Buletin Qolamuna Edisi-2

  • View
    231

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Buletin Qolamuna Edisi Kedua yang telah dilaunching saat Acara Puncak Milad IMM ke-51

Text of Buletin Qolamuna Edisi-2

  • REFLEKSI MILAD IMM KE-51

    EDISI KHUSUSmilad

    Sajian Utama

    Siyasah

    Wawasan

    Forum Alumni

    Catatan Milad IMM ke-51Menuai Benang Merah Murai

    Mengembalikan RuhIntelektualisme & Aktivisme

    QolamunaBULETINEdisi Maret-April 2015

    EDISI

    02

    Mempertanyakan Ghirah Kader IMM

    Refleksi Gerakan Intelektual sebagai Gerakan Tajdid

  • IKLAN PENERBIT

    CV NUHA MEDIKA

  • INDEKS

    Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Daerah Istimewa

    Yogyakarta, Immawan Surya Dharma Sufi mengatakan bahwa wajah perkaderan IMM

    masih bersifat organisatoris. Ia memandang tentang makna menjiwai semangat ber-IMM

    sebagai pola yang berbeda.

    Baca Selengkapnya..............................................................................hal. 4

    Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

    kini telah menginjak usia 51 tahun. Pada

    14 Maret 1964 lalu, IMM hadir dalam

    rangka merespon dan mengokohkan

    negara Indonesia dalam pertarungan

    ideologi saat itu (komunis). Baca

    Selengkapnya...............................hal.11

    WAWASAN

    Di sudut pasar kota Madinah, ada seorang

    pengemis Yahudi buta yang setiap harinya

    dia selalu bilang pada setiap orang yang

    mendekatinya, Wahai Saudaraku, jangan

    d e k a t i M u h a m m a d . B a c a

    Selengkapnya.................................hal. 13

    Entrepeneur

    Catatan

    Sastra

    Forum Alumni

    23

    Dinamika Ikatan 25

    32

    33

    35

    SAJIAN UTAMA

    Kuntowijoyo dalam bukunya Islam

    sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi,

    dan Etika mengemukakan sebuah

    analogi menarik yang available terhadap

    kondisi gerakan kemahasiswaan. Baca

    Selengkapnya..............................hal. 15

    Barakallah Fii Umrik, pada umur yang ke-

    51 ini Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

    memasuki umur yang jika dibandingkan

    dengan manusia dapat dikatakan sudah

    cukup tua dan memasuki lebih dari kepala

    lima. Setengah abad lebih bukanlah

    per ja lanan yang s ingka t da lam

    mengarungi pergejolakan ataupun

    dinamika dunia pergerakan. Baca

    Selengkapnya..............................hal. 20

    Sebuah organisasi yang besar tidak

    dapat terlepas dari pondasi awal yang

    kuat. Begitu pula Ahmad Dahlan, yang

    m e n d i r i k a n P e r s y a r i k a t a n

    Muhammadiyah. Dengan berlandaskan

    implementasi mengenai kajian tafsir

    Alquran dan Alhadits, ke dalam bentuk

    real untuk membentuk suatu golongan.

    Muhammadiyah dikenal sebagai

    gerakan purifikasi nilai-nilai Islam

    berkenaan dengan tradisi kejawen.

    Baca Selengkapnya...................hal.21

    OASE

    SIYASAH

    MIMBAR PIMPINAN

  • Pemimpin Umum

    Athiful Khoiri

    Pemimpin Redaksi

    Aris Budi Sinudarsono

    Sekretaris Redaksi

    Artha Pradika

    Redaktur Bahasa

    Ganjar Rachmawan

    M. Hamam Al Fajari

    Redaktur Pelaksana

    Hasbullah Syarif

    Kontributor

    Halimatus Sadiyah, Arya

    Fikri Fachrurizal, Jean Ayu

    Nur Syifa Fauziyah

    M. Ridha Basri, Joko Riyanto

    Laela Putri Chanifa

    Ancas Sanjaya Mahardika

    Kharisma Ramadhan

    Dhani Andresmoro

    Imron Musthofa

    Distributor

    Marda Afifah

    Evi Putri Wijaya

    Periklanan

    Bejo Kahono

    Buletin QOLAMUNA diterbitkan oleh

    Bidang Media, Komunikasi dan

    Informasi Pimpinan Cabang

    Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

    Kabupaten Sleman

    Pembina

    Anang Masduki

    Budi Asyarie

    Benni Setiawan

    Salam Redaksi

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Salam Juang Merah!

    Mendengar kata IMM sudah tak asing lagi di

    telinga kita. Sebagai salah satu pergerakan

    mahasiswa Islam yang telah didirikan sejak pada

    tanggal 14 Maret 1964 silam, menjadi bukti otentik

    akan kelahiran organisasi yang menjadi pundak

    harapan bagi bangsa di tengah hiruk pikuk persoalan

    umat.

    Kini, IMM tak muda lagi. Usianya telah

    menginjak lebih dari setengah abad dengan

    menyisihkan beban amanah yang saat ini masih terus

    diperjuangkan. Menjaga ikatan sebuah organisasi

    tidak semudah kala mendirikannya, Bung! Justru,

    tantangan terberat ada pada eksistensi. Jangan

    melihat dari segi berapa lama waktu yang

    dipertahankan, melainkan konstelasi perjuangan apa

    saja yang telah diwujudkan. Tak ada gunanya bila

    organisasi berdiri tegak dalam waktu yang lama, tetapi

    tanpa ada buah hasil kontribusi nyata.

