahui 5 diantaranya sedang tidak menggunakan alat kontrasepsi. Dua diantara 5 responden mengaku belum pernah menggunakan alat kontrasepsi seumur hidupnya dikarenakan takut akan efek samping yang dikatakan orang-orang. Hal ini dikutip dari salah satu kuotasi responden:Saya belum pernah berKB sampai sekarang. Ya alesannya karena takut aja denger orang-orang yang pake KB kok malah gendut, mukanya jerawatan.. Pasang susuk aja katanya sakit banget. Mendingan ga usah pake lah (Responden 18).Dua puluh orang responden lainnya sedang mengikuti program KB. Dari hasil wawancara diketahui bahwa sebagian besar responden (13 orang) menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulan, 5 orang memilih pil KB, 1 orang menggunakan spiral, dan 1 orang lagi memilih kondom. Alasan sebagian besar responden memilih metode ini dikutip dari salah satu kuotasi sebagai berikut:Mending pake suntik 3 bulan aja, tinggal suntik sekali aja terus 3 bulan lagi. Jadi ga tiap hari gitu kayak minum pil.. Kalo minum pil gitu kan suka lupa ya. Kalo susuk atau spiral mah saya ga berani ah, serem dimasuk-masukkin gitu. (Responden 13).Terkait dengan penyuluhan tentang KB yang pernah diterima oleh para responden, 19 responden mengatakan sebelumnya sudah pernah mendapatkan penyuluhan KB, sedangkan 6 orang sisanya belum. Mereka mengatakan penyuluhan biasanya dilaksanakan saat kegiatan Posyandu dan PSN. Berikut salah satu kuotasi dari responden yang belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang KB:Pernah sih saya dikasitau temen yang ikut Posyandu kalo ada penyuluhan tentang KB, tapi saya emang jarang dateng sih.. Waktunya suka ga pas aja. (Responden 3). Dari responden yang pernah mengikuti penyuluhan tentang KB, dikatakan bahwa mereka masih belum mengerti sepenuhnya tentang macam-macam metode kontrasepsi beserta guna program KB secara keseluruhan, keuntungan dan kerugian dari masing-masing metode, dan efek sampingnya.Penyuluhannya waktu itu jelasin tentang KB, terus gunanya apa.. Yang kayak untuk batasin jumlah anak gitu-gitu. Terus dijelasin tentang suntik, pil, susuk, spiral, sama yang mantap. Kalo keuntungan kerugian gitu-gitu ya... lupa juga saya hahaha (Responden 11).Salah satu kriteria dari subjek penelitian ini adalah para ibu yang telah memiliki anak dengan kriteria 4T. Ketika ditanya pengetahuan tentang 4T, sebagian besar responden tidak mengetahuinya. Salah satu responden menjawab:Ngga tau apa itu, Dok. Ga pernah denger juga hehehe (Responden 5)Untuk pelayanan KB, para responden mendapatkan pelayanan dari Puskesmas setempat, yaitu Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur. Salah satu pendapat dari responden adalah:Iya kalo pasang KB ya disini aja di puskes. Bagus mah disini pelayanannya. (Responden 1).Berdasarkan hasil wawancara dengan para ibu berusia subur dengan kriteria 4T, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden sudah menggunakan alat kontrasepsi. Namun, ada beberapa yang belum. Mereka yang tidak mengikuti program KB memiliki alasan takut akan ketidaknyamanan pemasangan dan efek samping dari suatu metode kontrasepsi. Hampir semua responden juga mengaku tidak pernah mengetahui tentang 4T. Terkait dengan penyuluhan, sebagian besar responden yang telah mendapatkan penyuluhan KB mengaku belum mengerti sepenuhnya tentang masing-masing metode kontrasepsi. Selain itu, kesadaran mereka yang belum pernah mengikuti penyuluhan masih kurang untuk menyempatkan diri ikut serta dalam kegiatan tersebut.

