referat psikiatri

  • View
    233

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

perawatan mandiri

Text of referat psikiatri

BAB IPENDAHULUAN

Latar Belakang Skizofren Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1-1,5 % dengan angka insidensi 1 per 10.000 orang per tahun. Di Indonesia ini dilakukan analisis diskripsi sederhana dari data hasil Riskesdas 2013 dikombinasi dengan Data Rutin dari Pusdatin dengan waktu yang disesuaikan. Secara Nasional terdapat 0,17 % penduduk Indonesia yang mengalami Gangguan Mental Berat (Skizofren) atau secara absolute terdapat 400 ribu jiwa lebih penduduk Indonesia. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Jogjakarta dan Aceh sedangkan yang terendah di Provinsi Kalimantan Barat. Prevelensinya skizofrenia antara laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalaan penyakit. Laki-laki mempunyai onset skizofrenia yang lebih awal daripada wanita. Lebih dari setengah semua pasien skizofrenik laki-laki tetapi hanya sepertiga pasien skizofrenik wanita mengalami perawatan pertamanya di rumah sakit sebelum usia 25 tahun. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15-25 tahun, untuk wanita usia puncak adalah 25-35 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-laki adalah lebih mungkin dari pada wanita mengalami gejala negatif dan wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk pasien skizofrenik wanita lebih baik dari pada pasien skizofrenik laki-laki.Penyakit ini sangat menyusahkan bagi penderita maupun keluarganya karena onset terjadinya pada saat dewasa muda produktif yaitu dibawah 45 tahun, dan dalam perjalanannya akan mengalami keruntuhan (deteriosasi) dari taraf fungsi sebelumnya baik fungsi sosial, pekerjaan, dan perawatan diri. Penderita sukar untuk bersosialisasi dan tidak dapat bekerja seperti sebelumnya karena sifat regresif serta kemunduran dalam perawatan diri. Terdapat banyak faktor yang diduga sebagai penyebab skizofrenia, di antaranya adalah faktor biologis dan faktor lingkungan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKASKIZOFRENIASkizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizeinyang berarti terpisahatau pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Secara umum, simptom skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom positif, simptom negative, dan gangguan dalam hubungan interpersonal. Skizofrenia merupakan suatu deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Di Indonesia ini dilakukan analisis diskripsi sederhana dari data hasil Riskesdas 2013 dikombinasi dengan Data Rutin dari Pusdatin dengan waktu yang disesuaikan. Secara Nasional terdapat 0,17 % penduduk Indonesia yang mengalami Gangguan Mental Berat (Skizofren) atau secara absolute terdapat 400 ribu jiwa lebih penduduk Indonesia. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Jogjakarta dan Aceh sedangkan yang terendah di Provinsi Kalimantan Barat. Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan 10% berhasil melakukannya.Faktor risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi.Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira kina 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan. Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%).Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia.Berdasarkan jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita. Penyakit yang satu ini cenderung menyebardi antara anggota keluarga sedarah.Definisit Perawatan Diri pada Klien dengan SkizofreniaPerawatan diri sadalah sebagai kegiatan-kegiatan, yaitu individu memulai dan melaksankannya untuk diri sendiri, dalam mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan. Upaya perawatan diri dilakukan untuk memeuhi tiga macam kebutuhan perawatan diri: universal, perkembangan, dan deviasi kesehatan.Kebutuhan universal meliputi aktivitas dalam memenuhi ebutuhan dasar seperti udara, air, dan makanan; eliminasi; istirahan dan aktivitas; mencari ketengan (solitude) dan interaksi social; mendapat kesempatan untuk hidup dan sejahtera; dan kebutuhan perawatan diri secara perkembangan berfokus pada pross dan kejadian perkembangan manusia, seperti kehamilan atau kehilangan anggota keluarga. Deviasi kesehatan meliputi kegiatan yang