    Lantas, bagaimanakah perjalanan suci yang

    ditempuh oleh IMM selama 51 tahun ini. Apakah

    memang IMM sudah mampu menjadi penopang bagi

    transformasi bangsa sesuai dengan apa yang dicita-

    citakan pergerakan? Apa saja kiranya yang perlu

    menjadi evaluasi dan pertanyaan besar yang harus

    dijawab di era 51 tahun ini?

    Ya, dalam edisi-2 khusus Milad IMM ini, kami

    ingin mengungkap peran dan eksistensi IMM selama

    setengah abad. Refleksi menjadi penting tatkala ada

    sejarah yang mengikutinya. Maka, kami memilih tema

    Refleksi IMM pasca Setengah Abad sebagai bentuk

    menoleh catatan sejarah apa saja yang telah

    dilakukan IMM. Lantaran tujuan ikatan tidak mengenal

    lelah, tetapi terus mengalami progresivitas dalam hal

    pemikiran maupun gerakan. Tidak bisa dipungkiri,

    dalam perjalanannya, IMM harus menelan pahit

    permasalahan yang harus dihadapinya, entah

    persoalan orientasi gerakan, perkaderan, . Tentu

    berdasar pada perkembangan zaman, IMM dituntut

    untuk bisa terjun dalam dinamika zaman yang stagnan

    serta mampu meretas tantangan zaman.

    Semoga Buletin Qolamuna ini mampu

    menjawab keresahan kader. Dirgahayu IMM-ku yang

    ke-51. Anggap saja coretan dalam Buletin ini sebagai

    kado ultah. Abadi Perjuangan-Mu! (Red)

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Gedung Muhammadiyah PCM Depok

    Jl. Laksda Adisucipto 112B 55281

    Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

    Layouter

    Aris Budi Sinudarsono

    Fukkar Al Wathoni

  • Sajian Utama

    alam Kamus Besar Bahasa

    DIndonesia, kata refleksi berarti cerminan atau gambaran. Ilmu metafisika menjelaskan, dapat dipahami

    secara mendalam asalkan berabstraksi

    eksistensi. Secara luas, makna refleksi

    bukan sekedar merayakan sesuatu yang

    lazim setiap waktu, tetapi memiliki nilai

    untuk mengoreksi sesuatu yang telah

    berlalu. Kaitannya di IMM sangat penting

    dalam mengevaluasi perjalanan khittah

    gerakan. IMM terlahir bukan karena tidak

    ada maksud, tetapi karena kondisi

    t u n t u t a n z a m a n k a l a i t u y a n g

    mensegerakan membentuk gerakan

    m a h a s i s w a I s l a m b e r b a s i s

    Muhammadiyah. Faktor in terna l ,

    dilatarbelakangi oleh motifasi idealis,

    suatu upaya untuk mengembangkan

    ideologi Muhammadiyah di ranah

    Perguruan Tinggi. Kala itu memang belum

    ada Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

    Faktor eksternal, dikarenakan pergolakan

    bangsa, baik dalam tradisi budaya, politik,

    maupun sosial. Selain itu, untuk

    membantu eksistensi HMI di tengah

    ancaman komunisme. (Agham: Melacak

    Sejarah dan Perkembangan IMM).

    Kehadiran IMM telah memberikan

    pengaruh besar sejak kelahirannya 51

    tahun silam. IMM telah berupaya ikut

    berkontribusi mempertahankan bangsa

    dari keganasan ideologi komunis dengan

    melakukan aksi perlawanan bersama

    dengan pergerakan mahasiswa lain.

    Sejarah mencatat, masa orde lama IMM

    turut menyambangi WAY organisasi

    bereksponen luar dan dalam negeri serta

    ikut menumpas kepentingan elit politik di

    aksi Tritura dalam memperjuangkan

    bangsa.

    IMM juga dikenal sebagai salah satu

    gerakan mahasiswa Islam yang berbasis

    keilmuan, berakhlak mulia dan memiliki

    jiwa yang humanis di ranah geraknya yang

    disebut Trilogi IMM sejak dicetuskannya

    deklarasi IMM Munas I di Solo pada tahun

    1965. Yang kemudian hingga kini menjadi

    sebuah identitas gerakan IMM untuk

    melangkah melakukan gerakan radikal

    mengejewantahkan nilai-nilai yang

    tertanam di dalamnya.

    Iklim organisasi di IMM kian larut

    mengalami perubahan orientasi gerakan

    karena adanya gesekan kepentingan-

    kepentingan, baik dalam urusan personal

    maupun karena tuntutan zaman. Hal ini

    sangat ideal karena posisi IMM yang tidak

    kaku, namun menjadi agenda pemecah

    persoalan bangsa.

    Lantas, pertanyaan yang harus di

    jawab di sini ialah, bagaimana dengan

    kondisi kader di era pasca setengah abad

    ini?Apakah ikut berperan aktif dalam

    dinamika kebangsaan mengingat kondisi

    zaman yang berubah di kancah globalisasi

    yang serba keterbukaan?(Ars)

    Refleksi Milad

    IMM ke-51

    3

  • Sajian Utama

    Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan

    Mahasiswa Muhammadiyah Daerah

    Istimewa Yogyakarta, Immawan Surya

    Dharma Sufi mengatakan bahwa

    wajah perkaderan IMM masih bersifat

    organisatoris. Ia memandang tentang

    makna menjiwai semangat ber-IMM

    sebagai pola yang berbeda dengan

    semangat organisasi. Kader selama

    ini cenderung masih sebatas

    semangat pada berorganisasi, bukan

    ghirah ber-IMM.

    naik turun, bahkan menyesuaikan kondisi

    personal. Akibatnya, tak sedikit kader

    berhenti saat menjalankan tugas

    kedinasan IMM.

    Surya menambahkan, perb