7.1.3 Hasil Wawancara Responden Setelah PenyuluhanSetelah dilakukannya penyuluhan dan dialog interaktif di Puskesmas Kelurahan Cilandak Timur, sebagian besar responden sudah mengetahui jenis-jenis KB baik jangka panjang dan jangka pendek. Hal ini dapat terlihat dari salah satu kutipan jawaban responden :Suntik, pil, susuk, IUD atau spiral, steril ada MOW sama yang buat cowo itu Dok, sama kondom buat laki-laki dan wanita (Responden 4)Diketahui 6 dari 25 responden baru sekali mendapat penyuluhan mengenai KB di Kelurahan Cilandak Timur. Hal ini dikutip dari hasi wawancara berikut :Ini baru sekali dok dapet penyuluhan kaya gini. (Responden3)Para responden juga telah mengetahui keuntungan dan kerugian dari metode-metode KB yang telah dijelaskan dalam penyuluhan. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara berikut :Kalo pil hanya diminum seperti minum obat aja, kalo suntik ga perlu setiap hari suntik dan tinggal tiap 3 bulan aja, kalo spiral sama susuk bias lebih lama dipakai jadi gaperlu tiap bulan ke puskesmas atau ke dokter, kalau kondom ya tinggal pakai aja kalo mau berhubungan. (Responden 1)Pil, susuk, sama suntik sama-sama berpengaruh sama berat badan dan kalau susuk sama suntik bisa ga menstruasi. Suka lupa juga kalo pil sama suntik. (Responden 4)Efek samping dari metode kontrasepsi hormonal juga sangat banyak seperti berat badan bertambah, flek-flek hitam pada wajah, dan jika dipakai jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis. Dan hal ini telah diketahui oleh beberapa responden yang sudah mendapat penyuluhan seputar KB. Dikutip dari wawancara berikut :Efek sampingnya kalo IUD gaada kayaknya bu. Kalo yang jangka pendek ya banyak kaya ga mens, tingkat keberhasilannya kecil, sering buat beberapa wanita yang menggunakannya jadi meningkat BB nya. Terus kalo KB pil dan suntik dipake berkepanjangan bisa bikin pengeroposan tulang (Responden 7)Terkait dengan kriteria 4T, responden sekarang mengetahui tentang definisi dan dampaknya. Hal ini diketahui dari salah satu hasil wawancara responden berikut:Saya baru tau sekarang, Dok. 4T itu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu dekat jarak melahirkannya. Kalo misalnya ngalamin yang 4T tuh bahaya buat rahim, ibu, sama anaknya kalo lahir nanti.. Bisa cacat (Responden 15)

7.1.4 Hasil Wawancara KaderBerdasarkan hasil wawancara dengan kader kesehatan RW 01 diketahui persentase pasangan usia subur yang sudah berKB di RW 01 sebanyak 75%. Hal ini dikutip dari wawancara dengan kader berikut :Baru di data kemarin belum di total. Rata-rata mereka KB sih. Waktu di dapet 63 KK itu sih rata-rata ibu-ibunya pada KB. Yaa 75% kira-kira dok. Iya hampir 75% KB (Kader RT 05).Sebagian besar dari para peserta KB pasangan usia muda tersebut menggunakan jenis KB jangka pendek yaitu Pil dan Suntik 1 dan 3 bulan. Hal ini didapat dari kutipan wawancara oleh kader kesehatan sebagai berikut :Heeh. Rata-rata usia muda ya kaya gitu pakainya pil sama suntik. Tapi kalo misalnya ibu-ibu yang udah lama gitu maksudnya yang usianya udah lumayan ya pada spiral. (Kader RT 01)Di RW 01, kebanyakan yang menggunakan KB jangka panjang seperti IUD atau implan adalah ibu-ibu usia subur yang mendekati menopause. Hal ini dapat ditinjau dari cuplikan wawancara berikut : Iya, ibu-ibu usia se saya gini mah malah pakainya spiral. Kalau ibu-ibu muda nya malah pakai pil. (KaderRT 07)Banyak diantara mereka yang belum mengikuti program KB atau sudah menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek tidak mau menggunakan KB jangka panjang karena takut dan atau malu. Hal ini dinyatakan dalam kutipan wawancara berikut :Katanya sih alesan kalau ditanyain takut katanya. Takut sakit apa gimana gitu, terus malu juga (Kader RT 05)Masih banyak para pasangan usia subur yang tidak mengikuti program KB atau memilih alat kont