muncul akibat adanya kecacatan pada struktur tubuh manusia akibat penyakit atau tindakan medic.Penurunan perawatan diri terjadi apabila seseorang tidak mampu merawat dirinya sendiri atau bergantung pada orang lain (anggota keluarga yang lain). Penurunan perawatan diri terjadi apabila kebutuhan perawatan diri yang terapeutik (total aktivitas keseluruhan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan universal, perkembangan, dan deviasi kesehatan) melampaui kemampuan self-care (kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Defisit Perawatan Diri pada Pasien SkozofreniaPerawatan diri dipengaruhi oleh berbagai factor yang disebut factor kondisi dasar (basic functioning factors). Faktor ini meliputi umur, jenis kelamin, tingkat perkembangan, system pelayanan kesehatan, social budaya, system keluarga dan ketersediaan sumber-sumber pendukung.a) UmurTerkait dengan skizofrenia, beberapa penelitian menunjukan hubungan yang tidak konsisten antara factor usia dan kemampuan individu melakukan perawatan diri. Sebagai contoh, hasil sebuah studi keuantitatif melaporkan bahwa klien dengan skizofrenia.b) Gender/ Jenis KelaminMeskipun jumlah kejadian skizofrenia pada laki-laki dan perampuan hamper sama, perempuan memiliki kemungkinan untuk sembuh yang lebih besar. Beberapa penelitian melaporkan bahwa perempuan dengan riwayat skizofrenia dapat menjalankan fungsi social yang lebih baik disbanding laki-laki dengan skizofrenia. c) Tahap PerkembanganTahap perkembangan diartikan pada kondisi individu dalam fase tertentu dalam kehidupannya, dan memiliki tugas perkembanan yang unik untuk tiap tahapannya, dalam hal fisik, psikologis, maupun social. Secara umum, hubungan antara factor tahap perkembangan dan deficit perawatan diri pada individu dengan skizofrenia dapat dijelaskan melalui pemahaman akan kebutuhan khusus masing-masing usia.Contohnya indivisu dengan skizofrenia yang berusia lanjut lebih bergantung kepada pemberi perawatannya dalam melakukan aktivitas perawatan diri merka dariapa indivisu usia dewasa. Alasanya adalah kondisi fisik dan psikologis lansia yang mengalami penurunan tentunya mempengaruhi keseriusan masalah keperawatan diri yang mereka hadapai.d) Sistem Pelayanan KesehatanFactor system pelayanan kesehatan meliputi deskripsi tentang diagnose medis atau diagnosis keperawatan, dan tipe perwatan sebelumnya dan yang sedang dijalani klien. Dalam hubungannya dengan indivisu dengan skizofrenia, tipe/cara perwatan sanagt penting dalam membantu mengembalikan kemampuan mereka sebelumnya.e) Orientasi Sosial BudayaIndividu dengan skizofrenia di Negara berkembang dilaporkan memiliki tingkat keparahan yang rendah, dan jumlah yang dapat sembuh total cukup tinggi. Alasannya adalah indivisu denganskizofrenia tidak tersigma seperti yang dialami di Negara maju. Kedua, masyarakat di Negara berkembang memberikan lebih banyak kesempatan pada individu dengan gangguan jiwa melakukan berbagai pekerjaan, seperti bekerja di lading, menggali untuk irigasi, atau menjaga anak-anak.Dalam hubungannya dengan skizofrenia degan aktivitas perwatan diri indivisu dengan skizofrenia, yang juga merupakan tujuan dari rehabilitasi, pencapaian dalam bidang social budaya (pekerjaan) menguntungkan kline yaitu meningkatkan fungsi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pendidkan sangay penting untuk indivisu dengan kelainan jiwa untuk dapat merasa bagian normal dari komunitas, dan merubah imej diri mereka dari pasien menjadi siswa.f) Sistem KeluargaFactor system keluarga, yang meliputi posisi klien dalam keluarga, dan hubungan klien dengan anggota keluarga lain. Terdapat hubungan tidak langsung antara psoisi indivisu dengan skizofresnia dalam keluarga dengan kemampuan indivisu tersebut dalam melakukan perawatan diri. Untuk indivisu dengan skizofrenia, dukungan dari keluarga merupakan hal yang paling penting dalam upaya membantu individu memcapai kesembuhan, dengan melibatkan klien melakukan tugas rumah tangga, melatih kemampuan klien menjalankan aktivitas sehari-hari, dan menyediakan dukungan finansial dan emosional untuk mendorong klien meningkatkan kemandirian klien dalam perwatan diri. g) Ketersediaan dan Keadekuatan SumberKetidakadekuatan dan ketidaktersediaan sumber yang rele